Tampilkan postingan dengan label Malam Sejuta Bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malam Sejuta Bintang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Malam Sejuta Bintang (9-TAMAT)

Chapter 9
Gemintang Di Hatiku


Reyhan
Walau aku bukan gadis istimewa
Yang bahkan namanya pun tak pernah kau ingat
Tapi aku berharap bisa meninggalkan
Sesuatu yang berarti dalam kenanganmu
Sebab aku cinta padamu

(Aurelia Cempaka)
Sesuatu yang Istimewa

***

Melati menghela napas panjang. Dadanya berdebar. Setiap mengingat gadis dari Ferindo itu, ada rasa bersalah yang mengaduk-aduk hatinya. Kenapa harus keysha yang berkorban, dan membiarkan Marvel Andromedha memilih gadis yang bernama Melati Ananda ? Kenapa dia begitu bodoh mau melepas Marvel, dan membiarkan hatinya dirundung sunyi. Padahal saat itu dia tengah bergulat dengan penyakitnya. Apakah ini yang dinamakan takdir?

Melati menggigit bibir.

Semuanya seperti mimpi. Sekarang ia berada di hotel ini. Menempuh kembali jalan-jalan kenangan yang pernah dilaluinya bersama Marvel. Pandewa yang mempesona memang telah menggamangkan hatinya. Dia sendiri tidak tahu mengapa bisa kembali di tempat ini. Barangkali takdir mengharuskan dua hati bersatu. Seperti ikrarnya dengan Marvel di bawah hujan meteor dahulu.

Tapi setiap mengingat betapa sakitnya dua hati di pihak lain, maka rasa-rasanya ia rela tidak dipertemukan dan dipersatukan kembali dengan Marvel untuk selama-lamanya. Keysha dan Aditya, dua hati anak manusia yang dirapuhkan oleh cinta!

Sejenak ia kembali ragu menekan tuts nomor telepon yang akan menghubungkannya dengan telepon kabel di Istana Ferindo. Ia tidak yakin dapat membendung emosinya saat berbincang dengan salah satu keluarga Kerajaan Ferindo tersebut. Namun ia harus menerima kenyataan. Kalau ia menangis karena ketegaran Keysha, itu berarti Keysha memang lebih pantas menerima cinta Marvel. Kalaupun akhirnya ia yang memiliki Marvel, hal itu semata-mata karena takdir.

Ya, takdir yang telah ditentukan dari langit!

“May I speak with keysha?”

Sebuah prosedur yang ia maklumi sebagai protokoler sesaat setelah jemarinya dengan gesit menekan tombol nomor pada pesawat telepon. Dibayangkannya romantika yang akan mengharu-biru.

Suara seorang wanita di seberang sana menjawabi, membalas beberapa saat sebelum terdengar nada tunggu. Limabelas detik sebelum akhirnya gagang telepon terdengar diangkat.

“Hallo....”

“Halo, Keysha?!”

“Hai, Melati!”

“Keysha....”

“Apa kabar, Melati?”

“Ak-aku... ba-baik! Ka-kamu bagaimana?”

“Hm, baik. Cuma sedikit masalah pada kesehatan. Biasa.”

“Keysha, aku kangen sekali sama kamu!”

“Sama. Aku juga kangen sama kalian semua. Eh, kamu di mana?”

“Aku di Pandewa.”

“Hah?! Kamu di Pandewa?!”

“Iya. Ceritanya panjang....”

Keysah menyimak suara separuh tangis di speaker gagang telepon. Mendengar kata pandewa, seolah-olah ia tengah dibangunkan dari mimpinya yang panjang.

“Keysha....”

“Melati, kok kamu menangis sih?”

“Aku bahagia dapat ngobrol dengan kamu, Keysha.”

keysha tertawa. “Dasar bodoh. Hei, aku tidak mau pertemuan kita, meski hanya via kabel telepon ini, dibanjiri dengan airmata!”

Melati turut menderaikan tawa di antara sesenggukannya. “Tapi, aku bahagia sekali....”

“Aku juga. Hm, eh kamu belum menceritakan untuk apa ke Pandewa?”

“Pokoknya, ceritanya panjang. Keysha, kamu sekarang sudah sembuh beneran, kan?”

“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin kamu dapat mendengar suaraku saat ini.”

“Syukurlah. Kami semua mengkhawatirkan-mu, Keysha.”

“Thanks. Berkat doa-doa kalian semua, aku berhasil menjalani operasi transplantasi sumsum tulang dengan lancar.”

“Ya, aku sudah tahu. Kak Indra sudah menceritakan pada kami semua di Beemart tempo hari.”

“Kak Indra masih sering mengontak aku via e-mail ke sini, kok. Kadang-kadang salah satu anggota Zinc 3 bergantian mengontakku.”

“Maksudmu, meneleponmu....”

“Ya, iyalah. Masa lewat telepati. Hahaha....”

Terdengar derai tawa di seberang.

Melati masih tertawa. Namun hatinya menangis. Sungguh, Keysha telah berkorban segalanya. Ia menggigit bibir. Besok lusa ia akan menikah dengan Marvel. Oh, pantaskah pemuda itu bersanding dengannya? Bukankah lebih baik jika ia saja yang berkorban, lalu membiarkan seorang Keysha bersama Marvel?

Sejenak ia menggeleng.

Sungguh, ia tidak tahu!


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Malam Sejuta Bintang (8)

Chapter 8
Dua Hati Yang Tersakiti


Saat aku siuman di rumah sakit
Aku melihatmu tertidur pulas di samping ranjangku
Aku sangat gembira
Rasanya ingin mengulurkan tangan
Membangunkanmu
Tapi yang muncul di depan mataku
bukan wajahmu
Aku sudah ingat semua
Ada kau, ada Keysha
Aku tidak tahu harus bagaimana
Tapi setiap deretan kenangan itu menjelas
Aku sadar betapa besar cintaku padamu…Melati

(Marvel Andromedha)
Dilema Rindu Cinta Sejati

***

“Marvel... tunggu!”

Suara lunak separuh mendesis itu menghentikan jemari Marvel yang hendak menekan tuts nomor pada pesawat telepon kamar hotel.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

Melati menelungkup di atas tempat tidur. Mengarahkan tangan kanannya ke arah gagang telepon yang hendak diangkat oleh Marvel tadi. Dibukanya phone address pada ponselnya, mencari nama Rossa Anastasya (Kak Chacha).

“Sekarang giliranku. Biar aku yang menelepon Kak Chacha dan Keysha,” urai Melati sembari menggeser posisi tangan Marvel menjauh dari pesawat telepon.

“Aku kangen sekali dengan mereka.”

“Memang, kupikir sebaiknya kamu yang menghubungi Chacha dan....”

“Marvel...!”

“Ayo? Apalagi? Cepat hubungi mereka....”

Melati menatap wajah tegas yang tengah menunduk itu. Ia tahu, Marvel masih menyimpan kenangan bersama Keysha. Meski ia tidak mencintai Keysha, tapi benang merah kebersamaan dan hari-hari panjang yang dijalaninya bersama gadis tomboi itu semasa ia menderita amnesia memang masih mengiang dalam ingatan. Tidak mudah memupus memori serangkaian hari yang telah mereka lalui bersama. Sebab Keysha adalah bagian dari takdirnya.

“Ya, ampun!” Marvel menepuk dahinya.

“Sejak pulang dari Taman Century Flower sore tadi, ternyata kita belum mandi. Hm, sebaiknya aku mandi dulu sembari kamu menelepon Chacha dan Keysha.”

Melati mengangguk lalu mengurai senyum simpul di bibir, mengekori tawa yang terdengar dipaksakan pemuda itu. Ia tahu Marvel sedang mengalihkan pembicaraan mereka tentang Keysha. Dan dua titik airmatanya nyaris membasahi pipinya ketika pemuda itu berbalik memunggunginya, berjalan gontai menuju kamar mandi hotel.

Mungkin pemuda itu masih terluka dengan dilema hatinya. Tapi pilihan itu telah diputuskannya tanpa penyesalan. Ketegasan untuk memilih cinta pertamanya sudah tentu merupakan hal tersulit untuk seseorang dengan dua kenangan pada dua masa.

Ya, Tuhan!

Melati menggigit bibirnya. Tak sedikit pun berani membayangkan rasa perih yang dirasakan pemuda itu. Bilur-bilur luka masa lalunya adalah tragedi mencekam. Mentari Olivia dan Chintya Bella (gadis yang dijodohkan Mentari Olivia dengan Marvel) adalah salah satu dari sekian banyak lara itu. Apakah takdir terlalu kejam mempermainkan Marvel?!

Melati menggeleng. Ia sendiri tidak tahu. Hanya, ia yakin hati Keysha pasti hancur. Jemarinya membeku di atas tuts nomor pesawat telepon. Sama halnya dengan Keysha, Aditya juga menjadi korban takdir.

Dan ketika satu tuts nomor internasional telah ditekannya, kembali ada ragu menguak di benaknya. Dapatkah ia membendung airmata yang diyakininya bakal membanjiri dialognya dengan Keysha?

Tinggal dua hari lagi momen indahnya bersama Marvel akan terwujud. One moment in time. Hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Haruskah ia membiarkan Keysha tercenung dan hanya mengenang cinta masa lalunya berbahagia dengan gadis lainnya? Tidak! Semestinya gadis bangsawan itu menyaksikan pernikahan pemuda yang pernah dicintainya untuk terakhir kalinya. Suatu momen indah yang mungkin pernah diidam-idamkannya suatu saat dulu.

Seberapa besar pengorbanan Keysha pada Marvel, sungguh Melati tidak tahu. dia tidak dapat menakar seberapa banyak pengorbanan Keysha pada Marvel. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia dapat meraba keagungan cinta seorang Keysha. Bahwa, dia mampu mengorbankan perasaannya sendiri. Merelakan hatinya melepas pemuda yang dicintainya sepenuh jiwa pada gadis lain demi kebahagiaan pemuda itu kelak. Menyisakan waktunya yang tinggal tiga bulan untuk mempertemukan Melati Ananda dan Marvel Andromedha. Dan Keysha-lah yang menghadapi Prahara Cincin Meteor itu. Dia bahkan berani menerjang si Pencuri cincin meteor tanpa mempedulikan keselamatan nyawanya sendiri. Menyimpan baik-baik cincin meteor itu agar Marvel terhindar dari marabahaya dan petaka seperti yang dijelaskan dalam legenda cincin meteor tersebut.

Apakah pertemuannya dengan Marvel di Pandewa ini merupakan suratan takdir? dia sendiri pun tak tahu. Jalan-jalan kenangan di Pandewa memenuhi benaknya dengan beragam kisah. Tempat-tempat teduh. Bangunan-bangunan Kuno. Danau Sagrada Familia. Air Mancur Guell. Pesta kembang api. Karnaval. Candle light dinner diiringi lagu 'Te Quiero Te Quiero'. Kado gaun putih dari Marvel sesaat sebelum berangkat ke Taman Century Flower. Cincin meteor. Semua kenangan itu membaur dalam kenangannya.

Lalu muncullah gadis dari Ferindo itu…Keysha setahun lalu. Mengawal pemuda itu mencari jatid irinya yang hilang karena amnesia. Dirawatnya pemuda itu dengan segenap kasih. Mencintainya sepenuh hati. Menerima keinginan Mentari Olivia untuk dipertunangkan dengan Marvel, sebagai bagian dari sandiwara dan siasatnya agar dapat menyatukan seorang gadis bernama Melati Ananda dengan ahli waris Continue Enterprise itu.

“Melati!” Terdengar teriakan yang berbaur dengan guyuran air dari dalam kamar mandi.

“Apakah kamu sudah menghubungi mereka?”

Melati terkesiap. "I-iya, iya. Aku lagi mencari nomor mereka di HP-ku.”

Kembali terdengar guyuran. Serta merta jemarinya yang lembut menekan tuts nomor pesawat telepon. Dilekatkannya gagang telepon pada daun telinganya. Ada nada panggil beberapa kali sebelum dijawabi oleh suara merdu. Suara khas Chacha!

“Halo....”

“Halo, Kak Chacha!”

“Siapa, ya?”

“Ini aku, Melati!”

“Hei, Melati! Apa kabar?”

“Baik, Kak Chacha. Kak Chacha sendiri bagaimana?”

“Hm, biasa. Sibuk.”

“Jangan terlalu capek, Kak Chacha. Rileks sedikit kenapa, sih?”
Suara merdu tersebut terdengar menderaikan tawa. Melati mengekori tawa itu dengan lantun lembut.

“Eh, Melati... aku dengar dari Zinc 3, kamu berada di Pandewa ya?”

“Iya, Kak Chacha. Sebenarnya aku mendapat tugas memandu wisata ke Pandewa ini dari Avianca Travel, perusahaan biro perjalanan umum tempatku bekerja. Tapi... saat ini aku bersama Marvel.”

Terdengar suara deheman yang disengaja. Melati jadi risih. Wajahnya langsung memerah.

“Wah, wah. Mengulang romantika hujan meteor, ya?”

Wajah Melati bertambah merah seperti habis terbakar. Ia tersenyum tanpa sadar. Semua sahabatnya sudah tahu kisah tentang hujan meteor tersebut. Mulanya kisah tentang hujan meteor itu hanyalah dirinya dan Marvel yang tahu.

Saat itu ia dan Marvel masih menghadapi serangkaian kendala sehingga hubungan mereka senantiasa pasang surut. Selain rintangan terberat dari Mentari Olivia yang tidak ingin putranya berpacaran dengan seorang gadis dari kaum bawah, ia dan Marvel juga menghadapi kendala besar saat terlibat cinta segitiga dengan Aditya. Akibat prahara cinta segitiga tersebut, ia dan Marvel dilingkupi kebimbangan. Dan ketika mereka memutuskan untuk menuntaskan masalah itu suatu hari di atas balkon rumah, maka diambillah suatu kesimpulan bahwa cinta mereka akan bersatu selama-lamanya jika pada saat itu ada meteor yang melintas. Pada kenyataanya, setelah ikrar mereka terucap, malam itu langit memang tengah mengucurkan hujan meteor.

“Melati....”

“Eh, uh... Kak Chacha....”

“Kamu melamun, ya?”

“T-tidak.”

“Mana Marvel?”

“Lagi mandi. Kak Chacha mau bicara?”

“Tidak usah. Sampaikan saja salamku.”

“Beres, Kak Chacha.”

“Well, tumben kalian mau telepon aku jauh-jauh di Paris nih?”

“Sorry, Kak Chacha. Kami bermaksud mengundang Kak Chacha ke Pandewa.”

“Oya? Hm, aku tahu. Mungkin kalian mau menikah, ya?”

“Hm, bagaimana ya?” Melati menggantungkan kalimatnya, wajahnya menyumringah.

“Ya, memang iya, Kak Chacha!”

Suara di seberang sana terdengar seperti terlonjak kaget. “Ka-kamu tidak sedang membohongi aku, kan?!”

“Mana pernah kami membohongi Kak Chacha, sih?”

“Oh, thank's God! Akhirnya...”

“Kak Chacha harus datang, ya?”

“Pasti. Peristiwa paling bahagia buat kamu dan Marvel harus aku hadiri. Hei, Melati... aku akan membawa sekaligus gaun-gaun keren hasil rancangan desainer top di sini. Kamu harus memakainya pada saat acara pernikahanmu nanti. Wah, pokoknya dijamin kamu pasti jadi tambah cantik!”

“Kak Chacha tidak usah terlalu berlebihan. Aku tidak perlu gaun-gaun semewah itu, kok.”

“Tapi....”

“Aku akan mengenakan gaun putih yang diberikan Marvel tempo hari saat janjian dan menunggunya di Taman Century Flower setahun lalu. Kak Chacha masih ingat, kan?”

Suara Chacha seperti terdengar mengangguk. “Well, kalau begitu terserah kamu. Yang penting aku sangat gembira mendengar berita aktual kalian. Hm, aku turut merasakan kebahagiaan kalian.”

“Acaranya besok lusa pagi. Di Taman Century Flower. Kak Chacha datang, ya?”

“Oke. Mungkin aku langsung berangkat hari ini. Kebetulan acaraku tidak terlalu padat.”

“Terima kasih, Kak Chacha. Bye.”

“Bye.”

Telepon ditutup. Melati menghela napas. Ia masih tersenyum-senyum sendiri. Meski baru berkenalan dengan gadis berprinsip keras itu beberapa saat setelah menjalin tali persahabatan dengan Zinc 4, tapi Chacha sangat bersahaja. Ia sebenarnya merasa sedih saat menyaksikan Aditya memutuskan hubungannya dengan Chacha. Entahlah. Aditya yang kelewat posesif, ataukah Chacha yang terlalu menganggap sepele cinta mereka. Yang pasti hubungan mereka memang telah berakhir.

Dan, Keysha!

Melati menepuk dahinya keras tanpa sadar. Dia mesti menghubungi gadis itu. Mengabarinya sesegera mungkin berita gembiranya bersama Marvel. Mumpung masih ada waktu. Sebelum detak-detak sang waktu yang bergerak cepat tak menyisakan kesempatan lagi untuk mereka bertemu.

Malam Sejuta Bintang (7)

Chapter 7
Pandewa… I’m In Love


Tuhan tolong!
Jangan biarkan airmataku
jatuh di hadapan Melati
Biarkan aku belajar tegar seperti gadis itu

(Keysha Seruni)
Permohonan Keysha di malam terakhir pertemuannya dengan Melati

***

Dini hari di Pandewa mulai mengembuskan kabut. Kaca-kaca jendela mulai dibasahi embun. Dingin yang menusuk-nusuk tulang memaksa Melati meringkukkan diri pada selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada. Getar pertemuan masih terasa. Sesuatu yang dianggapnya mustahil. Dan memaparkan sebuah kenyataan serupa mimpi.

Namun kali ini semuanya memang bukan mimpi. Marvel telah hadir dalam hidupnya. Ia hadir nyata. Merengkuhnya dalam jarak yang tak begitu jauh. Mengembuskan napas yang senantiasa menghangatkan giris hatinya. Tapi sesekali ia merasa gentar dengan pertemuan mereka. Akankah sang waktu mempermainkan cinta mereka kembali? Mungkinkah sesuatu yang bernama takdir akan hadir dan melerai cinta mereka?

“Aku akan coba menghubungi Kak Tasya,” gugah Marvel, melonjakkan Melati dari lamunannya.

“Tentu. Kamu harus segera menghubungi Kak Tasya. Aku pikir banyak hal yang perlu disampaikannya pada kita nantinya. Bagaimanapun, Kak Tasya adalah wali kita, mewakili orangtuamu yang sama sekali menentang hubungan kita ini.”

Melati masih meringkuk duduk berselubung selimut. Dibacanya guratan wajah sumringah Marvel lewat satu lirikan mata. Pemuda itu sungguh-sungguh mencintainya. Lewat satu ikatan sakral yang akan mereka ikrarkan besok lusa di Taman Century Flower, ia yakin hari-harinya yang kelabu akan tersaput juga. Merenda impian mereka yang selama ini luluh lantak oleh prahara. Legenda cincin meteor itu memang telah berakhir!

“Halo, Kak Tasya?” Sertamerta Marvel menyapa setelah satu sentuhan pada tombol ponselnya aktif.

“Marvel?!” Suara seorang wanita muda terdengar seperti terlonjak di seberang sana.

“Kamu sekarang berada di mana sih, Marvel?! Ibu bilang, kamu kabur lagi dari rumah di Beemart?!”

“Kak Tasya, tolong jangan katakan apa-apa pada Ibu!”

“Tentu saja aku tidak akan bilang apa-apa pada Ibu. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan kamu. Aku cemas terjadi apa-apa sama kamu. Kamu kan baru sembuh dari amnesia? Pokoknya, aku sangat takut kamu kenapa-kenapa! Tadinya kupikir kamu malah kambuh, amnesia lagi. Soalnya Ibu bilang, dia tidak dapat menemukan kamu di seluruh Beemart. Mungkin kamu hilang ingatan dan entah pergi ke mana.”

“Sekarang Kak Tasya sendiri ada di mana?”

“Sekarang aku ada di Paris. Mungkin minggu depan aku balik ke New York. Sebenarnya keberangkatanku ke Paris ini bukan dalam rangka apa-apa. Hanya ingin mencari kamu. Ya, siapa tahu saja kamu berada di sini. Chacha (Rossa Anastasya-Cinta pertama Aditya) kan tinggal di sini. Mungkin kamu bersembunyi di apartemennya. Beberapa hari lalu aku ke apartemennya, ternyata kamu memang tidak ada di sana. Ibu sendiri sudah mencarimu ke seluruh pelosok bumi. Hehehe…Tapi Ibu tidak menemukanmu. Hei, kamu ada di mana sih, Marvel?!”

“Aku di Pandewa.”

“Pandewa?! Ya, ampun!”

“Kak Tasya, tolong jangan bilang pada siapa-siapa, ya?!”

“Beres!!!”

“Terima kasih, Kak Tasya.”

“Ya, sudah. Yang penting kamu baik-baik saja.”

“Kak Tasya....”

“Apa?”

“Bisakah Kak Tasya berangkat secepatnya ke Pandewa?”

“Ada apa memangnya?”

“Pokoknya Kak Tasya harus datang tanpa Ibu ke Pandewa meskipun hanya untuk beberapa jam saja. Kak Tasya harus sudah ada di Pandewa ini minimal besok lusa pagi.”

“Detik ini aku bisa berangkat ke sana. Tapi, ada apa sebenarnya?!”

“Tapi Kak Tasya harus janji untuk tidak mengatakan hal ini kepada Ibu dan Ayah, ya?!”

“Iya, iya! Ada apa, sih?!”

Lima detik lamanya Marvel membisu. Entah bagaimana ia harus mengekspresikan moment bahagia yang akan dilaluinya bersama Melati besok lusa. Ponselnya masih menempel di telinga, tapi tak sepatah kata pun kalimat yang terlontar untuk menjawabi pertanyaan penasaran kakak perempuannya itu.

“Halo, Marvel....” Suara di seberang sana terdengar seperti menjerit tidak sabaran.

“Marvel, kamu masih mendengarkan aku atau tidak sih?!”

“Ya, ya, Kak Tasya, Aku masih mendengar, kok." " jawab Marvel secepat meteor.

“Lalu apa alasanmu menyuruhku secepatnya berangkat ke Pandewa?”

“Karena?”

“Karena apa?!”

“Because, I WILL MARRY MELATI THE DAY AFTER TOMORROW!”

Suara di seberang sana terdengar terlonjak. Seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, ia terkekeh sebagai tanggapan. Tidak mungkin adik tunggalnya itu dapat mengambil keputusan secepat itu. Apalagi ia baru saja mengalami trauma otak akut, amnesia.

“Apa?!” tanyanya tidak yakin.

“Kamu ingin....”

“Aku ingin menikah dengan Melati. Besok lusa di Taman Century Flower!”

“Ta-tapi....”

“Tidak ada yang dapat memisahkan kami lagi, Kak Tasya!”

“Bu-bukan itu maksudku. Tapi apakah kalian sudah siap....”

“Kak Tasya merestui kami, kan?!”

“Tentu saja. Tapi....”

“Tapi apa sih, Kak Tasya?!”

“It's okay. Aku sangat gembira dengan keputusan kalian itu. Yah, kalau sudah menjadi keputusan bulat, aku harus bilang apa selain menyetujui dan merestui kalian.”

“Terima kasih, Kak Tasya!” Suara Marvel kini yang terdengar seperti sedang terlonjak.

“Entah bagaimana aku harus membalas budi baik Kak Tasya.”

“Sudahlah, Marvel. Aku ini kan kakak kandungmu. Kalau kamu bahagia, aku juga turut bahagia. Dan mana mungkin aku tidak hadir pada seremonial pernikahanmu dengan Melati di Pandewa.”

“Oke. Kalau begitu, aku tunggu kedatangan Kak Tasya di Pandewa,” Kata Marvel dengan nada terharu.

“Aku tidak dapat memaafkan Kak Tasya kalau sampai tidak datang! Sampai jumpa, Kak Tasya.”

“Bye.”

“Eh, tunggu, Kak Tasya!”

“Ada apa lagi?”

Marvel menderaikan tawanya. “Kak Tasya, apakah kali ini jika bertemu nanti, akan memukulku lagi?”

“Marvel, apa-apaan sih kamu ini?” Natasya Permata (Tasya) di Paris terdengar menderaikan tawanya di speaker ponsel.

“Rupanya kamu masih ingat kebiasaanku bila bertemu denganmu. Kupikir setelah amnesia, kamu sudah melupakan kebiasaanku itu. Tapi secara keseluruhan kamu sudah banyak berubah, kok. Kamu jauh lebih dewasa, bukannya Marvel yang suka bikin masalah. Makanya, mungkin ritual pertemuan kita itu aku akhiri saja. Soalnya, Melati banyak ikut andil dalam perubahan dirimu. Hm, aku harus berterima kasih banyak kepada gadismu itu. Dia menyulapmu menjadi orang baik.”

Baterai ponsel Marvel melemah tepat ketika tawanya menyeruak. Terdengar sinyal 'bip' beberapa kali sebelum ia menyudahi pembicaraan.

“Sorry. Ponselku low-bat. Sampai jumpa, Kak Tasya.”

Melati tersenyum, dan sesekali memejamkan matanya karena bahagia. Setelah dilihatnya Marvel menyudahi pembicaraannya dengan sahabat-sahabat dan kakaknya lewat ponsel, maka ia memberanikan diri mendekat kembali ke sisi pemuda itu. Menyandarkan kepala ke pundaknya yang bidang. Serasa masih tidak percaya dan mimpi, dua hari lagi ia akan menikah dengan pemuda yang paling dicintainya!

Seperti dapat meraba alam pikirannya, Marvel mendadak bertanya dengan lembut sembari sesekali jemarinya mempermainkan helai rambut Melati yang jatuh di pelipis.

“Melati, apa yang sedang kamu pikirkan sih?”

Melati tergagap. “Oh, ti-tidak ada apa-apa kok! Aku cuma berpikir, apakah tidak sebaiknya memberitahukan juga kabar gembira kita ini kepada Kak Chacha? Soalnya, Kak Chacha kan banyak membantuku mencarimu saat kamu amnesia dan menghilang di Pandewa.”

Marvel melonjak girang. “Hei, kenapa tidak? Mungkin saja Chacha dapat merias kamu? Bukankah Chacha jago merias? Dia kan model? Uh, pasti dia bakal menyulap Melati Ananda menjadi pengantin tercantik di dunia!”

“Marvel, kamu ini kenapa sih? Aku menyuruhmu mengundangnya bukan karena ingin dia menjadi periasku?” tanggap Melati dengan wajah memerah.

“Lagian, siapa juga yang mau menjadi pengantin tercantik di dunia?”

Marvel terbahak.

“Aku kan menyuruhmu mengundangnya supaya Kak Chacha turut merasakan kebahagiaan kita,” tutur Melati manyun.

“Eh, hampir lupa. Kita juga harus mengundang Keysha! Undang, ya?”

“Untuk apa kamu ingin menghubungi Keysha?”

Marvel bertanya dengan wajah sendu. Sama sekali tidak ingin mengingat kenangan silam bersama gadis yang pernah dicintainya pada suatu masa itu. Ia ingin melupakan semua kenangan manis yang pernah dirajutnya bersama gadis petualang dari Ferindo tersebut. Ia ingin meyudahi segalanya. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari baru bersama Melati. Bukan Keysha. Ia tidak ingin menyakiti hati Melati untuk kedua kalinya lagi. Ia tidak ingin Melati cemburu, dan menyimpan rasa sakit itu di hatinya bila ia menghubungi Keysha - memberitahu dan mengundangnya ke Pandewa.

“Tentu saja kita harus mengundangnya, Marvel. Dia kan teman baik kita juga. Lagian, seumur hidup aku tidak akan dapat melupakan jasa-jasa dan pengorbanannya sehingga kita dapat bersatu kembali. Jadi, mana bisa kita tidak mengabari pernikahan ini kepadanya di Ferindo?”

“Ta-tapi....”

“Marvel, please! Jangan pernah menyangka aku akan cemburu bila Keysha hadir di antara kita. Kenapa? Karena aku tahu cintamu hanya kepada diriku seorang. Aku tahu betapa besar cintamu kepadaku.”

“Baiklah. Aku akan mengundangnya ke Pandewa,” Sahut Marvel, wajahnya sudah sumringah lagi.

“Terima kasih, Marvel," ujar Melati, mempererat gayutan tangannya di lengan Marvel.

“Kita telepon Keysha memakai telepon hotel saja. Soalnya, ponselku lagi low-bat.”
Shancai mengangguk. Secuil senyum kembali mengembang di bibir tipisnya. Dipejamkannya matanya sesaat. Kenangan bersama Keysha dan hari-hari biru persahabatan mereka merupakan memori indah masa lalu. Diam-diam ia bersyukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan kepadanya.

Dan Keysha adalah anugerah itu.

Malam Sejuta Bintang (6)

Chapter 6
Janji Sang Bintang Jatuh


Apakah aku mencintai Aditya?
Aku sendiri tak tahu
Dia pernah menjadi mimpiku
Tapi mimpi beda dengan cinta
Mimpi selalu indah
Tapi cinta adalah nyata

(Melati Ananda)
Marvel Andromedha, Cintaku yang Nyata

***

“Halo, Aditya....”

Aditya menyadari dirinya tengah termangu. Entah berapa lama ia terdiam tanpa menjawabi panggilan Marvel di seberang sana. Ditanggapinya sesegera mungkin panggilan personel Zinc 4 yang paling berpengaruh itu.

“Eh, ha-halo, Marvel....”

“Kamu kenapa sih, Aditya?” Suara di seberang sana bertanya dengan nada prihatin.

“Kok diam sampai lama begitu, sih? Apa kamu sakit?”

“Ti-tidak....”

“Aditya, kalian harus datang. Awas kalau tidak!”

Aditya menormalkan suaranya. Disikapinya dengan wajar berita gembira yang didengarnya barusan dari Marvel. Ia memang harus ikhlas. Demi kebahagiaan Melati meskipun hatinya kecewa. Jangan sampai gugup tingkahnya menggambarkan ketidakrelaan. Bukankah ia sendiri juga yang mendesak Marvel untuk mengejar Melati ke Pandewa?! Bahkan ia menyerahkan tiket pesawatnya sendiri kepada cowok itu setelah memukul dagunya karena ngotot tidak ingin mengejar Melati lagi!

“Beres. Kamu tidak usah khawatir. Momen bahagiamu dengan Melati hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Mana mungkin kami melewatkannya? Pasti akan kami rayakan dengan pesta besar! Eh, kalau perlu akan kami borong semua kembang api yang ada di Pandewa. Pestamu pasti bakal lebih meriah ketimbang 'Season of The Fireworks' di Pandewa.”

Suara di seberang sana tertawa. Aditya turut menderaikan tawa. Personel Zinc 4 lainnya, juga Kak Indra ikut tertawa. Dhika mengangkat gelasnya di depan ponsel Aditya. Seolah-olah hendak mengajak suara di seberang sana untuk bersulang. Tingkahnya yang kocak diikuti oleh Reyhan dan Kak Indra. Tiga detik terdengar bahakan yang menggema.

“Hei, kalian sedang apaan sih?” tanya Marvel di seberang sana.

“Berisik sekali!”

“Kamu pikir sedang apa lagi sih, Marvel? Ya tentu saja sedang merayakan kebahagiaan kamu dan Melati.”

“Oh....”

“So, apakah kamu sudah menyiapkan segalanya?”

“Maksudmu?”

“Maksudku, apakah kamu sudah minta restu dari orangtuamu?”

Suara di seberang sana terdengar tercekat. Terdiam untuk beberapa lama. Sedetik kesadaran berpendar di kepala pemuda introver itu. Aditya menyadari ketololannya. Tentu saja seumur hidup Mentari Olivia tidak akan pernah menyetujui hubungan putranya dengan Melati Ananda, gadis yang berasal dari keluarga miskin. Yang sangat tidak sepadan dengan Marvel. Marvel yang merupakan pewaris perusahaan konglomerat Continue Enterprise!

Mentari Olivia merupakan duri dan kendala utama dalam kisah kasih antara Marvel dan Melati. Hati wanita separuh baya itu seolah-olah terbuat dari pualam. Tidak pernah tersentuh oleh ketulusan cinta Melati pada putranya. Dan ketika Marvel memberontak, dan lebih memilih melarikan diri dari kungkungan ibunya, prahara cinta lainnya pun datang susul-menyusul seperti badai. Memporak-porandakan dua hati remaja itu.

Takdir seperti mempermainkan mereka. Di saat cinta Marvel dan Melati menyubur, malapetaka malah datang menghancurkan segalanya. Marvel mengalami kecelakaan parah di Pandewa, menyebabkannya gegar otak akut sehingga amnesia. Peristiwa tragis itu membuatnya melupakan semua identitas dan jati dirinya sendiri, tidak terkecuali kenangan indah yang pernah dijalaninya bersama Melati dahulu.

Setahun sudah peristiwa malang itu terjadi. Kini dua hati itu telah terpaut. Aditya tersenyum seperti biasa. Apakah aku tega menghancurkan kembali momen indah mereka di Pandewa dengan ketidakrelaanku?! Desisnya dalam hati.

“Aditya....”

“What?”

“Awas lho, kalau kalian sampai tidak datang!”

“Don't worry. Besok pagi kami akan langsung terbang ke sana. Hm, doakan semoga kami tiba dengan selamat besok sore di sana, ya?”

“Oke. Tapi, janji ya untuk datang?”

“Jangan khawatir.”

“Aditya....”

“Ada apa lagi?”

“Tolong jangan beritahu siapa-siapa kalau aku dan Melati akan married. Tidak terkecuali orangtua Melati. Juga Rendy. Kami berdua sangat merahasiakan hal ini. Hm, aku tidak mau orangtuaku tahu kabar ini. So, tolong jaga baik-baik rahasia yang kupesankan pada kalian ini.”

“Oke, oke. Pasti kami rahasiakan, kok! Kamu pikir aku mau melihat ibumu mengamuk dan datang mencak-mencak ke Pandewa seperti dulu lagi?”

“Thank you, Aditya.”

“Wait, Marvel! Bagaimana soal pekerjaan Melati?”

“Hm, aku pikir Melati akan memberitahu dan mengatakan pada atasannya di Avianca Travel bahwa dia akan mengambil cuti untuk sementara, dan mungkin akan kembali bekerja setelah pernikahan kami.”

“Oh, baguslah kalau begitu.”

“Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?”

“Tidak ada. Hm, kalau begitu sampai besok ya? Jaga diri baik-baik, Marvel. Sampaikan salamku kepada Melati.”

“Oke. Akan kusampaikan.”

“Thank's. Bye.”

“Bye.”

Aditya mematikan ponselnya. Memandang ke arah ketiga sahabatnya yang masih menyembulkan senyum separuh girang. Tanpa diperintah, Dhika langsung mengaktifkan ponselnya. Menghubungi biro perjalanan kenalannya. Memesan tiket yang akan menerbangkan mereka ke Pandewa besok pagi.

Kak Indra kembali mengangkat gelasnya yang sudah nyaris tandas itu tinggi-tinggi ke udara. Dengan suara keras khasnya, ia kembali mengajak sahabat-sahabatnya untuk bersulang.

“Untuk kebahagiaan Marvel dan Melati!”

“Ya, untuk kebahagiaan Marvel dan Melati,” ujar ketiga personel Zinc 4, mengekori kalimat Kak Indra yang sember.

Sedetik setelah terdengar suara keras dentingan gelas di udara, maka membahanalah gelak tawa keempat pemuda itu. Membelah keheningan dinihari di Beemart. Menembusi langit kelam yang ditaburi gemintang.

***

Setelah menghubungi sahabat-sahabatnya di Beemart, Marvel memandang Melati yang masih berdiri di ambang jendela, melayangkan pandangannya ke jalan protokol depan hotel tempat mereka menginap. Wajahnya yang tirus terpantul cahaya dari lampu penerangan kamar. Ada sosok mungilnya membayang di jendela kamar hotel. Riuh aktivitas malam di Pandewa seperti tidak pernah mati. Lalu-lalang kendaraan, kelap-kelip temaram lampu penerangan kota, dan desingnan samar semilir angin dari kejauhan merupakan harmonisasi indah cinta mereka. Setahun lalu, di hotel yang sama, Melati dan Marvel merajut kebersamaan itu.

“Melati....”

Gadis berambut panjang itu mengalihkan perhatiannya dari noktah-noktah cahaya jauh di bawah sana. Dipandanginya wajah sedikit tegang dan lelah kekasihnya. Ia melangkah mendekat. Lalu duduk di pinggir tempat tidur. Marvel menyambut sepasang mata telaga gadisnya dengan menyembulkan senyum sisa euforia.

“Boleh aku minta izinmu?” tanya Marvel, merapatkan duduknya di sisi Melati.

“Apa itu?” Melati balik bertanya.

“Bagaimana kalau pernikahan kita ini disampaikan kepada Kak Tasya di New York?”
Melati terkekeh.

“Dasar Bodoh! Kupikir ada hal penting apa? Siapa takut memangnya kalau kabar gembira kita ini disampaikan pada Kak Tasya? Marvel, kupikir Kak Tasya pasti mendukung kita. Bukankah selama ini hanya dialah yang merestui hubungan kita?”

“Iya, sih. Tapi....”

“Apa kamu takut Kak Tasya akan membocorkan dan memberitahukan pernikahan kita kepada orangtuamu? Atau, kamu takut pernikahan kita ini akan sampai di telinga orangtuaku di Beemart?”

“Bukan begitu. Aku yakin kok kalau Kak Tasya tidak akan membocorkan rahasia kita ini kepada kedua orangtuaku. Justru, dia pasti merasa sangat gembira dengan keputusan kita ini. Cuma yang membuat aku tidak enak hati adalah, bahwa pernikahan kita ini masih dirahasiakan kepada orangtuamu, Melati.”

“Kalau demi kebaikan kita, apa salahnya? Anggap saja surprise buat mereka nantinya. Yang pasti, demi rahasia kita berdua memang selayaknya tidak ada yang tahu kecuali sahabat-sahabatmu di Zinc 4.”

“Aku minta maaf sebesar-besarnya atas kelancangan kita ini, tidak meminta izin dan restu dari kedua orangtuamu. Sebenarnya bukan maksudku begitu, Melati....”

“Sudahlah, Marvel. Nantinya mereka juga akan maklum, kok.”

“Tapi aku merasa bersalah. Aku sudah mempertimbangkan matang-matang untuk tidak memberitahu kedua orangtuamu itu. Pernikahan kita ini sakral, Melati. Aku tidak ingin pertemuan kita ini dipisahkan oleh orang-orang yang berhati egois seperti Ibuku, Melati. Maka dari itu, aku bertindak agak ekstrim dan hati-hati. Lagipula, pernikahan kita tidak dirayakan secara besar-besaran, kok. Aku ingin pernikahan kita berjalan mulus di Taman Century Flower besok lusa.”

Melati mengangguk maklum. Tak sadar airmatanya menitik. Pemuda di hadapannya kini bukan lagi pemuda yang dikenalnya pertama kali di Universitas Indo Power. Pemuda itu sudah jauh berubah. Ia tampak lebih dewasa dan matang. Bukannya lagi Marvel yang angkuh. Yang terlahir dari keluarga konglomerat sehingga menjadikannya sombong! Dan ia semakin jatuh hati padanya.

Malam Sejuta Bintang (5)

Chapter 5
Legenda Taman Century Flower


Taman Century Flower
Suatu ketika dalam tembang kuno
Saat langit Pandewa melembayung
Menyimpan legenda tentang Kisah Cinta Sejati
Tahta suci sang cinta
Karya agung dari surga
Ketika sayapku mengepak
Hendak menggapai impian
Merpatiku tak pernah datang
Menyepikan aku dalam diam
Dan hanya menyisakan sebait lara di hati
Marvel Andromedha
Mohon wujudkan impianku yang terdalam
kebahagianmu dengan Melati
Adalah liuk lafazku
Sehingga bilangan hari yang membentang
Tak akan memaparkan kenangan berdebu

(Aditya Permadi)
Legenda Taman Century Flower

***

Pandewa masih menghadirkan kenangan yang sama. Jalan-jalan kenangan, setahun yang lalu, tetap menyuguhkan keindahan natural tak berbanding. Di sini, setahun lalu, dua hati yang bertaut telah dipisahkan oleh takdir. Malapetaka legenda cincin meteor seolah menyaput kebahagiaan mereka berdua. Kecelakaan mobil di jalan protokol Taman Century Flower akhirnya menghadirkan serangkain kisah miris. Pemuda itu amnesia. Melupakan semua kenangan yang telah dirajut melalui serangkain kisah semanis madu dan segetir empedu.

Lalu lahirlah kisah baru. Awal pertemuannya dengan putri kerajaan dari Ferindo yang hidup melanglang buana dari satu negeri ke negeri lainnya, Keysha.

“Kamu belum menjawab ajakanku, Melati!”

Gadis itu tersenyum. Pemuda itu belum berubah. Sifatnya yang keras kepala telah membuka ingatan dalam memori kepalanya. Universitas Indo Power menyimpan banyak kenangan dalam sepenggal romantika hidupnya. Di sana ada Zinc 4 yang selalu ia antipati dan ia teriaki dengan kata: ‘Genk Borju Bodohyang kurang kerjaan’. Ada pamflet peringatan You'll Be Dead bertanda Zinc 4. Ada Rendy Pratama (Rendy) yang kocak. Ada Helenia Tiara Azizah (Helen) sahabat karibnya yang berkhianat. Ada dosen yang lembek. Ada Beby Galia Putri (Beby) yang sering pamer kekayaan. Dan seribu kenangan lainnya yang tak terlupa.

“Perlukah aku jawab?”

“Tentu saja!”

“Hei, kamu masih saja keras kepala.”

“Tentu saja. Kalau tidak keras kepala, bukan Marvel Andromedha namanya.”

“Dasar bodoh! Aku tidak suka Marvel. Tapi, aku suka Virgo!”

Marvel menderaikan tawanya. Melati mengiringi tawa pemuda berlesung pipi itu.

“Virgo milik Keysha,” kata Marvel setelah meredakan tawanya.

“Kamu jangan serakah memiliki dua-duanya, Virgo dan Marvel.”

Sontak senyum mungil itu menguncup. Uraian kalimat bernada gurau itu telah menohok hatinya. Ada rasa sakit bila mengingat semua itu. Kurang lebih setahun lamanya ia meniti jalan penantian itu. Menunggu sampai Sang Kekasih pulih dari amnesia. Sebuah prahara trauma otak yang menimpa pemuda itu telah merampas kebahagiaanya. Merebut orang terkasih dari sisinya.

“Dia....”

Seperti menyadari dirinya telah mewarnai pertemuan mereka dengan lara, Marvel secepat mungkin mengubah topik pembicaraan. Ia tahu ucapannya barusan telah menyakiti hati gadis berambut panjang yang sangat dicintainya itu.

“Dia sudah kembali ke Ferindo. Sekarang dia pasti sudah dipaksa berlaku menjadi Tuan Putri lagi....”

“Kasihan Keysha....”

“Melati....”

“Maaf....”

“Ka-kamu ti-tidak apa-apa....”

Gadis itu mengangguk, mencoba menyembulkan senyum menutupi galau hatinya. Namun yang dapat ia lakukan adalah menggigit bibir. Kepura-puraan menjadi hal naif. Selamanya ia tidak pernah dapat menutupi perasaannya.

“Maafkan aku, Marvel. Mungkin....”

“Jangan berpikir macam-macam lagi, Melati. Kamu terlalu lelah.”

Melati mengangguk. Selayaknya ia memang tidak patut memaparkan kenangan lama di dalam area sakral Taman Century Flower ini. Toh semuanya telah berlalu. Seharusnya ia merenda harapan, menjelang hari-hari baru yang telah ditawarkan oleh Marvel kepadanya. Bukannya kisah suram yang memenggal romantika cintanya dulu.

Semilir angin yang menelusup melalui pohon-pohon rindang di Taman Century Flower sudah menusuk-nusuk kulit dengan dinginnya yang menggigit. Marvel kembali memeluk tubuh gadisnya. Atas nama cinta dia dan Melati hadir di sini. Sebuah tempat legenda keabadian cinta. Entahlah. Ia tidak terlalu meyakini hal itu. Yang pasti ia telah berikrar untuk senantiasa mencintai gadisnya. Gadis yang telah dipampas dari hari-harinya melalui sebuah musibah kecelakaan yang menyebabkannya amnesia.

Ranting-rantin dan bunga-bunga indah hadapan mereka tertiup angin seolah melambai-lambai ke arah mereka ketika dua sejoli itu melangkah keluar. Barangkali turut merasakan kebahagiaan pertemuan dan pertautan dua hati yang telah lama dipangkas oleh sang waktu.

***

Sudah nyaris dinihari. Tapi ketiga pemuda itu enggan beranjak dari cafe. Bukan hal yang gampang untuk dapat berkumpul bersama seperti sekarang. Reuni Zinc 4 minus Marvel namun plus Kak Indra memang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Semua personel Zinc 4 memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Marvel masih berusaha mendapatkan cintanya yang hilang. Reyhan Wijaya (Reyhan) saat ini terlalu disibuki dengan urusan kantor perusahaan ayahnya, Dan tetap percaya bahwa Aurelia Cempaka (Aurel) adalah cinta sejatinya. Aditya Permadi masih mencari nafkah dan identitas dirinya di Jepang. Sementara Andhika Kusuma (Dhika) masih berusaha membangun kehidupannya bersama Syafa Kirana (Syafa) sehingga nyaris tidak punya banyak waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya lagi.

Namun untung Kak Indra membuka sebuah cafe kecil di Beemart. Jadi jika senggang, mereka akan bertemu di cafe Kak Indra yang baru, Indra's Cafe. Sejak kepergian Keysha ke Ferindo, Kak Indra tidak memiliki sahabat paling setia lagi. Ia merasa sangat kesepian. Untuk itulah ia berinisiatif untuk membuka sebuah cafe kecil agar dapat memiliki kegiatan di waktu-waktu luangnya yang banyak. Di samping itu, ia juga hendak menyatukan Zinc 4 kembali di dalam sebuah tempat berkumpul. Dengan berbekal modal selama bekerja sebagai petani kebun anggur di Pandewa, Kak Indra pun menyewa sebuah rumah dan ditata menjadi cafe yang menjual aneka hidangan serta minuman.

Dan seperti malam ini, Kak Indra kembali menemani personel Zinc 4. Minum seperti biasa sembari bersenda gurau mengusir kepenatan setelah bekerja seharian.

“Ayo kita bersulang untuk kebahagian pertemuan Marvel dan Melati di Pandewa!” kata Kak Indra, mengangkat gelas yang berisi minuman soda tinggi-tinggi.

Sertamerta ketiga personel Zinc 4 menyambut toast yang ditawarkan Kak Indra.
“Ya, untuk kebahagiaan Marvel dan Melati!”

Terdengar gelas berdenting di udara. Keempat pria itu minum setelah bersulang. Tidak ada kecemasan dalam hari-hari mereka lagi. Marvel sudah sembuh dari amnesia. Melati juga sudah mendapatkan kembali cintanya yang sempat hilang. Dan Keysha telah kembali ke Ferindo setelah berhasil dengan selamat menjalani operasi transplantasi sumsum tulang.

Setahun mereka diliputi kecemasan. Solidaritas dan kesetiakawanan yang tinggi di antara personel Zinc 4 membuat mereka peduli, dan berusaha menyelesaikan semua masalah yang melanda salah satu personel Zinc 4. Siapa pun dan seberat apapun masalahnya. Sekarang mereka merasa lega, dan dapat berkumpul lagi tanpa dibebani oleh masalah.

Ada dering ponsel terdengar. Aditya meredakan tawanya. Dikeluarkannya Blackberry dari saku celananya. Dilihatnya layar di ponselnya. Dan kontan tersenyum ketika identitas sang penelepon tercantum di sana .

“Hei, dari Marvel!” jeritnya pelan sembari memperlihatkan ponselnya ke arah sahabat-sahabatnya.

Reyhan mengulum senyum, berlipat tangan seperti biasa setelah membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun dari pangkal hidung. Dhika mengacak-acak rambutnya. Sementara itu Kak Indra mengangguk-angguk dan membolakan matanya dengan gaya lugunya. Semuanya tampak gembira, seolah-olah dapat merasakan kebahagiaan Marvel dan Melati di Pandewa.

“Hm, rupanya Marvel memang sangat beruntung. Baru saja kita membicarakan dia, tahu-tahu dia menelepon. Dasar anak mujur!” tutur Dhika, mengomentari deringan pada ponsel Aditya.

“Halo, Marvel. Apa kabar?”

“Baik. Eh, Aditya, kamu di mana?”

“Saat ini aku bersama Reyhan dan Dhika di cafenya Kak Indra. Kak Indra juga sedang menemani kami, kok. Hei, kamu belum menceritakan sesuatu kepada kami. Bagaimana hubunganmu dengan Melati di sana?”

“Everything is ok! Aditya, aku harap kamu beserta Reyhan dan Dhika dapat berangkat ke Pandewa secepatnya. Kalau bisa besok pagi. Ajak pacar-pacar mereka sekalian kemari.”

“Wait, wait, Marvel! Untuk apa kami ke Pandewa? Hei, kami tidak mau mengganggu acara happy ending-mu dengan Melati!”

“Tapi, kali ini ada hal penting yang harus kalian saksikan. Aditya, aku tidak mau dianggap tidak setia kawan, dan melupakan kalian begitu saja ketika sudah senang.”

“Ada apa, sih?”

Suara Marvel di seberang sana terdengar menjerit girang sampai-sampai kedua sahabat sejatinya, Dhika dan Reyhan dapat mendengarkan dari jarak cukup jauh.

“I WILL MARRY MELATI THE DAY AFTER TOMORROW!”

Aditya terlongong. Reyhan dan Dhika seperti tersentak dari kursi. Suara yang terdengar dari speaker ponsel Aditya seperti menghipnotis mereka. Tidak sedikit pun pernah terlintas dalam benak kalau pertemuan dua hati tersebut akan ditutup dengan ikatan sakral perkawinan.

“Aditya, kamu masih mendengarkan aku tidak?!”

Aditya mematung. Ponselnya masih menempel di daun telinga kanannya. Tapi tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya. Hatinya giris. Gadis mungil berambut panjang itu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Banyak kenangan yang tertoreh saat bersamanya. Tapi ia telah mengikhlaskan segalanya saat mengetahui hanya Marvel-lah yang dapat membahagiakan hati gadis itu. Dan atas nama cinta, ia mengorbankan diri untuk mengalah. Mundur dari kompetisi merebut hati Melati. Membiarkan Marvel - salah satu sahabat terbaiknya, memasuki kehidupan Melati.

'Ada apa lagi?! Pertandingan itu sudah usai, Aditya. Kamulah pemenangnya!'

'Tidak, tidak! Pertandingan itu belum usai! Kamu harus berani dan fair melanjutkan pertandingan itu, Marvel!'

Sepenggal kenangan lama menguak di memori benaknya. Ia memang sengaja mengalah. Mengalah demi kebahagiaan Melati. Gadis yang sesungguhnya paling dicintainya!
Dan selalu saja menutupi kekecewaan hatinya dengan tersenyum.

Malam Sejuta Bintang (4)

Chapter 4
Datanglah Gemintangku


Aku adalah Marvel Andromedha yang lolos dari maut
Biarkan aku katakan padamu seperti apa mati itu
Mati adalah saat kau ingin melakukan sesuatu
Tapi sudah tak sempat
Mati adalah ketika kau sudah tak punya kesempatan
Sekalipun hanya untuk menyeka airmatamu
Mati adalah ketika kau bahkan tak punya kesempatan bernapas tiga bulan
Jadi apakah kau memilih menyerah
Pada sisa napasmu
Yang tinggal tiga bulan ini?

(Marvel Andromedha)
Dialog Jingga Menjelang Ajal Keysha


Lembayung di Pandewa mulai menaungi jejeran bangunan kuno dengan sinarnya yang menjingga ketika Taman Century Flower kembali menjadi saksi bisu bertautnya dua hati. Marvel melepaskan pelukannya pada bahu gadis mungil di hadapannya. Entah berapa lama ia terpaku, memeluk erat Melati yang masih menitikkan airmata haru.

Semuanya seperti mimpi! Legenda petaka cincin meteor itu telah berlalu. Serangkaian kisah getir telah mereka arungi bersama. Namun keagungan cinta mereka mengalahkan segalanya. Meski takdir seolah-olah mempermainkan mereka. Mengorbankan dua hati orang yang pernah mereka kasihi sepenuh jiwa. Keysha di satu pihak. Dan Aditya di pihak lainnya.

“Melati, aku ingin melamarmu!” Marvel berbisik, menyentuh kembali pundak mungil Melati. Suaranya terdengar pelan, gugup namun terdengar tegas.

Sontak wajah tirus itu mendongak. Seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, ia menatap dalam-dalam wajah sumringah Marvel. Ditelusurinya kedalaman sepasang mata telaga di hadapannya. Menerka-nerka gambaran yang tercetus di dalam kalimat yang terlontar barusan. Mungkin saja pemuda itu tengah mengigau akibat euforia pertemuan yang sangat membahagiakan mereka. Namun setiap menatap sepasang mata itu, ia malah mendapati kesungguhan yang berasal dari palung hati.

“Kamu mau kan, Melati?” desak Marvel pelan, menggetarkan lembut bahu gadis berambut panjaang itu.

“Kita akan bersatu. Kita akan lalui semua rintangan bersama-sama. Tidak peduli seberapa besar hambatan yang bakal menghalangi cinta kita lagi.”

Sesaat Melati tidak tahu harus berbuat apa. Ia menunduk seperti biasa. Degupan di jantungnya terdengar riuh. Keputusan yang dilesatkan oleh Marvel memang serupa mimpi. Dan ketika anak panah kalimat itu menancap tepat di hatinya, ia masih meyakinkan dirinya tengah bermimpi. Sama sekali tidak menyangka pertemuan mereka akan diawali dengan selantun permintaan indah.

“Tapi....”

“Tapi kenapa?!”

Gadis itu membisu. Kerongkongannya perih. Ada rasa sakit yang kembali mengaduk-aduk hatinya. Seraut wajah lara membayang di pelupuk matanya. Banyak hal yang belum dapat dituntaskannya hanya dengan sekali rengkuh. Aral yang membentang terlalu garang untuk ditempuh oleh tubuh rapuh seorang Melati Ananda. Menjawabi desakan pemuda itu hanya akan menambah sejumlah luka di hatinya. Mungkin terlalu dini apabila ia mengangguk. Sebab hari-hari yang menjelang belum mencetuskan sebuah asa yang pasti. Dan ia lebih memilih untuk menyimpan saja impian cintanya itu hanya dalam hati saja tanpa harus memupuknya dengan segenggam harapan.

Atmosfer sunyi di Taman Century Flower melingkupi dinding-dinding dua hati. Dari kejauhan lonceng tua di salah satu puncak menaranya bergetar pelan ditiup semilir angin. Syahdu pertemuan dua hati sekaligus menggamangkan. Melati terisak. Satu di antara seribu kenangan indah mereka berdua menguak kembali di memori kepalanya. Mungkinkah takdir akan kembali mempermainkan cinta mereka?! Mungkinkah takdir akan kembali memisahkan tautan hati mereka?!

“Kamu meragukan ketulusanku?!”

Melati menggeleng.

Tidak! Bukan karena hal itu! Kesungguhan dan ketulusan yang telah kamu berikan padaku jauh sebelum ikrar kita di bawah hujan meteor, telah membuktikan betapa besarnya cintamu padaku, Marvel! bisik Melati dalam hati.

“Melati....”

“Marvel, jangan mendesakku!”

“Tapi....”

“Aku pikir....”

“Kamu pikir apa?”

Melati menghapus airmata yang menitik di pipinya. Diuraikannya senyum simpul di bibir. Tersenyum di antara isak tangisnya.

“Kamu belum percaya....”

“Kamu mencintaiku tulus, aku tahu dan percaya itu. Tapi, aku pikir kita tidak mungkin dapat bersatu....”

Wajah tampan itu mengeras. Sontak sepasang tangannya yang sedari tadi bersandar di bahu Melati terlepas. Ia menggeleng samar.

“Takdir?!”

Melati memejamkan matanya di ujung kalimat sinis Marvel. Mungkin takdir merupakan biang masalah dalam hubungan mereka berdua seperti yang diucapkan pemuda itu barusan. Entahlah. Yang pasti ia merasa cinta mereka berdua sejak awal memang tidak direstui.

“Marvel, kamu jangan menganggap aku tidak pernah serius dengan hubungan kita ini. Aku juga punya mimpi untuk dapat bersama denganmu. Selama-lamanya. Tapi....”

“Tapi apa?”

“Hubungan kita tidak direstui. Ingat itu, Marvel. Meski Kak Tasya
(Natasya Permata-Kakak Marvel Andromedha yang tinggal di New York) merestui hubungan kita ini, tapi orangtuamu tidak! Ibumu, mungkin juga Ayahmu masih menyimpan harapan yang besar pada putranya, Marvel Andromedha, yang merupakan pewaris perusahaan besar Continue Enterprise (perusahaan terbesar di Beemart milik keluarga Marvel). Mereka lebih mengharap dan menganggap kelangsungan hidup perusahaan mereka lebih penting ketimbang memikirkan calon pendamping untuk putranya. Apalagi....”

“Cukup, Melati!” Marvel menghardik, menempelkan jari telunjuknya tepat di tengah bibir Melati.

“Aku tidak mau mendengar apa yang kamu bilang....”

“Buktinya aku memang....”

“Apapun dan dari mana asalmu, aku tetap mencintaimu!”

“Apa yang dapat mereka peroleh dari seorang 'Rumput Liar'?!”

“Aku tidak peduli semua itu! Melati, jangan menyiksaku lagi! Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin kehilangan kamu lagi.”

“Tapi....”

“Aku tidak peduli seberapa besar Ibuku menentangmu! Aku juga tidak peduli dengan Continue Enterprise! Aku tidak peduli semua itu! Aku cuma berharap dapat bersamamu selamanya. Sebab itulah kebahagiaanku yang sesungguhnya. Jauh dari semua apa yang ditawarkan oleh Ibuku. Menjodohkan aku dengan gadis pilihannya yang sama sekali tidak aku cintai, mengatur hidupku, dan menghalangi aku mencintai gadis sebaik kamu! Ibuku terlalu egois, Melati! Tidak sedikit pun Ibuku pernah mau memikirkan kebahagiaan putranya sendiri!”

“Marvel....”

“Melati, aku ingin menebus semua kesalahanku! Aku minta maaf! Selama ini, aku telah menyakiti hatimu!”

“Ti-tidak....”

“Aditya sudah menceritakan semuanya. Rupanya banyak hal yang tanpa kusadari telah melukai hatimu. Selama ini aku telah mencampakkanmu. Aku juga....”

“Ta-tapi, aku tahu bukan maksudmu sebenarnya berbuat begitu. Marvel, ketika itu kamu memang tidak tahu, dan tanpa sadar melupakan semua hubungan yang pernah kita jalin dulu karena amnesia.”

“Tapi....”

“Aku tidak pernah menyalahkanmu, meski Keysha…”

“Keysha. Keysha hanyalah sepenggal takdir yang diturunkan dari langit dalam skenario cinta kita, Melati. Aku terluka dan sakit hati ketika menghadapi dilema, harus memilih siapa. Cinta sejatiku yang berarti memilihmu, atau cinta karena jasa dan kebaikan yang berarti memilih Kaysha. Tapi tahu tidak, setiap merenung dan menanyai hati kecilku, maka yang terpikirkan hanyalah kamu seorang. Hanya kamulah cintaku, Melati!”

“Tapi....”

“Aku tidak ingin menyakiti hatimu untuk yang kedua kalinya, Melati. Aku ingin menebus semua kesalahan masa laluku terhadapmu. Itulah sebabnya aku mengikuti ajakan Keysha mengelilingi dunia untuk yang terakhir kalinya. Itu semua karena aku ingin memutuskan pilihan yang tegas, yaitu memilihmu dan hanya menganggap Keysha sebagai bagian dari perjalanan hidupku yang… selamanya akan kusimpan sebagai kenangan di hatiku. Lewat perjalanan kami berdua itulah, maka aku memiliki banyak waktu untuk mencetuskan keterusteranganku pada Keysha. Bahwa selamanya seorang Marvel Andromedha tidak pernah dapat melupakan Melati Ananda. Cinta sejatiku!” jelas Marvel, menatap gadis di hadapannya dengan wajah memelas.

“Pada waktu itu aku merasa sangat berdosa kepadamu. Bagaimana mungkin aku dapat meninggalkan cinta pertamaku di Beemart, sementara di lain pihak aku bersama-sama gadis lain melanglang dunia.”

“Ta-tapi, kamu telah melukai hati Keysha, Marvel!”

“Apakah aku harus menyalahkan takdir?! Tidak, Melati! Keysha adalah kenangan, bagian dari takdir. Sekarang dan selamanya, Melati adalah bagian dari cinta sejatiku!”

“Marvel....”

“Sudahlah, Melati!” Marvel mengibaskan tangannya pelan.

“Jangan menghancurkan harapan dan kebahagiaanku untuk dapat mencintaimu selama-lamanya!”

“Ta-tapi....”

Tak ada jawaban atas kalimatnya yang protes. Tubuh mungilnya itu tersentak ke depan oleh sepasang tangan kekar yang merengkuhnya. Pemuda itu memeluknya erat-erat. Membelai rambut panjangnya. Menyalurkan kehangatan pada bilah hatinya yang bimbang.
Dan sesungguhnya, jauh di lubuk hatinya, ia memang tidak ingin Marvel melepaskan pelukannya setelah terpisah sekian lama.

Malam Sejuta Bintang (3)

Chapter 3
Jeritan Hatiku


Kerajaan Ferindo
12 September 2009

Kak Indra,
Musim dingin di Milton (Negara yang dikunjungi oleh Keysha, yang dikatakannya pada malam terakhir pertemuannya dengan Melati) menggigilkan aku dalam sepi. Keindahan kota tua itu nyaris hilang ditelan rimbun salju. Sangat menyedihkan. Padahal aku ingin menghapus lara dalam hatiku dengan genangan indah kenangan. Untuk itulah aku pergi dari kota ini. Ritual melanglang buana, aku cukupkan sampai disini. Aku harus pergi. Dan kembali ke kediamanku yang damai disini, Ferindo.

Jangan menertawai tulisanku yang jelek ini. Karena dibalik tulisan cakar ayamku ini ada hal penting yang ingin aku ungkapkan pada Kak Indra. Dalam suratku kali ini, ada impian dan kenangan yang selama ini – tanpa kusadari telah membentuk seorang Keysha sehingga mampu berdiri dengan kepala tegak menghadapi getir kenyataan. Ketika semuanya membaur dalam benakku, sekali lagi hanya Kak Indra-lah tempatku melabuhkan keresahan. Aku minta maaf. Dan jangan menganggap Keysha Si Pemberani ini merupakan gadis pengganggu. Bukannya bintang timur yang senantiasa menerangi mereka yang tersesat. Sungguh, aku tidak pernah menganggap Kak Indra sebagai talang yang mampu menampung semua unek-unekku. Kenapa? Karena Kak Indra adalah saudara sekaligus sahabatkku yang terbaik di dunia.

Lewat surat sepanjang cerita pendek ini aku ingin menitipkan salam untuk orang-orang yang pernah demikian dekat di hatiku. Setiap mengingat mereka, hatiku serasa berdarah. Diam-diam aku selalu menangis untuk itu. Tapi aku tidak pernah menyesali mengapa Tuhan menggariskan pertemuan seorang gadis pelarian Kerajaan Ferindo dengan seorang cowok amnesia konglomerat, Marvel Andromedha.

Kak Indra,
Sebenarnya sejak dulu aku tahu ingatan Marvel sudah pulih. Dia juga sudah menemukan cintanya yang sejati pada Melati saat aku menghadapi kenyataan yang memilukan ini. Mulanya aku benar-benar tidak dapat menerima kenyataan ini. Karena itulah aku dengan tamak menerima kebaikan Marvel untuk menemaniku berkeliling dunia terakhir kali.

Aku hanya berpura-pura berani, bersikap tegar menghadapi sang kematian. Sebenarnya aku sama sekali tidak berani menghadapi kehilangan dan perpisahan. Karena itulah aku melukis semua punggung manusia. Membuat apa yang aku cintai seolah tidak lekang dari mataku. Ya, mungkin aku terlalu egois. Mungkin aku terlalu picik menyikapi semua kenyataan ini!

Naif, ya?!

Tapi akhirnya aku sadar, apa yang telah kita miliki tidak selamanya abadi. Suatu saat semua akan lepas. Seperti saat vonis dokter beberapa waktu lalu bahwa usiaku yang mungkin memendek oleh penyakit meningoenchepalitis. Lalu apa artinya semua yang kita miliki sementara jiwa kita pun tidak dapat melekat pada raga selamanya?!

Apa artinya semua ini?!

Marvel mendampingiku menjelajahi satu kota ke kota yang lain. Saat melihat dunia yang indah ini, akhirnya aku sadar dan mengerti kenapa Tuhan melibatkan aku ke dalam kisah Marvel dan Melati?

Tuhan ingin aku belajar sesuatu!

Tuhan ingin memaparkan sebuah ketegaran dan keberanian yang ditunjukkan-Nya lewat seorang Melati.

Aku belajar dari gadis itu. Belajar atas kegigihannya mendapatkan cintanya yang hilang! Belajar atas kesabarannya menunggu seseorang yang seolah dirampas dari kehidupannya! Belajar dari perjuangannya menempuh kerasnya penentangan dirinya oleh Mentari Olivia, ibunda Marvel Andromedha!

Aku belajar sedikit demi sedikit dari Rumput Liar itu. Bangun dari kekalahan. Bangkit dari kenyataan pahit tentang kematian yang akan memendekkan perjalanan hidupku. Aku belajar untuk tabah menghadapi penyakit yang akan memangkas usiaku yang kini cuma sejengkal tangan.

Aku jadi lebih tegar seperti karang. Karena sesungguhnya hidup itu tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Hidup untuk saling mengasihi tanpa pamrih merupakan anugerah indah. Aku merasa bahagia telah menyatukan dua hati itu.

Aku tidak terluka!

Sungguh. Meskipun sesaat rasanya sakit, tapi kebahagiaan mereka telah menumbuhkan rasa lain di hatiku. Jauh mengalahkan rasa sakit itu. Bahkan sama sekali menyambutnya dengan sukacita. Aku telah membahagiakan orang yang paling aku cintai seumur hidupku, Marvel Andromedha!

Kak Indra,
Mungkin Kak Indra akan sinis menertawai romantisme ini. Terlalu cengeng barangkali? Tapi sungguh, aku tidak terluka. Aku baik-baik saja. Jauh merasa lebih bahagia ketimbang tetap memaksakan diri memiliki Marvel seutuhnya. Kenapa?! Karena dengan begitu, cintaku akan tetap abadi di hati. Aku jadi bersemangat untuk bertahan di dunia ini. Dengan ketulusan cintaku pada Marvel, aku mendadak mengerti dan paham bahwa aku harus hidup.

Ya, aku harus hidup!

Aku ingin tetap hidup. Tapi tentu saja semua itu tidak cukup hanya sebatas kata-kata. Aku harus memperjuangkannya. Aku tidak boleh menerima nasib ini begitu saja. Aku akan memperjuangkan kesembuhan diriku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kobaran semangat yang telah kalian berikan untuk kesembuhanku agar tetap dapat bertahan hidup. Kalau ingat ayah dan rakyat bangsaku yang setiap hari mendoakan aku dalam ritual-ritual mereka, juga motivasi dan dorongan moril Kak Indra, Marvel dan Melati, mana boleh aku begitu lemah dipermainkan penyakit?!

Mana boleh aku begitu?!

Kak Indra,
Oleh karena itu aku terus mengusahakan kesembuhan diriku. Menjalani serangkaian terapi dan pengobatan. Dan pada akhirnya, lewat bantuan Ayah, aku menemukan donatur sumsum tulang yang tepat. Ini mukjizat dari langit untukku, Kak Indra!

Ini mukjizat!

Kak Indra,
Saat membaca suratku, mohon jangan menangis. Jangan mengkhawatirkan aku lagi. Karena aku sudah kembali dengan selamat di Ferindo. Karena akhirnya keyakinanku membuat Tuhan tersentuh. Tuhan mendengar doa-doa kita semua. Tuhan memberikan mukjizat melalui kesembuhan diriku. Operasi transplantasi sumsum tulang telah berhasil aku jalani. Aku selamat. Aku bahagia. Sangat bahagia.

Kak Indra,
Tolong titip salam untuk mereka. Tolong sampaikan kebahagiaanku ini pada Marvel dan Melati. Aku tahu Kak Indra tidak akan mengecewakan aku, bukan?

Well,
Aku janji tahun depan akan berada di pabrik anggur kita di Pandewa. Aku akan menantang Kak Indra minum anggur merah. Tapi sabar sampai tahun depan ya, Kak Indra? Sebab masih banyak urusan di sini yang harus aku selesaikan. Aku masih harus bersitegang dengan Ayah yang selalu mengharuskan aku ikut protokoler Kerajaan Ferindo. Harus berlaku layaknya Yang Mulia Tuan Putri Kerajaan. Manis duduk di Istana untuk dipingit Pangeran, entah, dari Kerajaan mana! Bukannya kucing liar yang kerjanya keluyuran dengan jins belel dan seperangkat alat lukisnya!

Kak Indra,
Jangan tertawa membaca suratku. Jangan tertawa membayangkan Yang Mulia Tuan Putri Keysha memakai gaun sepanjang kereta api, dengan sepasang sepatu berhak tinggi semeter yang bakal bikin tersandung setiap menaiki undakan di tangga Istana. Hahaha....
Di sini aku merasa jauh lebih baik ketimbang tiga tahun lalu saat kabur ke Pandewa. Aku merasa lebih sedikit dewasa. Mungkin waktu telah mengajari aku banyak hal. Sehingga beban kebangsawanan yang senantiasa dipikulkan ke pundakku oleh pihak Istana, khususnya Ayahku, jauh terasa lebih enteng dan ringan. Mungkin juga semua hal itu diandili besarnya pengorbanan cintaku terhadap Marvel, yang membuat aku jadi lebih dewasa dan mandiri. Entahlah. Yang pasti, aku merasa Tuhan telah mengutus seorang Marvel atau Virgo ke dalam hidupku. Agar aku dapat mengerti Arti cinta yang sesungguhnya!

Kak Indra,
Mungkin sudah saatnyalah aku menghentikan hanya melukis punggung orang-orang lagi. Aku ingin melukis wujud orang sesungguhnya. Karena dari keutuhan wujud lukisan itulah aku dapat melihat keberanian seorang Keysha. Yang berani dan jujur melihat lika-liku kehidupan, dan menerima apa pun yang telah digariskan Tuhan untukku!

Terima kasih untuk segalanya. Semoga Tuhan selalu melindungi Kak Indra, sahabat terbaikku di dunia.

My Luv 4 U
Keysha Si Pemberani

Malam Sejuta Bintang (2)

Chapter 2
Melati Dan Aku

Aku masih berkutat melawan penyakitku ketika kenyataan getir itu menghentakku suatu hari. Sebetulnya harapan itu sudah punah sejak vonis dokter sebulan lalu. Meningoenchepalitis (penyakit yang diderita Keysha) yang kuidap sudah menghancurkan segalanya. Namun aku masih menabur asa pada impian yang kerontang. Dan dengan naifnya mengharap pemuda itu dapat menemaniku sampai menjelang ajal menjemput. Mungkin aku terlalu picik menyikapi kenyataan yang baru kuperoleh – bahwa gadis itu adalah kekasih dari pemuda yang paling aku cintai – justru pada saat-saat terakhir hidupku. Mungkin juga aku terlalu egois untuk dapat memiliki Marvel sepenuhnya meskipun Tuhan hanya mengizinkan aku bernapas tidak berapa lagi.

Beemart Bowling Centre masih meniupkan atmosfir yang sama. Udara yang meliuk hangat terasa berat di paru-paru. Aku dan Melati pergi jalan-jalan bersama. Melabuhkan langkah kaki pada poros kebimbangan yang melintang di atas keraguan. Serangkaian irama sunyi yang tepat terpahat di sedihnya hati yang dibawa semilir angin basah dari kebimbangan.

Gadis itu mematung seperti biasa. Ketegarannya menghalau tangis yang hendak pecah dari pelupuk mata. Kupandangi dalam-dalam wajahnya yang menunduk. Air mancur dari taman kota yang hijau keperakkan ditimpa temaram lampu taman di depan kami mengalir tenang. Seperti alur pikiran kami yang merambat getir di dalam benak masing-masing. Terdiam tanpa sepatah kata pun sehingga menyia-nyiakan puluhan menit waktu langkah kami.

Dia bersandar pada bangku taman, mencoba menyikapi alunan sunyi dengan senyum terpaksanya. Tapi semuanya sia-sia. Untaian lara yang bersimfoni tetap memaksa menghadirkan telaga bening di sepasang pipiku. Layaknya seorang hawa, dia dapat meraba kedalaman isi hatiku meski telah kututupi dengan tirai dusta.

“Keysha, tegurnya dengan suara lembut.”

“…Kamu jangan membohongi hatimu sendiri!”

Aku mengangkat wajah setelah sedetik menghimpun napas. Disambutnya tatapan mataku yang berkaca-kaca dengan hembusan udara yang keluar dari bibir tipisnya. Sesaat ia memejamkan mata, entah untuk apa. Tapi kutangkap kilau yang terpancar dari sepasang matanya. Bukti penderitaannya yang terpendam lama. Sebuah penantian yang rasanya sudah berabad-abad. Yang telah dirampas dari pelukannya saat pemuda itu sudah tergapai tangan.

“Aku tidak pernah mencintai, Marvel!”

Gadis itu terkekeh. Cukup untuk menampik alasanku tanpa harus dijelaskan dengan serentetan kalimat. Ia mendongak. Seperti kebiasaannya. Mencoba membenturkan pandangannya pada langit kelam, jauh di atas sana. Mungkin saja ada pendar bintang (Meteor Garden) yang turun dan melintas tepat di atas kepala kami. Tapi malam ini semuanya jauh dari harapan. Awan gemawan menutup layer langit yang senantiasa berhiaskan tahta gemintangnya yang ajaib. Barangkali langit malah akan meneteskan rinai hujan. Mungkin Tuhan belum mengizinkan dia mendapat jawaban pasti tentang ikrar masa lalu lewat penampakan bintang jatuh, yang pernah diucapkannya bersama pemuda yang kini tengah mengalami derita trauma otak akut – amnesia.

“Marvel mencintaimu.” Tegasnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Tulus berharap.

“Dia sangat mencintaimu, Keysha!”

“Dasar Virgo, bodoh sekali anak itu.” Kataku, menderaikan tawa di ujung kalimat.

“Virgo itu memang bodoh, Melati. Aneh, apa dia pikir dengan perhatian lebih yang kuberikan selama ini…”

Melati menyergah. Alisnya bertaut, penggambaran amarah yang keluar atas kekerasan hatiku. “Dia yang mengatakannya sendiri padaku!”

Aku mengurai senyum simpul di bibir, tersenyum dengan rona tawar. Namun makna yang trpancar dari sumringah itu bukannya penegasan yang bijak. Dan bodohnya, aku selalu menyangka dapat membohongi gadis itu dengan seperangkat dusta. Tapi ternyata aku salah. Gadis itu tak bergeming. Ia cermat mengamati. Bahwa aku tengah bersandiwara.

“Dia jatuh cinta padaku, memang iya.” Dustaku untuk kesekian kalinya.

“Tapi bukan berarti aku harus mencintainya juga. Kamu tahu kenapa aku baik kepadanya?”

Tubuh gadis mungil di sampingku menegak. “Kenapa?”

“Karena aku merasa beutang kepadanya. Aku merasa bertanggung jawab moral mengembalikkan ingatannya. Dia amnesia karena aku. Kalau bukan karena aku, dia tidak mungkin melupakan kamu!”
“Itu kecelakaan. Jangan memberikan alasan tentang kecelakaan mobil di Pandewa itu, Keysha. Lepas dari semua itu, Marvel memang mencintaimu.”

“Jangan memaksaku untuk menerima cintanya, Melati. Aku tidak suka memaksakan diri mencintai orang yang tidak kusukai.”

“Tapi…”

“Marvel milikmu. Aku minta maaf…”

“Maaf kenapa?”

“Karena… aku secara tidak langsung sudah membuat hidupmu menderita. Kecelakaan mobil itu sudah menyebabkan dia amnesia sehingga melupakan kekasihnya yang bernama Melati Ananda di Beemart (kota asal Melati, Marvel dan anggota Zinc 4). Sekarang, mau tidak mau aku harus menemani dia menemukan kembali identitas dirinya yang sesungguhnya. Dia bukan Virgo (nama yang diberikan Kesyha untuk Marvel). Tapi dia adalah Marvel. Marvel Andromedha!”

“Tapi…”

“Melati, seharusnya kamu bahagia. Orang yang kamu cintai telah kembali ke Beemart. Bukankah itu yang kamu inginkan? Sama sepertimu, aku juga bahagia karena sudah dapat mewujudkan impianku yang tertunda gara-gara kecelakaan mobil di Pandewa itu.”

“Maksudmu?”

“Kini aku terbebas dari beban-beban yang menghantuiku siang dan malam. Mau tahu kenapa? Karena sekarang Virgo… Hmm, maaf maksudku Marvel sudah lepas dari tanggung jawabku. Dia telah menemukan orang yang tepat. Kamulah orang itu, Melati. Kamulah orang yang dapat merawat Marvel sampai pulih dari amnesia. Itu berarti aku dapat berkeliling dunia tanpa dibebani oleh seorang Marvel Andromedha.”

“Ta-tapi…”

“Percayalah, Melati. Sedari dulu aku memang tidak pernah mencintai Marvel. Kalaupun selama ini aku sudah memberikan perhatian istimewa padanya, hal itu tidak lain hanya disebabkan karena tanggung jawab moralku untuk memulihkan ingatannya. Saat Marvel jatuh hati padaku, aku pun berpura-pura menerima cintanya. Melati, aku tidak ingin melukai hatinya pada waktu itu. Maka dari itu, aku berbohong bahwa aku mencintai dirinya…”

“…Setelah membaca coretan kamu di dinding (Dinding Pengharapan) pondokkanku tempo hari, maka ketika itu juga aku merasa merdeka. Aku jadi bersemangat untuk mencarimu, sang penulis kisah penantian itu. Setelah bertemu denganmu, aku benar-benar merasa bahagia. Berarti aku dapat melanglang buana. Nah, besok aku akan terbang ke luar negeri (Milton). Doakan aku selamat, ya?”

“Keysha…”

Aku memejamkan mata. Pelupuk mataku dibanjiri airmata. Sepoi angin malam yang malas merangkak membuai tengkuk. Tidak terlalu dingin. Tapi semilirnya yang aku rasakan membekukan hati. Aku menggigit bibir. Tidak kuasa lagi menahan airmata.

“Keysha…”

Aku belum berani berpaling. Airmata ini harus kusembunyikan. Bukan karena apa-apa. Tapi, karena aku tidak ingin gadis itu sampai tahu kalau aku sebenarnya mencintai kekasihnya yang amnesia.

“Kami akan menunggumu pulang!”

Aku mengangguk tanpa mengangkat wajahku. Sebersit rasa mengaduk-aduk hati. Kenangan manis bersama Virgo tiba-tiba menari-nari di benakku. Mendadak aku bimbang dengan keputusanku yang berpura-pura. Tapi aku harus berbohong. Melati sudah sangat menderita. Dia sudah kehilangan kebahagiaannya saat tragedi di Pandewa itu. Aku telah merampas kebahagiaannya. Aku telah merampas kekasihnya. Maka aku tidak pantas memiliki hati Marvel Andromedha, meski pemuda itu tulus mencintaiku!

“Keysha…”

Tuhan tolong!

“Aku sudah ikhlas, Keysha!”

Aku kembali memejamkan mata. Hatiku semakin berdarah. Inikah ketulusan cinta yang terpancar dari hati seorang hawa?! Inikah karya sang bintang dari langit yang dicetuskan pada diri seorang Melati?! Sungguh. Aku kerdil di dalam keagungan cintanya! Dan sama sekali tidak berminat untuk merebut hati kekasihnya meski hal itu semudah membalik telapak tangan!

“Tolong jangan cegah keberangkatanku dengan nama Marvel lagi, Melati!”

Airmatanya menetes. Keharuan merayapi dinding-dinding malam. Melati Ananda, gadis mungil dengan semangat membara itu meneteskan airmata! Aku tersenyum sinis. Cinta merapuhkan hati kami berdua. Marvel meluluhlantakkan tembok ketegaran kami. Cinta memang telah mengerdilkan kami. Romantisme membaur. Melukai hati kami berdua.

“Kamu akan melukai hati Marvel, Kesyha!”

“Aku tidak ingin kamu terluka, Melati!”

“Aku ikhlas, aku ikhlas!”

“Tapi aku tidak dapat menerima orang yang tidak aku cintai!”

Aku menggigit bibir. Mengelak ketika sorot mata beningnya itu hendak membaca isi hatiku yang sesungguhnya lewat kedua bola mataku. Sebuah kesia-siaan. Sebab gadis itu menggeleng, Menolak uraian alasan yang kucetuskan dengan suara sengau-habis menangis.

“Kamu telah menyiksa hatimu, Keysha!”

Aku menggeleng. Mengharap rinai hujan akan segera turun malam ini sehingga airmataku tersamar oleh tirai-tirainya yang basah. Tapi langit masih menggantungkan uapan air itu. Enggan mewujudkan permintaan hatiku. Malah mengarak gumpalan hitam itu menjauh dari hadapan. Dan menyibakkan gemintang yang sudah samar bersinar.

“Sudahlah, Melati. Aku memang tidak mencintai Marvel.”

“Tapi…”

“Semangatlah, Melati. Aku yakin ingatan Marvel akan pulih kalau kamu terus menyertainya. Aku harap kamu dapat bersamanya setiap hari. Mungkin dengan begitu kenangan kalian berdua akan menguak sedikit demi sedikit di serabut kelabu otaknya. Oke?”

“Tapi…”

“Aku mohon penuhi permintaan terakhirku itu, Melati. Jagalah Marvel. Sertai dia setiap hari. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mendengar semua permintaanku itu.”

“Keysha…”

“Melati, semangatlah!”

“Tapi…”

“Sudahlah. Tidak ada tapi-tapian lagi, sudah larut malam. Besok pagi aku sudah harus berangkat. Sekarang janji. Diantara kita tidak boleh ada yang berpaling saat melangkah, apalagi menangis. Aku akan menghitung satu sampai tiga. Setelah itu kita masing-masing berbalik. Aku ke kanan dan kamu ke kiri. Janji, tidak boleh ada yang menangis!”

Gadis itu mengangguk. Rambutnya yang panjang terkibas angina malam. Ia membalik badan dengan langkah berat. Aku menggigit bibir. Ragu dengan keputusan yang kubuat sendiri, untuk tidak saling mengingkari peraturan yang telah disepakati bersama tadi. Dan ketika melangkah, airmataku semakin menderas.

Malam Sejuta Bintang (1)

Chapter 1
Keysha Si Pemberani


Aku masih menghimpun napas. Atmosfer sunyi masih mengambang ketika senja mulai menangkupi kebun anggur yang membentang luas di hadapan. Gelembung paru-paruku belum kuat menghembuskan cerita. Pemuda itu sendiri. Mematung seperti tanpa nyawa. Sejurus kutangkap kilau di kedalaman matanya. Telaga bening di sana menampar tenang. Namun kutahu riak yang mengalir sedang menghanyutkan sesuatu. Entah apa. Sesuatu yang tidak pernah dapat kutangkap karena terselubung misteri

Pemuda itu masih berdiri, terdiam di bawah bentangan langit jingga. Sesaat genteng yang kupijak berderak saat berusaha mendekatinya diam-diam di atas atap rumah. Bukan kebiasaanku untuk mengedarkan mata pada ketinggian. Tapi gentar itu kuredam demi menawari rasa bersalahku. Dan kucoba mengulurkan tangan persahabatan. Kecelakaan mobil tempo hari telah merenggut dunianya yang nyaman. Dia hilang di rimba identitas. Terasing dari orang-orang yang dicintainya. Amnesia telah merampas kebahagiaannya. Aku merasa bersalah. Dan tidak dapat lepas tangan begitu saja setelah tragedi di jalan protokol menuju Taman Century Flower itu.

“Indah, ya?”

Dia hanya memalingkan wajahnya yang keperakan ditimpa sinar matahari yang sudah mencondong ke ufuk barat. Spontan sebagai tanggapan atas visualisasi yang kuaktulkan dalam kalimat penggugah keterdiaman. Anggur yang meranum merah merupakan topik hangat saat ini. Buah bibir para petani kebun anggur atas jerih payah dan kerja keras mereka selama ini bila berkumpul kala rehat bersama keluarga. Tapi kalimatku membentur dinding beku hatinya. Tak sedikit pun ia menanggapi basa-basi perihal hasil bumi bahan utama untuk minuman berakohol kebanggaan masyarakat Pandewa (sebuah negara penuh cinta).

Sedetik dia memandangku dengan wajah tak berona. Demi Tuhan aku tidak berharap reaksi itu mengemuka meski telah kuduga sebelumnya bahwa dia akan melakukan hal yang sama, terdiam dengan benak yang dipenuhi kenangan kabur. Dan hanya menganggap Keysha sebagai bagian dari fenomena yang tak perlu masuk di dalam memori otaknya setelah semuanya hilang ditelan amnesia. Tatapan kosongnya menguncupkan bibirku yang mengembang tulus. Aku sedikit kecewa atas perlakuannya yang sama dari waktu ke waktu.

Dan aku duduk pelan-pelan di atas genteng atap rumah kala dia mengembalikkan pandangannya pada bentangan langit yang mulai menoktahkan gemintang. Ya, Tuhan. Terlalu naif rasanya mengharap secuil tanggapan di saat luka jiwa itu belum mengering dari hatinya. Aku menggigit bibir.

Mungkin Tuhan tengah menghukum aku atas tindakan emosional dua tahun lalu saat kabur dari keluargaku di Ferindo (kerajaan asal Kesyha tinggal). Mungkin sosok yang sekarang terasing dari dunianya ini merupakan beban yang harus kupikul agar tidak dapat melangkah sesuka hati lagi. Tuhan ingin aku bertanggung jawab atas beban yang ditaruh di atas pundakku. Tuhan ingin mendewasakan aku dengan kemandirian.

Tapi lepas dari semua itu, aku merasa kehadiran pemuda amnesia ini telah mengisi hidupku dengan penuh warna. Dia telah menjadi bagian dari hidupku belakangan ini. Dia secara tidak langsung mengajariku bagaimana bertanggung jawab. Bukannya lagi gadis dengan pikiran kanak-kanak yang hanya menghabiskan waktu berterbangan seperti burung dari satu negara ke negara lainnya.

***

“Hei, lihat. Itu bintangku!”

Aku menjerit, sontak berdiri dari dudukku di atas genteng atap rumah sembari mengarahkan telunjukku ke sebuah bintang yang paling bersinar di layar kelam langit. Namun pemuda itu tak bergeming. Hanya menolehkan kepalanya sekilas.

“Sungguh! Itu bintangku! Aku tidak bohong!”

Sebuah penegasan yang sia-sia. Tapi aku masih berusaha mengajaknya berdialog. Paling tidak supaya dia dapat menanggapiku sebagai sahabat yang bersahaja, yang menawarkan dan mengulurkan tali persahabatan dengan ramah beberapa hari ini. Bukannya gadis pembawa sial dalam hidupnya!

“Hei, tahu tidak kenapa bintang yang bersinar paling terang itu adalah bintangku?”

Dia masih terdiam. Tapi pertanyaan yang kulontarkan barusan sedikit merubah raut wajahnya dari kemurungan. Mungkin dia penasaran. Mungkin jawaban yang akan kuberikan akan membuka sedikit ingatan pada memori otaknya. Sehingga jati dirinya terkuak sedikit demi sedikit. Entahlah.

“Bintang itu aku namai Keysha Si Pemberani.”

Dia kembali mengarahkan sepasang mata bagusnya ke arahku. Demi Tuhan, tak pernah kulihat dia sehidup ini. Telaga yang tadinya tenang sedikit beriak, menghadirkan gelombang kecil dengan sengatan listik yang lemah. Aku jadi bersemangat.

“Ya, namanya adalah Keysha Si Pemberani. Lucu, ya? Tahu kenapa bintang itu aku beri nama begitu?”

Ia masih menatapku. Pipiku memanas tiba-tiba. Mungkin aku telah salah menafsirkan sorot di sepasang mata elang itu. Entahlah. Yang pasti sinar di matanya telah membenderang. Seperti gemintang di langit yang sudah menghampar indah. Barangkali dia sedang menunggu uraian kalimat penjelas atas pertanyaan yang kulontarkan.

“Kisah penamaan bintang itu cukup unik. Hmm, suatu ketika aku pernah tersesat di pinggir hutan saat mengikuti wisata tur liburan sekolah bersama teman-temanku. Karena terlalu senang dan bersemangat menyusuri lukisan alam yang indah, aku malah tersasar dan meninggalkan camp kami. Tahu tidak, saat itu aku menangis meraung-raung. Aku pikir, tamatlah riwayatku. Aku tersesat di hutan yang maha luas. Mungkin sebentar lagi akan menjadi santapan lezat binatang buas di hutan. Aku ketakutan setengah mati…”

“…Tahu tidak, ketika menengadah ke langit, aku melihat bintang kejora itu. Bintang kejora itu sangat terang dibandingkan bintang-bintang yang lainnya. Ketika memandangnya berlama-lama, bintang kejora itu seolah-olah berkata kepadaku : ‘Keysha, jangan takut. Saya akan membimbingmu keluar dari hutan ini. Kamu harus bersemangat. Ayo, semangat! Jangan berputus asa. Ikutlah saya. Saya akan menjadi pedoman dan penunjuk jalan untukmu.’…”

“…Berkat jasa bintang kejora itu, akhirnya aku dapat keluar dari hutan. Kemudian berkumpul bersama teman-teman lainnya di camp. Karena terkesan, bintang kejora itu pun aku namai Keysha Si Pemberani. Nah, setelah kejadian itu, aku terus mencari-cari bintang mejora itu kemana pun aku pergi. Setiap malam aku selalu menunggunya di luar rumah…”

“...Tapi, Keysha Si Pemberani ternyata bandel. Tidak setiap hari dia menampakkan dirinya. Kadang-kadang aku menunggunya sampai dua-tiga hari. Kamu termasuk orang yang beruntung karena dapat melihatnya langsung pada hari ini…”

“…Hei, jangan menertawaiku atas cerita yang mungkin kamu anggap norak nantinya. Tapi, sungguh. Bintang kejora itu sudah aku anggap bagian dari hidupku. Dia adalah sahabatku jika hatiku sedang risau. Dia akan menemaniku semalaman hingga aku tidak kesepuan. Hahaha. Kadang-kadang aku aku ngobrol dengan Keysha Si Pemberani itu. Hei, mungkin orang sudah menganggapku gila. Tapi, Keysha Si Pemberani itu memang sahabat yang paling setia selain Kak Indra.”

Simpul di bibir pemuda itu terurai. Ia tersenyum. Ya, Tuhan! Tarima kasih atas anugerah yang telah Engkau berikan. Keindahan senyum itu melebihi apa pun juga!

“Setiap melihat Keysha Si Pemberani, setiap menunggunya keluar menampakkan diri, maka aku menemukan sebuah makna yang akhirnya kupahami sebagai sebuah anugerah yang sengaja diperlihatkan Tuhan kepadaku. Mau tahu apa itu?”

Pemuda itu masih mematung. Namun rona wajahnya sudah tidak menggamang. Sepertinya ia mengangguk saat kubeberkan sebaris kalimat tentang keajaiban alam semesta. Tapi trauma otak yang dialaminya memaksanya untuk diam. Dan hanya menyimak dengan serius.

“Tuhan telah memaparkan nilai sesungguhnya mampu kita pahami sebagai karunia. Dalam penantian, penungguan saat-saat indah munculnya Keysha Si Pemberani, semua itu merupakan keindahan yang tidak ternilai harganya. Aku menemukan kebahagiaan tersendiri ketika menunggu buah anggur tumbuh dan meranum. Menunggu saat-saat memetik buah anggur tersebut. Menunggu saat buah anggur itu diracik menjadi minuman anggur. Entah menunggu hari ini, besok, lusa, dua atau tiga hari. Yang pasti, dari penantian-penantian itu aku menemukan renda harapan. Harapan yang akan membawa kita pada hari-hari yang lebih baik. Aku jadi bersemangat untuk hidup. Dan aku jadi lebih bisa mengerti, bahwa napas yang telah ditiupkan Sang Pencipta kepadaku dan pada setiap manusia memiliki makna yang hakiki. Jauh lebih besar daripada yang telah kita pahami selama ini…”

“…Oke, mungkin saat ini kamu tidak tahu siapa diri kamu. Dari mana kamu berasal. Siapa keluargamu. Tapi, kamu masih memiliki satu hal yang paling mendasar. Yakni, kamu masih diberi desempatan untuk menanti dan menunggu, mencari dengan sabar dan tabah jatidiri kamu yang sesungguhnya. Entah, mungkin satu tahun. Mungkin dua tahun. Sepuluh tahun, barangkali. Tapi, tidak peduli bagaimana proses penantian itu. Yang pasti, hidup bagi kita masih panjang. Menjelang hari-hari yang baru merupakan sebuah keajaiban.”

Sepasang mata pemuda itu berbinar. Ada lesung pipi indah di sudut bibirnya kala rekahan senyumnya mengembang. Beban yang seolah diletakkan di pundakku kupahami benar sebagai anugerah. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain untuk jalan dan langkah hidupku selanjutnya. Entahlah. Tapi satu hal yang paling mendasar kurasakan kini kala kejujuran harus terungkap dan diletakkan pada tempat teratas. Bahwa, aku telah jatuh hati pada pemuda di hadapanku! Ya, aku telah jatuh cinta padanya!

Malam Sejuta Bintang (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Penantian Bintang Jatuh)
Created By Sweety Qliquers


Malam Sejuta Bintang
Chapter 1 Keysha Si Pemberani
Chapter 2 Melati Dan Aku
Chapter 3 Jeritan Hatiku
Chapter 4 Datanglah Gemintangku
Chapter 5 Legenda Taman Century Flower
Chapter 6 Janji Sang Bintang Jatuh
Chapter 7 Pandewa… I’m In Love
Chapter 8 Dua Hati Yang Tersakiti
Chapter 9 Gemintang Di Hatiku


Sinopsis
Novel romantis yang akan membuka memori anda pada kisah cinta fenomenal Meteor Garden. Mengisahkan tentang keteguhan cinta seorang Melati Ananda (Melati) dan dilematisasi Keysha Seruni (Keysha) antara cinta dan tanggung jawabnya terhadap Marvel Andromedha (Marvel-Virgo).

Taman Century Flower
Merupakan legenda tempat keabadian cinta di Pandewa. Taman itu diyakini memiliki nilai sakral dalam menyatukan dua hati sepasang sejoli yang mengikat janji di sana. Marvel Andromedha (Marvel) bermaksud mengikat janji dengan memberikan cincin meteor pada Melati Ananda (Melati) setelah mendapat referensi tentang legenda itu dari Aditya Permadi (Aditya), salah satu anggota Zinc 4. Sayang dalam perjalan menuju Taman Century Flower, mobil yang dikemudiakn Marvel mengalami musibah kecelakaan, yang mengakibatkan dirinya amnesia.

Pandewa
Negara penuh cinta. Tempat dimana segala tragedi pengujian cinta Marvel Andromedha (Marvel) dan Melati Ananda (Melati) dimulai.

Beemart
Tempat asal Genk Zinc 4 dan Melati Ananda (Melati) tinggal. Tempat dipertemukan cinta antara Marvel Andromendha (Marvel) dan Melati Ananda (Melati).

Meningoenchepalitis
Sejenis penyakit langka, disebabkan oleh rusaknya system imunisasi. Dapat merusak system syaraf dan otot. Menyebabkan penyusutan otot dan kelumpuhan. Juga dapat merusak syaraf otak dan system penglihatan yang berakibat kebutaan. Penyakit ini sangat mematikan. Penderita biasanya dapat bertahan hidup tiga bulan sampai enam bulan. Penyembuhan penyakit ini dapat dilakukan dengan melakukan transplantasi atau pencakokan sumsum tulang dengan donator yang memiliki sel darah yang cocok dengan penderita. Keysha mengidap penyakit tersebut. Sejenis penyakit langka dan mematikan, disebabkan oleh rusaknya sistem imunisasi. Berkat tekadnya untuk sembuh serta dorongan moril sahabat-sahabatnya (Kak Indra, Zinc 4 dan Melati) di Beemart dan orangtuanya di Ferindo, Keysha akhirnya berhasil menjalani operasi transplantasi sumsum tulang dengan selamat.


Meteor Garden
Suatu ketika Melati dan Marvel pernah berikrar pada saat cinta mereka terhadang banyak kendala. Cinta mereka akan bersatu seandainya saat itu ada bintang jatuh atau meteor. Dan ternyata memang ada meteor melintas pada saat mereka berduaan di balkon rumah.

Dinding Pengharapan
Melati menulis pesan-pesan dan ungkapan kerinduan hatinya pada Marvel, yang entah berada dimana, di dinding pondokkan Keysha. Saat Keysha membaca tulisan di dinding itu, dia menyadari kalau Marvel telah memiliki kekasih yang masih menantinya di Beemart.

Keysha Si Pemberani
Sebuah julukan untuk bintang kejora yang diberikan Keysha pada saat ia tersesat di pinggir sebuah hutan pada masa kanak-kanaknya.

Legenda Cincin Meteor
Pada waktu berlibur ke Pandewa, Melati tertarik pada sebuah cincin meteor yang diyakini mengandung legenda getir, yang enggan dijual oleh salah seorang pedagang souvenir di sana. Diam-diam Marvel memaksa membeli cincin tersebut untuk diberikan pada Melati di Taman Century Flower nantinya. Namun legenda petaka yang menyertai cincin meteor tersebut ternyata menjadi kenyataan. Bahwa cincin meteor tersebut harus sepasang. Kalau tidak, orang yang memiliki dan menyimpan hanya satu cincin meteor yang seharusnya sepasang itu akan mengalami musibah dalam hidup ataupun kisah cintanya.

Universitas Indo Power
Merupakan kampus Melati dan Marvel di Beemart. Bermula dari selisih paham dalam dunia kampus, akhirnya membawa dua sejoli itu ke masalah percintaan. Universitas Indo Power juga merupakan salah satu tempat yang paling melekat di memori kenangan Melati.

Pamflet Peringatan
Merupakan ultimatum tegas Zinc 4 yang akan ditempelkan pada seseorang yang dianggap berantipati pada Zinc 4. Jika pamflet sudah ditempelkan, maka tidak ada yang dapat luput dari prahara atas kekuasaan penuh Zinc 4, yang merupakan anak-anak konglomerat dari pendiri – Universitas Swasta Beemart - Universitas Indo Power.

Pertandingan Belum Usai
Sebaris kalimat yang sering dilantunkan oleh Aditya. Suatu saat antara Aditya, Marvel, dan Melati terlibat cinta segitiga. Untuk memperebutkan Melati, Marvel dan Aditya sepakat mengadakan pertandingan basket. Dalam pertandingan tersebut, Marvel menyudahi pertandingan yang belum usai dengan keluar dari lapangan karena menganggap Melati sudah memilih Aditya. Hari-hari selanjutnya, Aditya yang memang ingin berkorban karena menganggap Melati sesungguhnya mencintai Marvel, masih mencecar Marvel dan mengatakan kalau pertandingan mereka pada waktu itu belum usai.

Season of The Fireworks
Merupakan tradisi tahunan masyarakat Pandewa dalam merayakan hari ulang tahun raja mereka dengan menyalakan beraneka jenis kembang api. Pandewa banyak menyimpan kenangan dalam hidup Marvel. Marvel dan Melati berkunjung ke sana tepat pada saat perayaan kembang api tersebut.

Avianca Travel
Merupakan perusahaan biro perjalanan umum dimana Melati bekerja. Sebagai pemandu wisata di sana, Melati akhirnya berkesempatan untuk melanglang buana. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan Marvel saat sedang memandu wisata di Pandewa.

Prahara Cincin Meteor
Saat Keysha menemani Marvel - Virgo - ke Beemart untuk mencari identitas dan jati dirinya, suatu hari rumah pondokan mereka dibobol maling. Keysha ngotot menghadang dan mengejar si Pencuri yang mencuri cincin meteornya. Padahal saat itu si Pencuri tengah menggenggam belati.

Te Quiero Te Quiero
Merupakan lagu lawas berbahasa Spanyol. Lagu yang diiringi gitar akustik dan lantunan khas Spanyol itu dibawakan oleh trio penyanyi cafe saat Marvel dan Melati dinner di sana.

Sandiwara
Sewaktu masih amnesia, Marvel sangat mencintai Keysha. Suatu hari Keysha kabur dari Beemart, dan bermaksud kembali ke Pandewa karena tidak ingin menjadi orang ketiga di antara Marvel dan Melati. Namun Marvel terus mencari gadis itu yang, entah menghilang ke mana. Momen itulah yang dipergunakan Mentari Olivia untuk membujuk Marvel yang tidak ingin kembali ke rumah. Dia menculik Keysha, menjadikan gadis itu sebagai obyek agar Marvel mau kembali tinggal di rumah. Keysha meminta agar Mentari Olivia memberi kesempatan Melati mendekati Marvel, dengan cara mempekerjakannya di Continue Enterprise. Maka sesuai kesepakatan, sebagai komitmen Keysha harus bertunangan dengan Marvel.

Ferindo
Merupakan sebuah kerajaan kecil. Kerajaan ini sering disebut sebagai kerajaan dengan ekonomi paling primitif di dunia. Oleh sebab itu kerajaan ini termasuk salah satu kerajaan termiskin dengan angkatan kerjanya yang kebanyakan masih di bawah umur. Sewaktu Keysha menyetujui perjanjiannya dengan Mentari Olivia untuk bertunangan dengan Marvel, wanita konglomerat itu berjanji akan membantu keuangan Kerajaan Ferindo.


Karakter Tokoh Malam Sejuta Bintang :


Marvel Andromedha (Marvel)
Adalah salah satu personel Zinc 4 yang popular di Universitas Indo Power, Beemart. Dalam sebuah perjalanan wisatanya bersama Melati dan anggota Zinc 4 lainnya ke Pandewa, dia mengalami kecelakaan lalu-lintas sehingga mengakibatkan trauma otak, amnesia. Karena tidak mengetahui identitas dirinya, Keysha - gadis yang menabraknya, kemudian bertanggung jawab merawatnya, memberikan nama Virgo kepadanya. Virgo berarti nama salah satu dari rasi bintang.



Melati Ananda (Melati)
Adalah adik kelas Marvel Andromedha di Universitas Indo Power, Beemart. Sering dipanggil Rumput Liar oleh Marvel. Gambaran itu sesuai untuk sifat Melati yang keras dan pantang menyerah. Serangkaian kisah kasih yang mengharu-biru telah mereka lalui bersama. Sosoknya yang tegar dan pantang menyerah membuat Marvel jatuh hati padanya. Mereka pun berpacaran meski ditentang keras oleh Mentari Olivia, ibu Marvel Andromedha.


Keysha Seruni (Keysha)
Adalah salah satu tuan putri dari keluarga kerajaan Ferindo. Dia Kabur dari keluarganya setelah memberontak dari peraturan-peraturan kerajaan yang harus dipatuhinya. Dia melarikan diri ke Pandewa, dan bertemu serta menjalin persahabatan dengan seorang pemuda bernama Indra Danuatmadja (Kak Indra)-petani anggur asal Beemart-di sebuah perkebunan anggur di sana. Keysha Memiliki hobi melukis. Namun obyek yang dilukisnya selalu punggung manusia atau obyek dari belakang.


Virgo
Nama untuk Marvel Andromedha yang diberikan oleh Keysha saat identitasnya belum diketahui karena mengalami amnesia.


Aditya Permadi (Aditya)
Merupakan salah seorang personel Zinc 4. Aditya, Marvel, dan Melati sempat terlibat cinta segitiga. Setelah Melati dan Marvel resmi berpacaran, Aditya meninggalkan Beemart dan berangkat ke Jepang sebagai kompensasi kegagalan cintanya.


Natasya Permata (Tasya)
Adalah kakak perempuan Marvel Andromedha. Hanya Natasya Permata-lah yang merestui hubungan Marvel dengan Melati.


Mentari Olivia (Ibunda Marvel)
Ibunda Marvel Andomedha (Marvel). Merupakan duri dan kendala utama dalam kisah kasih antara Marvel dan Melati. Hati wanita separuh baya itu seolah-olah terbuat dari pualam. Tidak pernah tersentuh oleh ketulusan cinta Melati pada putranya. Dan ketika Marvel memberontak, dan lebih memilih melarikan diri dari kungkungan ibunya, prahara cinta lainnya pun datang susul-menyusul seperti badai. Memporak-porandakan dua hati remaja itu. Seumur hidup Mentari Olivia tidak akan pernah menyetujui hubungan putranya dengan Melati Ananda (Melati), gadis yang berasal dari keluarga miskin. Yang sangat tidak sepadan dengan Marvel. Marvel yang merupakan pewaris perusahaan konglomerat Continue Enterprise!


Rossa Anastasya (Chacha)
Adalah cinta pertama Aditya. Gadis itu merupakan sahabatnya sejak masih kanak-kanak. Walaupun usia Chacha jauh lebih tua diatas Aditya. Tapi itu tidak pernah mengurangi rasa cinta Aditya pada Chacha. Sifat Chacha yang dinamis dan proaktif membuat Aditya yang pendiam dan introver semakin tersisihkan. Dan menganggap Chacha tidak pernah serius dengan cinta mereka. Hubungan mereka merunyam ketika Aditya jatuh cinta pada Melati.


Indra Danuatmadja (Kak Indra)
Sahabat karib Keysha Seruni (Keysha) seorang petani anggur asal Beemart. Dan bekerja di perkebunan anggur di Pandewa.


Reyhan Wijaya (Reyhan)
Anggota Zinc 4 yang sering sekali dipuja-puja para wanita di Beemart. Dan mengerti arti cinta sejati dari seorang Aurelia Cempaka (Aurel). Gadis dari kelas bawah seperti Melati. Saat ini Reyhan terlalu disibuki dengan urusan kantor perusahaan ayahnya, Dan tetap percaya bahwa Aurel adalah cinta sejatinya.


Andhika Kusuma (Dhika)
Anggota Zinc 4. Masih berusaha membangun kehidupannya bersama Syafa Kirana (Syafa) sehingga nyaris tidak punya banyak waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya lagi.


Aurelia Cempaka (Aurel)

Adalah sahabat Melati dan rekan sekerja Melati di toko bakery, Italia Tomato. Ia jatuh hati pada Reyhan karena pemuda itu selalu memberinya solusi saat ia curhat. Ketika mengungkapkan isi hatinya kepada Reyhan, salah satu personel Zinc 4 itu malah menjauhinya dan hanya menganggap gadis itu sebagai teman biasa. Aurel terus mengejar Reyhan tanpa berputus asa, bahkan pada saat-saat terakhirnya di Beemart. Reyhan akhirnya tersentuh. Namun mereka berpisah karena Aurel mengikuti ayahnya yang berimigrasi ke Kanada.


Syafa Kirana (Syafa)
Kekasih Andhika Kusuma (Dhika)-anggota Zinc 4. Seorang pemain Bass handal di Beemart. Walaupun pertemuan mereka karena perjodohan orang tua, akhirnya karena intesitas pertemuan mereka yang sering mereka pun saling jatuh cinta.


Rendy Pratama (Rendy)
Adalah sahabat Melati semasa di Sekolah Dasar. Mereka bertemu kembali di Universitas Indo Power. Rendy dijuluki dengan 'Anak Orang Kaya Baru' atau OKB. Rendy suka menolong teman yang sedang kesusahan. Terutama Melati yang sebenarnya diam-diam dicintainya.


Helenia Tiara Azizah (Helen)
Adalah sahabat terbaik Melati sejak SMA. Namun suatu ketika ia mengkhianati dan menjadi dalang dengan sekelompok preman untuk mengerjai Melati. Ketika tindakannya terbongkar oleh Marvel, ia mengaku melakukan hal itu pada Melati karena didasari rasa cemburu. Sejak Melati menjadi pusat perhatian Zinc 4, ia merasa terabaikan dan tidak ingin melihat Zinc 4 bersimpati pada Melati. Karena diam-diam ia jatuh hati pada salah satu personel Zinc 4, Marvel.


Chintya Bella (Chintya)
Adalah gadis pilihan Mentari Olivia yang dijodohkan untuk Marvel. Keputusan mempertunangkan Marvel dan Chintya pun telah disepakati oleh orangtua Chintya. Ketika dipertemukan, Chintya dan Marvel menolak untuk dijodohkan. Namun lama kelamaan Chintya jatuh hati pada Marvel. Dan terus berusaha mengejar pemuda yang jelas-jelas tidak mencintainya itu. Suatu hari Marvel secara tegas menolak Chintya, dan membatalkan pertunangannya dengan gadis pilihan ibunya tersebut. Dan jujur mengatakan kalau cintanya hanyalah untuk Melati.


Beby Galia Putri (Beby)
Mahasiswi Universitas Indo Power yang sering pamer kekayaan. Sangat memuja-muja genk Zinc 4 dan selalu merasa iri pada Melati yang bisa dekat dengan anggota Zinc 4 sekaligus berpacaran dengan leadernya-Marvel Andromedha.