Tampilkan postingan dengan label Mendung Di Suatu Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mendung Di Suatu Senja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2009

Mendung Di Suatu Senja (5-TAMAT)

Chapter 5
Kepergian Helen


Matahari telah turun ke barat. Senja datang membayang berkawan mendung. Aku menatap tanah pemakaman yang masih merah itu dengan perasaan pilu. Selamat jalan, Helen... bisikku. Selamat jalan sahabat... Suatu saat kita pasti bertemu lagi.

”Beb...” Aku menoleh. Rendy menggandeng tanganku.

”Ayo kita pulang.” Ajak Rendy.

”Rendyyy...” Aku menangis di bahu Rendy.

”Seandainya, Helen nggak dateng ke rumah gue dan mendengar obrolan kita, pasti...”

”Beby, sudahlah. Semua itu sudah kehendak-NYA. Lo jangan ungkit-ungkit yang udah lewat. Helen pasti sedih kalo’ dia lihat lo masih nangisin dia.” Rendy menuntunku menuju mobilnya. Aku terdiam. Menghapus pipiku yang basah dengan punggung tangan.

”Ya, Rendy bener. Maafkan gue Len, gue nggak bakalan nangis lagi. Tidurlah lou dengan tenang. Dengan damai dalam naungan cinta-NYA.” Batinku seraya memandang langit yang makin mendung.
TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Mendung Di Suatu Senja (4)

Chapter 4
Mak Comblang

Sejak pertemuannya dengan Rendy, Helen menjadi lebih rajin main ke rumahku. Awalnya, aku tak berprasangka apa-apa. Tapi sore ini, kata-kata Helen hampir membuatku panas.

”Tolong ya, Beb. Gue naksir berat sama dia.”

”Iya, entar gue coba. Lo tenang aja deh.” Kataku sambil menahan emosi. Ya, Tuhan! Bagaimana mungkin aku menjadi mak comblang bai mereka? Bagaimana mungkin aku merelakan Rendy yang kucintai diam-diam jatuh ke tangan cewek lain? Tapi, aku sudah berjanji. Dan janji itu harus ditepati. Ah... seandainya dulu aku berterus terang, pasti keadaannya berbeda.

”Gue pasti bahagia banget deh, Beb. Kalo’ Rendy jadi cowok gue, gue pasti nggak bakalan kesepian lagi. Ternyata gue butuh pacar bukan seorang sahabat sejati.” Helen berkata dengan mata menyimpan sejuta mimpi. Tuhan, rupanya aku memang harus membiarkan Rendy menjadi milik Helen. Helen haus kasih sayang, cinta dan perhatian. Dia lebih pantas menerima semua itu. Ya, inilah saatnya aku harus meberikan sesuatu untuk menghalau duka Helen, walaupun ada yang patah di dalam sini.

Tetapi, sebelum aku melaksanakan aksi ’Mak Comblang’ ku. Rendy telah memberi surprise untukku. Dan aku tak tahu apakah harus menangis atau tertawa? Apakah aku harus menerima pernyataan cintanya? Kebimbangan seperti mengepungku dari berbagai arah. Aku menyayangi Helen seperti saudara kandung sendiri, tapi aku juga mencintai Rendy. Haruskah kubiarkan Helen menelan kekecewaan sementara aku larut dalam kebahagiaan bersama Rendy? Bagaimana ini, belum pernah aku dihadapkan pada situasi yang begitu rumit.

”Sorry Ren, gue nggak bisa jadi cewek lo.” Dengan menguatkan hati, aku mengambil keputusan itu. Ya, aku harus berkorban semi Helen. Biarlah aku yang menelan kekecewaan ini asalkan Helen mendapatkan kebahagiaan. Helen sudah terlalu banyak menderita, kini saatnya ia merasakan setetes air kebahagiaan.

”Lo pasti bohong, Beb. Sinar mata lo itu, nggak bisa ngebohongin gue.” Kata Rendy dengan mata memendam kecewa.

”Kenapa Beb? Kenapa...”

”Rendy kita Cuma bersahabat, nggak lebih dari itu.” Kualihkan pandanganku ke arah luar. Sungguh, aku tak sanggup menatap mata bening itu. Aku tak sanggup melihat pijar kecewa di matanya.

”Gue nggak ngerti, Beb.” Rendy menghela napas panjang.

”Gue pikir keakraban kita, bakalan memudahkan gue buat ngedapetin lo. Tapi nyatanya, lo begitu sulit untuk gue dapetin. Angan-angan gue selama ini ternyata udah pupus. Pupus...”

”Rendy.” Kusentuh tangannya.

”Lebih baik lo menerima sepotong cinta yang udah menanti lo.” Kurasakan bibirku bergetar ketika mengucapkannya.

”Apa maksud lo, beb?” Rendy bertanya bingung.

”Helen. Dia... dia cinta sama lo.” Serasa remuk hati ini saat mengatakannya. Tetapi aku berusaha untuk tetap tegar. Jangan sampai Rendy tahu isi hatiku yang sebenarnya.

”Lo pengen gue mencintai Helen?”

Aku mengangguk, menatap Rendy penuh harap. ”Kalo’ Lo emang cinta sama gue, kabulin permintaan gue. Helen butuh lo, Ren. Sejak kecil Helen nggak pernah merasakan apa itu cinta dan kasih sayang. Papa dan Mamanya selalu sibuk dan nggak pernah rukun. Dan malah sekarang orang tuanya sudah bercerai. Ren please, kenapa lo nggak coba ngasih cinta lo buat Helen?”

”Beb, Lo pikir cinta itu apa?! Mainan?! Nggak Beb! Walaupun gue cinta mati sama lo, gue nggak bakalan ngabulin permintaan gila lo itu. Helen bakalan lebih kecewa lagi kalo’ dia tahu gue mencintai dia karena terpaksa.” Rendy menatapku tajam. Aku seperti ditikam dengan tatapannya.

”Gue Cuma cinta sama lo, Beb.” Sura Rendy melembut. Digenggamnya jemariku.

”Kenapa sih Lo harus nyakitin diri sendiri Cuma buat seorang sahabat? Kenapa Beb???”

”Gue nggak pernag cinta sama lo, Ren! Nggak pernah!” Kegelengkan kepala sambil menggigit bibirku. Aku nggak boleh nangis. Aku harus kuat!

”Munafik! Lo munafik, Beb!” Dengan kasar, Rendy melepaskan genggamannya.

”Bilang, bilang... kalo’ lo mencintai gue!” Kata Rendy sambil mengguncang bahuku.

”Gue nggak bisa, Ren...” Kataku lirih.

”Cuma Helen yang cinta sama lo.”

”NGGAKKK!” Terdengar jeritan panjang. Aku menoleh. Helen! Dia berdiri mematung di depan pintu ruang tamu. Matanya basah. Bibirnya bergetar menahan tangisnya agar tak terisak.

”Jangan paksa Rendy, Beb.” Kata Helen lirih.

”Helen, gue...”

”Terima kasih buat semua kebaikan lo.” potong Helen lalu berlari meninggalkan rumahku. Pintu pagar dibukanya dengan kasar.

”Helen! Tunggu!” Teriakku berusaha mengejarnya tapi... Ya, Tuhan! Decit ban mobil dan lengkingan Helen bagai palu menghantam kepalaku.

”HELEN!” Kupeluk tubuh bersimbah darah yang tergeletak di aspal itu.

”Maafin gue, Len.” Kuciumi kening yang berlumuran darah itu.

”Gue Cuma pengen lihat lo bahagia.” Air mata membanjiri wajahku.

”Lo... ng...ng...gak sa... sa..lah Beb.” Lemah, jemari Helen membelai pipiku.

”Gu...gue su... su...dah denger se...mmua...nya. Gu...gue per...gi ya Beb. Se...sse...lamat ting...gal.” Tangan Helen terkulai jatuh dan tak bergerak lagi.

”Helen, lo nggak boleh pergi!” Helennn...” Sekelilingku mendadak gelap Gelap dan sepi.

Aku terbangun ketika mendengar seseorang memanggil namaku.

”Beby...”

Kukerjapkan mataku. Helen??? Dia berdiri di samping tempat tidurku. Wajahnya tampak lebih cantik dan berseri. Dan dia mengenakan gaun putih yang panjang menutupi kaki. Bibirnya tersenyum manis sekali.

”Gue sudah nemuin sahabat sejati, Beb.” Kata Helen sambil tetap tersenyum.

”Dia selalu nemenin gue dimana dan kapan aja. Dia selalu ada didekat gue. Gue bahagia banget, Beb. Gue udah nggak kesepian lagi. Di tempat gue sekarang, nggak ada duka dan airmata. Gue pengen banget ngajak lo ke rumah gue yang baru, tapi dia bilang belum saatnya.”

”Gue juga pengen tinggal disana juga, Len. Gue nggak mau berpisah sama lo.” Kataku sambil memegang tangan Helen.

”Jangan, Beb. Lo nggak kasihan sama rendy? Lo cinta kan’ sama dia?”

”Tapi, Len...”

”Gue pergi ya, Beb. Semoga lo bahagia sama Rendy.” Tiba-tiba tubuh Helen terangkat ke atas. Dia melambaikan tangan. Aku ingin mengejarnya tapi tubuhku terasa kaku.

”Helen... Helen... gue ikut...” Aku menggapai-gapai tangannya.

”Beby...” Ada yang berbisik di telingaku. Aku membuka mata. Mama duduk di samping tempat tidur. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Di dekat pintu, ada Papa dan Rendy. Mana Helen? Ah, aku ingat sekarang... Helen sudah pergi. Jadi, tadi itu hanya mimpi?

”Mama...” Aku mendekap tubuh Mama erat.

”Helen udah pergi, Ma. Helen...” Aku terisak dalam pelukan Mama.

”Sudah Beb, jangan kamu tangisi Helen. Di sudah tenang disana.” Mama membelai rambutku lembut.

Mendung Di Suatu Senja (3)

Chapter 3
Perkenalan Helen & Rendy

Empat minggu sudah Helen tidak hadir dengan cerita-cerita sedihnya. Aku jadi bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi pada Helen? Apakah...

”Hayoo! Ngelamunin siapa nih?” Aku kaget. Menoleh. Rendy, ketua OSIS sekolahku yang keren itu tersenyum. Aku merasa meleleh sesaat. Ah, senyum itu mengapa selalu menimbulkan getar di dalam sini? Mengapa aku mendadak dag...dig...dug... begini?

”Hayoo, ngelamun terus nih!” Rendy menepuk bahuku. Aku tersipu.

”Mikirin siapa sih?” Tanya Rendy sambil duduk di kursi yang ada disampingku.

”Eh, nggak mikirin siapa-siapa kok.” Aku menggeleng.

”Bohong. Lo mikirin gue kan?” Rendy menatapku dengan tatapan menggoda.

”Idih, sembarangan! Ngapain juga mikirin lo?”

”Udah... ngaku aja. Gue kan cowok lo, pantes dong dipikirin.”

Uf! Apa? Rendy tadi bilang apa? Dia, cowokku? Tapi, sejak kapan dia jadi cowokku? Ah, seandainya itu jadi kenyataan.

”Asyik dua-duaan nih yee!” Lagi sibuk-sibuknya aku bengong, seraut wajah oval muncul dari balik pintu pagar yang tidak terkunci. Kurasakan wajahku langsung memanas.

”Siapa Beb?” Tanya Rendy.

”Ooo... dia Helen, sahabat gue.” Sahutku sambil bangkit.

”Eh, Helen! Ayo, masuk!” Panggilku menghampirinya.

”Ganggu nggak nih?” Helen masuk sambil senyum menggoda. Aku memukul bahunya, pelan.

”Sialan lo! Dia Cuma temen gue, tahu.” Desisku di telinganya.

”Kalo’ gitu, boleh gue gebet dong.” Bisik Helen. Aku mengangguk tapi dalam hati... menyembul sepercik rasa takut akan kata-kata Helen. Semoga di Cuma bercanda.

”Rendy, kenalin nih. Sahabat gue yang paling cantik, Helen.” Kutarik tangan Helen.

”Rendy Pratama.” Tangan Rendy segera terulur.

”Helenia Tiara Azizah.”Helen menjabat tangan Rendy. Matanya memancarkan rasa terpesona pada ketampanan Rendy. Bibirnya mengulas senyum manis. Oh, kucoba untuk tidak merasa sakit menyaksikan semua itu. Rendy kan’ bukan apa-apaku. Dia Cuma teman baik. Tak lebih dari itu.

Mendung Di Suatu Senja (2)

Chapter 2
Keinginan Helen


Helen datang lagi. Wajah ovalnya tampak muram. Tapi tidak semuram kemarin. Matanya juga tidak berkaca-kaca ketika mengungkapkan cerita dukanya.

”Mereka akhirnya bercerai.” Kata Helen tanpa ekspresi.

”Kak Tasya sama gue ikut Mama. Bang Indra sama Bang Virgo ikut Papa.”
Aku menjerit kecil. Ah, Helen... Kenapa nasibmu harus seperti ini? Betapa teganya orang tuamu. Betapa...

”Lo kaget, Beb?” Tanya Helen. Aku mengangguk.

”Lo tinggal dimana sekarang?” Tanyaku sambil dalam hati memuji ketabahan Helen. Hebat sekali, dia bisa mengendalikan air matanya. Aku sendiri tak mampu membayangkan bila itu terjadi pada diriku.

”Di rumah yang dulu juga. Papa kasih rumah itu buat gue, Mama sama Kak Tasya.”

”Lho, Papa sama Abang lo yang lain tinggal dimana?”

”Papa masih punya rumah lain di Bintaro.”

”Oh...” Aku manggut-manggut.

”Sudah?”

”Apanya yang sudah?”

”Pertanyaan lo?”

Aku tertawa. ”Ya sudah, sudah jelas. Jelas banget malah.”

”Beb...” Tiba-tiba Helen menyentuh lenganku.

”Gue pengen punya seseorang yang... memperhatikan gue, menyayangi gue. Gue kesepian, Beb. Gue butuh kasih sayang...” Helen menunduk.

”Betapa bahagianya, kalo’ aja ada orang yang mencintai gue. Gue butuh seorang sahabat, Beb.”

”Helen, gue kan sahabat lo?” Kusentuh lengan Helen.

”Tapi kita kan nggak selalu sama-sama. Rumah sama sekolah kita aja beda. Padahal, gue pengen punya sahabat yang selalu ada buat gue dimana aja gue berada.”

Aku terdiam. Helen benar. Setelah lulus SMP, kami tidak lagi menuntut ilmu di sekolah yang sama. Karena keluarga Helen pindah rumah maka mau tidak mau sekolah Helen pun ikut pindah. Otomatis, kami tidak selalu dapat bersama seperti dulu. Walaupun sekarang zaman sudah canggih, rasanya aneh saja kalau hanya berkomunikasi dengan HP. Lebih menyenangkan jika bisa bertatap muka dan berbagi cerita. Dengan jarak rumah kami yang cukup jauh, jadi tidak memungkinkan untuk kami saling mengunjungi setiap hari. Hhh, betapa ingin aku mengulangi kembali pada masa-masa kami hampir selalu bersama. Betapa ingin kupeluk separuh lara Helen. Tapi keinginan itu hanya terpendam di hati tanpa pernah terwujud. Aku tak pernah mampu berbuat lebih banyak untuk menghalau duka Helen, kecuali dengan menghiburnya. Hanya itu...

Mendung Di Suatu Senja (1)

Chapter 1
Kisah Hidup Helen


Seraut wajah Oval nongol dari balik pintu. Helen. Aku melempar senyum sembari meletakkan pulpen ke meja kecil di samping tempat tidurku.

”Mumet lagi?” Tanyaku menghampirinya. Helen tidak menjawab. Didorongnya daun pintu hingga terbuka lebar, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Keruh sekali wajahnya. Bibirnya yang tipis terkatup rapat. Sepasang mata beningnya dengan alis hitam lebat nampak muram. Entah problem apa lagi yang mengusiknya.

”Ada apa non? Ditanya kok, diem?” Aku duduk di sampingnya. Hening. Helen menunduk. Ada yang bergulir di kedua belah pipinya. Aku menghapus mutiara cair itu.

”Beban lo nggak akan berkurang, kalo’ lo cuma nangis doang.” Kataku.

”Ayo, ceritain aja. Gue siap buat ngedengerin lo.” Lanjutku.

Kembali hening, kembali ada yang bergulir pelan-pelan di pipi mulusnya tapi makin lama makin deras. Tangis tanpa suara, tanpa isak. Itu memang ciri khas Helen. Atau, mungkin ia sudah tak mampu lagi terisak. Sudah jenuh karena dukanya seperti tak kunjung reda, kendati hidup dalam alam kemewahan. Kedua orang tuanya yang tak pernah rukun, kakak-kakaknya yang sibuk berhura-hura senantiasa menancapkan kuku-kuku kepedihan di lubuk hatinya. Kisah klise memang, tapi itulah realita. Itulah hidup yang harus dijalani Helen.

Dan, ia tak mungkin menolaknya kecuali berusaha merubahnya. Tetapi mungkinkah itu? Apa yang bisa dilakukannya? Si bungsu yang tak pernah mencicipi manisnya kasih sayang orang tua. Si bungsu yang tak dipedulikan kakak-kakaknya. Sendirian sibuk berjuang untuk tetap berjalan pada jalur yang lurus agar tidak terperosok dalam lubang gelap yang kerap menggerogoti remaja-remaja dari keluarga broken home. Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan Helen.

Dan, bila segala duka tak sanggup lagi ia pendam, dicurahkannya padaku, sahabat satu-satunya yang dipercaya. Setelah tumpah ruah kerikil yang mengganjal hatinya, ia pun merasa lega... tenang. Selalu begitu. Sore ini, kehadirannya pasti seperti hari-hari lalu. Bawa cerita sedih untuk kusimak baik-baik.

”Rasanya gue pengen mati.” Kata pembukaan yang mengejutkan, Memecah kebisuan. Aku diam, memasang telinga lebar-lebar.

”Gue udah nggak tahan lagi.” Helen menyapu pipinya yang basah dengan tissue.

”Mereka mau bercerai. Mereka sudah gila...” Lirih suaranya hampir tak terdengar.

”Semalam Papa gue pulang pagi lagi.” Lanjut Helen masih dengan suara yang lirih.

”Mama gue yang lagi tidur, kebangun sama suara pintu pagar yang dibuka Papa. Mama gue negur Papa dengan kasar.” Helen mulai dapat berkata lancar. Volume suaranya kini agak keras.

”Awalnya Papa pura-pura nggak denger tapi Mama ngomel terus. Papa jadi kesel terus nampar Mama dan...” Kembali Helen berkata lirih.

”Mama minta cerai. Dan... Papa juga setuju. Beb, kenapa sih gue harus dilahirin sama orang tua kaya’ mereka? Orang tua yang nggak pernah mau ngertiin kebutuhan anaknya. Orang tua egois yang Cuma bisa nunjukin pertengkaran demi pertengkaran di hadapan anak-anaknya.” Sudut mata Helen mulai basah lagi, mencurahkan aliran bening untuk yang ke sekian kalinya.

”Jangan ngomong kaya’ gitu dong, Len.” Kataku sambil membelai rambut hitamnya.

”Sebelum kita lahir, Tuhan sudah nentuin siapa yang bakalan jadi orang tua kita. Jadi, kita harus menerima mereka apa adanya. Bagaimanapun juga mereka tetap orang tua lo, Len.” Lanjutku.

”Tapi mereka egois, Beb!” Sela Helen dengan suara keras.

”Mereka nggak pernah mencintai gue!” Teriaknya lagi.

”Siapa bilang?” Sergahku cepat.

”Semua orang tua pasti mencintai anaknya. Gue kan udah bilang itu berulang kali.” Lanjutku.

”Kalo’ mereka mencintai gue, kenapa harus bercerai?” Helen menatapku sedih.

”Belum cukup mereka nyiksa batin gue? 17 tahun hidup tanpa kasih sayang dan perhatian, Sekarang mereka malah berpisah Cuma buat memuaskan amarah. Tanpa peduliin kita, anak-anaknya. Hah! Orang tua macam apa itu?” Kepala mungil Helen merunduk.

Aku menghela nafas panjang. Tak tahu apa yang harus kukatakan untuk meringankan beban Helen. Rasanya sudah terlalu sering aku menasehatinya, menghiburnya dan 1001 ’me’ lainnya. Tapi problem yang dihadapinya memang pelik. Papa dan Mamanya adalah korban kawin paksa. Mereka dijodohkan orang tua masing-masing. Padahal, mereka sudah memiliki pujaan hati. Tetapi, rasa cinta dan hormat pada orang tua, memaksa mereka untuk menikah dengan pilihan orang tua. Akibatnya, sepanjang usia perkawinan mereka selalu diwarnai pertengkaran. Begitu cerita Helen padaku. Helen tahu semua kisah orang tuanya dari diary mamanya yang tak sengaja ditemukannya.

”Helen, lo harus tabah ya?” Kataku kemudian.

”Anggap aja semua itu kerikil kecil yang menghalangi jalan kehidupan lo. Lanjutku.

”Gue capek, Beb.” Jawab Helen pelan. Disandarkannya kepalanya di bahuku. Aku membelai rambutnya.

”Untung ada lo. Kalo’ nggak, mungkin gue udah minum racun kali Beb.”

”Jangan Len...” Aku mendorong tubuh Helen pelan.

”Gue bakalan benci lo seumur hidup gue, kalo’ lo ngelakuin itu.”

”Gue nggak sebego itu kali, Beb.” Jawab Helen sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum lega.

”Syukur deh!” Kataku.

”Tapi, ngomong-ngomong udah jam 8 malam nih. Lo belum makan kan, Len? Makan bareng gue aja, yuk!”

”Kebetulan, gue udah laper banget nih.” Helen menepuk perutnya. Mendung di wajahnya sirna entah kemana. Dia memang sangat senang jika kuajak makan bareng dirumah karena di rumahnya suasana makan bersama tidak pernah terjadi. Ah, Seandainya mendung itu benar-benar berlalu... Tapi kapan???

Mendung Di Suatu Senja (Sinopsis)

(Tentang sebuah dilematisasi antara cinta dan persahabatan)
CReated By Sweety Qliquers


Mendung di Suatu Senja
Chapter 1 Kisah Hidup Helen
Chapter 2 Keinginan Helen
Chapter 3 Perkenalan Helen & Rendy
Chapter 4 Mak Comblang
Chapter 5 Kepergian Helen


Sinopsis
Bagaimana rasanya kalau sahabat baik kita jatuh cinta dengan pacar kita atau gebetan kita? Apa kita mau berkorban untuk kebahagiaan sahabat kita? Apalagi jika sang sahabat tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Kisah tentang dua orang sahabat yang mengharukan dan begitu menyentuh kalbu, yang dapat membuat kita larut didalamnya. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kasihan Helen jika dipacari Rendy hanya karena rasa kasihan. Nanti malah jadi status palsu seperti lagu Vidi Aldiano.

Akankah kisah persahabatan dan percintaan antara Beby, Rendy dan Helen akan berakhir bahagia???


Karakter Tokoh Mendung Di Suatu Senja:
Helenia Tiara Azizah (Helen)
Gadis yang selalu dirundung masalah. Berasal dari keluarga Broken Home. Kakak-kakaknya terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing. Sementara kedua orang tuanya tiada hari tanpa bertengkar. Untung saja ia masih memiliki Beby Galia Putri (Beby) sahabat terbaiknya. Dengan adanya Beby Galia Putri (Beby), paling tidak dapat meringaankan bebannya walau hanya sedikit saja.
Beby Galia Putri (Beby)
Sahabat terbaik dan tempat curhat Helenia Tiara Azizah (Helen). Rela melakukan apa saja, agar sahabatnya itu dapat merasakan kebahagiaan walau hanya sedikit. Merelakan pemuda yang dicintainya itu untuk menjadi milik Helenia Tiara Azizah (Helen).

Rendy Pratama (Rendy)
Pemuda yang dicintai Beby Galia Putri (Beby) dan Helenia Tiara Azizah (Helen), dua sahabat karib. Demi rasa cintanya pada Beby Galia Putri (Beby), ia rela menjauhi gadis itu agar Helenia Tiara Azizah (Helen) – sahabat Beby Galia Putri (Beby) tidak merasa sakit hati. Karena ternyata Helenia Tiara Azizah (Helen) menyimpan rasa untuknya.