Tampilkan postingan dengan label Edelweiss. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edelweiss. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Edelweiss (9-TAMAT)

Chapter 9
Sepenggal Kenangan Edelweiss


Ada dua hati nan membisu
Tanpa kata
Tanpa sapa
Edelweiss hanya saksi sunyi
Dalam giris lagu hati
Kala airmata kita menitik
Bagai tetesan embun di pucuk cinta

(Indra Danuatmadja)
Edelweiss Cinta Kita

***

Denpasar 07.00 pagi.
Masih terlalu pagi sebenarnya untuk memulai perjalanan.

Aku lunglai. Berdiri di hadapan taksi dengan sikap membisu seperti Arca. Perjalanan ini merupakan pertemuan terakhirku dengan teman-teman sekelas lainnya. Tiga tahun kami bersama dalam suka dan duka. Ada saatnya memang kami harus berpisah. Memilih jalan hidup kami masing-masing setelah menamatkan pendidikan di SMA Tunas Kelapa.

"Indra, mampir-mampir ke rumah ya?" Chacha menjabat tanganku.

"Jangan lupain gue ya Ndra, kalau sudah di negeri orang!" Helen berteriak dari dalam bis.

"Awas lho Ndra, kalau nggak mampir ke rumah waktu pulang ke Jakarta!" teriak Beby Galia Putri menongolkan kepalanya keluar jendela, lalu melambai antusias.

"Sering-sering SMS, ya?" Lanjutnya.

Aku mengangguk.

Langkahku memberat ketika Marvel Andromedha sudah mendesak agar segera berangkat ke Bandara Ngurah Rai. Telat satu jam, berarti aku harus ketinggalan pesawat.

Pagi itu semuanya seperti membisu.

Aku melambai, namun masih mematung di samping taksi yang akan mengantar ku ke bandara. Entah, keengganan seperti menjerat tubuhku dalam ketidakrelaan berpisah. Kenangan kami demikian kental sehingga memenjarakanku dalam keterdiaman. Aku seperti tidak percaya. Dalam hitungan detik, kami sudah harus berpisah!

Di halaman hotel, bis pun sudah siap mengantar rombongan tur kembali ke Jakarta. Aku tidak ikut pulang ke Jakarta, karena via udara langsung ke Singapura untuk mengikuti tes masuk ke salah satu perguruan tinggi jurnalistik di sana.

Aku lihat Tasya masih menundukkan kepalanya seperti biasa. Dia tidak berkata apa-apa tanda pamit. Aku hanya lihat matanya yang membasah. Aku tahu dia sedih. Sedih sekali. Sayang aku tidak punya cukup waktu untuk menghiburnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga prahara keluarganya lekas berlalu.

"Indra, jaga diri baik-baik!" Akhirnya Tasya berteriak dengan suara parau.

Aku mengangguk. Nyaris meneteskan airmata haru. Tapi aku cepat-cepat berbalik, lalu masuk dan duduk di dalam taksi.

Perjalanan dalam hari-hari singkat kebersamaan memang membawa kenangan yang dalam. Di dalam taksi yang melaju kencang menuju bandara, aku sudah tidak kuasa menahan airmata yang menyeruak. Barangkali aku terlalu cengeng dengan akhir kebahagiaan ini. Barangkali juga aku telah jatuh hati kepada Tasya.

Ah, entah kapan aku dapat bertemu, dan merangkai cerita indah bersama gadis itu lagi. Gadis edelweiss itu!!!


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Edelweiss (8)

Chapter 8
Jingga Kenangan


Kau adalah edelweiss yang terluka
Dalam gambaran duka berkabut nestapa
Dan tangis berlumur darah
Mungkinkah kenangan ini
Dapat menghapus jejak langkah sang angin?
Mungkin tidak, pikirmu!
Tapi di sini aku justru menangis
Sebab kau adalah edelweiss yang tak terjamah tangan

(Indra Danuatmadja)
Aku Cinta padamu Tasya

***

"Gue pikir itu cuma sugesti."

"Sugesti?!"

"Iya."

"Maksud kamu, sugesti...."

"Sugesti itu, di mana sesuatu hal atau benda yangdianggap dapat memberikan nilai makna atau tujuan pada seseorang. Misalnya jimat, bebatuan bertuah, mantra-mantra dan lain sebagainya. Ya mungkin, termasuk edelweiss ini juga!"

"Masa’ sih?"

"Ya menurut gue, Penggambaran edelweiss sebagai bunga keabadian kisah asmara, tidak terlepas dari persepsi yang melegenda. Soalnya, bunga edelweiss tidak mudah ditemukan di sembarang tempat. Edelweiss tumbuh di tempat yang paling terpencil. Biasanya di lereng-lereng bukit yang terjal. Tidak mudah digapai tangan-tangan jahil. Nah, kalau kita bicara soal kata terpencil, di mana sih daerah terpencil pada manusia selain hati?"

"Hm, maksud kamu...."

"Edelweiss itu hanya simbol penggambaran cinta sejati. Cinta abadi seseorang kan berasal dari lubuk hati - mirip dengan tempat tumbuhnya edelweiss di lereng-lereng terpencil."

"Oo… jadi cuma sugesti ya, Ndra?"

"Ya iyalah. Kalau bukan sugesti, setiap orang yang menyimpan edelweiss di dompetnya pasti memiliki pacar yang nggak bakal selingkuh. Bapak-bapak nggak ada yang berpoligami. Hahaha...."

Aku terbahak.

Gadis itu tersenyum.

"Eh, Lo kok pendiam banget sih? Punya masalah?"

"Ng-nggak." Dia menggeleng dengan ragu-ragu.

"Tapi, sayang dong kalau edelweiss itu cuma sugesti!"

"Maksud Lo?"

"Sebenernya, dengan edelweiss ini aku berharap Papa dan Mamaku Jakarta bisa rujuk lagi!"

"Ya ampun, Sya! Jadi...."

"Orangtuaku baru aja bercerai, Ndra!"

"Pantesan lo...."

Aku terkesiap. Sedikit merasa menyesal telah secara tidak langsung menguakkan kembali kisah suram keluarganya yang luluh lantak. Tapi aku memang tidak sengaja. Aku prihatin. Sangat prihatin. Pantas gadis itu seperti tidak memiliki semangat hidup.

"Aku memang bodoh ya, Ndra! Mau percaya...."

"Nggak, Sya!"

"Tapi...."

"Lo jangan ngomong kaya’ gitu dong."

"A-Aku...."

"Lo nggak salah kok, ngelakuin itu semua demi kebaikan orangtua Lo. Tapi alangkah baiknya kalau setiap hari lo berdoa, supaya orangtua lo bisa rujuk lagi. Itu lebih bagus ketimbang bersugesti dengan legenda edelweiss."

"Aku...."

"Gue turut prihatin atas masalah yang menimpa keluarga Lo. Tapi, gue harap lo jangan terlalu sedih. Gue pikir semua itu cuma cobaan hidup buat Lo!"

Aku lihat mata gadis itu berkaca-kaca. Sepasang tangannya yang lembut menyentuh bunga-bunga edelweiss di atas meja. Mengusapnya dengan penuh rasa sayang.

"Ta-tapi bunga-bunga ini...."

"Simpan aja di kamar Lo setelah balik ke Jakarta. Gue yakin, edelweiss itu pasti bakalan membuat ruang kamar lo jadi lebih cantik."

Edelweiss (7)

Chapter 7
Edelweiss Dalam Bisu


Edelweiss dalam Toples Kristal
Tak secantik mawar
Atau anggrek
Demikian aku berkata padanya
Pada suatu hari di penghujung kenangan
Bukan lantaran itu kukagumi kau, Cinta
Namun ada sugesti dalam birama hati
Dan obsesi tentang damainya dua hati
Terima kasih, Cinta!
Aku menangis dalam perpisahan ini
Mungkin semua adalah tangisan bahagia
Tapi sungguh,
Kutelah jatuh hati padamu
Dan sesungguhnya kaulah edelweiss dalam bisu

(Indra Danuatmadja)
Edelweiss dalam Toples Kristal

***

Aku dekati gadis pendiam itu. Duduk di sampingnya. Berdeham untuk menarik perhatian. Dia hanya mengangkat wajah sekilas. Lalu mulai menundukkan kepalanya lagi.

"Nggak gabung sama temen-temen lo?"

Aku bertanya, sekedar berbasa-basi. Entah harus ngomong apa dengan gadis serupa arca ini. Tentu sulit mencari kalimat yang tepat untuk mengajaknya berdialog. Jadi aku hanya melantunkan kalimat klise tadi.

Dia menggeleng.

Aku lihat sekuntum edelweiss berpot Toples Kristal di atas meja tamu kamarnya. Pasti miliknya. Bunga yang tumbuh di daerah dingin itu sebenarnya tidak terlalu indah di mataku. Lain halnya kalau mawar atau anggrek. Tapi meski tidak seindah bunga-bunga hias, edelweiss merupakan bunga langka yang banyak diminati orang. Selain karena jarang, bunga tersebut juga memiliki nilai histori sendiri di kalangan pencinta bunga.

"Punya lo?"

"He-eh."

"Dapet dari mana?"

"Beli waktu di Bromo."

"Lo suka edelweiss, ya?"

Dia mengangguk.

"Bukannya, cewek-cewek itu biasanya lebih suka sama mawar?"

Dia membisu. Masih duduk di sofa hotel dengan wajah menekuk. Aku sedikit aneh dengan kelakuannya yang persis seperti arca. Aku menggaruk kepala tanpa sadar. Mencari kalimat tepat untuk tetap mengajaknya buka suara. Aku tidak ingin dia asyik dengan dunianya sendiri seperti anak autis. Padahal, kedua puluh dua bidadari lainnya sudah berkumpul seperti biasa. Menebar jala gosip khas nona-nona metropolis. Apa lagi kalau bukan soal dunia lawan jenis pemikat hati alias cowok-cowok keren, yang bisa dijadikan tongkrongan kebanggaan suatu waktu.

"Punya kenangan sama edelweiss, ya?"

"Nggak juga. Tapi...."

"Apa?"

"Kata orang, edelweiss adalah lambang kelanggengan cinta ya, Ndra?"

Aku tersenyum. Gadis 'bisu' itu sudah mulai buka suara. Aku cepat-cepat mengangguk, mengiyakan kalimatnya barusan. Tentu saja. Sebelum dia kembali mengikat mati simpul bibirnya. Diam dan membisu sejuta bahasa.

"Kata orang, kalau seseorang menyimpan beberapa helai bunga edelweiss di dompet, biasanya mereka bakalan enteng jodoh. Juga awet dengan pasangannya sampai tua."

"Mungkin."

"Kok mungkin sih, Ndra?!"

"Memangnya kenapa?"

Aku pancing dia untuk melontarkan kalimat.

"Maksudku, edelweiss ini kan...."

Kena!

Aku sudah berhasil menggetarkan pita suaranya untuk melantunkan dialog. Dia menatapku dengan wajah heran. Sepasang alisnya bertaut, menggambarkan keingintahuan.

Memang itulah yang Aku harapkan!

Edelweiss (6)

Chapter 6
Tasya Pada Suatu Senja


Kuta di senja itu
Menjingga dalam kenangan
Sayang indah urung mengurai senyum sang jelita
Aku terhempas
Adakah pendar cahaya serupa lentera
sebagai penerang temaram hati?
Tak tahu!
Begitu katanya
Lalu kutengok edelweiss dalam bisu
Ia telah berdialog dengannya
tentang dua hati nan terkoyak
aku terlentang mati karenanya

(Indra Danuatmadja)
Nita pada Suatu Senja

***

Malam di Denpasar sudah mengembuskan atmosfer sedingin es ketika Marvel Andromedha datang membisikiku. Katanya, gadis itu kelewat introvert (tertutup). Gadis berkulit putih itu merupakan salah satu bidadari. Namanya Tasya, Natasya Permata. Dan setelah tujuh hari bersama menyusuri perjalanan asyik Jawa-Bali bersama anak-anak satu kelas, Aku baru menyadari kalau gadis teman sekelasku itu memang sering menyendiri dengan wajah murung.

Dalam rombongan tur perpisahan kelas kami, memang ada dua puluh tiga bidadari. Bidadari di sini tentu merupakan sebuah julukan. Bukan para dayang dari istana langit seperti yang diceritakan dalam serangkaian dongeng anak-anak. Yang memiliki kecantikan paras seindah berlian dan permata berkilau dari nirwana. Sama sekali bukan. Tapi yang dimaksud adalah dua puluh tiga siswi biasa SMA Tunas Kelapa yang masing-masing, memiliki kepribadian, karakter, dan watak sendiri-sendiri.

Sepasang mata indah itu tampak serius memperhatikan lantai hotel. Seperti mengamati alur-alur lantai, menghitung goresan-goresan akibat gesekan sepatu pada ubin porselen bermotif kembang keramik.

Marvel Andromedha sang Koordinator tur juga sempat bilang, kalau dia kasihan melihat anak itu. Dia bilang, takut terjadi apa-apa dengan gadis berwajah pucat itu.
Pembawaannya diam melulu. Bicaranya hemat energi. Hanya, ya dan tidak. Plus gelengan atau anggukan!

Dan tentu Marvel Andromedha punya alasan untuk mengkhawatirkan kondisi yang tidak mengenakkan itu.

Tentu saja.

Bukan apa-apa sebenarnya.

Tapi, seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada salah satu rombongan peserta tur, maka dialah yang pertama-tama digorok oleh pimpinan pihak travel di Jakarta!
Makanya, dia mendekati dan menceritakan perihal kelakuan ganjil Tasya kepadaku.

Aku langsung mengangguk paham.

Untuk menyelami dasar hati gadis serupa arca itu, Marvel Andromedha tentu angkat tangan. Dan dia menyerahkan tugas moral itu kepadaku. Katanya, masalah gadis itu adalah level kawula muda. Sebab dia yang nyaris berkepala empat itu sudah tidak cocok lagi kalau masuk ke dalam dunianya remaja.

"Saya serahin Tasya sama kamu saja, Ndra. Kamu kan ketua kelas. Ya paling tidak kamu bisa memimpin anak-anak lah!"

Setelah menyerahkan tugas itu kepadaku, dia tampak sumringah dan dapat tertawa lagi seperti biasa. Bercanda dengan peserta tur cowok lainnya, yang saat itu sedang asyik bermain gitar dan kartu.

Edelweiss (5)

Chapter 5
Sebuah Legenda


Bromo
Sekuntum edelweiss
Sepasang kuda hitam dan putih
Jejak-jejak kaki para pejuang cinta
Adalah hembusan angin
Yang ditiupkan dari tebing
Kita memang hanya setitik pasir
(Indra Danuatmadja)
Sebuah Legenda

***

Perjalanan ke lautan pasir Bromo sudah dimulai fajar tadi. Marvel Andromedha, pemimpin tur - salah seorang karyawan biro travel yang menyertai rombongan tur sekolah kami - sudah menyiapkan keperluan perjalanan plus sedikit wejangan agar tidak tersesat di rimba pasir malam kemarin. Dan begitu berisiknya bweker erdering pukul tiga, peserta tur yang asyik meringkuk dalam buaian mimpi terpaksa harus bangun. Bergegas masuk ke dalam bis sebelum ditinggal sendirian di bungalaw. Para bidadari sudah on time pukul setengah empat pagi. Telah membungkus diri dengan sweater dan jaket setebal kasur!

Tiba di tujuan, Beby Galia Putri mulai beraksi dengan kudanya - perjalanan ke tempat tujuan memang lebih aman dan cepat dengan menunggang kuda yang disewakan sekaligus dituntun oleh sang kusir. Tanpa kesulitan, dia langsung duduk di pelana punggung kuda dengan entengnya. Dipacunya kuda berlari tanpa dituntun oleh kusir penyewaan kuda. Agaknya gadis manis itu memang sudah terbiasa menunggang kuda. Dalam salah satu perannya di sinetron laga Brama Kumbara, Beby Galia Putri yang berperan sebagai Mantili memang diharuskan dapat menunggang kuda.

Syafa dan Chacha masih seiring sejalan. Naik kuda juga beriringan. Tapi karena seumur-umur belum pernah naik kuda selain kuda-kudaan di Dufan, maka pagi itu juga mereka nyaris bikin stori. Kuda yang mereka tunggangi melompat karena kekangan yang kekencangan. Persis serupa kuda pacuan di arena lomba rintangan berkuda. Untung mereka dituntun oleh kusir sehingga kuda tersebut menjinak. Menurut oleh satu tepukan lembut sang kusir di kepala.

***

Bromo, 11.35 Siang

Virgo masih mengekor seperti anak ayam di belakang Beby Galia Putri. Berhenti di Horse's Camp karena dia tidak berminat menunggang kuda ke pinggir kawah. Beby Galia Putri sudah melaju di atas kuda seperti pendekar dalam sinetron laga. Selain mengekor, cowok jangkung itu hanya mengambil gambar alam Bromo yang indah sepanjang perjalanan ke pinggir kawah. Jarang bicara apa-apa. Aku mendekatinya setelah berpisah dengan Reyhan Wijaya - wartawan dari majalah remaja yang kami undang untuk meliput kegiatan tur perpisahan - dan Marvel Andromedha yang memilih tinggal di Horse's Camp di perbatasan dusun Bromo. Tidak ikut menunggang kuda seperti peserta tur lainnya.

"Pemandangannya bagus banget ya, Go." Aku buka suara setelah dia sedari tadi terdiam. Hanya asyik dengan kameranya.

"Iya, Ndra. Tapi katanya...."

"Apa?"

"Katanya, kawah Bromo ini suka memakan korban."

"Masa sih? Kok gue baru denger ya?"

"He-eh. Makanya, setiap tahun penduduk disini mengadakan upacara semacam selamatan begitu."

"Namanya apa?"

"Gue juga nggak tahu. Tapi, sesajiannya bisa berupa kepala kerbau, ya macam- macam lah. Pokoknya serem deh, Ndra?"

"Masing-masing daerah itu kan punya upacara atau ritual kepercayaan khas tersendiri, Go. Ngaben di Bali, misalnya. Atau, upacara ritual pemakaman mayat yang khas di Toraja. Nah, itu semua kan budaya bangsa kita. Jadi, hal-hal kaya’ gitu jangan dianggap takhayul.

"Tapi, sudah banyak kejadian lho, Ndra. Setiap tahun ada saja yang meninggal di kawah Bromo."

"Itu insiden, Go. Kecelakaan. Human error. Siapa saja bisa jadi korban kalau lengah dan nggak berhati-hati. Tebing curam, longsor, badai pasir, dan banyak faktor alam lain lagi yang bisa jadi penyebab jatuhnya korban.

"Tapi legenda itu...."

“Legenda juga kan bisa dibilang mitos, kepercayaan orang-orang jaman dulu. Biasanya legenda atau mitos itu nggak bisa dipikir sama logika. Tapi banyak kok, orang-orang modern jaman sekarang yang percaya lagi sama yang begituan.”

Namun Virgo tidak menggubris penjelasanku. Tetap menganggap legenda itu sebagai sesuatu yang harus dan wajib dipercaya. Kami berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Bertemu beberapa bidadari yang sudah sedari tadi tiba di pinggir puncak Bromo.

Mengabadikan gambar sebagai sepenggal kenangan.

***

Denpasar, 01.22 dini hari.

Setelah dua malam di Bromo, perjalanan dilanjutkan ke Bali. Tiba di Bali, rombongan tur langsung diboyong ke Sanur. Sudah pukul satu lebih dua puluh dua menit ketika rombongan tiba, dan menginap di salah satu hotel kecil tapi nyaman. Anak-anak sudah kelelahan. Jadi, tidak ada yang berniat kelayapan di tengah malam kecuali untuk mengisi perut di warung-warung kecil yang berseliweran di sepanjang pantai Sanur.

Aku, Virgo, Ryan, dan Rendy memilih makan di luar, warung Padang. Sementara para bidadari ada yang sudah tidak kuat jalan, lebih memilih tidur atau makan di hotel saja. Reyhan Wijaya, Marvel Andromedha, dan Andhika Kusuma (Karyawan biro travel di Bali, kenalan Marvel di Bali) masih mengurus administrasi hotel.

Sehabis mengisi perut, Virgo mengeluh sakit pada lehernya. Sampai besok pagi pun, ketika kami sudah asyik mengelilingi obyek wisata di Pulau Dewata, cowok itu masih mengeluh kesakitan.

"Aduh, kaya’nya gue disambar benda halus nih, Ndra."

"Ya ampón Go, lo aneh-aneh aja sih!"

Aku sudah tidak tahan. Virgo kelewat terobsesi dengan kisah-kisah legenda sehingga membutakan akal sehatnya. Sejak di Bromo, anak itu selalu ngomong yang nggak-nggak seputar dunia gaib.

"Mungkin hantu barong para cenayang, kali nih Ndra!" tebaknya.

"Hus, sembarangan aja lo!"

"Tapi...."

"Lo tu cuma keseleo!"

"Ta-tapi...."

"Sekali lagi lo ngomong yang nggak-nggak, disambar Leak baru tahu rasa Lo!"

Aku ngomong sekenanya. Jengkel dengan keparnoan Virgo dalam benaknya. Dia meringis. Takut dengan ancaman itu.

"Ya udahlah, Go. Mendingan lo pergi urut leher di massage daripada ke dukun!"

"Tapi...."

Aku tidak menanggapi keluhannya lagi. Lebih memilih berkumpul dengan peserta tur lainnya. Mungkin ada bahan dan ide yang dapat dijadikan tema dalam novelku.

Edelweiss (4)

Chapter 4
Karya Isvara


Lautan pasir menenggelamkan aku
Dalam kata-kata tanpa suara
Ia hadir menghampar
Memaparkan keberadaan Isvara

(Indra Danuatmadja)
Karya Isvara

***

Bromo, 09.07 Pagi.
Wanita yang kami sebut dengan Mami itu sekarang sudah mulai melunakkan amarahnya. Sekarang dia tidak lagi ngambek, dengan cara mendiamkan kami. Banyak hal bagus, akan terlewatkan bila sepanjang perjalanan hanya membatu. Di pinggir puncak Bromo dia malah mulai bercanda dengan Rendy dan Ryan. Masalah semalam seakan sudah dibuangnya jauh-jauh. Interaksinya sebagai seorang ibu yang bersahabat telah merajut ikatan dalam lembar keharmonisan. Sebagai tetua, pemimpin, sekaligus teman yang menyenangkan. Dan dengan cepat beradaptasi dengan peserta tur yang didominasi sembilan puluh sembilan persen kaum muda.

"Pemandangan di sini bagus dijadikan lokasi untuk cerpen, novel dan puisi-puisimu Ndra," usul Mami begitu dia melihatku mulai mencatat nama lokasi di buku catatan kecilku. Kami berjalan beriringan bersama.

"Iya, Mi. Semua keindahan ini merupakan karya agung Isvara!"

"Isvara?! Apa itu?!”

"Oh, itu Tuhan, Mami. Dalam kitab agama Hindu, Isvara itu berarti Tuhan Yang Maha Esa."

"Dasar pengarang. Sepertinya semua hal kamu tahu, ya?"

"Ah, nggak juga Mi. Saya kan masih amatiran, masih belajar kok Mi. Tapi, bukannya penduduk asli Bromo memang penganut agama Hindu?!"

"Ah, iya. Seperti di Bali ya?"

"Iya."

"Terus, judul novel yang mau kamu tulis apa?"

"Belum pasti sih, Mi. Saya masih menulis draf-nya. Tapi mungkin, Sepenggal Kenangan Edelweiss."

"Wah, judulnya bagus banget, Ndra."

"Ah nggak juga Mi, biasa aja. Saya hanya terinspirasi dari alam sekitar."

"Ah, ya, ya. Itu tidak masalah. Yang pasti kalau jadi diterbitin, honornya buat traktir makan Mami dan Bebeb, ya?"

Aku tersenyum menanggapi. Bebeb yang dia sebut tadi adalah nama panggilan kesayangan Beby Galia Putri. Aku kembali tersenyum. Mami sebenarnya kocak. Anak-anak peserta tur semuanya akrab dengannya. Hanya sayang insiden miras semalam merecoki perjalanan tur kami yang cerah ceria.

Kemarin Ryan bikin ulah. Beserta Rendy, mereka menenggak miras di dalam bungalow. Sebenarnya tidak apa-apa, sih. Sebab aku yakin kedua anak itu minum miras bukan untuk mabuk-mabukan. Tapi Mami tentu saja tidak dapat menerima alasan itu. Miras ya miras! Dan anak muda semacam kami memang belum pantas menenggak air api itu. Dengan alasan dan atas nama apa pun!

Tapi untung pagi ini amarahnya sudah padam. Aku lega. Anak-anak biang kerok itu pun sudah mulai mengakrabi wanita empat puluh tahunan itu.

Keceriaan datang kembali.

Edelweiss (3)

Chapter 3
Catatan Kecil Perjalanan


Pagi bercerita
Di antara kabut yang merangkum
Dalam dingin nan membeku
Ada kisah miris
Pada satu hati yang giris
Tasya,
Redakan irama tangismu yang membuat pilu
Sebab di sini ada cinta yang mengharu biru

(Indra Danuatmadja)
Jangan Menangis Tasya

***

“Mami marah.” Aku menjawabi penyebab biang masalah sehingga suasana bungalow mendadak sepi seperti kuburan.

Beby Galia Putri cemas, spontan duduk merapat di sampingku. Virgo mengikutinya dari belakang seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

“Kenapa?” tanyanya.

”Mami nggak suka lihat anak-anak minum - miras.”

”Astaga! Jadi kalian...?” Beby Galia Putri menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.

“Ya iyalah, Ndra. Orangtua mana sih yang suka melihat kalian, anak-anaknya minum miras?!”

“Bukan aku. Tapi, dua orang yang bernama Rendy dan Ryan.”

“Terus, Mami...?”

“Yah, seperti biasa. Ngediemin kita.”

“Hei, Ryan kemana?” Helen bertanya dengan mata celingak-celinguk. gadis bermata indah itu merapatkan jaketnya. Duduk merangkul lutut di atas sofa.

“Sudah terbang bersama UFO, kali!” Aku jawab sekenanya karena jengkel.

Chacha terkekeh.

“Dasar anak itu!” gusar Beby Galia Putri.

“Ntar kalau udah beku jadi es, dia juga bakalan pulang sendiri!”

Aku menyegarkan suasana kebekuan dengan mengurai kalimat lucu. Syafa sontak cekikikan. Chacha ikut-ikutan tertawa. Beby Galia Putri cuma tersenyum, tidak ikut tertawa karena masih jengkel. Aku yakin senyumnya cuma pura-pura, sama sekali tidak terpengaruh oleh kalimat penyegar suasana tadi. Buktinya, tidak lama kemudian dia malah cemberut, dan sesekali menghembuskan napas kesal.

“Anak itu selalu bikin gara-gara ya, Ndra!”

"Iya, tuh. Rese’ banget!" timpal Helen ringan.

"Ngapain coba dia beli miras segala. Nyari penyakit tuh anak!"

Beby Galia putri menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mengumpat barusan. Tentang apapun dia selalu mengarahkan topiknya ke arahku. Selama dalam perjalanan, mulai dari Jakarta, Beby Galia Putri memang paling dekat denganku. Anak-anak malah menyangka kami pacaran, soalnya di dalam bis, dia selalu duduk di sampingku. Tetapi aku hanya menganggapnya teman biasa, dan memberi kesempatan pada Virgo untuk mendekatinya. Dari dulu aku sudah tahu kalau Virgo memang naksir Beby, jauh sebelum dia dilirik oleh sebuah PH untuk memerankan ‘Mantili’ dalam sinetron ‘Brama Kumbara’. Selama dalam perjalanan pula, kami banyak bertukar pengalaman. Tentang segala hal. Khususnya dunia yang kami geluti masing-masing. Dia menanyaiku tentang dunia kepenulisan yang tengah aku geluti. Sementara aku lebih banyak bertanya padanya soal akting dan status yang disandangnya kini, yang biasa disebut selebritis.

"Ya, sudalah. Mau ributin apa lagi?! Mami juga udah marah!" ujar Beby Galia Putri, lalu bangkit berdiri, dan mengibas-ibaskan tangannya seperti menggembala domba.

"Sudah, sudah! Bubar sana! Besok subuh kita kan harus berangkat ke puncak Bromo."

Anak-anak nurut.

Berlarian ke kamar mereka masing-masing.

Ryan baru kembali tepat ketika jarum panjang jam dinding menunjuk angka sebelas. Untung Beby Galia Putri sudah meringkuk di kamarnya beserta Mami. Kalau tidak, anak itu pasti kena damprat!

Jam sebelas lewat dua puluh menit, kami memutuskan untuk istirahat. Sama halnya dengan kami yang cowok, bidadari-bidadari peserta tur berbagi dalam beberapa kelompok untuk satu kamar. Berjejal dalam satu ranjang seperti ikan dalam panggangan.
Suhu lima derajat celsius seperti membekukan kami di dalam kamar. Aku lihat Rendy belum berbaring, masih menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah di atas ranjang ketika aku hendak mematikan lampu.

"Kok belum tidur sih, Ren?!"

"Belum ngantuk."

Aku tidak jadi mematikan lampu.

"Ya udahlah, Ren. Nggak usah lo pikirin lagi. Mendingan lo tidur aja! Besok subuh kita kan harus ke Bromo."

Dia mengangguk. Menelentang, lalu menarik selimut perca tebal sampai menutupi kepala. Aku mematikan lampu dengan sekali sentuhan pada saklar meja.

Tidur menikmati dinginnya dingin.

Edelweiss (2)

Chapter 2
Bromo dan Sebuah Kenangan


Biduk di langit masih kering tertawa
Melihat aku yang tetap bercumbu dengan khayal
Menari kata dalam balutan puisi
Membingkaikan rasa dalam bait
Puisi adalah aku
Aku bercinta dengan kata
Dan merangkai menjadi satu kenangan indah
Dekapan kalimat panjang membuai mesra diri
Mengantarkan angin bersenandung lirih di telinga
Menceritakan sebuah kenangan penuh makna

(Indra Danuatmadja)
Sebuah Kenangan

***

Bromo. 10:30 Malam
Dalam perjalanan ke Bromo pagi tadi, bis yang kami tumpangi singgah untuk mengisi bahan bakar di sebuah POM bensin. Ryan iseng membeli wiski di sebuah supermarket mini. Katanya, bekal untuk penghangat badan di daerah dingin ini nantinya. Tanpa sepengetahuan Mami, beserta Rendy dia membeli sebotol ”Minuman Api” itu secara sembunyi-sembunyi.

Sayang nasib tak berpihak. Malang tak dapat dielakkan. Rendy dan Ryan kedapatan sedang meneggak miras. Kontan saja Mami mencak-mencak. Aku segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan situasi. Dan mengaku sebagai pemilik miras itu.

“Thanks, Ndra.”

“Buat apaan?”

“Kalau bukan karena lo, kita pasti sudah kena gampar.”

“Mami nggak mungkin segalak itu-lah.”

“Tapi....”

“Emangnya lo udah pernah kena gampar Mami, apa?”

“Belum pernah, sih. Tapi....”

“Jangan berasumsi kalau belum terbukti.”

Rendy menundukkan kepalanya. Dipandanginya botol minuman berakohol yang menjadi biang kemarahan Mami. Ryan sudah melarikan diri entah kemana. Anak itu memang rese’. Sudah lempar batu malah sembunyi tangan. Sialan!

“Hai, guys!”

Aku mengedarkan mata ke arah asal suara.

Beby Galia Putri dan Virgo - hm, mereka baru saja jadian, cinlok! - berdiri di bawah bingkai pintu seperti sepasang Ninja. Pakaian hangat yang mereka kenakan sampai menutupi wajah. Hanya menampakkan sepasang mata saja. Aku tahu mereka berdua baru pulang dari warung sebelah bungalo kami. Minum wedang jahe sekaligus 'ehem'.

“Lho, kok pada diem-dieman sih?” Helen nyeletuk dari belakang sepasang 'Ninja' itu.

“Sariawan, ya?” Chacha dan Syafa kompakan, seperti melafalkan dialog skenario.

Mereka muncul serempak, seperti anak kembar.

Rendy duduk terdiam, masih menatapi botol bening berisi cairan berwarna teh di atas meja. Aku berdiri. Mengambil botol itu. Lalu mengangsurkan botol itu ke arah mereka.

“Gara-gara ini!”

“Hei, ini kan parfum dari Paris?” Syafa berteriak girang.

“Ini bukan parfum, dodol!” Chacha menjitak kepala 'kembaran'-nya itu.

“Ini miras! Baca baik-baik! Wiski Cap Topi Miring!”

Syafa nyengir. Mengelus-elus kepalanya yang kena jitak. “Habis, warnanya mirip....”

Chacha mencibir. “Huh, dasar mata rabun!”

Anak-anak peserta tur tertawa terbahak.

Edelweiss (1)

Chapter 1
Memori Biru


Ini Memori biru
Rangkuman kebersamaan
Dalam hari-hari yang singkat
Kesederhanaan alur kisah,
Dan saling mengasihi adalah sebuah kebahagiaan
Semuanya tumbuh seiring kenangan
Sehingga sang waktu pun...
Tak mampu memupusnya

(Indra Danuatmadja)
Catatan Kecil Perjalanan

***

Bromo. 10:15 Malam.
Aku baru saja mengedipkan mata ke arah Rendy ketika Mami sudah berdiri di belakang kami dengan muka butek. Terlambat. Anak itu memang lamban. Selamban kura-kura. Slow motion-nya bikin celaka. Dia lebih gemulai ketimbang balerina.

”Ren-dy! Apa-apaan sih kalian ini?!” Wanita gemuk itu menjerit dengan suara semirip lengkingan knalpot bajaj.

”Sa-saya mau ke toilet dulu, Mami!”

Ryan sudah mengambil jurus langkah seribu begitu mami melototkan mata sebesar ikan maskoki. Dia terbang segesit Elang yang mau menyergap mangsanya. Rendy nyaris terjatuh dari kursinya. Gagal menyembunyikan botol miras. Prahara tidak dapat dielakkan! Aku menepuk dahi. Dan mengaduh dalam hati. Kesal. Anak itu selalu bikin ulah. Kali ini Mamai pasti akan mengeluarkan petuah-petuah bijaknya yang sepanjang tujuh halaman folio ketik dua spasi. Seperti syarat penulisan cerpen pada sebuah majalah remaja. Tentu saja. Sebagai orang yang dituakan-dalam rombongan tur, Keysha Seruningtyas (Mami) adalah peserta dengan usia terlanjut-dia ingin menunjukkan eksistensinya sebagai pemimpin yang baik. Mami adalah ibu dari Beby Galia Putri. Satu-satunya siswi yang memboyong ibunya ke acara tur perpisahan kelas kami.

Hah, cengeng banget memang kedengarannya.

Tapi kalau tidak begitu, katanya sih dia tidak diperbolehkan ikut.

Mami merampas botol yang disembunyikan Rendy di belakang punggungnya.

”Apa itu?!” Tanyanya gusar.

”Itu wiski, Mami.” Aku menjawab memotong amarahnya yang sudah di ubun-ubun.

”Astaga!” Mami mendesis, menolehkan kepalanya ke arahku.

”Udara dingin sekali, anak-anak Cuma ingin menghangatkan badan dengan wiski itu, Mami.”

”Tapi itu bukan alasan untuk bermabuk-mabukkan?!”

”Maaf Mami. Tentu saja bukan untuk bermabuk-mabukan...”

”Rendy!” Wanita berwajah tirus itu kembali mengarahkan pandangannya yang tajam ke Rendy masih terdiam kaku di tempatnya duduk seperti patung.

”Kamu yang beli ya?”

”Maaf, Saya yang membelinya, Mami.”

Mami mengibaskan tangannya. Lalu pergi meninggalkan kami dengan bibir separuh mencibir. Bersungut-sungut seperti kebiasaannya. Dia langsung kembali ke kamar tanpa bilang apa-apa lagi. Memarahi kami dengan diam sampai dua kali dua puluh empat jam seperti biasa!

Mami tidak melanjutkan amarahnya dengan berteriak-teriak seperti biasanya.

Setelah aku berkorban mengambil alih tanggung jawab, otomatis dia memaklumi keadaan yang tidak mengenakkan itu.

Dia tahu aku pasti melindungi anak-anak!”

Edelweiss (Prolog)

Prolog

Hidup adalah serangkaian perjalanan panjang
Yang terajut dalam lembar kenangan
Setiap orang memiliki kenangan-kenangan
Yang telah terangkai dalam bingkai manis dan getir kenyataan
Kita tak berhak memilih...
Karena dari serangkaian perjalanan panjang itulah,
Manusia dapat meresapi pengalaman tentang Keteguhan dan cinta

(Indra Danuatmadja)
Sebuah Perjalanan Panjang

Edelweiss (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Kenangan Yang Tak Terlupakan)
Created By Sweety Qliquers


Sepenggal Kenangan Edelweiss
Prolog
Chapter 1 Memori Biru
Chapter 2 Bromo & Sebuah Kenangan
Chapter 3 Catatan Kecil Perjalanan
Chapter 4 Karya Isvara
Chapter 5 Sebuah Legenda
Chapter 6 Tasya Pada Suatu Senja
Chapter 7 Edelweiss Dalam Bisu
Chapter 8 Jingga Kenangan
Chapter 9 Sepenggal Kenangan Edelweiss


Sinopsis
Sebuah novel kenangan. Novel memori yang lucu, romantis sekaligus mengharukan ini. Diangkat dari sepenggal perjalanan wisata perpisahan kelas seorang Indra Danuatmadja (Indra). Memaparkan memori biru penuh kenangan dengan sahabat-sahabatnya. Ada senyum, tawa, dan tangis dalam masa-masa singkat di penghujung kebersamaan. Dan ada cinta yang tak disadarinya justru saat semuanya telah berakhir.


Karakter Tokoh Sepenggal Kenangan Edelweiss :


Indra Danuatmadja (Indra)
Seseorang yang mempunyai hobi menulis. Dianggap dapat menyelesaikan setiap masalah yang dialami teman-teman sekelasnya. Seseorang yang serba tahu dalam segala hal. Mungkin itu semua karena dirinya yang hobi membaca dan menulis. Menaruh hati pada gadis yang membisu dalam rombongan tur perpisahan kelas di SMA Tunas Kelapa.


Menurutnya penggambaran edelweiss sebagai bunga keabadian kisah asmara, tidak terlepas dari persepsi yang melegenda. Karena, bunga edelweiss tidak mudah ditemukan di sembarang tempat. Edelweiss tumbuh di tempat yang paling terpencil. Biasanya di lereng-lereng bukit yang terjal. Tidak mudah digapai tangan-tangan jahil. Dan menurutnya daerah terpencil pada manusia adalah hati.

Natasya Permata (Tasya)
Gadis kelewat introvert (tertutup). Teman sekelas Indra Danuatmadja. Gadis ber kelakuan ganjil - sering menyendiri dengan wajah murung. Ia menganggap bahwa edelweiss adalah lambang kelanggengan cinta. Dan menurutnya beberapa helai bunga edelweiss jika disimpan di dalam dompet, biasanya akan enteng jodoh.

Keysha Seruni (Mami Beby)
Sebagai orang yang dituakan - dalam rombongan tur, atau biasa dipanggil Mami adalah peserta dengan usia terlanjut - dia ingin menunjukkan eksistensinya sebagai pemimpin yang baik. Mami adalah ibu dari Beby Galia Putri.

Beby Galia Putri (Beby)
Selebritis di SMA Tunas Kelapa, Menggeluti dunia akting. Memerankan Mantili dalam sinetronnya yang berjudul Brama Kumbara. Sering bertukar pikiran dan pengalaman dengan Indra Danuatmadja.