Tampilkan postingan dengan label Sambutlah Cintaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambutlah Cintaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2009

Sambutlah Cintaku (6-TAMAT)

Chapter 6
Sambutlah Cintaku

Sore, di rumah Chacha.

“Cha, lo tahu nggak siapa yang ngirimi lo surat itu?” Tanya Reza pada Chacha.

“Nggak! Emangnya lo tahu siapa?”

“Ryan, anak kelas 3. Temen sekelas gue.”

“Hah, kok bisa sih. Nggak mungkin banget, pertama kali kita ketemu aja tu anak galak banget. Akhir-akhir ini setiap kita ketemu, dianya cuek banget tuh sama gue. Kaya’ gue ini nggak ada aja.”

“Lo nggak percaya amat sih sama sahabat lo dari kecil ini, Cha.”

“Ya habisnya lo kan iseng banget orangnya. Tampang-tampang tipu kaya’ lo susah dapet kepercayaan. Hehehe.”

“Ah, sialan Lo Cha. Eh, tapi kali ini gue serius loh. Dia sendiri yang bilang ke gue. Dia galak plus cuekin lo kaya’ gitu soalnya dia mau menutupi perasaannya yang sebenernya ke lo. Kalo’ dia itu sebenernya suka sama lo.”

“Arghh… udah ah nggak usah omongin dia lagi, males gue denger nama dia.” Padahal dalam hati Chacha, ia senang banget. Ternyata selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

“Katanya nggak suka, kok muka lo merah gitu! Udah lah Cha ngaku aja, kalo’ lo tuh juga suka sama Ryan. Sama gue ini, ngapain juga Lo malu.”

“Kok lo tahu sih Za kalo’ gue juga suka sama Ryan?”

“Waktu di kantin kemaren. Waktu gue bilang lo dapet salam dari si Ryan. Sebenernya sih gue ngetes doing, eh nggak tahunya lo-nya malu-malu gitu. Ya ternyata dugaan gue selama ini nggak salah dong.”

“Eh, lo bilang kemaren gue juga dapet salam kan. Emangnya dari siapa,Cha?” Tanya Reza penasaran.

“Kasih tahu nggak ya?” Goda Chacha

“Ah, rese lo Cha! Eh, ngomong-ngomong temen sekelas lo yang namanya Helen itu udah punya pacar belum?” Tanya Reza.

“Nah, ya ketahuan! Jadi lo suka juga sama Helen, ngobrol dong Sob!”

“Maksud lo ‘juga’ apa?”

“Yang titip salam buat lo kemaren ya si Helen.”

“Jadi maksudnya? Helen juga suka sama gue?”

“Ya iyalah.”

“Ya ampun Cha, kenapa Lo nggak pernah bilang sih?”

“Gue-nya aja baru tahu kemaren. Hmm… gue tahu, jadi ini alasan lo kenapa pindah ke sekolah gue.”

“Iya, gue suka sama Helen waktu dia pertama kali main ke rumah Lo ini.”

“Segitunya, jadi Cuma karena cinta lo bela-belain buat pindah sekolah. Dasar, cowok yang aneh.

“Ya udah deh Cha, Kalo’ gitu gue pulang dulu.” Pamit Reza buru-buru.

Mau kemana sih buru-buru amat. Biasanya juga sampe makan malem Lo baru pulang.” Sindir Chacha.

“Mau ke rumah Helen plus nembak dia.” Jawab Reza malu-malu sambil menstater motor sportnya.

“Ok deh! Good Luck Ya!” Teriak Chacha. Reza mengacungkan jempolnya sambil melajukan motor sport-nya.


***


Di sekolah.

“Ciee, kaya’nya ada yang baru jadian nih. Seneng bener kaya’nya, traktiran mana nih?” Goda Chacha yang melihat Reza datang bersama Helen sambil bergandengan tangan.

“Lo kapan nyusul?” Tanya Reza.

“Sama siapa Pak? Pacaran sama nyamuk?”

“Ya sama Ryan dong.” Helen yang menjawab mewakili Reza.

“Kok Lo udah tahu sih, Len.”

“Kalo’ bukan si Reza yang cerita, lo pasti nggak bakalan mau cerita sama gue kan?” Todong Helen.

“Eh tuh pngeran pujaan Lo dateng.” Tunjuk Reza dan Helen serempak pada Ryan yang berjalan menuju mereka.

“Cha, boleh ngomong berdua aja nggak?” Tanya Ryan pada Chacha sambil melirik ke arah Helen dan Reza.

“Di kantin aja ya!” Jawab Chacha malu-malu.


***


Di Kantin

“Cha, sebenernya gue suka sama lo. Sejak pertama kita ketemu waktu itu.” Kata Ryan ragu-ragu pada Chacha. Takut kalau Chacha akan marah dengan pernyataan cintanya.

“Kalo’ lo suka sama gue, kenapa lo galak banget waktu kita ketemu pertama kali? Dan sekarang-sekarang ini, lo kaya’ nganggap gue nggak ada.”

“Gue malu buat nyatain cinta gue ke lo. Setiap ketemu Lo rasanya jantung gue mau copot. Cha, Lo mau kan jadi cewek gue?” Jawan Ryan polos.

“Sorry Yan, gue nggak bisa…” Jawab Chacha menggantung. Ryan yang mendengarnya hanya menunduk kecewa.

“Nggak bisa… nggak bisa nolak maksudnya. Gue juga suka sama Lo kok, Yan. Sejak pertama kita ketemu.” Lanjut Chacha.

“Jadi, kita?” Ryan menegaskan pernyataan Chacha sambil memegang lembut tangan gadis itu.

Chacha mengangguk malu-malu.

“Cieee… makan-makan nih!” Kata Reza dan Helen yang ternyata sudah menguping pembicaraan mereka dari tadi.

“Akhirnya jadi juga lo nembak Chacha, Yan!” Kata Rendy, Indra dan Virgo berbarengan.

“Ok! Gue traktir semuanya!” Teriak Ryan.

Reza, Helen dan tiga sekawan itu pun bersorak gembira.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Sambutlah Cintaku (5)

Chapter 5
Jangan-Jangan???


“Cha!”

“Apa?” Chacha memandang Helen sambil menyuapkan baksonya.

“Gue boleh nanya nggak?”

“Kenapa sih lo, Len? Sejak kapan lo mau nanya aja harus ijin gue dulu?”

“Ya, gue takut aja kalo’ lo marah kalo’ gue nanyain ini.”

“Emang Lo mau nanya apa sih?”

“Lo pacaran sama si Reza?” Tanya Helen yang mengundang tawa Chacha.

“Kok lo ketawa sih, emangnya pertanyaan gue lucu apa?” Dahi Helen sampai berkerut mendengar tawa Chacha.

“Lo tuh yang lucu, kenapa juga lo nanya begituan?” Pertanyaan Helen dijawab Chacha dengan pertanyaan juga.

“Ya nggak pa-pa sih, nanya doang. Jadi, lo pacaran nggak sih sama si Reza?”

“Ya ampun Helen, Reza itu sahabat gue kali.”

“Sahabat? Bukannya lo baru kenal dia seminggu?”

Chacha tertawa lagi. “Reza itu sahabat gue dari kecil. Kita itu emang deket banget, udah kaya’ adek – kakak gitu. Gue juga nggak tahu kenapa dia pindah sekolah disini.”

“Ohh…” Helen mengangguk.

Chacha tersenyum. Dia menoleh ke arah kiri. “Nah, tuh si Reza! Kesempatan bagus nih.”

“Reza! Sini Lo!” Panggil Chacha. Reza dan dua orang temannya pun berjalan menuju tempat duduk Chacha dan Helen.

“Aduh Chacha, ngapain sih lo pake manggil dia segala?”

“Kenapa emangnya? Nggak pa-pa kali.” Chacha tersenyum nakal!

“Kita boleh gabung nggak nih, Cha?” Tanya Reza.

“Ya bolehlah, Makanya gue panggil lo kesini!” Chacha berdiri, mengambil tempat di sebelah Helen dan memberi tempat duduknya pada Reza dan kedua temannya.

“Cha… Len… kenalin nih temen-temen gue. Ini Putra… yang ini Valent!” Reza memperkenalkan satu-persatu temannya.

“Ya ampun Cha, cakep banget si Reza!” Helen berbisik kepada Chacha.

“Pasti kalian lagi ngomongin gue kan?” Tuduh Reza.

“Idih GR banget!” Jawab Chacha cuek.

“Za, gue mau kasih tahu Lo sesuatu!”

“Apaan?” Tanya Reza penasaran.

“Ada yang titip salam buat lo!” Jawab Chacha.

“Masa’ sih? Lo juga!”

“Gue serius kali, Za!”

“Lo pikir gue becanda apa?”

Sepertinya obrolan itu seperti milik Chacha dan Reza. Helen, Putra dan Valent hanya sebagai pendengar setia saja.

“Cha… tuh!!!” Reza memonyongkan bibirnya ke arah kanan.

Mereka berlina serentak menoleh. Kemudian mata mereka berempat bertumpu ke arah Chacha.

“Apa?” Tanya Chacha yang langsung melotot ke arah Reza.

“Aduh gawat nih, ketahuan deh. Jangan-jangan Reza tahu nih, kalo’ gue suka sama Ryan! Awal Lo Za!” Gerutu Chacha dalam hati.

“Apaan sih? Kenapa lo semua pada ngeliatin gue kaya’ gitu? Iya gue tahu kok, kalo’ gue tu cantik.” Kata Chacha sambil tertawa kecil.

“Idih PD!!” Serentak Helen, Reza, Putra dan Valent menjawab.

Akhirnya, pecahlah tawan lima sekawan itu.


***


“Please, jangan tanya… jangan tanya…” Batin Chacha.

“Cha, kenapa si Reza suruh lo liat si Ryan?”

“Aduh, dia nanya kan! Jawab apaan gue?” Batin Chacha.

“Hmm… gue juga nggak tahu!” Jawab Chacha sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Jangan bo’ong deh Cha! Burlan kasih tahu gue!”

“Eh, tuh Bu Miranda udah dateng!” Kata Chacha ketika melihat Bu Miranda yang sedang berjalan menuju kelas mereka.

“Piuhh… untung aja ada Bu Miranda, kalo’ nggak pasti si Helen bakalan maksa gue buat cerita!” Batin Chacha.

Chacha memandang Helen, terpancar rasa tidak puas di wajahnya.

“Sorry Len, gue nggak bisa cerita sekarang!” Sesalnya dalam hati.

Sambutlah Cintaku (4)

Chapter 4
Si Iseng Reza


Chacha mengobrak-abrik isi tasnya. “Aduh mana sih dompet gue, perasaan gue taruh di dalam sini deh. Kok nggak ada sih. Aduh siapa sih yang iseng ngumpetin.”

“Heh, surat siapa nih? Pasti ada yang iseng ngerjain gue nih. Pasti Jadul banget nih orang, hari gini masih surat-surataan.” Tanya Chacha dalam hati.

“Woyyy!!”

“Ahhh! Sialan, kaget gue!”

“Hehehe, sorry tuan putri!” Jawab Reza.

“Good doggy!”

“Huh! Jahat banget sih lo Cha. Masa’ gue disamain sama anjing sih. Muka gue keren gini, ya sebelas duabelas lah sama Pasha Ungu.” Jawab Reza narsis.

Chacha tertawa melihat kelakuan sahabatnya sejak kecil itu. Reza memang tidak pernah berubah.

“Sorry deh! Gue kan Cuma bercanda, Za! Jangan marah dong!”

“Iya gue marah banget sama lo. Kecuali Lo mau traktir gue makan, baru gue mau maafin lo!” Jawaban Reza membuat Chacha ketawa.

“Beres deh!!!” Chacha tersenyum pada Reza.

“Hmm… surat dari siapa tu? Baru seminggu lo di sekolah ini udah punya secreet admirer.” Tanya Reza.

“Gue juga nggak tahu. Surat nyasar kali, masa’ dia bilang dia suka sama gue.”

“Waduh, kasian banget tuh cowok ya. Masa’ bisa suka sama Lo sih?”

“Kenapa memangnya?” Tanya Chacha.

“Kaya’nya gue harus bawa tuh cowok ke dokter spesialis mata deh, kok bisa-bisanya dia naksir lo. Atau mungkin dia khilaf kali ya?”

“Arghh… sialan lo!! Emangnya gue sejelek itu apa, sampe nggak pantes buat disukain cowok?” Chacha memukul lengan Reza dan Reza hanya menjerit kecil.

“Emang iya.” Jawab Reza sambil berlari meninggalkan Chacha yang sedang mengamuk.

“Awas lo, gue nggak jadi traktir lo makan!” Teriak Chacha pada Reza yang sudah berlari meninggalkannya.

“Nggak pa-pa, dompet lo kan udah sama gue!” Teriak Reza sambil melambai-lambaikan dompet Chacha.

“Rezaaa!!! Balikin dompet gue!!!” Teriak Chacha lagi.

“Emang ada yang naksir gue di sekolah ini atau ada yang iseng ngerjain gue ya? Ah, bodo’ amat gitu aja dipikirn.” Tanya Chacha dalam hati sambil memasukkan surat itu ke kantong baju seragamnya.

Selasa, 29 Desember 2009

Sambutlah Cintaku (3)

Chapter 3
Ryan??

“Aduh.”

Ryan dan Chacha bertabrakan di koridor sekolah. Hampir saja mereka berpelukkan. Untung saja ada buku yang dipeluknya di depan dada Chacha. Kalau nggak!! Enak Ryan pastinya.

“Kalau jalan tuh pake mata, jangan pakai dengkul.” Teriak Ryan.

“Woii! Lo tuh yang jalan nggak pake mata. Sembarangan aja nuduh orang. Lagian lo jalan kok pake lubang hidung! Heh!” Sembur Chacha tidak mau kalah.

“Yee dasar cewek stres, dikasih tahu kok nyolot.” Dumel Ryan dalam hati.

Mereka berduan pun pergi tanpa saling lihat satu sama lain. Seperti orang yang tidak saling kenal.


***

Brakk!!

Chacha menghempaskan buku teksnya. Marah dan kesal bercampur jadi satu. Anak-anak di kelasnya hanya terdiam melihat tingkahnya. Tidak menyangka gadis manis seperti dia kalau sedang marah sangat mengerikan.

“Lo kenapa lagi sih Cha?” Tanya Helen Sahabatnya di sekolah.

“Tuh kakak kelas kita, kelas 2 atau 3 nggak tahu juga deh gue. Eh, tiba-tiba cari masalah sama gue.”

“Dia yang cari masalah sama lo atau lo-nya yang cari masalah sama dia hah?”

“Eh, jaga tu mulut ya sembarangan aja. Ya dia lah yang cari ribut sama gue.”

“Iya deh, jangan marah dong Cha.” Kata Helen, takut kalau Chacha ngamuk lagi - bisa habis satu kelas diberantakin sama dia.

Sejurus kemudian, Pak Rizal masuk ke kelas mereka.

“Selamat pagi semua. Sekarang buka bukunya halaman 45.” Perintah Pak Rizal.

Dengan malas Chacha membuka buku teksnya, moodnya untuk belajar sudah dikuras habis oleh kejadian tadi. Sekarang ia tak bisa berkonsentrasi dengan kelas Pak Rizal.

“Haduh… bosen banget gue, Len!” Gerutu Chacha pada Helen.

Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu. Pak Rizal pun sudah keluar meninggalkan kelas. Chacha hanya diam di tempat duduknya, ia tidak mood untuk ikut begosip dengan Helen, Beby dan Tasya.

“Eh, kalian tahu Ryan nggak?” Tanya Helen.

“Ryan? Adrian Yudhistira! Anak kelas 3 itu?” Jawab Tasya.

“Ya iyalah, emangnya siapa lagi!”

“Gila ya tu cowok, cakep banget. Rasanya meleleh gue kalo’ liat dia senyum.” Kata Beby.

“Adrian Yudhistira? Siapa sih yang diomongin sama mereka?” Tanya Chacha dalam hati.

“Hmm… bener banget tu Beb! Apalagi suaranya bagus benget.” Kata Helen.

“Iya tuh! Apalagi waktu dia nyanyi di festival band kemaren, tapi sayang nggak menang. Padahal Band mereka kan keren banget.” Lanjut Tasya.

“Tunggu… tunggu! Jangan-jangan yang mereka omongin ini, cowok rese yang nabrak gue tadi. Huh! Keren? Keren apanya? Tapi, ya lumayan lah.” Batin Chacha.

Chacha tertawa dalam hati. Ia memang tidak memungkiri kalau Ryan itu memang keren, vokalis band lagi.

Sambutlah Cintaku (2)

Chapter 2
Ternyata Mimpi


“Hai sayang!!!”

“Ngapain sih nih orang…” Batin Chacha.

“Minggir, gue mau lewat!!”

“Busyet… galak bener non.”

“Suka-suka gue dong!!”

Chacha melangkah ke arah kanan tetapi dihalangi oleh pemuda dihadapannya yang tidak dikenalnya itu, Ia melangkah ke arah kiri pun dihalangi juga. Ia mula merasa takut.

“ Ya Allah, lindungilah hambamu ini.” Doanya dalam hati.

“Tenang aja non, nggak usah takut sama gue…” Kata pemuda itu sambil mencolek dagu Chacha.

“Apa-apaan nih, maen pegang-pegang aja! Jangan kurang ajar lo!!”

Chacha mulai mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

“Jangan khawatir nggak ada orang disini, Cuma kita berdua aja.” Jawab pemuda itu sambil selangkah demi selangkah mendekati Chacha. Selangkah demi selangkah pula Chacha mundur.

“Mama… tolong!!!” Teriak Chacha dalam hati. ia melihat sekumpulan cowok-cowok berseragam SMA yang sedang berjalan kearahnya sambil bersiul.

“Kaya’nya orang baik-baik tuh. Mendingan gue minta tolong aja sama mereka.” Batinnya lagi.

“Tolonggg!!!” Teriak Chacha sambil berlari ke arah sekumpulan cowok-cowok berseragam SMA itu. Pemuda yang tidak dikenalnya itu pun ikut mengejar Chacha.

“Hah… itu kan kakak-kakak kelas gue yang cegat gue di kantin tadi. Argh… mampus deh gue. Mana mau mereka nolongin gue!” Batin Chacha.

Ryan, Indra, Rendy dan Virgo terkejut mendengar suara cewek yang sedang menjerit.
“Tolong gue! Ada preman yang kejar-kejar gue!” Chacha berhenti berlari tepat di depan mereka berempat.

“Preman!!!” Teriak mereka berempat serempak.

“Hmm, ini kan adik kelas gue yang gue kerjain tadi siang.” Batin Ryan.

“Mana?” Tanya Rendy.

“Itu!” Chacha menunjuk ke arah pemuda yang sedang berlari ke arah mereka.

“Busyet!! Gede banget badan tu orang!” Spontan kata-kata itu yang keluar dari mulut Virgo.

“Halah… itu sih kecil! Jangan sebut gue cowok, kalau nggak berani ngelawan dia.” Indra mengedipkan matanya pada Chacha.

“Huh! Dasar cowok! Orang lagi ketakutan, sempat-sempatnya ngegodain.”

“Hey nona cantik mau lari kemana lo!” Terdengar suara garang dari pemuda itu. Spontan Chacha berlindung dibelakang mereka berempat.

“Sorry nih, Bang! Sopan dikit dong sama cewek.” Ryan mulai bersuara. Timbul rasa kasihan di hatinya pada gadis itu.

“Nggak usah ikut campur, ini bukan urusan kalian!!” Bentak pemuda itu pada Rendy, Ryan, Indra dan Virgo.

“Sorry lagi nih Bang, dia ini cewek gue!”

Chacha terkejut mendengar pernyataan Rendy. Karena jengkel, Chacha meninju punggung Rendy.

“Aduh!”

“Rasain siapa suruh lo bilang kalo’ gue tu cewek lo hah.”

“Hahahaha!!” Ryan,Indra dan Virgo tertawa melihat tindakan Chacha.

“Halah! Sudah… kesini lo!” Pemuda itu menarik dengan kasar tangan Chacha.

“Argh!! Tolong!!” Dengan serentak mereka pun berhenti tertawa.

“Dapat!” Ryan sempat memegang tangan kiri Chacha sedangkan tangan kanan Chacha ditarik pemuda itu.

“Lembut juga tangan nih cewek.” Guman Ryan dalam hati.

“Eits, tahan Bang! Apa-apan nih?”

“Jangan ikut campur urusan gue!! Paham!! Lepasin tangan nih cewek!”

“Eits, nggak bisa. Dia ini teman kita, nggak salah dong kalo’ kita nolongin dia!”

Maka terjadilan adegan tarik-menarik tangan Chacha. Sudah seperti perlombaan tarik tambang di acara agustusan. Dengan bantuan Indra, Virgo dan Rendy, Ryan menarik tangan Chacha dengan kuat.

“Busyet sakit bener tangan gue, kaya’ mau copot! Mama tolongg!!!”

“Byurr!!!”

“Hup… Hup… Hup…” Mulut Chacha mangap-mangap seperti ikan kekurangan air.

“Chacha!! Makanya kalau bangun tuh jangan kesiangan, Jadi kamu mimpi yang aneh-aneh.” Cerocos Bu Keysha (Mama Chacha).

“Hehehe… tidurnya kemaleman Ma, jadi bangunnya kesiangan deh.”

“Ayo bangun, mandi sana nanti telat lagi kamu ke sekolahnya. Nanti suruh Bik Inah buat cuci selimut kamu yang basah itu!”

“Mama aja yang suruh, kan Mama yang bikin selimut Chacha jadi basah.”

“Eh, ngejawab lagi. Emangnya Mama harus pake cara apa buat ngebangunin kamu, kalo’ nggak disiram sama air mana bisa kamu bangun. Pake ngigau segala lagi.”

“Ngigau apa Ma?”

“Mama… Mama… tolong… Mama…” Bu Keysha menirukan suara Chacha tadi.

“Hahaha!” Ibu dan anak itu pun tertawa terbahak-bahak.

“Hah, itu pasti gara-gara gue mimpi dikejar-kejar sama preman tadi. Kenapa juga gue bisa mimpi kaya’ gitu?” Batin Chacha.

Sambutlah Cintaku (1)

Chapter 1
Genk Sekolah

“Hei, lo!!”

“Hmm… Lo panggil gue?”

“Iya, lo… sini!”

Chacha menghampiri gerombolan cowok-cowok itu. Dan yang memanggilnya adalah ketua geng di sekolahnya itu. Inilah sampah masyarakat, memanfaatkan sekolah untuk berbuat anarkis dan berkelakuan seperti preman pasar saja. Huh! Memang tidak berguna.

“Ada apa?”

“Lo anak kelas 1 kan?”

Chacha mengangguk.

“Asal lo tahu aja! Gue yang berkuasa di sekolah ini…”

“Tunggu… tunggu! Terus apa hubungannya sama gue?” Potong Chacha.

“Heh bisa nggak sih lo, kalo’ ada orang ngomong tuh jangan dipotong?”

Chacha hanya mendengarkan kata-kata cowok-cowok itu sambil lalu. Dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memandang wajah cowok-cowok tidak berguna dihadapannya. Lagaknya sok berkuasa! Kalau cakep kaya’ Choky Sitohang sih nggak pa-pa. Nah ini udah jelek, hidup lagi!!!

“Ok! Bisa-bisa aja!” Chacha berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua.

Ryan, Indra, Rendy dan Virgo terbengong-bengong. Tidak menyangka adik kelasnya itu berani meninggikan suara kepada cowok idaman para cewek. Selama ini belum ada yang berani melakukannya.

“Kita kerjain aja nih cewek. Gimana Yan? Tiba-tiba Indra menyahut.

“Apa? Lo gila kali ya? Lo nggak lihat apa tadi dia kasar banget. Cewek kok nggak ada lembut-lembutnya sama sekali. Ngomongnya aja kasar gitu. Gimana mau ngedekitin dia. Salah-salah malah muka gue yang kena tonjok sama tuh cewek! Lagian dia adik kelas kita.” Bantah Ryan.

“Ini namanya tantangan Yan. Nggak masalah kalau dia itu adik kelas kita, justru itu bonus untuk kita!” Dukung Rendy. Sudah lama mereka tidak berbuat ulah dengan adik-adik kelasnya.

“Terserah lo-lo pada deh… gue cabut dulu!” Ryan berlalu meninggalkan mereka menuju kelas.

“Ah… payah nih si Ryan.”

“Lo mau ngerjain tuh anak?” Tanya Virgo kepada Indra.

“Pastinya. Tuh cewek pasti bisa gue taklukin!” Dengan bangganya Indra menjawab.

“Ok… deh!!!”

Mereka bertiga berbalik. Dan… mampus!

“Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa tidak masuk kelas? Waktu istirahat sudah habis. Cepat masuk!” Bentak Bu Olivia sambil bertolak pinggang, menunjukkan wajah yang sadis sekali…

“Eh… Bu Olivia… ma...aff Bu…” Mereka segera berlari menuju kelas.

Sambutlah Cintaku (Sinopsis)

(Tentang Cinta Pada Pandangan Pertama)
Created By Sweety Qliquers


Sambutlah Cintaku
Chapter 1 Genk Sekolah
Chapter 2 Ternyata Mimpi
Chapter 3 Ryan???
Chapter 4 Si Iseng Reza
Chapter 5 Jangan-Jangan???
Chapter 6 Sambutlah Cintaku


Sinopsis
Bercerita tentang cinta pada pandangan pertama. Ada yang percaya sama cinta pada pandangan pertama nggak? Mungkin bukan cinta kali ya, suka mungkin iya. Tapi itulah yang terjadi pada Rossa Anastasya (Chacha) dan Adrian Yudhistira (Ryan). Yang juga menular pada Reza Phalevi (Reza) dan Helenia Tiara Azizah (Helen).

Akankah mereka akan mengungkapkan rasa cintanya?? Ataukah hanya mereka pendam saja di dalam hati?? Atau hanya sekedar berbagi cerita saja pada sahabat-sahabat mereka??


Karakter Tokoh Sambutlah Cintaku :


Rossa Anastasya (Chacha)
Ia tak pernah mau mengakui rasa sukanya pada Adrian Yudhistira (Ryan). Ia selalu saja menepis rasa cintanya pada Ryan. Ia sudah terlanjur pesimis, karena setiap bertemu dengan Adrian Yudhistira selalu saja ada yang diributkan.

Adrian Yudhistira (Ryan)
Kakak kelas Rossa Anastasya (Chacha) dan teman sekelas Reza Phalevi (Reza). Karena ingin menutupi rasa sukanya pada Rossa Anastasya (Chacha), setiap kali bertemu dengannya selalu saja ada yang diributkan.

Helenia Tiara Azizah (Helen)
Sahabat Rossa Anastasya (Chacha) di sekolah. Diam-diam ia menaruh hati pada Reza Phalevi (Reza), yang ternyata sahabat Rossa Anastasya (Chacha) juga. Helenia Tiara Azizah (Helen) sempat mengira bahwa Rossa Anastasya (Chacha) dan Reza Phalevi (Reza) ada hubungan khusus melibatkan hati.

Reza Phalevi (Reza)
Sahabat Rossa Anastasya (Chacha) sejak kecil, yang tinggal dalam satu perumahan yang sama hanya berbeda blok saja. Cinta pada pandangan pertama pada Helenia Tiara Azizah (Helen). Dan rela pindah sekolah hanya untuk mengejar cinta sejatinya.