Tampilkan postingan dengan label Sketsa Ungu Keping Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Ungu Keping Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Sketsa Ungu Keping Hati (8-TAMAT)

Chapter 8
Berdamai Dengan Cinta


“Ssst... jangan sebut nama itu lagi. Kak Aurel kan sudah nggak apa-apa sekarang. Lo bisa lihat sendiri kan? Dia udah mulai sibuk kaya’ dulu lagi, kok!”

Melati mengangguk. Dan diakuinya kalau memang kakak perempuannya itu seteguh karang.

Lara tak mempan mengguratkan luka lebih dalam di hatinya.

Tidak seperti Mama.

Tapi ia sadar. Hati setiap orang berbeda.

Diakuinya pula, ia mungkin tak akan setabah Kak Aurel jika dirundung nestapa yang sama. “Sekarang, bagaimana dengan gue? Gue nggak yakin bakalan bisa sekuat Kak Aurel Kalo’ Marvel pun terbirit-birit lari setelah mendengar kisah tentang Mama. Untuk itu gue sudah berusaha menghindarinya. Kendati pun sulit! Cowok tercinta itu ternyata bermental baja. Dan itu menyiksa gue. Kesabarannya mengundang haru, dan... membuat gue semakin menyayanginya. Ya, ini memang sebuah penipuan diri. Tapi adakah jalan lain kecuali itu? Tanpa penghargaan dari orang-orang sekeliling, hidup hanyalah sekadar mengarungi waktu. Tak ada warna, tak ada gairah. Semua jadi serba samar. Menggamangkan. Dan cinta tinggal menjadi sepenggal kata kosong tak bernilai.” Melati membatin dengan bibir terkatup rapat.

“Mel....” Bang Dhika mengusiknya.

“Lo gemetar. Ada apa?”

Melati menengadah.

“Pernahkah Bang Dhika merasa malu punya ibu seperti Mama?”

Bang Dhika menggeleng dengan rupa tak mengerti.

“Gue juga nggak,” desah Melati.

“Tapi nyatanya tetap aja ada yang nggak bisa menerima. Bang Reyhan, misalnya.”

“Melati!” Rahang Bang Dhika mengeras. Mendadak ia merasakan ada beban yang tengah disandang Melati.

“Lo juga mengalami seperti apa yang dialami Kak Aurel?” tanyanya dengan suara tertekan.

“Belum. Tapi barangkali akan.”

“Oh, jadi itu! Itukah sebabnya lo nggak pernah bisa memaafkan Papa?”

“Nggak bisa nggak. Pada akhirnya semuanya akan bermuara ke sana.”

“Siapa dia?”

“Namanya Marvel. Andromedha Marvel Rivai.”

“Dia tahu Mama... gila?!”

“Saat untuk itu pasti akan datang.”

“Jadi belum? Melati….” Bang Dhika mencium ubun-ubunnya.

“Kenapa lo jadi sepenakut ini?”

“Gue nggak takut,” Melati membantah. “Gue cuma nggak pengen sikap Bang Reyhan ke Kak Aurel dulu berulang juga menimpa gue.”

“Sama aja, Mel.” kilah Bang Dhika sabar. “Janganlah terlalu mengasihani diri sendiri. Jujur aja sama dia. Ceritakan semuanya tentang keluarga kita. Jangan takut kalau dia entar ninggalin lo. Jangan sedih. Jangan nangis kalau lo nggak pengen rugi sendiri. Kalau dia benar-benar seperti Reyhan, nggak ada gunanya lo mencucurkan airmata buat dia, kan?”

Melati tak bersuara.

Diresapinya kalimat Bang Dhika. Dan ia merasa menemukan kebenaran di sana. Ya, mengapa baru terpikir hal itu sekarang? Digerakkannya tubuhnya. Beranjak menjangkau tasnya.

“Lo tetap pengen pulang?” Bang Dhika mengawasinya.

“Ya,” jawabnya tenang.

“Tetap nggak pengen menemui Papa?”

“Bang Dhika, please. Beri gue waktu. Bang Dhika nggak pengen gue menemuinya dengan benci dan dendam yang masih berkarat, kan?”

Bang Dhika tersenyum. “Tapi janji, lo pasti bakalan kembali lagi ke sini.”

“Segera setelah segalanya beres.”

“Sampaikan salam Bang Dhika sama “dia”. Hm, siapa namanya tadi?”

“Marvel.”

“Ya, Marvel. Nama yang bagus. Bang Dhika harap hatinya lebih bagus lagi!”

Melati mengulas senyum kecil. Hatinya damai. Tak ada lagi keraguan kini. Ia akan pulang. Ingin diketahuinya rencana apa sesungguhnya yang tengah dirancang sembunyi-sembunyi untuknya. Oh, sudah dibayangkannya wajah-wajah melongo heran yang akan menyambut kepulangannya nanti.

Lalu yang lebih penting lagi, ingin ditemuinya Marvel. Ingin diceritakannya pada cowok itu tentang keberadaan Mama. Dan apa pun nanti reaksi Marvel akan diterimanya dengan segenap kebesaran jiwa.

Ya, ia kini akan mulai belajar berdamai dengan apa yang telah menjadi garis kehidupannya.

TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Sketsa Ungu Keping Hati (7)

Chapter 7
Jangan Ungkit Kenangan Itu


Sekonyong-konyong punggung Melati menegak. Ucapan laki-laki tadi — maksudnya Papa! —kembali berdengung di telinganya. “Nanti malam tunggu Papa, ya? Papa akan datang. Merayakan ulang tahun Mel....”

Ya, Tuhan!

Ia tak ingin membiarkan laki-laki itu menemuinya.

Ia belum siap.

Paling tidak, bukan untuk saat dimana hatinya masih kusut-masai seperti sekarang. Tergopoh-gopoh dikemasinya pakaiannya. Demikian sibuknya hingga tak menyadari kehadiran Bang Dhika di ambang pintu.

“Mau kemana, Mel?”

Melati menoleh. “Pulang?” suaranya basah dalam getar yang kentara.

“Kenapa secepat ini?”

“Ada kuis besok.”

“Bukan karena Papa bakalan datang kan?”

Degg!

Pandangan Melati mengabur sudah.

Dihindarinya tatapan mengawasi Bang Yogi dengan pura-pura sibuk merapikan travel bag-nya.

Bang Dhika mendekatinya. Merengkuh bahunya dari belakang.

“Kenapa harus berbohong, Mel?”

Melati menelan ludahnya dengan susah payah. Kerongkongannya tiba-tiba mengering. Dan membuatnya tersedak tiap hendak melontarkan kata.

“Nggak ada yang bakalan ngehukum lo, kalo’ lo ngomong jujur.” bisik kakak laki-lakinya itu pelan.

“Bang Dhika ngerti perasaan lo. Memang nggak mudah melupakan sebuah luka. Tapi, emangnya lo nggak pengen memberikan kesempatan sama Papa untuk mengurangi sedikit rasa bersalahnya? Apa yang dilakukannya pada keluarga kita memang sulit dimaafkan. Tapi bagaimanapun, ia masih tetap menyimpan cinta untuk kita. Anak-anaknya. Perasaannya akan kian terluka kalo’ kita tega menampiknya. Sebenernya Papa patut dikasihani, Mel!”

“Bang Dhika pengen bujuk gue supaya gue tetap tinggal menemui dia?”

“Seandainya Bang Dhika punya hak untuk itu, Bang Dhika bakalan keluarkan semua perbendaharaan kata bujukan yang Bang Dhika punyai. Tapi nggak. Lo bukan Melati-kecil seperti dulu lagi. Lo pasti sudah tahu mana yang terbaik.”

“Tapi perbuatannya menyebabkan kita semua menderita,” sentak Melati tajam. Suaranya bergelombang.

“Mama gila, dan semua orang lantas melontarkan pandangan mencemooh. Bang Reyhan...” Isak kecilnya pecah. Ia ingat Marvel, dan seketika merasa menjadi orang paling malang di plenat biru ini.

Sketsa Ungu Keping Hati (6)

Chapter 6
Maafkan Aku, Marvel!


Telepon berdering. Suaranya membelah kelengangan sore. Melati berjingkat menjangkau gagang Telepon.

“Halo,” sapanya melantun lunak.

“Melati?” Suara di seberang terdengar bergetar.

“Ini Papa. Sudah terima bingkisan dari Papa? Selamat ulang tahun ya, Sayang? Kapan Mel bisa temui Papa? Papa kangen sekali. Papa ingin ngobrol banyak. Nanti malam tunggu Papa, ya? Papa akan datang. Merayakan ulang tahun Mel. Halo... Mel...? Halo... halo....”

Masih didengarnya suara lembut Papa. Jemari Melati bergetar dengan hebat. Juga bibirnya. Diletakkannya gagang telepon dengan dada sesak. Suara yang dalam dan berwibawa itu....

Ya Tuhan suara itu...

Alangkah lama tak menyentuh gendang telinganya. Semestinya ada kerinduan yang lahir sebagai pengiring. Namun nyatanya tidak. Tak ada setitik pun, kecuali secuil rasa aneh yang membuat dadanya berdegup sakit.

Kemarin memang ada bingkisan dari laki-laki itu — ah, sekarang ia bahkan sudah mulah risih menyebut Papa! Entah apa isinya. Melati belum sempat membukanya. Tepatnya, menolak untuk membukanya. Ia tidak mau. Luka yang ditimbulkan laki-laki itu belum mengering. Bencinya pun belum kikis.

“Sampai kapan kamu akan memelihara dendam itu, Mel?” Bang Dhika menatapnya iba.

Melati diam tak bersuara.

Ya, sampai kapan?

Ia tidak tahu.

Yang dipahaminya hanyalah bahwa tak mudah melupakan peristiwa menyakitkan itu. Juga tak mudah menghapus jejak-jejak kelam yang ditinggalkannya.

Melati beranjak mendekati jendela. Remang sore mulai menghiasi kaki langit dengan warna semarak. Jingga yang menghambur indah diseling nuansa kelabu di sana-sini menjanjikan malam yang cerah dan hangat. Ia mengeluh pedih.

Tepat setahun yang lalu, juga di tempat yang sama persis, ia pun mengamati langit. Menjaga agar mendung yang sering datang tak terduga jangan sampai mendekat. Ia tak ingin pesta ulang tahunnya yang cuma datang sekali setahun itu amburadul gara-gara hujan. Oh, betapa ia selalu menantikan pesta itu. Pesta dimana ia menjelma bagai ratu sejagat. Dan semuanya masih lengkap. Ada Papa, ada Mama....

Ah, persetan!

Air bening mengambang di permukaan matanya. Disekanya dengan sengit. Ia tak mau mengingat semua itu lagi. Tak ada gunanya. Masa manis itu toh tak akan mungkin lagi kembali. Sudah lama luluh. Dilibas kepahitan demi kepahitan.

Oh, mengapa waktu berjalan demikian lambat? batinnya mengeluh.

Rasanya ingin dilompatinya saja hari yang sekarang ini. Toh tak ada yang perlu dirayakan lagi. Segalanya sudah selesai.

Sketsa Ungu Keping Hati (5)

Chapter 5
The Other Women


Mama memang tak pernah memperlihatkn tangis ketika kejadian itu. Wanita tersayang itu cuma diam pasrah. Tetapi siapa sangka di dalam hatinya ternyata mengalir darah dan nanah yang berasal dari luka yang teramat parah?! Dan semuanya mencapai puncak ketika pada suatu malam seisi rumah dikejutkan oleh jeritan Mbok Inah. Pembantu setia itu kedapatan tengah berdiri gemetar di ambang pintu kamar. Penuh ketakutan. Juga kengerian.

Jiwa Mama memang sempat tertolong malam itu. Darah yang keluar dari urat nadi pergelangan tangannya yang teriris sempat dihentikan sebelum membuat Mama meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Tapi toh pada akhirnya sama saja. Dan kenyataan yang tersuguh kemudian tetap membimbing Melati untuk tiba pada akhir yang miris.

Tekanan batin yang dahsyat rupanya memperlihatkan hasilnya, Keseimbangan jiwa Mama terganggu!

Setiap hari Mama melewati waktu dengan pembawaan yang berubah-ubah. Kadang diam tak mau bicara. Kadang menangis, meracau tak henti, atau mengeluh tentang dirinya yang tidak dicintai lagi oleh siapa pun. Oh, setiap kali mendengar Mama mengeluh begitu, hati Melati yang sudah terluka bagai dijatuhi air cuka bertetes-tetes. Pedih. Membuatnya gagal memendam tangis. Dan itu diiringi tekad untuk melakukan apa saja yang diinginkan Mama. Termasuk di antaranya agar jangan pernah alpa menjenguk beliau setiap ada kesempatan.

Seperti sekarang!

Kecuali urusan kuliah, tak ada lagi yang bisa menghalangi kepulangannya. Tidak bujukan teman-temanya. Tidak pula seorang Marvel!

“Segitu pentingnya sampai lo nggak bisa menyempatkan diri untuk pamit sama Marvel?” Suara itu mengalun jauh. Meneteskan kekosongan yang dalam di rongga hati Melati. Dipejamkannya mata. Dibayangkannya raut wajah terkasih itu. Dan hatinya lagi-lagi menangis.

“Vel, maafkan aku! batinnya menjerit sakit. Aku tahu kamu tersiksa dengan sikapku yang tiba-tiba tak dapat kamu pahami sejak tiga bulan ini. Tapi barangkali kamu tidak tahu betapa aku pun tersiksa melihat kegigihanmu. Untuk apa semua itu, Vel? Apa gunanya kepenuhmengertianmu selama ini bila semua itu hanya akan berubah seratus delapan puluh derajat begitu tahu dari keluarga macam apa sebenarnya aku berasal! Sama seperti apa yang dilakukan Bang Reyhan, pacar Kak Aurel. Dan itu hanya karena sepotong kalimat singkat namun teramat melukai, “Mamamu gila…”

Ya, Tuhan!

Melati betul-betul naik darah mendengar penghinaan itu. Nyaris didatanginya Bang Reyhan-keparat-busuk itu. Tapi Bang Dhika, dengan kebijakan yang entah dari mana datangnya, berhasil membujuknya. Memberinya kekuatan dengan kalimat-kalimat menyejukkan. Dan Melati terpesona. Si Sulung yang dulu kocak-seenaknya dan kerap membuatnya menangis kini tampak begitu dewasa. Ucapan-ucapannya tenang. Laksana belaian angin pegunungan di pagi hari. Membangunkan kekuatan sekaligus kesadaran yang meskipun terasa pahit namun toh harus dijalaninya.

Ya, Mama memang gila!

Itu kenyataan.

Tapi ia tak akan pernah rela bila keadaan Mama dijadikan senjata untuk menoreh luka di hatinya. Terlebih lagi ia tak ingin Mama dianggap sebagai penghancur kebahagian. Karena itu diputuskannya untuk melepas Marvel. Menjauh dari cowok tercinta itu. Sebelum ia tahu segalanya. Sebelum ia mengucapkan selamat tinggal, barangkali ada baiknya bila Melati mendahului. Setidaknya itu tidak akan seberapa menyakitkan.

Egois?

Barangkali.

Tapi bukankah ada saat dimana manusia tak punya pilihan kecuali memenangkan keakuannya?

Sketsa Ungu Keping Hati (4)

Chapter 4
Acara Ultah Buat Melati


Melati bukannya tidak maklum akan maksud teman-temannya yang mencegahnya agar jangan pulang sekarang. Diaa sadar apa yang tengah direncanakan dengan sembunyi-sembunyi untuknya. Samar-samar dia pernah mendengar bisik-bisik tentang itu. Tidak cukup jelas sebenarnya, tapi sudah cukup membuatnya mengerti bahwa semua itu ada hubungannya dengan ulang tahunnya.

Ulangtahun!

Dalam kesendiriannya di bus yang melaju kencang, Melati menggigil mengeja kata itu. Seluruh dirinya seakan dibungkus hawa dingin yang aneh. Membuatnya seolah terlempar ke benua tak berpenghuni dimana hanya keasingan dan keterpencilan diri yang menemani.

Tapi mungkinkah itu?

Sementara sesosok tubuh kering yang senantiasa dijumpainya dalam keadaan mengenaskan tak mungkin dibiarkannya pergi. Lebih tak mungkin bila dia yang harus lari menghindar. Yah, tak mungkin. Karena dari sosok ringkih itulah dia pernah merasakan kemanjaan dan kasih sayang yang hangat. Karena sosok ringkih itu dipanggil dengan sebutan, Mama.

Sumpah mati!

Melati tak pernah membayangkan akan menjumpai hari-hari seungu ini dalam rentang kehidupannya. Tersirat dalam mimpi pun tidak. Hari-hari sebelum peristiwa laknat itu dijalaninya dengan riang. Ada Papa yang hangat, Mama yang lembut, Bang Dhika yang kocak, Kak Aurel yang penuh pengertian. Semua itu adalah karunia baginya. Tapi rasanya “neraka” ada di mana-mana. Si Jahat itu berkesempatan mengintip dunianya yang semarak dan merasa syirik karenanya. Lantas ditiupkannya prahara itu. Seorang bocah bernama Indra dan Tante Natasya Permata yang parasnya secantik setan tiba-tiba saja sudah hadir dalam kehidupan Adrian Yudhistira-Papanya. Dan layar kehidupan yang penuh warna-warni pelangi pun mendadak harus berganti dengan kabut sehitam malam.

Melati masih mengingat semuanya dengan jelas. Demikian jelas, seolah baru terjadi sejam yang lalu. Padahal kejadiannya sudah setengah tahun yang lalu.

Saat itu ia tiba-tiba dihinggapi keisengan untuk menyusul Papanya ke kantor.

Sebenarnya itu tidak perlu. Toh nanti sore juga Papa pasti akan pulang. Namun keinginan untuk sesekali memberikan kejutan pada Papa demikian kuat menggoda. Dan selain itu ia memang membawa sebuah cerita seru. Tentang kehadiran seorang Marvel pada ruang yang paling istimewa di hatinya!

Melati tahu, ia sudah terlalu lancang. Mengusik kesibukan Papa. Itu tak pernah terjadi dalam lingkungan mereka. Bahkan Rossa Anastasya-Mamanya sendiri pun tak pernah melakukannya. Dan untuk kelancangannya itu ia memperoleh ganjaran yang jauh lebih kejam.

Di ruang kerja Papanya dijumpainya seorang anak kecil tengah asyik bermain-main. Matanya bening. Pipinya montok menggemaskan. Melati sudah hendak mencoleknya ketika celoteh bocah itu tiba-tiba memukaunya di tempat. Anak itu memanggil Papanya dengan sebutan yang persis sama dengan kebiasaannya! PAPA!!!

Ia tertegun!

Lantas matanya mencari wajah Papanya. Laki-laki yang dikaguminya itu pun menatapnya, tapi dengan ekspresi yang lain sama sekali. Penuh keterkejutan. Dan terbongkarlah semuanya!

Melati merasa dunianya runtuh seketika. Tak ada lagi yang tersisa. Kekagumannya pada Papanya mendadak lenyap disapu kebencian. Pengkhianatan Papanya yang tersembunyi demikian lama itu tak pernah bisa ia maafkan. Hatinya tertutup sudah. Terlebih ketika sebuah kenyataan pahit lagi-lagi tersaji di hadapannya....

Sketsa Ungu Keping Hati (3)

Chapter 3
Ada Apa Dengan Melati?

Lantas lahirlah ide itu. Ulang tahun Melati seolah mendatangkan secercah sinar harapan untuk mengembalikan warna-warni pelangi yang mulai pudar. Syafa dihubungi. Lalu merembet pula kepada teman-teman kerja yang lain. Tentu saja tanpa kehadiran Melati. Kepada mereka, Marvel menuturkan semua rencananya. Ia ingin mengembalikan senyum yang sempat hilang dari wajah lembut gadisnya.

Marvel sadar ini bukanlah jalan yang pasti menjanjikan keberhasilan. Tapi setidaknya ia ingin berusaha. Barangkali dengan sebuah kejutan kecil disertai sedikit gila-gilaan semua akan membaik. Artinya, Melati mau buka mulut menceritakan tentang setan iseng yang membuatnya berubah. Lalu setelah itu, apalagi kalau bukan membimbingnya mencari jalan keluar dari kemelut yang merundungnya.

Tapi ternyata semuanya tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Rencana yang didukung sepenuhnya oleh Syafa CS terancam bubar sebelum terealisasikan. Dan penyebabnya justru datangnya dari Melati sendiri. Siapa sangka gadis itu tiba-tiba hendak pulang tepat pada saat ulang tahunnya?

Padahal semuanya telah dipersiapkan dengan rinci. Malah dengan semangat dan partisipasi yang full banget. Nah, kalau semuanya tiba-tiba jadi berantakan seperti ini, bukankah itu amat-sangat tidak lucu?

Syafa menggigit bibir bawahnya gelisah. Sudah direka-rekanya apa yang bakal menimpanya nanti. Sepanjang yang diingatnya, Marvel tak pernah dijumpainya dalam keadaan marah. Justru karena itu ia jadi gentar sendiri. Bagaimana kira-kira kalau nanti Marvel datang dan mendapati apa yang telah diinstruksikannya tidak ada yang jalan sama sekali?

Oh, tidak. Barangkali masih ada yang bisa jalan. Misalnya, kue yang sedang dalam persiapan untuk dibuat ini. Tapi apa gunanya kalau Melati tidak hadir?! Bisa-bisa itu malah akan semakin membuat Marvel murka. Bagaimana ya kira-kira kalau ia murka? Aduh, entah sudah berapa kali pertanyaan itu hilir-mudik di kepalanya. Sepertinya ia ngeri memikirkan itu. Dan aku memang ngeri, pikir Syafa getir.

“Sudah lo bujuk belum, dia? Suara Beby menghentikan lamunannya.Mitha mengangguk.

“Tapi sampai kering tenggorokanku dia tetap bersikeras mau pulang!”

“Kalau gitu biar gue aja yang bujuk!” Aditya bangkit. Bermaksud mendatangi Melati.

Tapi belum lagi kakinya menyentuh anak tangga, suara gedebag-gedebug dari atas mematikan seluruh geraknya.

Melati muncul. Lengkap dengan Travel bag-nya yang sudah gendut menggelembung. Matanya yang sayu menatap teman-temannya satu per satu.

“Gue mau pulang,” lapornya dalam nada biasa.

Terlalu biasa untuk situasi seperti sekarang, sungut Syafa dalam hati.

“Syafa,” Melati mendatanginya.

“Gue titip ini.” Diangsurkannya dua buah buku tebal.

“Tolong berikan ini sama Marvel.”

“Kenapa bukan lo aja yang kasih tuh buku sama Marvel?” Aditya menyela.

“Iya,” susul Keysha begitu melihat ada kesempatan untuk melancarkan rencana.

“Kali aja entar malan dia juga bakalan ke sini.”

Melati tersenyum dipaksakan. “Nggak bisa. Gue harus pulang sekarang!”

“Nggak bisa ditunda?”

“Nggak!”

“Emangnya penting banget ya, Mel?” Melati hanya menjawab dengan anggukan.

“Segitu pentingnya sampai lo nggak bisa menyempatkan diri buat pamit sama Marvel?”

Pertanyaan itu membuat Melati terdiam. Ia menunduk dengan gerak kikuk. Lantas kembali ditatapnya Syafa.

“Gue kan cuma pulang ke Bandung,” kilahnya berusaha tenang.

“Nggak jauh. Dan nggak bakalan lama.”

“Ya, tapi jangan seka...”

“Gue harus pergi sekarang,” Melati memotong tergesa. Sungguh tak menyenangi kepungan bujukan yang bernada mendesak seperti itu. Dan karena tak mau dengar apa-apa lagi, ia segera berjalan cepat ke depan.

“Astaga! Melati seperti Cinderella yang harus segera pulang sebelum jam dua belas malam.” Sahut Aditya.

“Diaa bahkan nggak nanya buat apaan tumpukan resep sebanyak ini.” Sambung Keysha.

“Melati yang aneh! Kita harus bilang apaan sama Marvel?” Tanya Beby Lesu.

Sketsa Ungu Keping Hati (2)

Chapter 2
Gawat!

“Gawat! Gawat! Gawat!” Cecarnya seperti orang latah. Kasak-kusuk di dapur seketika terbungkam. Empat pasang mata disertai dengan kernyitan jelas pada masing-masing kening menyambut kehadirannya.

“Apa yang kebakar, Syafa?” Beby bertanya penuh ekspresi.

“Bukan kebakaran! Lebih gawat dari itu.”

“Apa?”

“Melati tiba-tiba pengen pulang. Nggak tahu darimana dia dapat ilham sinting kaya’ gitu!”

“Hah?!” Keempat pasang mata itu kini melotot bundar. Tebaran buku-buku resep yang tadi mendapat perhatian penuh mendadak terlupakan.

“Serius lo?” Keysha paling pertama buka suara. Dan untuk itu ia langsung mendapat penghargaan berupa delikan bengis dari Syafa.

“Lo kejam amat sih sampe nuduh gue main-main? Lo nggak lihat gue apa, Gue udah hampir mati kejang saking paniknya!”

“Aduh! Terus gimana dong?”

Seruan itu berloncatan nyaris dalam saat yang sama. Syafa mendengus. Pertanyaan bingung itu sekarang menghinggapi mereka semua! Sesaat waktu berlalu hening. Masing-masing seolah menunggu yang lain untuk mencetuskan sesuatu. Hm, bagus juga! Syafa mendengus tanpa maksud apa-apa. Bagaimana ya, kalau Melati tahu bahwa keinginan sederhananya untuk pulang ternyata telah menghadirkan kecemasan pada semua penghuni supermarket “Permai Jaya” ini?! Dan yang jauh lebih penting lagi, bagaimana kira-kira tanggapan Marvel nanti?

Uh, memikirkan yang terakhir itu saja sudah membuat Syafa serasa ingin mati di tempat. Ia tahu siapa Marvel. Cowok kalem, tak banyak omong, yang notabene adalah Oomnya. Adik bungsu ibunya yang anak sulung pada sebuah keluarga besar beranggotakan dua belas orang anak. Dan dia hafal betul seluk-beluk tabiat serta pembawaan si Big Boss itu.

Marvel jarang minta tolong pada siapa pun.

Bahkan terkesan ogah-ogahan bergaul dengan orang yang tak punya urusan dengannya.

Bukan sombong, tapi dia memang punya kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang yang tak dikenalnya dengan baik.

Barangkali pula dia termasuk ke dalam golongan pribadi yang tak bisa mengungkapkan perasaan secara frontal dan terbuka. Karena itu nyaris merupakan berita ajaib ketika ia mengumumkan pada semua orang bahwa Melati, gadis lembut bermata sayu itu merupakan calon pendampingnya kelak.

Syafa pun hampir tak yakin dengan apa yang didengarnya. Untunglah itu tidak berlangsung lama. Dan pada akhirnya, ia pun berucap syukur dan turut bertepuk tangan tanda gembira atas pengumuman itu.

Itu kejadian setengah tahun silam. Segalanya berjalan manis di awalnya. Setidaknya begitulah menurut laporan pandangan mata yang sempat direkam Syafa. Tapi sejak tiga bulan yang lalu mulai ada yang tak beres. Entah setan dari mana yang iseng bercokol dan mengaduk-aduk otak Melati, tak seorang pun yang diperkenankan untuk tahu. Tidak Marvel. Tidak pula Syafa. Yang jelas, gadis itu tiba-tiba saja terlihat berusaha merentang jarak. Tanpa secuil penjelasan, dia tiba-tiba sering kedapatan tengah mencari jalan untuk memutuskan segala apa yang telah terjalin. Menghindari pertemuan, membatalkan janji, melakukan segalanya dengan sendiri. Dan puncaknya, berbuat seolah tak ada makhluk bernama Marvel yang meskipun sudah pusing tujuh keliling namun masih tetap setia setiap saat di sisinya. Menantikan sepotong penjelasan atas ketidakmengertiannya. Melipatgandakan kesabaran, tetap dilimpahinya perhatian dan kasih yang tulus buat gadisnya, meski untuk semua itu hampir dibuat sinting karena Melati dengan keji membalasnya dengan sikap sedingin es!

Sketsa Ungu Keping Hati (1)

Chapter 1
Jangan Pulang, Melati!

Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk mencegahnya? Syafa mengeluh putus asa. Diawasinya kesibukan yang tengah berlangsung di hadapannya dengan wajah bingung. Tak tahu dengan kalimat macam apa lagi yang harus ia keluarkan sebagai bujukan.

Akibat menyusuri setiap jengkal lantai marmer di supermarket dan seperti hendak merontokkan segenap sendi-sendinya belum pula lagi hilang. Grasa-grusu di dapur di bawah sana pun pasti masih sementara dijalankan secara diam-diam. Itu semua bagian dari rencana yang mereka rancang penuh semangat empat lima sejak seminggu yang lalu. Sebuah pesta surprise yang diyakini pasti akan berjalan semarak. Tapi kalau yang bersangkutan sendiri tiba-tiba hendak melarikan diri....

“Apa sih yang ngebuat lo buru-buru mau pulang kaya’ dikejar setan gini?” Tanya Syafa kemudian dengan pikiran kacau.

Sekejap Melati tertegun mendengarnya. Tangannya yang semula bergerak lincah mengemasi barang-barang terhenti mendadak di udara. Hanya sekejap. Lantas senyumnya terukir sumbang. Tanpa kata dilanjutkannya kegiatannya.

Syafa mendekatinya. “Mel,”

“Lo denger nggak, sih?” Tanyanya.

“Denger.”

“Kalau gitu tolong jawab dong!”

Melati membalik badan. Mata sayunya menatap lurus.

“Gue harus ngomong apa, Syafa? Lo pasti sudah tahu jawaban gue. Sama seperti tujuan lo kalau lo pulang, begitu juga tujuan gue sekarang!”

Syafa tercenung dengan sebaris kalimat yang belum sempat tercetus. Dipandanginya gadis itu yang berusaha aktif di dalam riak tenang.

Melati membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. “Gue kangen sama orang-orang rumah!” Kalimat terakhir Melati melantun dalam getar yang samar. Tak teraba oleh siapa pun. Juga oleh seorang Syafa.

“Tapi, apa nggak bisa ditunda?” Seakan melihat peluang, gadis itu bertanya cepat.

“Pulanglah dalam waktu dua-tiga hari lagi. Jangan sekarang.”

“Hei, sejak kapan lo berubah jadi nenek bawel begitu, Syafa manis?” Tawa lirih Melati menguap.

“Gue mau pulang sekarang. Lagian kalau gue mau pulang sekarang atau besok nggak akan ngerugiin siapa-siapa, kan?”

“Justru sangat merugikan!” Syafa berteriak gemas dalam hati. Dibayangkannya lembar-lembar rupiah yang melayang deras dari kasir Supermarket Permai Jaya tadi. Semua itu untuk Melati. Untuk pesta ulang tahun yang ingin dirayakan semeriah mungkin.

Oh, apa kata Andromedha Marvel Rivai alias Marvel kalau kejutan yang ingin dipersembahkannya buat gadis tersayang ini harus gagal total hanya karena ketidakbecusannya mencegah agar Melati jangan pulang?!

“Nah, semua siap sekarang!”

Oh, tidak. Jangan!

Syafa tiba-tiba dilanda kepanikan. Tanpa 'ba-bi-bu' ia berbalik dan bergegas turun menyusuri tangga. Ia nyaris tersuruk jatuh, tapi bayangan kekecewaan Marvel berikut pelototan mata kawan-kawan yang bakal diterimanya membuatnya seakan punya tenaga ekstra. Secapat yang ia bisa tubuhnya melesat ke dapur.

Sketsa Ungu Keping Hati (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Kebimbangan Cinta)
Created By Sweety Qliquers


Sketsa Ungu Keping Hati
Chapter 1 Jangan Pulang, Melati!
Chapter 2 Gawat!
Chapter 3 Ada Apa Dengan Melati?
Chapter 4 Acara Ultah Untuk Melati
Chapter 5 The Other Women
Chapter 6 Maafkan Aku, Marvel!
Chapter 7 Jangan Ungkit Kenangan Itu
Chapter 8 Berdamai Dengan Cinta


Sinopsis
Melati, seorang gadis yang ceria dari salah satu keluarga di Bandung yang bahagia. Tetapi itu dulu, sebelum kejadian mengerikan itu terjadi. Kejadian dimana Melati memergoki papanya bersama wanita lain dan seorang anak kecil yang memanggil papanya dengan sebutan ”Papa” juga seperti dirinya.

Keadaan itu membuat Mamanya menjadi depresi. Yang akhirnya membuat Bang Reyhan-pacar Kak Aurel-kakak perempuannya, menganggap Mamanya gila dan itu membuat dirinya dan Kak Aurel merasa sakit hati dan malu. Dan itu juga yang membuat Melati tidak mau menerima cinta seorang Marvel yang baik hati dan pengertian. Ia takut jika pengalaman dengan Bang Reyhan akan berakhir sama dengan Marvel.

Tentang Melati yang menampik cinta Andromedha Marvel Rivai lantaran satu prahara sekelam jelaga dalam hidupnya. Namun cinta sekokoh karang cowok itu menepis semua kisah ungu Melati. Membimbing gulita hidup melati dengan benderang pelita cinta yang paling sejati dalam hidupnya.

Mampukah Melati mengobati rasa sakitnya? Mampukah Bang Dhika-Kakak sulung Melati meluluhkan hati Melati untuk bisa menerima kembali papanya seperti dulu lagi? Akankah Melati menerima cinta Marvel?


Karakter Tokoh Sketsa Ungu Keping Hati :

Melati Ananda (Melati)
Melati, seorang gadis yang ceria dari salah satu keluarga di Bandung yang bahagia. Tetapi itu dulu, sebelum kejadian mengerikan itu terjadi. Kejadian dimana Melati memergoki papanya bersama wanita lain dan seorang anak kecil yang memanggil papanya dengan sebutan ”Papa” juga seperti dirinya.

Andromedha Marvel Rivai (Marvel)
Pemilik Supermarket ’Permai Jaya’. Cowok kalem, tak banyak omong, yang notabene adalah Oom Syafa Kirana (Syafa)-sahabat Melati di tempatnya bekerja Supermarket ‘Permai Jaya’. Marvel jarang minta tolong pada siapa pun. Bahkan terkesan ogah-ogahan bergaul dengan orang yang tak punya urusan dengannya. Bukan sombong, tapi dia memang punya kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang yang tak dikenalnya dengan baik. Barangkali pula dia termasuk ke dalam golongan pribadi yang tak bisa mengungkapkan perasaan secara frontal dan terbuka. Karena itu nyaris merupakan berita ajaib ketika ia mengumumkan pada semua orang bahwa Melati Ananda (Melati), gadis lembut bermata sayu itu merupakan calon pendampingnya kelak.

Syafa Kirana (Syafa)
Sahabat Melati Ananda (Melati) sekaligus keponakan Pemilik Supermarket ’Permai Jaya’-Andromedha Marvel Rivai (Marvel). Orang pertama yang hampir tak yakin dengan apa yang didengarnya. ’Bahwa Marvel-Oom sekaligus bossnya yang kalem dan pediam itu menaruh hati pada sahabatnya-Melati dan menginginkan Melati sebagai pendamping hidupnya kelak. Untunglah itu tidak berlangsung lama. Dan pada akhirnya, ia pun berucap syukur dan turut bertepuk tangan tanda gembira atas pengumuman itu.

Andhika Kusuma (Bang Dhika)
Kakak tertua Melati Ananda (Melati). Dhika, dengan kebijakan yang entah dari mana datangnya, berhasil Memberinya kekuatan dengan kalimat-kalimat menyejukkan. Dan Melati terpesona. Si Sulung yang dulu kocak-seenaknya dan kerap membuatnya menangis kini tampak begitu dewasa. Ucapan-ucapannya tenang. Laksana belaian angin pegunungan di pagi hari. Membangunkan kekuatan sekaligus kesadaran yang meskipun terasa pahit namun toh harus dijalaninya.

Aurelia Cempaka (Kak Aurel)
Kakak perempuan Melati Ananda (Melati) yang penuh pengertian. Berusaha tabah dan tegar setelah ditinggal Reyhan Wijaya (Reyhan)-kekasihnya, yang merasa malu ketika mengetahui bahwa Mama dari kekasihnya ’gila’.

Reyhan Wijaya (Bang Reyhan)
Kekasih Aurelia Cempaka (Aurel)-kakak Melati Ananda (Melati). Yang merasa malu ketika mengetahui bahwa Mama dari kekasihnya ’gila’.

Adrian Yudhistira (Papa Melati)
Seorang Ayah yang hangat, sebelum dirinya mengenal sosok wanita bernama Natasya Permata yang menghancurkan rumah tangganya yang bahagia. Merubah layar kehidupannya yang penuh warna-warni pelangi, mendadak harus berganti dengan kabut sehitam malam.

Rossa Anastasya (Mama Melati)
Seorang Ibu yang lembut. Ia memang tak pernah memperlihatkn tangis ketika ‘Malapetaka’ itu terjadi. Wanita tersayang itu cuma diam pasrah. Tetapi siapa sangka di dalam hatinya ternyata mengalir darah dan nanah yang berasal dari luka yang teramat parah?! Dan semuanya mencapai puncak ketika pada suatu malam seisi rumah dikejutkan oleh jeritan Pembantu setianya itu kedapatan tengah berdiri gemetar di ambang pintu kamar. Penuh ketakutan. Juga kengerian. Melihat wanita malang itu mengiris pergelangan nadinya.

Natasya Permata (Tante Tasya)
Wanita yang parasnya secantik setan tiba-tiba saja sudah hadir dalam kehidupan Adrian Yudhistira-Papa Melati. Wanita yang menggoda Papa Melati, yang mengubah layar kehidupan Keluarga Melati yang penuh warna-warni pelangi pun mendadak harus berganti dengan kabut sehitam malam.