Tampilkan postingan dengan label Maaf Terakhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maaf Terakhir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2010

Maaf Terakhir (15-TAMAT)

Chapter 15 (Finale)
Diary Tasya


24 September 2008
Diary, hari ini aku sangat bahagia. Setelah 2 tahun aku dan Indra berpacaran. Akhirnya Indra membuktikan cintanya padaku. Aku dilamar dan diikatkan dengan tali pertunangan. Dengan cincin pertunangan ini, aku merasa Indra selalu berada disisiku.

3 Oktober 2008
Sebelas Misscall tercatat pada layar Hp-ku, semuanya dari Indra. Aku nggak ada niat sama sekali buat nggak ngangkat telponnya, tapi mau gimana Hp-ku ketinggalan di mobil. Sudah seharian aku mencoba menelponya balik, tapi Hp-nya nggak diaktifin. Diary, kaya’nya dia marah deh sama aku. Maafian aku, Ndra. Semalaman aku hanya bisa menangis.

4 Oktober 2008
Jam 7 pagi, aku coba telpon Indra lagi. Tapi dia ngambek, dia hanya menanggapi semua perkataaanku dengan ”hmm...”. Berkali-kali aku berusaha buat minta maaf, malah dicuekin aja. Emangnya kesalahanku besar banget ya, Diary? Hehhh... Diary hari ini aku sedih banget.

Diary, aku seneng banget deh. Tadi jam 5 sore, akhirnya Indra nelpon aku. Dia udah nggak marah lagi, senangnyaa.

11 November 2008
Diary, ada tugas kantor yang mengharuskanku menghadiri seminar di Jogjakarta. Jadi sedih nih, harus pisah sama Indra. Ya walaupun Cuma 3 hari aja sih. Tapi sebelum berangkat, aku sempat melihat sunset di pantai pertama kali kita jadian. Diary, aku sangat mencintainya...

15 Januari 2009
Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Setiap kali kita mengobrol lewat telpon, ada saja yang kami ributkan. Indra cemburu dengan Virgo-rekan kerjaku. Diary, kenapa sih Indra nggak mau ngerti kalo’ sekarang aku tuh sibuk banget?

28 Januari 2009
Sekali lagi Indra membuktikan cintanya padaku. Dia rela bolos kerja Cuma buat ngerayain ulang tahunku di Bandung. Aku diberi hadiah sebuah jam tangan yang aku pengenin selama ini. Diary, hari ini aku merasa kalo’ akulah orang yang paling bahagia di dunia.

12 Februari 2009
Diary, aku kangen banget sama Indra.
Hampir 2 jam lebih, aku bermanja-manja denganya di telpon.

8 Maret 2009
Diary, tadi aku bertengkar hebat dengan Indra karena rasa cemburunya yang nggak beralasan. Ya mungkin memang aku yang salah. Tadi aku makan siang dengan Virgo-rekan kerjaku, Cuma makan siang aja nggak lebih dan nggak niat buat ngapa-ngapain. Lagian Virgo itu udah married dan punya anak. Kalaupun aku niat buat selingkuh, ngapain juga aku telpon dia buat ngasih tahu Indra kalo’ aku mau makan siang sama Virgo. Indra marah besar, dia mengataiku ”perempuan murahan”.

Diary, hatiku sakit banget. Kenapa Indra begitu tega mengatakan itu padaku?

9 Maret 2009
Berkali-kali aku coba buat nelpon Indra, tapi nggak pernah diangkat. Seharian aku hanya bisa menangis. Aku nggak kerja hari ini. Aku sedih banget, Diary.

10 Maret 2009
Hari ini aku coba telpon Indra lagi buat minta maaf, tapi Indra tetap aja nggak mau angkat telpon dari aku. Dia malah mau memutuskan aku. Aku cuma bisa nangis aja, Diary. Aku nggak tahu harus ngapain lagi, supaya Indra mau maafin aku. Rasanya aku pengen bunuh diri aja. Aku terlalu mencintai Indra, aku nggak kuat kalo’ harus kehilangan Indra.

11 Maret 2009
Aku mencoba buat menahan diri untuk nggak nelpon Indra. Aku pengen tahu apa Indra bakalan nelpon aku atau nggak. Tapi kalo’ sampai dia nggak nelpon aku, rasanya aku pengen dia ngedengerin lagu TERLANJUR CINTA-nya ROSSA ft PASHA UNGU ini...

Merantai langkah perjalanan kita
Berjuta cerita terukir dalam
Menjadi sebuah dilema

Mengertikah engkau
Perasaanku tak terhapuskan

Malam menangis
Tetes embun membasahi mata hatiku
Mencoba bertahan di atas puing-puing
Cinta yang tlah rapuh

Apa yang ku genggam
Tak mudah untuk aku lepaskan

Reff :
Aku terlanjur cinta kepadamu
Dan tlah kuberikan seluruh hatiku
Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan cintaku

Aku pun tak mengerti yang terjadi
Apa salah dan kurang ku padamu
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan
Karna sekali cinta, aku tetap cinta

Mencoba bertahan di atas puing-puing
Cinta yang tlah rapuh

Apa yang ku genggam
Tak mudah untuk aku lepaskan

13 Maret 2009
Berkali-kali Indra mencoba buat nelpon aku, tapi aku nggak pernah mau terima telpon dari dia. Sampai ia mengirimiku sms yang berisi...

...”Tasya sayang, angkat telponnya dong. Iya deh aku ngaku salah, aku minta maaf ya? Kalo’ kamu nggak maafin aku, aku bakalan bunuh diri...”

Tapi aku nggak pernah membalas smsnya dan yang akhirnya ia mengirimiku sms yang berisi...

...”Sya, coba kamu dengerin lagu MASIH CINTA-nya KOTAK. Liriknya sama seperti perasaanku sekarang ke kamu...”

Tik... Tik... Tik...
Waktu berdetik
Tak mungkin bisa kuhentikan
Maumu jadi mauku
Pahit pun itu ku tersenyum

Kamu tak tahu rasanya hatiku
Saat berhadapan kamu

Tik... Tik... Tik...
Air mataku
Biat terjatuh dalam hati
Mau ku tak penting lagi
Biar ku buat bahagiamu

Kamu tak tahu rasanya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku, yang masih cinta
Kamu tak tahu hancurnya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku, yang masih cinta

Dan nggak tahu kenapa, aku menjadi luluh. Aku melupakan begitu saja semua kekesalanku sama Indra.

Mungkin bener kata KOTAK... Aku masih cinta sama Indra, sangat amat mencintai Indra.

Eh, tahu nggak Diary, malam itu aku telpon-telponan sama Indra sampai pagi. Ah, senangnya.

21 Juli 2009
Diary, aku beliin kemeja warna merah hati buat hari ultahnya. Tapi sayang aku nggak bisa ngasih langsung jadi aku paketin aja deh. Soalnya cutiku nggak di acc sama boss.

31 Agustus 2009
Merdeka. Akhirnya aku sama Indra bisa ngambil cuti bareng. Kita mau ke BALI.

Tapi hari ini aku nangis lagi, Diary. Tadi Indra ngeledekin aku, soalnya aku curhat masih sama kamu Diary. Katanya... ” Hari gini curhat masih pake Diary?? Hahaha... ternyata pacarku yang cantik ini jadul banget ya. Kenapa nggak nulis di komputer atau Laptop sih? Sekarang kan teknologi udah canggih, sayang...”

Aku kesel plus malu banget, Diary. Tapi, untung aja Indra jago ngerayu. Jadi ngambeknya nggak lama deh.

24 November 2009
Aku kangen banget nih sama Indra, Diary. Kaya’nya nggak puas kalo’ Cuma ngobrol lewat telpon aja. Sebenernya aku kecewa banget, Diary. Masa’ seminar yang ke Jakarta itu dibatalin. Tapi walaupun seminar itu dibatalin aku tetep mau ke Jakarta. Rasanya aku sudah buat banyak kesalahan sama Indra-tunanganku tersayang. Sore ini aku berangkat ke Jakarta...

Diary Merah Tasya ditutup Indra. Indra menghapus airmatanya dengan lengan bajunya. Yang pergi takkan kembali dan yang tersisa hanyalah sebuah kenangan.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Maaf Terakhir (14)

Chapter 14
Kenangan Bersama Tasya


Detik demi detik telah berlalu penuh dengan kesedihan. Tasya telah dikebumikan. Yang tinggal hanyalah kenangan dan pertanyaan yang belum terjawab. Indra meminta izin pada kedua orangtua Tasya untuk bermalam disana. Ia masih ingin mengenang Tasya. Besok, pagi-pagi sekali baru ia akan kembali ke Jakarta-kembali pada rutinitasnya.

Jam 4 sore, setelah mandi dan membersihkan diri... Indra menghampiri Om Marvel-Papa Tasya.

”Om... Indra boleh tanya sesuatu tentang Tasya nggak?”

”Ada apa, Ndra? Tanya saja...”

”Sebenernya Tasya... kecelakaan jam berapa Om?”

”Om rasa sekitar jam 5 sore. Soalnya waktu Om terima telepon dari pihak kepolisian itu, Om baru aja keluar kantor. Semalam waktu Tante telepon kamu itu, kita dalam perjalan ke rumah sakit. Baru pagi tadi kita balik dari Jakarta dengan diiringi mobil yang membawa jenazah Tasya.

Indra terdiam. Kehadiran Tasya setelah kematiannya adalah misteri dalam hidup Indra. Baginya, kejadian semalam itu tak perlu diceritakan pada siapa pun. Biarlah semua kenangan bersama Tasya disimpannya dengan rapi dalam ingatannya. Biarlah senyuman manis tasya menjadi sebuah lukisan yang takkan pernah pudar sinarnya. Biarlah suara lembut Tasya dijadikannya sebuah puisi indah dihatinya.

Kenangannya bersama Tasya bermain-main dalam ingatannya. Curahan hati Tasya pada Diary Merah kesayangannya membuat Indra sedikit tersenyum mengiringi tetesan airmatanya.

”Diary Merah???”

Pikiran Indra beralih pada Diary Merah. Diary Merah itulah satu-satunya teman akrab ketika Tasya dalam kesediahan dan kebahagiaan. Tasya pernah menetesakan airmatanya hanya karena Indra mengejeknya tentang Diary kesayangannya itu.

”Cieee... lagi bikin puisi apa curhat tuh. Hihihi...” Goda Indra.

Tasya kalang kabut menutup Diarinya.

”Nulis apaan sih???”

”Nggak nulis apa-apa, Cuma iseng doang coret-coret.”

”Diary??? Hari gini curhat masih pake Diary??”

”Yeee... suka-suka aku dong.”

”Hahaha... ternyata pacarku yang cantik ini jadul banget ya. Kenapa nggak nulis di komputer atau Laptop sih? Sekarang kan teknologi udah canggih, sayang.

”Mau aku yang beliin?”

”Udah buang aja tuh Diary, bikin malu aja. Jadul tahu!!”

Tasya kelihatan marah dan malu dengan candaan Indra. Matanya mulai berkaca-kaca.

”Kamu nangis ya, Sya? Ya ampun, aku becanda kali sayang.”

Tasya hanya diam dan memalingkan wajahnya ke arah lain diiringi linangan air matanya.

”Tasya sayang, aku minta maaf deh. Aku nggak ada maksud kok bikin kamu nangis kaya’ gini. Hmm... aku boleh liat nggak Diary kamu???

”Mau ngapain liat-liat. Ini kan’ barang jadul. Hari gini nggak ada orang yang pake.”

”Ih waw... ngambek nih ceritanya. Kalo ngambek terus entar aku cium loh.”

Tasya mencubit perut Indra.

”Idih... maunya.”

”Ya mau dong, hehehe. Sekarang boleh liat Diarynya nggak?”

”Enak aja, nggak boleh. Kalo’ aku udah mati kamu baru boleh liat. Hihihi.”

Candaannya bersama Tasya masih teringat jelas di kepala Indra, seolah-olah baru kemarin terjadi.

”Om... Om pernah lihat nggak Diary Merah Tasya yang selalu dibawanya?”

”Diary Merah? Waduh, Om nggak terlalu merhatiin tuh.”

”Tasya selalu bawa Diary itu kemana aja dia pergi kok, Om.”

”Hmmm... mungkin di dalam tas coklat yang dia bawa waktu kecelakaan itu.

”Kalo’ Indra minta Diary itu buat kenang-kenangan boleh nggak, Om?”

”Silahkan. Coba kamu cari tas itu di dalam kamarnya.”

Setelah mendapat izin dari Tante Melati untuk mencari Diary Merah itu dan memintanya untuk dijadikan kenang-kenangan, Indra mulai membongkat tas coklat milik Tasya. Seperti yang sudah diduga Diary Merah itu memang ada di dalam tas coklat yang dibawa Tasya semalam.

Dengan sebuah Diary di tangan, Indra mencari tempat yang sesuai untuk membaca curahan hati Tasya yang tersembunyi di dalam Diary itu. Kursi malas di taman belakang menjadi pilihannya.

Lembar demi lembar dibuka. Catatan dimulai pada 24 september 2008...

Maaf Terakhir (13)

Chapter 13
Isi Surat Tasya


Indra mengambil Agenda yang berisi surat dari Tasya. Surat bersampul Biru itu dikeluarkannya untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa Tasya tidak meninggal sebelum bertemu dengannya semalam.

”Nggak... nggak mungkin. Lalu siapa yang memberi surat ini padaku semalam???” Indra meyakinkan dirinya sendiri.

”Ya Tuhan, Tasyaaaa....” Kagetnya.

”Inikah yang Tasya minta... membacakan ini... untuknya???”

Pemberian Tasya itu... sebuah buku kecil bersampul hijau dan disampulnya tertera ”Surat Yasin”.

Terngiang kembali permintaan Tasya padanya semalam...

... ”Ndra, kamu janji sama aku ya? Kamu baru boleh buka surat ini, kalo’ sudah ketemu sama Mamaku. Dan bacakan isi suratnya untukku. Itu juga kalo’ kamu penuhi permintaanku buat ketemu Mama, Tapi kalo’ nggak juga nggak apa-apa. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi...”

Indra membuka pintu mobil dan kembali ke kamar Tasya, bersila didepan jenazah kekasihnya-Tasya.

”Tasya... aku datang untuk memenuhi permintaanmu semalam. Aku datang untuk membacakan isi surat yang kamu berikan padaku. Surat yasin ini...”

Indra mulai membacakan Surat Yasin itu.

Maaf Terakhir (12)

Chapter 12
Kenyataan Pahit


Indra sulit sekali menerima kenyataan ini.

Tidak ada lagi orang yang dibujuknya setelah bertengkar, Tidak ada lagi orang yang akan dibuatnya tersenyum. Tidak ada lagi Tasya, orang yang sangat dicintainya.

”Tasyaaaa...” Kepala Indra dibenturkannya pada setir mobil.

”Kenapa kamu tinggalin aku, Sya? Kenapa?? Padahal semalam...”

Kata-kata Indra terhenti karena isakan tangisnya sendiri. Matanya yang basah menerawang mengingat petemuannya dengan Tasya semalam di rumahnya.

Tiba-tiba... suara Tante Melati semalam terngiang-ngiang ditelinganya.

... ”Indra... Tasya udah nggak ada, dia udah pergi. Tasya sudah meninggal, kecelakaan dalam perjalanan ke jakarta sore tadi.”

”Tasya kenapa kamu membuatku bingung???”

”Nggak masuk akal, kalo’ Tasya meninggal kemarin sore. Lalu siapa yang menumpang mandi?? Siapa yang menangis dan meminta maaf padaku?? Siapa yang minta aku kemari?? Siapa???”

Maaf Terakhir (11)

Chapter 11
Dimana Tasya???


Hati Indra mulai merasa tidak enak. Suara beberapa orang membaca surat yasin terdengar dari kamar Tasya. Indra melangkah masuk diikuti Om Marvel-Papa Tasya. Om Marvel mendahuluinya ke kamar.

Kebanyakan tamu yang hadir berwajah sendu dan tidak sempat menyapa. Tidak terlepas juga dari suara isakan.

Dengan mata yang merah dan bengkak, Beby-adik tasya menghampirinya dan langsung memeluk Indra.

”Beb... Ada apa Beb???”

Calon adik iparnya itu terdiam, kerongkongannya bagaikan tersekat sesuatu.

”Tante Melati mana??”

”Ada di dalam..”

”Tasya udah pulang???”

”Sudah... jam 8 pagi tadi. Bang Indra kedalam aja. Semuanya ngumpul di dalam.

”Ada yang meninggal ya, Beb???”

Beby hanya tertunduk, tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya airmatanya yang semakin deras mengalir dan beberapa tetes jatuh ke lantai.

”Temani Abang kedalam, Yuk.”

Indra masuk ke kamar Tasya. Diatas tempat tidurnya ada seseorang yang terbujur kaku ditutupi kain batik. Tante Melati-Mama Tasya dengan suara yang terisak-isak menyelesaikan bacaan yasin-nya yang masih terbuka di tangan.

Indra duduk di depan pintu, tidak mau mengganggu Tante Melati menyelesaikan bacaannya. Semua keluarga Tasya berkumpul di kamar itu.

”Semuanya ada. Tapi... dimana Tasya?? Ah nggak... nggak mungkin.” Batin Indra.

”Siapa yang meninggal, Tante???” Tiba-tiba dada Indra terasa sesak dan air matanya meleleh tak dapat dibendungnya lagi. Hatinya tidak rela jika harus membayangkan bahwa jenazah yang ada diatas tempat tidur itu adalah Tasya. Indra menoleh keluar kamar berharap dilihatnya sosok Tasya disana sedang menangisi seorang yang terbujur kaku diatas tempat tidur itu.

”Indra...”

Indra menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.

”Tante Melati.” Indra langsung menghampirinya dan mencium tangannya.

”Sabar ya Ndra, tabahkan hatimu. Semuanya ini kehendak Allah.” Tante Melati memeluk Indra sambil menepuk-nepuk punggungnya.

”Tante... Siapa yang meninggal???”

”Bukalah Ndra... Lihatlah untuk terakhir kali...”

Indra menghampiri tubuh yang diselimuti kain batik itu. Kedua tangannya membuka kain yang menutupi bagian kepalanya.

”Tasyaaaaa...”

Indra terduduk hingga bagian belakang kepalanya terbentur ke dinding. Bibirnya bergetar menahan tangis yang tak bisa dibendungnya lagi. Kemudian ia berdiri dan keluar kamar, berlari menuju mobilnya tanpa sepatah kata. Pintu mobil dibuka dan dihempaskannya tubuhnya di jok mobil.

Setelah pintu mobil ditutup, Indra menangis melampiaskan semua perasaannya yang tak dapat dijelaskannya sendiri.

Maaf Terakhur (10)

Chapter 10
Keramaian Di Rumah Tasya


Jam 9 pagi Indra sudah berada di Bandung. Dalam perjalanan menuju rumah Tasya, mengalunlah lagu Terlanjur cintanya Rossa ft Pasha Ungu di radionya. Setengah jam lagi Indra akan sampai di rumah Tasya.

Indra membelok ke kanan, perumahan Puri Raya, Bandung rumah Tasya. Hatinya merasa lega karena tempat yang dituju sudah semakin dekat.

”Kenapa nih, banyak banget orang. Hmmm... pasti Tasya buat kejutan buat aku.”

Banyak kendaraan memenuhi jalan di depan rumah Tasya yang memaksa Indra memarkirkan mobilnya jauh dari rumah Tasya.

Indra membuka pintu mobil, semua barang-barang bawaannya dibiarkannya di dalam bagasi. Ia hanya membawa HPnya. Dengan langkah semangat ia berjalan kaki menuju rumah Tasya.

Om Marvel, Papa Tasya bersandar pada pagar rumah. Kepalanya tertunduk dengan lelehan air mata. Indra mengulurkan tangan dan mencium tangan Om Marvel. Suasana berduka menyelimuti para tamu yang hadir.

”Om Marvel, ada apa ini Om?”

”Kamu belum tahu apa yang terjadi, Ndra???”

”Memangnya ada apa, Om?”

”Kamu masuk saja dulu.”

Maaf Terakhir (9)

Chapter 9
Perjalanan Ke Rumah Tasya


Surat bersampul biru yang diberikan Tasya untuknya dibolak-balik, lalu diselipkannya ke dalam Agenda berwarna coklat miliknya. Alarm di Hpnya di setting pada pukul 5 pagi.

Badan Indra disandarkannya kembali pada sofa yang menghadap TV yang dibiarakannya menyala sejak tadi.

”Eh, Tasya nggak telpon Mamanya dulu apa?” Tiba-tiba terbesit pertanyaan itu di dalam hati Indra.

”Ehm... Tasya kan udah gede, dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan.” Pertanyaan itu dijawab oleh hatinya sendiri.

Mata Indra tertuju pada layar TV tetapi pikirannya melayang-layang memikirkan Tasya. Matanya mulai terasa pedih karena mengantuk. Diambilnya remote TV dan dimatikannya. Satu persatu lampu pun dimatikan.

Suasana di dalam rumah menjadi gelap. Indra membuka pintu kamarnya dan menghempaskan badannya ke tempat tidur. HP diletakkannya di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Mata mulai dipejamkannya... mimpi-mimpi merangkak menjelajahi setiap ruang bawah sadarnya.

Tit tittt... tit titttt... tit tittttt...

Alarm Hpnya telah berbunyi. Tepat jam 5 pagi, suaranya yang nyaring memecahkan kesunyian yang terdengar jelas di telinga Indra. Waktu begitu cepat berlalu.

Teringat janjinya dengan Tasya, Indra bergegas bangun. Walaupun matanya belum terbuka sempurna. Dinginnya pagi bukanlah penghalang Indra untuk ke kamar mandi. 15 menit sudah cukup untuk mandi membersihkan diri. Tidak dihiraukannya badannya yang menggigil, hingga menimbulkan bunyi gemeretuk dari gigi atas dan bawah.

Sudah waktunya berkemas. Dengan menggerak-gerakan jarinya Indra mengira-ira berapa banyak baju yang harus dibawanya. Kadang-kadang rencana hanya untuk sehari bisa berlanjut sampai berhari-hari jika mau bertemu dengan orang tersayang. Baju, celana, sikat gigi, parfum... semuanya dimasukkan dan disusun dalam Travel bagnya. Persiapan untuk 3 hari.

Indra lalu mengambil kunci mobil dan memanaskan mesin mobilnya.

”Opps, hampir aja lupa.” Diambilnya agenda berwarna coklat dan dibukanya untuk memastikan surat bersampul biru yang diberikan Tasya untuknya tidak tercecer. Karena baginya surat itu salah satu bukti cintanya pada Tasya. Karena surat ini, Indra harus menepati janjinya pada Tasya.

Satu-persatu barang bawaannya dimasukkannya dalam bagasi mobil. Suara mesin mobil miliknya memecahkan kesunyian pagi yang dingin.

Jam pada mobilnya menunjukkan pukul 7 pagi. Mobilnya kini telah keluar dari perumahannya. Dilajukannya kendaraannya dengan kecepatan standar. Tangan kirinya mencari channel di radio mencari lagu yang bisa menemaninya dalam perjalanan.

Maaf Terakhir (8)

Chapter 8
Persiapan Ke Rumah Tasya


Hampir 2 menit mesin dihidupkan, mobil Tasya mulai bergerak meninggalkan Indra sendirian. Klakson pendek dibunyikannya mengiringi lambaian tangan Tasya.

Indra melangkah cepat dalam hujan rintik-rintik untuk menginci pintu pagar dan langsung kembali ke ke ruang TV. Parfum yang dipakai Tasya masih tercium di ruangan itu.

Indra mengambil HP dari saku celananya, mencari nama Rendy-rekan kerjanya di Phonebook. Dan...

”Hallo.”

”Hallo Ren, besok gue nggak masuk kerja ya. Ada urusan keluarga mendadak, gue mau ke Bandung. Tolong kasih tahu Boss atau siapa pun lah yang cari gue entar.”

”Ok Bro. No problem.”

”Thanks Bro. Bye...”

Sekali lagi dicarinya nomor telepon Rumah Bang Dewa di Phonebook...

”Hallo.”

”Hallo Pi, Mami ada nggak ada?”

”Tunggu sebentar Papi panggilin.”

Hampir 1 menit...

”Hallo Ndra...”

”Mi, besok Indra mau ke Bandung ke rumah Tasya.”

”Memangnya ada apa, kok kamu tiba-tiba mau kesana?”

”Nggak tahu Mi... ada yang mau Tasya omongin sama Indra, katanya penting.”

”Tasya tadi telpon kamu?”

”Nggak, tadi dia mampir sebentar ke rumah numpang mandi. Sekarang balik lagi ke hotel, besok ada seminar katanya.”

”Kenapa nggak kamu suruh nginap aja, Ndra.”

”Tasyanya nggak mau Mi.”

”Ya udah kalo’ gitu. Hati-hati di jalan ya, Ndra.”

”Ya Mi. Salam buat Papi, Bang Dewa sama Kak Ciarra ya?”

”Ya.”

Maaf Terakhir (7)

Chapter 7
Surat Dari Tasya

Tas tangan berwarna coklat yang dibawa Tasya diletakkannya di pangkuannya. Tangannya yang lembut mencari sesuatu didalamnya. Surat bersampul biru dikeluarkan dan diulurkannya pada Indra.

”Ndra, kamu janji sama aku ya? Kamu baru boleh buka surat ini, kalo’ sudah ketemu sama Mamaku. Dan bacakan isi suratnya untukku. Itu juga kalo’ kamu penuhi permintaanku buat ketemu Mama, Tapi kalo’ nggak juga nggak apa-apa. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi.”

”Besok pagi aku pasti ke Bandung ketemu Mamamu. Aku janji, Sya!”

”Memangnya kamu mau pulang ke Bandung juga besok?”

”Iya Ndra. Tapi kamu harus berangkat duluan, soalnya aku masih harus mengurus sesuatu yang penting dulu disini. Mungkin besok aku akan datang terlambat, kamu tunggu aku aja disana sampai aku datang ya? Aku pasti bakalan sedih banget, kalo’ ternyata kamu nggak ada disana.”

”Pasti, pasti aku akan menunggumu disana Sya. Tapi, kenapa perasaanku jadi nggak enak?”

”Tenang aja Ndra nggak akan terjadi apa-apa, Ok? Sekali lagi aku minta maaf ya, Ndra? Aku sayang banget sama kamu.”

”Aku juga sayang kamu, Sya. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Selama ini aku yang selalu nyakitin hati kamu, ya kan??”

”Nggak Ndra. Kamu terlalu baik buat aku malah. Ya sudah, aku pergi dulu Ndra.”

”Jaga diri baik-baik ya, Sya. Besok pagi kita ketemu di Bandung. Aku janji bakalan bacain isi surat itu ke kamu. Tapi, kenapa nggak dibuka dan dibaca sekarang aja sih?”

”Kamu harus tepati janji dong Ndra. Pokoknya besok kalau sudah sampai di Bandung dan ketemu Mama baru boleh kamu buka.”

”Ok!”

Tasya mencium kedua pipi Indra dan kemudian berlalu keluar. Indra mengikuti dari belakang dan mengiringi langkah pasti Tasya.

Tanpa menoleh ke belakang, Tasya langsung menuju mobil Honda Jazz merah yang dibelinya dari gajinya beberapa tahun ini di sebuah perusahaan penerbitan di Bandung.

Pintu mobil dibuka. Sebelum mesin dihidupkan, senyuman yang lahir dari hati yang paling dalam terukir di bibir manis Tasya.

Maaf Terakhir (6)

Chapter 6
Permintaan Tasya


Indra menghampiri Tasya dan duduk dihadapannya.

”Kenapa Sya? Aku salah ngomong ya? Aku minta maaf, aku nggak maksud...”

”Nggak Ndra, kamu nggak punya salah apa-apa sama aku.”

”Terus, kenapa kamu nangis?”

”Ndra, kalo’ apa yang Mamaku bilang itu bener-bener terjadi... gimana?”

”Tasya, jangan ngomong kaya’ gitu ah. Sekarang kan’ kamu baik-baik aja. Buktinya kamu sekarang ada disini dihadapanku.”

”Ndra, aku mau ngomong sama kamu. Sebenernya seminar yang mau aku hadiri besok ditunda sampai bulan depan. Tapi aku tetep mau ke Jakarta, kesini ketemu kamu. Walaupun Cuma sebentar aja. Aku minta maaf ya, kalo’ aku punya salah sama kamu? Maafin aku ya, Ndra?”

”Tasya... kamu nggak punya salah apa-apa sama aku. Kalo’ pun ada, dari awal aku sudah maafin kamu sayang.”

Dada Indra sudah terasa sesak, ingin rasanya juga ia menangis. Tetapi karena ingin membuat Tasya tegar, ia menahan air matanya.

”Ndra, kamu sayang nggak sama aku???”

”Nggak perlu kamu ragukan lagi cintaku sama kamu, Sya. Aku sayang sama kamu. Aku sangat mencintaimu, Sya. Setiap hari aku selalu memikirkanmu, aku selalu merindukan senyumanmu itu.”

”Aku boleh minta tolong nggak, Ndra?”

”Apapun itu Sya, aku akan melakukannya untukmu.”

”Temui Mamaku besok, bisa?”

”Baiklah besok sore aku berangkat ke Bandung.”

”Jangan sore, tapi besok pagi habis subuh.”

”Hah??? Tapi...”

”Aku nggak bisa lama-lama, Ndra. Aku harus pergi, aku masih punya banyak urusan yang harus kuselesaikan. Lagian nggak baik kalo’ kita Cuma berduaan aja di rumah ini. Sebelum itu, aku mau ngasih kamu sesuatu...”

Maaf Terakhir (5)

Chapter 5
Telepon Dari Tante Melati


Tasya membuka pintu kamar mandi. Belum sempat ia mengganti kimono mandi dengan pakaiannya tadi, tiba-tiba...

”Tasya??”

”Kenapa, Ndra?”

”Tadi baru aja Mamamu telpon.”

”Oh, ya? Mama tahu aku disini?”

”Tadi Mamamu bilang... Ah, sudahlah kamu ganti baju aja dulu.”

Selagi menunggu Tasya berganti pakaian, tangan Indra merogoh saku jeansnya mengeluarkan sekotak rokok sampoerna dan lighter yang baru saja dibelinya tadi pagi. Sambil berjalan ke teras rumah, sebatang rokok diletakkannya dimulut dan disulutnya. Asap rokok yang dihisapnya bagaikan nikmat yang tersembunyi.

Hujan yang turun lebat tadi kini berganti hujan rintik-rintik dan udara dingin yang menusuk tulang. Pikiran Indra masih tertuju pada Tante Melati-Mama Tasya.

”Indra...”

Indra menoleh kebelakang. Dilihatnya senyum manis Tasya yang ditujukan padanya. Senyuman itulah yang selalau menghiasi mimpi-mimpi dan lamunannya.

”Kamu mau ngomong apa tadi?”

”Hmm, kamu telpon Mamamu sekarang ya? Beri tahu dia kalo’ kamu ada dirumahku sekarang. Kaya’nya Mamamu tadi khawatir banget, sampe ngomongnya ngaco gitu.”

”Emangnya Mama tadi bilang apa?”

”Tadi Mamamu telpon aku. Dia bilang, dia dapet telpon dari kantor polisi kalo’... kamu tuh kecelakaan mobil beruntun di jalan Tol dan meninggal. Sekarang Mamamu buru-buru pergi ke rumah sakit. Tapi tadi dia belum sempat bilang rumah sakit mana. Mamamu nangis terus. Telpon Mamamu sekarang ya?”

Dari berdiri di depan pintu, Tasya lalu duduk di sofa ruang tamu. Ditundukkannya kepalanya...

Tiba-tiba airmatanya mengalir membasahi pipinya.

Maaf Terakhir (4)

Chapter 4
Ada Apa Dengan Tante Melati?

Indra langsung menggandeng tangan Tasya untuk masuk ke dalam rumahnya.

”Mama sama Papamu mana?”

”Mereka ke Jogja, ke rumah Bang Dewa. Istrinya, Kak Ciarra kan’sudah melahirkan.”

”Oh, ya. Pasti bayinya lucu dan cantik deh kaya’ Mamanya.”

Indra tersenyum mengiyakan kata-kata Tasya tunangannya yang juga akan jadi istrinya 2 bulan lagi.

”Jadi, nggak ada orang sama sekali nih dirumah? Entar kalo’ kita berduaan aja, digrebek satpam lagi. Dikira lagi ngapa-ngapain. Hihihi...”

”Hehehe... kan’ bagus kita jadi lebih cepet dikawininnya.”

”Huh dasar. Maunya tuh.”

”Emang mau!”

”Aku boleh numpang mandi nggak, Ndra? Badanku lengket semua nih, jadi nggak enak.”

”Ya boleh dong, sayang. Pake kamar mandi atas yang di kamarku aja ya, Kamar mandi di bawah kerannya lagi rusak tuh. Handuknya ambil di lemari aja. Aku tunggu di ruang TV ya sayang.”

”Ok deh!!”

Tasya langsung menuju lantai atas, kamar Indra. Sudah hampir 1 tahun pertunangannya dengan Indra, dia sudah hapal betul dengan seluk beluk rumah ini. Dia hapal betul setiap sudutnya.

”Kringg... Kringgggg... Kring... Kringgggg...”

Indra mengangkat telepon yang kebetulan tepat berada di sebelahnya.

”Hallo...”

”Hallo, bisa bicara dengan Indra?”

”Ya saya sendiri, siapa ini?”

”Indra... Ini Tante. Ada berita buruk, Ndra...”

Suara terisak-isak calon mertuanya-Mama Tasya begitu jelas sekali terdengar di telepon.

”Berita buruk? Berita buruk apa Tante?”

”Tabahkan hatimu ya, Ndra. Tasya sudah nggak ada.”

”Nggak ada? Tasya nggak bilang sama Tante mau pergi kemana?”

”Indra... Tasya udah nggak ada, dia udah pergi. Tasya sudah meninggal, kecelakaan dalam perjalanan ke jakarta sore tadi.”

”Tante jangan bercanda dong. Tasya ada disini kok, sekarang dia lagi mandi tuh.”

”Tante nggak bercanda, Ndra. Baru aja Tante terima telpon dari kantor polisi. Sekarang tante dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Dalam suara yang masih terisak-isak, Mama Tasya memutuskan sambungan telepon.

”Kenapa sih, Tante Melati? Aneh banget.”

Indra menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menjadi bingung.

Rabu, 06 Januari 2010

Maaf Terakhir (3)

Chapter 3
Tasya???

Sayup-sayup terdengar suara sirine Ambulance berselang-seling dengan suara petir. Sejenak suara petir terhenti. Suara sirine membuat hatinya semakin gelisah.

Kakinya terasa sedikit kaku, karena terlalu lama duduk bersila di sofa. Kemudian ia bangkit berdiri ke rak TV untuk mengambil remote dan memilih channel Metro TV untuk menonton berita. Di Metro TV sedang menayangkan berita kecelakaan mobil beruntun di jalan Tol. Mata Indra memang tertumpu pada layar TV, tetapi pikirannya entah melayang kemana.

Di luar... cahaya lampu mobil menyilaukan jendela rumahnya. Mungkin itu mobil tetangga sebelah yang baru pulang pikirnya.

”Ya ampun, pintu pagar belum aku kunci lagi. Ah, ya udahlah nanti aja tunggu hujan reda.” Gerutu Indra sendiri. Biasanya pintu pagar sudah terkunci, kalau ia tak punya rencana pergi kemana-mana.

”Indraa... Indraaa...” Suara lembut terdengar dari luar pintu. Indra bergegas bangkit dari sofa. Dan lamunannya lenyap begitu saja.

”Ya, tunggu sebentar.” Indra menjawab panggilan suara itu. Dengan langkah cepat ia menuju pintu dan membuka sedikit korden untuk melihat siapa yang bertamu kerumahnya malam-malam begini.

”Eh!! Tasya... udah sampai? Apa kabar sayang? Kok nggak langsung ke hotel sih?”

”Indraaaaa. Kenapa? Nggak suka kalo’ aku kesini dulu? Aku ke jakarta bukan mau ketemu recepsionis hotel, tapi aku mau ketemu kamu... Indra sayangku.”

”Ya nggak lah, masa’ ketemu tunangan sendiri nggak seneng sih.”

”Nggak suruh aku masuk duluh nih?”

”Eh, iya... iya. Masuk yuk, aku sampai lupa suruh kamu masuk. Habis kangen sih sama kamu.”

”Huu... Mulai bisa deh ngerayunya.”

Maaf Terakhir (2)

Chapter 2
Perasaan Itu Datang Lagi


”Lambat sekali waktu hari ini berlalu... Seandainya saja Tasya kembali tepat waktu, malam ini aku pasti masih sempat ketemu dia.” Indra mengomel sendiri. Dilihatnya sekali lagi jam dinding yang menunjukkan pukul 8 Malam. Kemudian ia bengkit dari sofa di ruang TV yang didudukinya sejak pukul 5 sore tadi. Dengan perasaan gelisah ia hanya mondar-mandir sambil menggenggam HPnya.


Dengan langkah sedikit gelisah ia menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Mungkin saja dengan mencuci mukanya perasaan gelisah itu akan hilang. Diambilnya handuk berwarna biru yang tergantung di balik pintu kamar mandi dan diusapkannya ke wajahnya.

Setelah selesai mencuci muka, ia kembali duduk di tempat semula, di sofa ruang TV. Ruang dimana semua keluarga besar akan berkumpul bila datang kerumahnya. Tempat dimana ia dan Tasya menghabisakan waktu hanya untuk mengobrol.

Jarum jam terus berdetak dan menunjukkan pukul 9 malam. Indra masih saja duduk di sofa dengan tangan yang terus sibuk mengutak-atik Hpnya. Terus mencoba menghubungi Tasya.

Sekumpulan awan hitam yang menutupi sebagian ruang langit sejak sore tadi mulai menyirami bumi dengan air hujannya. Sesekali suara petir menggelegar yang menimbulkan suasana mencekam.

”Deg... degdeg... deg... degdeg...” Tiba-tiba detak jantungnya berdebar kencang lagi.

”Ya Tuhan... Selamatkanlah perjalanan tunangan hamba, Tasya.” Tiba-tiba air mata Indra menggenang di kelopak mata. Diusapkannya kedua tangannya ke wajah. Ditengadahkannya kepala sambil menarik napas perlahan-lahan hingga benar-benar menusuk rongga dada.

Maaf Terakhir (1)

Chapter 1
Ada Apa Ini??


Sebuah senyuman yang terukir dari bibirnya mampu mencairkan kerasnya hati setiap makhluk yang bernama laki-laki. Setiap kali melihat wajahnya bagaikan hujan yang menyirami segumpal hati yang gundah. Wajah indahnya bagaikan kuntum mawar yang tersiram embun pagi.

Gelak tawa dalam senda gurau yang dilantunkannya melalaui suara manjanya mampu membuat Indra tersenyum sendiri. Walaupun dihadapannya hanyalah sebuah dinding bisu, bukanlah Tasya... belahan jiwanya.

Entah mengapa sejak tadi, hati Indra tidak henti-hentinya berdebar seperti ada sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Hanya dengan ibu jari tangan kanannya, Indra menekan nomor pada keypad HP-nya. Nomor yang sudah dihapalnya diluar kepala. Nomor... TASYA.

”Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkaun...”

”Aduh, kenapa sih sayang??? Kenapa HPmu nggak aktif???”

Diwajahnya tergambar jelas, wajah kegelisahan. Wajah yang terhasil dari keresahan hati. Matanya mulai menjelajahi jam dinding dan otaknya mulai menghitung waktu.

Sudah hampir dua jam Tasya berangkat dari Bandung untuk ke Jakarta. Kalau tidak salah, seharusnya ia sudah sampai di Jakarta sekarang.

Maaf Terakhir (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Pesan Terakhir Dari Belahan Jiwa)
Creted By Sweety Qliquers


Maaf Terakhir
Chapter 1 Ada Apa Ini??
Chapter 2 Perasaan Itu Datang Lagi
Chapter 3 Tasya???
Chapter 4 Ada Apa Dengan Tante Melati?
Chapter 5 Telepon Dari Tante Melati
Chapter 6 Permintaan Tasya
Chapter 7 Surat Dari Tasya
Chapter 8 Persiapan Ke Rumah Tasya
Chapter 9 Perjalanan Ke Rumah Tasya
Chapter 10 Keramaian Di Rumah Tasya
Chapter 11 Dimana Tasya???
Chapter 12 Kenyataan Pahit
Chapter 13 Isi Surat Tasya
Chapter 14 Kenangan Bersama Tasya
Chapter 15 Diary Tasya


Sinopsis
Tasya datang menemui Indra untuk meminta maaf atas semua kesalahannya. Tasya merasa telah banyak menyakiti hati Indra-tunangannya. Sebelum Tasya pulang ia memberikan sebuah surat bersampul biru pada Indra. Yang baru boleh dibaca Indra setelah bertemu dengannya di Bandung. Apakah isi surat misterius itu???

Tapi betapa terkejutnya Indra setelah sampai di rumah Tasya di Bandung. Ternyata Tasya sudah...

Lalu siapakah yang meminta maaf pada Indra?? Dan siapakah yang memberikan surat misterius itu pada Indra??? Padahal Tasya sudah... Indra pun menemukan sebuah Diary milik Tasya yang isinya menunjukkan betapa besarnya cinta Tasya untuknya.


Karakter Tokoh Maaf Terakhir :

Indra Danuatmadja (Indra)
Seorang Pemuda yang sangat mencintai tunangannya. Yang menerima pesan terakhir dari Natasya Permata (Tasya)-tunangannya. Indra Danuatmadja (Indra) berjanji akan mengabulkan dan melaksanakan pesan dari Natasya Permata (Tasya).



Natasya Permata (Tasya)
Seorang gadis yang sangat mencintai tunangannya-Indra Danuatmadja (Indra). Ia memberikan sebuah surat yang isinya harus dibacakan oleh Indra Danuatmadja (Indra) ketika ia harus ke rumah orang tua Natasya Permata (Tasya) di Bandung. Dan ternyata surat Natasya Permata (Tasya) itu adalah pesan terakhir untuk Indra Danuatmadja (Indra).