Tampilkan postingan dengan label Bintang Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bintang Harapan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2009

Bintang Harapan (4-TAMAT)

Chapter 4
Ditolak Chacha


Chacha menerima catatan ekonominya yang kemarin kupinjam tanpa curiga.

”Loh, kok’ cepet banget?” Tanya Chacha.

”Gue kan nggak nyalin pake tangan, tapi pake fotocopy.” Sahutku berusaha menenangkan debar-debar di dada.

Memang sudah seminggu ini debar-debar di dadaku semakin meningkat frekuensinya. Kian hari aku semakin menyukai Chacha. Dari wajah, penampilan dan kepribadiannya. Semua yang ada padanya membuatku resah gelisah bagaikan deburan ombak yang bergelora.

Kemarin malam, aku tidak dapat lagi menahan gelora cinta yang berdebur indah di hati. Dengan gemetar, aku menulis... I LOVE YOU, CHACHA ... di sehelai kertas. Hanya itu yang bisa kutulis. Aku tidak bisa berpikir lagi untuk mencari kata-kata yang lebih romantis.

Sekarang kertas itu ada di halamam tengah catatan Ekonomi Chacha. Semoga dia dapat melihatnya. Dan semoga aku nggak bertepuk sebelah tangan.

Ooops! Aku tersentak.

Kertas itu ditemui Chacha lebih cepat dari yang kuduga. Sewaktu ia mengipasi dirinya yang gerah, kertas bandel itu nyelonong keluar dari persembunyiannya. Aku berusaha mengambilnya. Tapi... Terlambat! Chacha lebih cepat.

Hanya sedetik Chacha menbacanya lalu menatapku. Aku balas menatapnya. Aneh! Tidak ada rona merah yang menjalar di pipinya seperti yang seringkali kubaca di majalah-majalah tentang seorang cewek yang menerima kata cinta dari seorang cowok. Apa karena Chacha nggak cinta sama aku? Semoga dugaanku meleset.

”Lo?” Chacha berkata pelan.

” Ya, gue cin...”

”Jangan diterusin.” Potong Chacha. Dia menghela nafas. Dipandanginya langit-langit rumah, lalu memandangku sangat serius.

”Gue mau cerita sesuatu, lo mau ngedengerin kan?” Tanya Chacha padaku dan aku pun mengangguk.

”Gue ini Yatim Piatu, Yan. Kedua orang tua gue meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas ketika gue masih bayi. Sejak itu, gue diasuh dan dirawat oleh Oom Reyhan, adik Papa gue. Oom Reyhan dan Tante Aurel-Istrinya sangat menyayangi gue. Mereka mengirim gue ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Gue diberi tempat kost yang menyenangkan, diberikan semua yang gue perluin. Begitu besarnya perhatian mereka sama gue. Dan gue berjanji bakalan ngebales semua kebaikan mereka. So, gue bertekad untuk belajar dengan rajin. Gue menolak semua cinta dari temen-temen cowok karena gue... gue nggak pengen sekolah gue terganggu. Gue harap... lo bisa ngertiin alasan gue, Yan.”

”Tapi... apa dalam hati kecil lo... lo cin...”

”Ryan, saat ini yang ada dalam benak gue Cuma satu. Menuntut ilmu setinggi mungkin. Gue nggak pengen diganggu sama pertanyaan kaya’ gitu.” Chacha berkata tegas.

”Jawab yang jujur, Cha! Lo jangan pura-pura nggak suka sama gue.” Aku mulai emosi. Entah darimana datangnya, aku merasa diremehkan oleh penolakannya. Aku merasa dadaku sesak menahan kecewa.

”Gue nggak lagi pura-pura. Dan... Lo jangan paksa gue buat nerima cinta lo.” Bentak Chacha.

Aku terdiam. Kesadaran menyentakku.

”Maafin gue, Cha. Gue... gue terlalu kasar tadi sama lo.” Suaraku tiba-tiba menjadi serak.

”Nggak apa-apa.” Chacha tersenyum tipis.

”Gue tahu, emang nggak enak rasanya ditolak.” Kata Chacha lembut.

Lalu kami sama-sama terdiam.

”Chacha, apa sama sekali nggak ada harapan buat gue? Gue sayang sam lo, Cha.” Kataku memecah kebisuan.

”Ryan, kalo’ lo mau bersabar. Mungkin nanti, kalo saatnya dateng gue bisa ngasih jawaban yang menyenangkan hati lo. Tapi... gue nggak bisa janji. Karena saat ini, gue pengen konsentrasi penuh sama sama sekolah.”

Aku termangu mendengarnya.

”Ya Cha. Gue bakalan coba. Gue bakalan coba buat nungguin lo.” Batinku.

Langit biru tua kala malam itu aku meninggalkan rumah kost Chacha. Samar-samar ada satu dua bintang berkerlip indah. Disanalah... di langit maha luas, ada bintang harapanku tentang sepotong hati yang entah kapan bisa kuraih.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Bintang Harapan (3)

Chapter 3
Nembak Chacha


Aku sedang menikmati Mie goreng kesayanganku ketika Indra menepuk pundakku.

”Kaya’nya lo happy banget deh sejak jadi temen sebangkunya Chacha.” Indra membuka percakapan.

Aku menghentikan suapanku.

”Ah, masa?”

”Iya! Tapi lo jadi lebih pendiem.”

”Mungkin itu ciri-ciri orang yang lagi jatuh cinta.” Kataku sekenanya.

”Ih, Waaw! Jadi udah sejauh itu persaan lo ke dia? Bukan Cuma sekedar naksir doang nih?” Indra menatapku tak percaya.

Aku tersenyum penuh arti.

”Yan, nasib lo nggak akan jauh beda sama yang laennya. Chacha susah banget direbut hatinya.” Indra berbisik ditelingaku.

”Maksud Lo?”

”Lo kenal Rendy kan, Anak III IPA 2? Dia juga salah satu cowok yang pernah menyatakan isi hatinya sama Chacha. Hasilnya? Ditolak Chacha.”

”Ya, mungkin aja Chacha emang nggak suka sama Rendy.” Sahutku.

”Mungkin juga, tapi masih ada 2 orang lagi yang ditolak. Virgo sama Reza.”

Kali ini aku Cuma bisa bengong. Nggak mungkin! Indra pasti becanda. Semua orang tahu siapa Virgo. Ketua OSIS yang terkenal keren banget, dambaan setiap cewek di sekolahku. Sedangkan Reza, anak basket yang genius banget otaknya yang selalu membuat para cewek-cewek histeris kalo’ melihatnya. Masa iya, Chacha nggak tertarik?

”Yang bener, Ndra? Lo becanda kan?” Tanyaku.

”Gue serius, Yan. Mereka sendiri yang cerita sama gue.”

Aku terdiam. Kalau benar apa yang dialami Rendy, Virgo dan Reza. Haruskah aku mundur sebelum maju? Virgo dan Reza yang punya keistimewaan aja ditolak, apalagi aku. Apa yang kupunya? Nggak ada, kecuali beberapa piala atas keberhasilanku dalam lomba melukis. Ah, aku harus optimis! Aku belum mencobanya. Siapa tahu tipe pelukis itu idaman Chacha.

”Ryan... Sebaiknya lo lupain Chacha. Gue nggak mau lo ngalamin nasib yang sama seperti yang lainnya.” Suara Indra membuyarkan lamunanku.

Aku tersenyum. ”Thanks buat peringatan lo, Ndra. Tapi gue nggak mau kalah sebelum berperang. Itu bukan sifat gue.”

”Terserah!! Itu hak lo.” Indra mengangkat bahunya.

Bintang Harapan (2)

Chapter 2
Indahnya Jatuh Cinta


Sore ini segalanya nampak cerah dan indah. Secerah suasana hatiku. Gimana nggak! Tadi pagi, aku diijinin Chacha duduk di sampingnya. Kebetulan, temen sebangkunya pindah ke kelas sebelah. Ah senangnya!!! Hmm... untung tadi aku cepet-cepet minta ijinnya, kalo’ nggak pasti si Aditya yang kelihatannya ada hati juga sama Chacha-sudah duduk di samping Chacha.

Aku bersiul riang ketika memasuki ruang makan. Tasya, kakakku sudah menunggu di meja makan. Matanya melotot galak waktu aku membuka lemari es dan mengambil sebotol air dingin dan meneguknya langsung dari botolnya.

”Pake gelas dong, Yan!” Tegur Kak Tasya.
Aku tersenyum kecut. Duuh... aku lupa lagi nih, nggak boleh minum air langsung dari botolnya. Jorok dan nggak sopan. Ah, ini pasti karena aku terlalu sibuk mikirin Chacha.
Setelah menuangkan air es ke dalam gelas, aku langsung meneguk isinya sampai habis. Lalu tanganku dengan sigap mencomot ayam goreng tepung buatan Kak Tasya.

”Eits!” Kak Tasya memukul tanganku.

”Cuci tangan dulu!” Perintah Kak Tasya galak.

”Oppss! Sorry... lupa.” Aku meringis sambil buru-buru ke wastafel.

”Kakak heran deh sama lo! Lo kenapa sih hari ini? Biasanya lo yang paling bersihan. Nggak pernah lupa cuci tangan kalo’ mau makan. Nggak penah minum air es langsung dari botolnya.” Kak Tasya menatapku tajam ketika aku sudah duduk manis di meja makan dengan sepiring nasi di hadapanku.

”Diserang dehidrasi dan busung lapar.” Sahutku cuek sambil mengambil sepotong ayam goreng tepung.

”Udah, jangan bohong sama Kak Tasya! Lo pasti lagi punya masalah.” Tebak Kak Tasya setengah jitu. Apa jatuh cinta sama seorang cewek itu, sebuah masalah???

”Nggak kok, nggak ada masalah apa-apa.” Aku menggeleng sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutku.

”Ryan...” Kak Tasya menyentuh lenganku. Suaranya melembut.

”Kalo’ ada masalah di sekolah, cerita ya... jangan diem aja. Siapa tahu Kakak bisa bantu.” Ujarnya sembari tersenyum penuh sayang.

”Oke!” Jawabku dengan mulut penuh nasi. Duuh, kakakku yang satu ini. Baik sih baik tapi... matanya seperti elang. Tajam dan mengerikan. Cerewetnya juga amit-amit. Sedikit aja aku berbuat yang aneh-aneh, sejuta omelan dan teguran meluncur dari mulutnya seperti petasan. Apalagi kalo’ dia tahu aku lagi dimabuk cinta. Wah, bisa tuli telingaku mendengar ocehannya. Lebih baik aku diam aja deh. Nggak usah cerita-cerita soal Chacha.

Hmm... syukur deh! Kak Tasya nggak banyak nanya lagi. So... sebelum Kak Tasya kambuh penyakit bawelnya, aku cepat-cepat menghabiskan makan siangku.

Bintang Harapan (1)

Chapter 1
Namanya Chacha


Indra bilang, cewek itu nggak cantik tapi manis. Lucu. Apa sih bedanya cantik dan manis? Entahlah, aku nggak tahu. Tapi kata Indra, kalau cantik bikin bosen ngeliatnya, sedangkan manis nggak ngebosenin. Aneh! Tapi kenyataannya begitu. Buktinya cewek itu. Dia memang nggak cantik. Tetapi setiap kali aku melihatnya seolah mata dan bibirnya tersenyum padaku. Hmm, mungkin karena aku tergila-gila padanya. Entahlah. Pendek kata, aku nggak pernah bosen-bosen memandangnya.

Ya, Rossa Anastasya alias Chacha. Cewek manis itu hampir tiap hari hadir dalam mimpiku. Tiap saat, tiap detik wajahnya singgah di benakku. Ah... Inikah cinta? Dan hari ini, sengaja aku datang lebih awal dari biasanya. Aku Ingin menatap wajahnya lama-lama. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin... ugh! Aku tersentak kaget.

Cewek itu sudah datang. Langkahnya oiii... betapa anggunnya. Matanya, bibirnya... duuhh! Begitu menawan. Aku benar-benar terpana. Chacha... Chacha... betapa aku ingin memilikimu.

Sekarang Chacha duduk di bangkunya. Cantik dan mengagumkan, lalu mengeluarkan buku dari tasnya. Sedetik kemudian, dia asyik membaca catatannya. Aku terus memperhatikannya. Diam-diam, aku merasa beruntung menempati bangku yang paling belakang. Kalau tidak, aku tidak dapat memperhatikannya sepuas hati.

Ooops! Terkejutnya aku, malunya aku. Seolah tahu dirinya diperhatikan, Chacha menengok ke belakang. Ia menatapku dan tersenyum manis. Aih... aih! Betapa aku melayang-layang karenanya.

Gugup, kubalas senyumannya. Dan entah darimana keberanian itu. Tiba-tiba saja aku telah duduk di sampingnya.

”Belajar apa?” Tanyaku gugup.

”Sejarah.”

Ooo... merdu sekali suaranya.

”Mmm... Lo murid baru ya?” Aku semakin gugup. Dalam hati, aku memaki diriku. Pertanyaan apa itu? Sudah jelas, dia memang murid baru di kelasku... kok pake nanya sih??

”Iya, Lo?” Chacha balik tanya.

”Murid lama.” Sahutku sambil berusaha menata denyut jantungku yang riuh kaya’ pasar ikan sedang kebakaran.

”Gue Rossa Anastasya, panggil aja Chacha. Lo?” Chacha memecah keheningan. Busseet! Masa’ sih, nggak tahu nama teman sekelas? Keterlaluan! Tapi... mungkin karena baru seminggu dia masuk sekolah ini, makanya dia nggak tahu namaku. Apalagi, nama Adrian di kelas ini ada 2 orang. Adrian ginting yang gendut dan aku Adrian ganteng. (Paling nggak gue lebih keren ketimbang Adrian ginting. Narsis mode on. Hehehe...)

”Adrian Yudhistira. Panggil aja Ryan.” Jawabku kemudian.

”Gue pernah denger nama lo waktu diabsen, tapi nggak pernah tahu kalo’ itu nama lo. Malah, kaya’nya... gue nggak pernah ngeliat lo deh.”

Astagaaa!!! Dia nggak pernah ngeliat aku, teman sekelasnya? Makhluk keren begini? Aku terlongo, sedikit keki. Tapi bibirku hanya tersenyum biar terlihat cool.

”Oh... jelas aja, gue kan’ duduknya di belakang. Dan lo... lo jarang banget nengok ke belakang. Lo selalu asyik sama buku-buku lo itu.” Kataku.

Chacha tertawa kecil. Ahh, tawanya begitu enak didengar. Seperti nyanyian merdu.

”Iya sih! Gue emang terlalu sibuk sama buku-buku gue. Sampe-sampe nggak merhatiin keadaan di sekeliling gue.”

”Makanya, mulai hari ini jangan terlalu serius. Lo belum kenal temen-temen yang lain kan? Ntar, gue kenalin deh Ok?” Aku menawari diri. Sok baek gitu loh!!!

Chacha mengangguk dan tersenyum. Uff! Lagi-lagi aku terpana.

Bintang Harapan (Sinopsis)

(Tentang sebuah Penolakan Cinta)
Created By Sweety Qliquers


Bintang Harapan
Chapter 1 Namanya Chacha
Chapter 2 Indahnya Jatuh Cinta
Chapter 3 Nembak Chacha
Chapter 4 Ditolak Chacha


Sinopsis
Gimana rasanya ditolak cewek? Sakit! Pasti. Tapi... kalau saja kita tahu apa alasan dia menolak cinta kita, apakah kita masih berani menyimpan harapan? Mudah-mudahan harapan itu akan tetap bersinar secerah bintang di langit menembus kegelapan malam nan sunyi mencekam. Kadang memang ada banyak alasan mengapa harus menolak cinta. Dan rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan.

Kadang memang peribahasa mencintai tidak harus memiliki itu tidak masuk akal. Saat kita mencintai, kita maunya memiliki dan ketika kita tidak bisa memiliki bawaannya senewen dan marah-marah nggak jelas. Tapi yakinlah, cinta itu harus diperjuangkan. Terus mencoba tanpa memaksa tentunya. Cinta itu anugrah maka berbahagialah. Karena kita sengsara bila tidak punya cinta. Kalau ditolak jangan bersedih, karena dunia belum berakhir.

Tapi yang penting Ryan kan sudah mengungkapkan perasaannya dan Chacha juga sudah tahu bagaimana perasaan Ryan. Paling tidak Ryan seharusnya sudah merasa lega karena sudah bisa mengungkapkan persaannya. Sudah tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Dan ditolak itu merupakan sebuah jawaban dan itu resikonya. Intinya jangan berhenti untuk mencintai.


Karakter Tokoh Bintang Harapan:
Adrian Yudhistira (Ryan)
Cowok yang mengagumi Rossa Anastasya (Chacha), anak baru pindahan di kelasnya. Ia pun menaruh hati Pada Rossa Anastasya (Chacha), walaupun tidak sedikit juga para saingannya. Cowok-cowok hampir seluruh sekolah pun menyukai Rossa Anastasya (Chacha). Menurutnya Langit biru tua di kala malam ia meninggalkan rumah kost Rossa Anastasya (Chacha). Samar-samar ada satu dua bintang berkerlip indah. Disanalah... di langit maha luas, ada bintang harapannya tentang sepotong hati yang entah kapan bisa diraihnya. Hati Rossa Anastasya (Chacha).

Rossa Anastasya (Chacha)
Gadis manis yang ingin fokus dalam menuntut ilmu. Setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya, karena kecelakaan lalu lintas ketika ia masih bayi. Kemudian ia dirawat dan diasuh oleh Adik Almarhum Papanya, dibiayai semua kebutuhannya dan pendidikannya. Dan karena hal itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas kebaikan Om dan Tantenya dengan cara tetap fokus dalam pendidikan dan tidak berniat berpacaran. Dekat dengan cowok hanya sebagai teman.