Tampilkan postingan dengan label Beby Dan Virgo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beby Dan Virgo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2009

Beby Dan Virgo (7-TAMAT)

Chapter 7
Jangan Pergi, Beby!

Sekarang Virgo berubah. Setiap pulang sekolah, dia tidak lagi ngeloyor pergi atau mendekam di kamarnya. Yang dicarinya pertama-tama adalah Beby.

Dan ia selalu bertanya, ”Beb, mau Bang Virgo masakin apa?”

Walaupun Mama sudah selesai masak.

Atau, ”Beb, mau nonton nggak? Di 21 ada film bagus loh?”

Dan alhasil, Beby menolak dengan wajah heran. Kok Bang Virgo jadi baik? Baiiik banget! Malah, Abangnya yang cakep ini tidak pernah lagi meledeknya. Dan tiap kali Beby mau pergi Ekskul, Virgo nawarin buat ngantar. Padahal dulu Virgo selalu ngomong... ”Ah, gengsi! Entar dikira pacar lo lagi! Bikin pasaran gue sepi aja!”

***

Beby menarik kopernya dengan wajah masih cemberut. Si Virgo keterlaluan banget, sudah tahu Beby berangkat hari ini... Eh, Abangnya itu malah menghilang sejak pagi.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Beby mencium pipi Mama dan Papa dengan mata berkaca-kaca.

Mama memeluknya. ”Baik-baik ya, disana.” Pesannya.

Beby menangis. Sedih bukan hanya karena akan pergi, tapi gara-gara si Virgo-Abangnya itu tidak ada saat keberangkatannya.

”Bang Virgo marah sama Beby, ya?” Tanyanya pada Mama.

Mama tersenyum. ”Nggak ko! Bang Virgo sayang sama kamu. Cuma, dia nggak setuju kamu pergi.” Hibur Mama, sambil mengelus rambut Beby.

Tiba-tiba Papa menunjuk ke depan. Tampak seorang cowok jangkung duduk sendirian di kursi tunggu keberangkatan Luar Negeri, membelakangi mereka.
Senyum Beby mengembang. ”Itu kan, Bang Virgo!” Ia berlari kesana.

”Bang Virgo!” Panggil Beby.

Virgo mendongak kaget. ”Eh...” Ia tampak salah tingkah.

”Bang Virgo nungguin Beby, ya? Tanya Beby, ikut duduk.

”Ah! Nggak!” Sangkal Virgo cepat.

”Tadi kebetulan lewat sini, eh tiba-tiba gue pengen duduk-duduk.” Bohongnya konyol.

Beby jadi terharu. Ia tahu Virgo berbohong. Jarak rumah ke Bandara hampir dua jam, masa’ sih kebetulan lewat?

”Lo udah mau pergi, ya?”

Beby mengangguk. Hatinya ikut sedih melihat wajah murung Abangnya itu.

Virgo menunduk, memain-mainkan kunci motor sportnya.

”Nanti Beby suratin via email, ya?”

Virgo mengangguk pelan. ”Jangan lupa telepon, ya?” Tambahnya.

”Disana jangan keluyuran. Jangan sembarangan bergaul, milih teman yang baik. Jangan pacaran sama bule. Jangan suka nangis lagi. Jangan terlambat makan, jangan...”

”Iya.” Beby mengangguk, memotong pesan Virgo yang banyak.

”Tapi...” Virgo menatap Beby khawatir.

”Kalo’ lo disakitin orang, siapa yang ngebelai lo? Kalo’ nggak ada makanan, terus lo lapar, siapa yang mau masakin? Kan, lo nggak bisa masak. Kalo’ lo sakit, siapa yang...?”

”Beby pasti baik-baik aja.” Potong Beby terharu. Ia menghambur, memeluk Virgo erat. Tangisnya tumpah.

”Kalo’ lo sedih disana, pulang ya Beb?”

Beby mengangguk sambil menyeka airmatanya. Dilepaskannya pelukannya. Kemudian diciumnya pipi Virgo. ”Beby sayang Bang Virgo.” Katanya.

Virgo mengangguk. ”Bang Virgo juga.”

Mereka berpelukan lagi.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Beby Dan Virgo (6)

Chapter 6
Beby Nggak Boleh Pergi


Virgo melongo heran melihat Beby memeluk buku segede bantal itu ke kamarnya.

”Ma, si Beby bawa apaan tuh?” Ia mendatangi Mama yang sedang sibuk memasak.

”Kamus bahasa Perancis.” Jawab Mama sambil terus memasak.

”Kamus? Mau ngapain? Memangnya Beby mau jadi guide, apa?”

”Bukan, Beby ikut pertukaran pelajar.” Mama membuka panci.

”Hah! Pertukaran pelajar?” Ulang Virgo tak percaya.

Mama mengangguk, berjalan ke belakang. Virgo mengekor dengan penasaran. ”Kok Virgo nggak dikasih tahu, sih?” Protesnya.

Mama tertawa kecil. ”Beby sudah bilang sama Papa dan Mama.

Virgo cemberut. ”Kok, Si Beby ikut yang begituan sih?”

Kening Mama berkerut, tapi tangannya terus bekerja. ”Beby diminta sekolah buat ikut. Adikmu itu kan, pinter.”

”Mama izinin?” Kejar Virgo terus mengekor.

Mama mengangguk.

”Nggak bisa.” Protes Virgo lagi.

”Virgo nggak ikut-ikutan yang begituan, masa Beby ikut?” Lanjutnya.

”Lho! Mama kan nggak ngelarang kamu ikut, Go.” Balas Mama.

”Tapi Beby kan cewek. Entar disana ada apa-apa, kan gawat.” Alasannya.

”Nggak boleh!” Tegasnya seakan ia yang memutuskan.

Mama meliriknya heran. ”Kamu ini?”

Virgo mencibir. ”Sorry! Virgo nggak minat ikut begituan.”

Mama menggeleng tidak mengerti.

Virgo duduk di kursi. ”Virgo kan sudah bilang... Beby itu cewek, masih kecil dan polos. Entar ada yang mainin gima...” Virgo memilin-milin serbet di meja, tidak menyelesaikan kalimatnya.

Mama duduk di samping Virgo sambil tersenyum lembut.

”Jangan diizinin ya, Ma?” Pinta Virgo memelas.

”Beby itu belajar keras beberapa minggu ini, dia pengen banget ikut. Masa Mama tega sih. Lagipula, ini kesempatan baik untuk masa de...”

”Beby juga punya masa depan disini.” Potong Virgo cepat.

Mama menghela napas. ”Beda, Go. Soal kekhawatiran kamu tentang Beby, Mama yakin Beby bisa jaga diri. Lagipula, disana Beby punya orangtua angkat.” Jelas Mama panjang.

Virgo tambah cemberut.

Mama tersenyum. ”Kamu nggak mau ditinggal beby, ya?”

Virgo diam.

”Kamu ini. Kalau beby ada terus digangguin. Tapi denger Beby mau pergi, kamu malah nggak setuju.” Kata Mama geli.

”Pokoknya Beby nggak boleh pergi!” Kata Virgo keras kepala, lalu ia masuk ke kamarnya dengan wajah tertekuk.

Beby Dan Virgo (5)

Chapter 5
Menunggu Beby Pulang

”Beby kemana sih, Ma?” Tanya Virgo tampak kesal.

”Rapat OSIS,” Jawab Mama acuh tak acuh.

Virgo mondar-mandir di ruang tamu. Uring-uringan sendiri. ”Beby kemana, sih?” Gumamnya jengkel sambil melirik jam.

Papa yang tengah menonton TV menoleh. Mama juga.

”Kenapa?” Tanya Mama heran.

”Janjian sama Beby?”

”Gengsi!” Virgo mencibir. Tapi ia masih juga gelisah. Ia lalu membuka pintu.

”Virgo mau ke warung depan dulu ya, Ma?”

Lima belas menit berlalu. Mama melirik jam, mulai merasa resah. ”Beby kemana ya, Pa?”

Papa ikut melirik jam. ”Macet barangkali.” Katanya menenangkan.

”Kita tunggu di luar aja, yuk?” Ajaknya pada Mama.

Mereka keluar bersama-sama.

”Nunggu di depan Blok aja ya, Pa.” Ajak Mama tak sabar.

Papa mengangguk, menjejeri langkah Mama. Tapi langkah Mama terhenti melihat seseorang yang berdiri gelisah sambil celingak-celinguk di ujung jalan.

”Virgo!”

Virgo tersentak kaget dengan mata melotot.

”Ngapain kamu disini? Katanya mau ke warung?”

”I... Iya, i... ini Virgo baru dari warung.” Bohongnya salah tingkah.

Mama menatapnya dengan senyuman tertahan. ”Nungguin Beby, ya?”

”Ah! Nggak kok!” Sangkal Virgo cepat.

Papa ikut tersenyum. ”Ya, sudah. Kamu saja yang nungguin Beby.” Katanya seraya menggandeng tangan Mama pulang.

Sepuluh menit kemudian Beby membuka pintu dengan wajah cemberut. Tak lama Virgo ikut masuk.

”Kok terlambat, Beb?” Tanya Mama.

”Rapatnya dipanjangin!” Jawab Beby ketus. Diliriknya Virgo dengan mulut yang maju beberapa senti.

”Norak ih, Bang Virgo! Pake nunggu di depan malu-maluin aja! Temen-temen Beby pada ketawa semua deh!”

Virgo menjulurkan lidah. ”Siapa juga yang nungguin lo?” Balasnya tak mau mengaku sambil ngeloyor masuk kamar.

Mama tersenyum geli. Papa juga.

Beby Dan Virgo (4)

Chapter 4
Mendatangi Indra

Indra memaksakan sebuah senyuman.

”Sorry ya, Beb! Gu... gue salah, nggak seharusnya gue nya... nyakitin lo.” Ucapnya tersendat-sendat.

”Maafin gue, ya?” Pinta Indra dengan wajah memelas.

Beby dan Chacha bengong melihat wajah Indra yang babak belur.

Tapi Beby mengangguk juga walau tak mengerti.

Indra tersenyum lagi. Tapi seperti meringis. Kemudian ia berlalu dengan tergesa-gesa.

”Eh!” Chacha menyikut Beby.

”Si Indra kanapa ya, Pake minta maaf segala? Mukanya lagi, kok ancur gitu?”

Beby ikut-ikutan mengerutkan keningnya.

”Jangan-jangan...” Kata Chacha terputus, teringat sesuatu.

Beby menoleh. ”Jangan-jangan apa?”

”Virgo, dia...?” Chacha kembali terdiam.

”Virgo?” Beby semakin bingung.

”Bang Virgo kenapa?” Desaknya.

Chacha menelan ludah. Menyumpahi Virgo dalam hati.

”Kemarin Bang Virgo nelpon gue, dia nanya kenapa lo nangis. Terus gue...” Chacha tidak melanjutkan. Ia menatap Beby takut-takut.

”Maafin gue, Soalnya Bang Virgo bilang Cuma pengen tahu. Jadi...”

Beby tersandar lemas.

Jadi Bang Virgo yang nonjok Indra sampai babak belur begitu?

Ada rasa bersalah dan haru yang menyergap Beby.

***

Cowok jangkung yang sebentar lagi jadi Mahasiswa itu lagi asyik ribut dengan gitarnya.

Beby masuk, memperhatikannya tanpa suara.

Virgo menoleh. ”Apa?” Tanya sambil kembali ribut. Mulutnya mengeluarkan bunyi yang aneh.

”Makasih ya, Bang.” Ucap Beby pelan.

”Emang gue ngasih lo duit?”

”Karena memperhatikan Beby. Tapi lain kali jangan sampai mukul begitu.”

Virgo menoleh, menghentikan nyanyian kacaunya.

”Mukul siapa?” Tanyanya dengan kening berkerut, berlagak heran.

”Kasihan loh si Indra, dia sampai ketakutan gitu.” Lanjut Beby.

”Indra? Indra mana?” Virgo pura-pura bingung.

”Lo ngomong apa, sih?” Suaranya terdengar kesal.

”Biar Abang nggak mau ngaku, tapi Beby tahu kok kalo’ Bang Virgo yang mukulin si Indra.” Kata Beby yakin.

”Makasih ya, sudah mengkhawatirkan Beby. Tapi, sebenernya Beby nggak pa-pa kok!” Lanjut Beby tersenyum manis. Kemudian ia keluar.

Virgo terkekeh.

”Hihihi, ternyata si Indra bener-bener pergi minta maaf.” Gumamnya senang sambil menyanyi lagi. Nyanyian aneh... suara aneh!!!

Beby Dan Virgo (3)

Chapter 3
Beby Nangis???


Virgo menguap, diliriknya jam kamarnya. Jam tujuh lewat. Ia keluar. Eh, kok masih sepi sih? Sayup-sayup terdengar suara Ungu dari kamar Beby. Baru saja Virgo akan membuka kamar Beby ketika telinganya menangkap isakan kecil. Eh! Kok Pasha Ungu nangis, sih? Versi baru, ya? Ia berpikir sejenak. Atau...

Virgo menempelkan daun telinganya ke pintu. Benar! Si Beby yang menangis.

Virgo duduk di depan pintu kamar Beby, sibuk berpikir apa yang membuat si bontot itu menangis. Gara-gara Mama pergi nggak ngajak si Beby?

Virgo menggeleng.

Beby kan udah gede, nggak suka ngekor lagi. Gara-gara dia suka ngeledekin Beby? Virgo kembali menggeleng. Perasaan selama ini ledekannya masih wajar-wajar aja. Atau...

Mata Virgo membulat.

Pasti gara-gara cowok! Si Beby mungkin lagi jatuh cinta tapi nggak kesampaian. Atau mungkin ada cowok yang nyakitin Beby, ya?

Virgo menggeram.

Ia lalu mengendap-endap mendekati telepon di ruang tamu yang persis berada di samping kamar Beby. Dipencetnya beberapa nomor.

”Hallo?” Ucapnya berbisik.

”Hallo.” Terdengar suara nada heran di ujung telepon.

”Chacha, ya?” Virgo masih berbisik.

”Iya. Ini siapa, sih?”

”Virgo.” Bisik Virgo lagi sambil melirik deg-degan ke pintu kamar Beby.

”Siapa?”

”Virgo!” Ulang Virgo berbisik serak.

”Virgo yang mana?”

”Virgonya Beby!”

”Ohhhhh... Abangnya Beby.”

”Eh, si Beby kenapa sih?”

”Kenapa gimana?” Tanya Chacha bingung.

”Kok dia nangis?” Virgo kembali melirik kamar Beby. Mudah-mudahan Beby nangis terus dan nggak keluar! Doanya dalam hati.

Chacha terdiam di seberang.

”Wooiii! Gue tanya si Beby kenapa?” Ulang Virgo mulai tak sabar.

”Ng...”

Virgo mendesis jengkel. ”Mau ngomong nggak, sih?”

”Entar si beby marah kalau...”

”Gue nggak bakal ngasih tahu, deh!” Sela Virgo cepat.

”Bener nih?”

Virgo mengangkat dua jarinya. ”Eh! Bener! Bener!” Ucapnya cepat, sadar kalau Chacha tidak bisa melihatnya.

”Indra ngecewain Beby.”

”Apa?!” Virgo berteriak marah. Ia mendekap mulutnya, kaget dengan suaranya sendiri. Matanya melirik curiga ke pintu kamar Beby. Pintu itu tidak terbuka. Virgo menghembuskan napas lega.

”Hallo? Bang Virgo? Lo masih ada kan?”

”Iya, iya! Si Indra tadi kenapa?” Virgo kembali berbisik.

”Si Indra ngomomg kalo’ dia tuh suka sama Tasya, padahal dia tahu kalo’ Beby tuh suka sama di...”

”Kurang ajar!” Desis Virgo marah.

”Eh, tapi...?”

”Indra itu kelas berapa?” sela Virgo.

”Kelas I-2. Mau ngapaian, Bang?” Tanya Chacha khawatir.

”Nggak kok!” Virgo mengubah suaranya menjadi manis.

”...”

”Cuma pengen tahu aja.” Bohongnya.

”...”

”Sudah ya, thanks buat infonya.” Lanjutnya lagi mengakhiri.

”Eh, tapi bener loh... nggak bilang ke Beby?”

”Iya... iya! Bye... Bye... Chacha manis!”

”...”

Virgo mengepalkan tangannya. Senyumnya menghilang.

”Awas lo, Ndra!” Geramnya dengan wajah sangar.

Beby Dan Virgo (2)

Chapter 2
Masak Sendiri

”Bebyyy!” Teriak Virgo yang baru pulang. Ia meneguk segelas air es. Tapi Beby tidak muncul. Virgo membuka pintu kamar Beby. Cewek kelas I SMA itu sedang asyik mendengarkan lagu lewat ipod.

”Hoooooii!” Teriak Virgo kencang membuat Beby terloncat dengan wajah shock.

Virgo terkekeh. ”Mama mana?” Tanyanya tanpa merasa berdosa.

”Pergi!” Jawab Beby ketus.

”Lunch-nya kok nggak ada?”

”Mama nitip duit, beli sendiri katanya.”

”Masak sendiri, ah!” Kata Virgo sambil berjalan keluar.

Beby mengekorinya. ”Mau masak apa, Bang?”

Virgo membuka kulkas, menengok kedalamnya... melihat apa yang bisa dimakannya.

”Telur,” Jawabnya sambil mengeluarkan sebutir telur. Kemudian ia menyiapkan penggorengan dan menyalakan kompor. Dengan bersiul-siul kecil ia mulai memasak. Ia memang jago memasak.

Telur yang telah di goreng ditaruhnya di piring lalu dipotong-potongnya menjadi kecil. Ia lalu mengambil tomat, bawang merah, cabe dan entah apa lagi lalu ia mulai memotong-motong semua itu.

”Katanya mau goreng telur, kok pake’ tomat?” Tanya Beby yang sedari tadi berada di sampingnya, heran.

”Telur kuah ala Virgo,” Jawab Virgo seenaknya.

Ia lalu mencampurkan semua itu dengan menambahkan bumbu-bumbu dapur Mama. Kemudian ia memasak lagi dengan memasukkan telur yang tadi, air dan entah apa lagi.

Beby bingung.

Tercium aroma harum yang membuat perut Beby berteriak-teriak. Beby menelan ludah.


”Kaya’nya enak ya, Bang?”

”Oh, so pasti itu. Virgo!” Balas Virgo sombong.

”Masakin Beby juga, dong!” Pinta Beby.

”Masak sendiri! Cewek kok nggak bisa masak, payah.” Omel Virgo.

Beby cemberut. ”Ayo dong, Bang!” Bujuknya memelas.

Virgo mencibir. ”Nggak!”

Beby berjalan pergi dengan wajah kesal bercampur sedih.

Virgo melirik. Merasa kasihan juga. ”Nih!” Teriaknya keras.

”Awas kalau nggak dihabisin.”

”Makasih ya, Bang.” Ucap Beby sambil mengambil piring.

Virgo memasang wajah galak, pura-pura tidak mendengar. Tapi sesekali diliriknya Beby yang makan dengan lahap. Ada senyim di bibirnya.

Beby Dan Virgo (1)

Chapter 1
Beby Dan Virgo

Buuumm!!!

Virgo yang sedang memandikan sepeda motor Sport-nya tersentak kaget mendengar suara itu. Tanpa mencuci tangannya yang penuh busa shampo, ia berlari kencang ke kamarnya.

”Bebyyy!!!” Terdengar lengkingan Virgo dari kamarnya.
Mama yang sedang membaca di ruang tamu menoleh heran.

Di dalam kamar, tepatnya di samping buku-buku yang berserakan, Beby tertunduk gemetar.

”Gue kan udah bilang, jangan masuk ke sini!” Omel Virgo dengan suara menggelegar.

Beby semakin gemetar. ”So... sor... sorry! Beby nggak se... seng... sengaja!”

”Nggak sengaja, nggak sengaja!” Potong Virgo ketus.

”Ngapain lo disini?” Tanyanya galak.

”Beby cuma mau minjem...”

”Minjem, minjem!” Sela Virgo lagi, tidak memberi kesempatan pada Beby.

”Minjem apa nyolong?” Virgo melotot.

”Minjem.” Jawab Beby hampir menangis.

”Minjem tapi nggak bilang-bilang?! Mana berantakin kamar lagi!”

”Beby beresin, deh...”

”Nggak usah!” Sergah Virgo tambah melotot.

”Lo keluar aja sono! Cepat!” Usirnya seraya membuka pintu lebar-lebar.

Beby melangkah pelan. ”Tapi...” Protesnya takut-takut.

”Apa tapi-tapi?!” Virgo memasang tampang kejam.

Beby berlari keluar dan duduk di samping Mama. Ia menyembunyikan wajahnya di belakang Mama.

Virgo membanting pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan mata yang masih terus melotot pada Beby.

”Awas kalau berani masuk lagi!” Ancamnya.

”Virgo.” Lerai Mama sambil mengelus rambut Beby.

”Dia yang salah, Ma. Masa’ kamar Virgo diberantakin. Buku-buku pada jatuh semua.” Adu Virgo.

”Kan’ Beby Cuma mau minjem buku.” Bela Beby.

”Minjem apa nyolong?! Nggak minta Izin dulu!” Virgo mendekati Beby yang segera bersembunyi kembali di belakang Mama.

Beby seperti tikus yang hanya menongolkan sedikit kepalanya untuk menengok.

”Awas lo, kalau berani masuk lagi!” Virgo mengacungkan telunjuknya yang tertutup busa pada Beby yang cemberut.

”Virgo!” Tegur Mama.

Virgo mencibir. ”Dasar anak manja!”

Beby Dan Virgo (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Hubungan Antara 2 Saudara)
Sweety Qliquers



Tali Kasih Beby & Virgo
Chapter 1 Beby & Virgo
Chapter 2 Masak Sendiri
Chapter 3 Beby Nangis ???
Chapter 4 Mendatangi Indra
Chapter 5 Menunggu Beby Pulang
Chapter 6 Beby Nggak Boleh Pergi
Chapter 7 Jangan Pergi, Beby!


Sinopsis
Mengisahkan hubungan dua saudara yang lucu, menggemaskan, sekaligus mengharukan. Adalah Virgo, seorang sulung yang bandel dan protektif. Dan Beby, si bungsu yang manja dan merupakan satu-satunya rival bagi kakaknya sendiri.

Walaupun Virgo iseng, tapi di dalam hatinya yang paling dalam... ia sangat menyayangi Beby-adiknya. Virgo terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia sangat menyayangi Beby. Setelah mengetahui bahwa Beby akan mengikuti pertukaran pelajar di Perancis, Akankah Virgo mengakui bahwa dirinya sangat menyayangi Beby?


Karakter Tokoh Tali Kasih Beby Dan Virgo :


Virgo Perdana (Virgo)
Seorang sulung yang bandel dan protektif pada adiknya. Ia sangat menyayangi Beby Galia Putri (Beby), tetapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ia baru mau mengakuinya setelah Beby Galia Putri (Beby) akan ikut pertukaran pelajar ke luar negri.


Beby Galia Putri (Beby)
Si bungsu yang manja dan merupakan satu-satunya rival bagi kakaknya sendiri-Virgo Perdana (Virgo). Walaupun Kakaknya itu iseng dan tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya, Beby Galia Putri (Beby) tahu bahwa Kakaknya itu sangat menyayanginya.