Tampilkan postingan dengan label Pastikan Dia Jangan Menunggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pastikan Dia Jangan Menunggu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2009

Pastikan Dia Jangan Menunggu (7-TAMAT)

Chapter 7
Pastikan Dia Jangan Menunggu


“Seharusnya Bang Virgo nggak perlu repot-repot kaya’ gini. Sampai nganterin ke rumah segala. Aku kan udah minta tolong sama Chacha.”

“Chacha memang datang ke rumah kemarin. Tapi aku bilang ke dia, kalau aku mau nganter sendiri kesini.”

“Memangnya ada yang penting?” Beby duduk di hadapan Virgo. Menatapnya.

“Kalau nggak ada yang penting, emangnya nggak boleh nemuin kamu?”

“Bukannya gitu. Biasanya Bang Virgo kan....”

”Nggak pernah cariin kamu, apa lagi sampai ke rumah?” potong Virgo tersenyum.

“Sorry Beb, kaya’nya selama ini aku terlalu sibuk sama diriku sendiri, ya?”

“Nggak pa-pa. Melukis kan bukan hal yang jelek.”

“Bukan itu. Maksudku....”

Beby menunduk. “Aku ngerti kok.”

”Seharusnya aku bisa lebih memahami kamu, Beb.”

“Nggak perlu. Pahami aja keinginan Bang Virgo.” Beby menelan ludah pahit.

“Sudah terima amplop coklat yang kutitipin sama Mamanya Bang Virgo?”

“Iya, sudah.”

“Ryan bilang, itu panggilan kerja buat Bang Virgo ya?”

Virgo mengangguk. “Pertambangan Minyak di Batam.”

“Bang Virgo terima?”

”Menurut kamu gimana?”

“Aku nggak punya hak buat ngasih pendapat.” Beby menggeleng.

“Kenapa nggak tanya sama Kak Tasya aja?”

“Tasya?” Virgo memajukan tubuhnya.

“Karena kamu ngeliat aku meluk dia?”

“Sebenernya bukan cuma itu.”

“Apa lagi?”

“Aku nggak pengen ngebahas itu.”

“Kalau kamu belum tahu pasti gimana aku sama Tasya. Kenapa langsung memutuskan?”

“Itu masalah pribadi Bang Virgo. Kenapa aku harus tahu? Kenapa harus ngebahas masalah itu sama aku?” elak Beby.

“Karena kamu ada hubungannya dengan masalah ini.”

“Aku?” Beby tertawa. Pahit.

“Aku kan bukan apa-apanya Bang Virgo.”

“Kalau kamu bukan apa-apa, dia nggak akan cemburu. Tasya bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu aja sebelum bertanding.”

“Nggak perlu ada pertandingan. Kan memang sudah ada pemenangnya.”

“Kamu!” Virgo mengultimatum.

“Kamulah pemenangnya!”

“Udah cukup, aku nggak mau ngebahas ini lagi. Bang Virgo ngaco!” Beby bangkit.

Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Virgo mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?

“Duduk, Beb. Aku belum selesai.”

“Apa lagi?!”

“Aku diwisuda besok.”

“Terus?”

“Kamu mau ngedampingi aku, kan?”

“Kenapa nggak minta Kak Tasya aja, buat ngedampingi Bang Virgo?”

“Tasya lagi, Tasya lagi!” Virgo menggeleng kesal.

“Aku minta kamu yang nemenin! Bukan Tasya!”

“Apa sih yang Bang Virgo mau sebenernya?”

“Waktu Tasya minta balikan, aku nggak tahu kenapa kaya’nya ada yang lain dihatiku Beb. Di hatiku sudah nggak ada namanya lagi. Di hatiku cuma ada kamu....”

Beby menggeleng.

“Cukup, Bang Virgo bikin aku bingung. Aku kan bukan siapa-siapanya Bang Virgo…”

“Karena aku nggak pernah ngebalas semua yang kamu berikan?”

“Memang nggak harus, kan?”

“Beb, waktu kamu ke paviliun itu....”

“Aku nggak mau ngedenger penjelasan Bang Virgo tentang alasan, kenapa Bang Virgo meluk Kak Tasya waktu itu. Itu urusan Bang Virgo.”

“Urusanmu juga.” Virgo menatap tajam.

“Aku perlu menanyakan ini, Beb. Sebelum kuputuskan ke Batam atau nggak.”

“Bang Virgo mau ke Batam?” Beby menatap Virgo tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.

“Tergantung jawabanmu.”

“Aku?”

“Iya, dan bukannya Tasya! Please, jangan ngomongin dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia.” Virgo menarik napas sejenak.

“Kamu mau aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita berdua untuk waktu yang cukup lama?”

Beby tidak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.

“Bang Virgo mau pergi?”

“Buat aku, kerja di manapun sama aja kalau nggak ada kamu. Tapi kalau ada kamu, aku pilih kerja di sini. Lagipula sudah ada perusahaan lagi yang menawariku disini. Kalau kamu mau aku tetap disini, minta aku jangan pergi Beb!”

Beby mendongak. Menatap hitamnya mata Virgo yang bagus.

“Aku nggak mau Bang Virgo pergi,” ucapnya pelan.

“Aku....”

Virgo menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“Aku nggak akan pergi,” jawabnya pasti.

“Aku nggak akan pergi, Beb! Aku akan selalu ada buat kamu!”




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Pastikan Dia Jangan Menunggu (6)

Chapter 6
Hatiku Patah


“Mau nolongin gue nggak, Cha?”

“Apa?”

“Kalau pulang, lo lewat rumah Virgo, kan?”

“Kadang-kadang. Memangnya kenapa?”

“Kalau lewat, tolong mampir sebentar dong. Ada beberapa barang gue yang ketinggalan di rumah dia.”

Chacha menoleh. Menatap Beby dengan dahi berkerut.

“Ada apa sih sama lo?”

“Nggak ada apa-apa kok!” Beby tersenyum.

“Kenapa harus gue yang ke rumah Virgo? Kenapa bukan lo?”

“Gue sibuk. Harus belajar buat ujian semester.”

“Biasanya minta Virgo buat ngajarin.”

“Gue Cuma nggak mau ngerepotin dia aja lagi.”

“Hei, sebenernya ada apa sih sama lo?” ulang Chacha heran.

Beby menarik napas panjang, menunduk sedikit.

“Lo bener, Cha. Gue memang bukan apa-apa buat Virgo.”

”Ooww, Beby.” Chacha memeluk Beby.

“Dia bilang kaya’ gitu ke lo?”

“Gue ngeliat sendiri, Cha. Tasya balik lagi.”

“Dia bilang mau balikan lagi sama Tasya? Lo nggak minta penjelasan sama dia apa?”

“Virgo nggak bilang apa-apa dan nggak ngejelasin apa-apa. Gue ngeliat dia meluk Tasya. Apa itu nggak ngejelasin semuanya?”

“Beby!”

Beby menelan ludahnya dengan susah payah.

“Seharusnya gue nggak usah terlalu deket sama dia dari dulu, Cha.” Sesalnya.

“Kalau aja lo mau ngedengerin gue, Beb.”

“Iya. Tapi sekarang udah nggak ada gunanya lagi. Semuanya udah selesai.” Beby tersenyum pahit.

“Jangan lupa ya, Cha? Tolong ambilin barang-barang gue.”

“Mau titip sesuatu buat Virgo, nggak?”

Beby menggeleng.

“Nggak akan ada gunanya lagi, Cha!”

***

“Nah, itu dia pulang!”

Beby tertegun di ambang pintu. Mama berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Beby bingung adalah kehadiran Virgo di ruang tamu sekarang.

“Kemana aja sih, Beb? Udah ditungguin lama tuh, sama Virgo.”

“Jalan-jalan sama Chacha.”

“Tante tinggal ke dalam ya, Go.”

Virgo mengangguk. “Terima kasih, Tante.”

Pandangannya dialihkan ke Beby setelah Mama gadis itu menghilang. Sementara Beby masih saja berdiri di tempatnya.

“Kenapa ngeliatin aku kaya’ ngeliat UFO gitu sih?” Beby tertawa kecil.

“Tumben Bang Virgo kesini? Ada apa?”

“Nganterin barang-barang kamu.”

Pastikan Dia Jangan Menunggu (5)

Chapter 5
Air Mataku Menitik


“Ada telepon buat Beby nggak Ma?”

“Nggak ada tuh.” Mama mendongak, menatap Beby dengan alis berkerut.

“Kamu nunggu telepon dari siapa sih, Beb? Penting ya sampai nanyain tiap hari?”
Beby tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Chacha benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Virgo.

Sudah lebih dari sebulan Beby tidak lagi menemui Virgo. Terakhir adalah saat Beby mengantarkan amplop titipan Ryan. Itu pun Virgo tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Mama Virgo. Setelah itu Beby menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.

Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!

Virgo tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.

Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Beby sudah merasa kehilangan.

“Oya, Beb. Tadi Chacha kesini. Katanya, mau pinjam diktat organik buat kuis besok. Mama suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya nggak ada.”

Tertinggal di tempat Virgo saat Beby memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Chacha besok.

“Beby pergi dulu, Ma.”

“Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?”

“Ambil diktat di rumah temen, Ma. Kasihan Chacha, besok dia perlu banget.”

Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Virgo.


***


“Bang Virgonya ada, Mbok?” Rumah besar itu sepi saat Beby tiba di sana. Cuma Mbok Inah yang menyambutnya.

“Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam.”

Beby melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.

“Bang Virgo!”

Beby tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar terbalik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.

Virgo menoleh. Mendapatkan Beby tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Tasya.

“Beby.”

“Sorry, aku nggak tahu kalau Bang Virgo ada tamu.” Beby mencoba tersenyum.

“Nggak pa-pa kok.” Virgo menghampiri. Tenang seperti biasa.

“Oya, kenalin. Ini Tasya. Sya, ini Beby.”

Beby melebarkan senyumnya. “Sorry ganggu. Aku Cuma mau ambil barang-barangku yang ketinggalan.”

“Kececeran dimana-mana tuh.”

“Nggak pa-pa, nggak penting kok. Cuma diktat itu aja yang mendesak. Bisa tolong ambilin nggak, Bang?”

Virgo meraih diktat organik Beby di atas lemari.

“Makasih! Aku pulang dulu, Bang.”

Beby berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Virgo.

“Beby!” Kejar Virgo.

“Katanya mau ngambil barang-barang yang lain?”

“Nggak pa-pa! Nggak penting-penting banget kok. Bisa tolong dikumpuin dulu nggak, Bang? Nanti aku minta tolong Chacha buat mampir ngambil kesini. Dia suka lewat sini kalau pulang kuliah.”

“Kenapa nggak kamu ambil sendiri aja?”

“Aku sibuk. Lagian udah hampir ujian semester. Aku kan harus belajar keras.”

“Nggak pengen aku ajarin kaya’ biasanya?”

“Nggak usah, Nanti ganggu Bang Virgo. Lagian, aku harus mandiri kan?” Beby tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Virgo tadi.

“Aku pulang, Bang.”

“Kuantar, Beb.”

Hampir setahun berada di dekat Virgo, menghampirinya selalu, Virgo tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Itu pun setelah seharian Beby menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Virgo bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Beby memarkirkan mobilnya.

Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?

“Aku bawa mobil.”

“Aku antar sampai depan, ya?”

“Nggak usah. Bang Virgo kan ada tamu. Tuh udah ditungguin.”

“Hati-hati, Beb.”

Beby mengangguk. Virgo bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.

Di dalam mobil, airmata Beby mengalir deras.

Pastikan Dia Jangan Menunggu (4)

Chapter 4
Virgo Dan Tasya


“Virgo!”

“Kapan balik dari Amsterdam?”

“Kemarin. Aku tadi telpon kamu, tapi katanya kamu keluar. Jadi hari ini aku kesini.”

Tasya masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Virgo merasa sangat asing.

“Kamu masih suka ngelukis, Go?”

“Seperti yang kamu lihat.”

“Aku dengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?”

“Bulan depan.”

Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Tasya yang kembali sekarang sudah terasa lain. Tasya yang kembali sekarang bukan seperti Tasya yang dilepasnya pergi dulu.

“Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?” Tasya mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Virgo.

“Kadang-kadang.” Kalau Beby datang dan Virgo tidak sedang melukis. Virgo akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.

“Virgo, gimana kalau kita keluar aja?”

“Sorry Sya, aku capek banget.”

“Aku temenin di sini, ya?”

“Nggak usah, kamu nggak liat apa tempat ini kotor banget.”

“Nggak pa-pa. Aku pengen ngeliat kamu ngelukis kaya’ dulu lagi.”

Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?


***


“Kenapa cita-citamu berubah?” tanya Virgo dua tahun yang lalu saat Tasya memutuskan berangkat ke Amsterdam.

“Kesempatan ini jarang sekali datang, Go. Aku nggak bisa mengabaikannya begitu saja, ketika tawaran ini disodorkan padaku.”

“Dan karena itu, berarti kita harus berpisah?”

“Cuma sementara!”

“Tapi kamu bahkan nggak bisa memastikan kapan akan kembali. Gimana kalau kamu nggak kembali?”

“Aku pasti kembali.”

“Sampai kapan?”

“Nggak lama!”

“Setahun, dua tahun, sepuluh tahun ? Atau kamu pengen aku nungguin kamu seumur hidup ?”

“Virgo!”

“Kuliahmu sudah setengah jalan, Sya.”

“Bisa kulanjutin lagi, kalau aku kembali.”

“Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek.”

“Kamu nggak suka aku pergi?”

“Ya! Aku nggak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki cuma untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang nggak pasti!”

“Aku nggak membuangnya, Go. Aku cuma menunda. Aku nggak akan pernah tahu, kalau aku nggak pernah mencoba.”

“Gimana kalau kamu gagal?”

“Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini.”

“Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali.”

Virgo tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Tasya sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Virgo yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.

Dan sekarang Tasya bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang Oomnya!

Musik?! Astaga! Virgo tahu betul, Tasya tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.

“Aku nggak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat.”

Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Virgo.


***


“Beby siapa, Go?” Tasya meraih diktat Beby yang tergeletak di atas sofa.

“Adik tingkat di kampus.” Virgo mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.

“Dia sering kesini ya? Kok bukunya ada di sini?”

“Bukan urusanmu.”

“Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat.” Tasya menatap Virgo sambil tersenyum.

“Belum terlambat kan, Go?”

Pastikan Dia Jangan Menunggu (3)

Chapter 3
Segalanya Tentang Virgo


Virgo melangkah ke dalam rumah. Melewati ruang makan dan berhenti di dapur.

“Ma!”

“Virgo. Dari mana?”

“Jalan-jalan sebentar, Ma”

“Tadi Beby kesini. Lebih dari sejam dia nungguin kamu.”

“Ada pesan nggak, Ma?”

“Dia ninggalin memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas.”

Virgo menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat…


Titipan Ryan.
Katanya bulan depan Bang Virgo diwisuda.
Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat.
Beby.


Kemajuan!

Virgo tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.

“Sudah makan, Go?”

“Tadi sudah makan di jalan, Ma. Virgo ke paviliun dulu ya, Ma.”

“O ya, hampir aja Mama lupa.” Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Virgo, menatap putranya itu lembut.

“Ada tamu buat kamu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau nunggu di paviliun aja. Jadi Mama biarkan dia di sana.”

“Beby?”

“Tasya.”

Virgo tertegun.

“Temui dia, Go. Ada yang harus diselesaikan diantara kalian berdua.”

“Semuanya sudah selesai,” gumam Virgo tak bergeming.

“Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali lagi ?”

“Dia berhak memberi penjelasan.” Mama mendorong Virgo lembut.

“Temui dia. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak ?”

“Virgo udah nggak cinta sama dia lagi, Ma.”

“Karena Beby?” Mama tersenyum.

“Atau karena menuruti kemarahanmu saja?”

“Beby tuh Cuma anak kecil, Ma.”

“Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya.”

“Ma!” Pusing di kepala Virgo bertambah.

Virgo tidak ingin menemui Tasya sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Virgo bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Virgo menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa diantara kami, batinnya.

Pastikan Dia Jangan Menunggu (2)

Chapter 2
Cintakah Dia?


“Ntar ke rumah Virgo nggak, Beb ?”

“Mungkin. Kenapa emangnya ?”

Ryan mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. “Titip ini buat Virgo, ya? Terus ingatin dia, Beb. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto.”

“Oke.”

“Thanks.” Ryan melambai sambil menjauh.

“Kenapa harus lo sih yang ngerawat si bayi besar itu, hah?” Tanya Chacha setelah Ryan berlalu.

“Ngingetin dia makan lah. Terus sekarang, lo harus ngingetin dia untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri nggak ingat apa-apa selain melukis.”

“Bayi besar yang mana?”

“Ya si Virgo lah! Siapa lagi?”

“Oo.” Beby tersenyum manis. Kalau bukan gue, trus siapa lagi dong? Lagian Virgo kan banyak bantuin gue.”

“Kimia?” Chacha mencibir.

“Sebenernya tanpa dia, lo juga bisa kali Beb.”

“Biarin aja lah. Lagian Virgonya sendiri nggak keberatan kok.”

“Apa sih yang lo cari dari dia, Beb?”

“Nggak ada.”

“Lo nggak lagi jatuh cinta sama dia, kan?”

“Nggak!”

“Lo terlalu cepet buat ngejawab, nggak.”

Jatuh cinta? Beby bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Virgo.

“Apa dia nggak terlalu tua buat lo, Beb?”

“Lo ini ngomong apa, sih?!” Beby mendelik. Mulai sebal dengan Chacha yang nyinyir.

“Gue cuma kasihan ngeliat lo. Selama ini selalu lo yang ngedatengin dia. Meratiin dia. Terus apa dia pernah ngelakuin yang sebaliknya ke lo?”

Beby terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.

“Gue nggak nuntut apa-apa ke dia,” sanggah Beby. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.

“Lo nggak jujur, Beb!”

“Jangan ngebahas Virgo lagi deh, Cha!”

“Kalau lo menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua buat lo. Lo sendiri aja baru semester satu, terus si Virgo udah mau lulus.”

“Kita Cuma beda lima tahun kok!”

“Mendingan lo cari yang seumuran lo deh! Yang ngedeketin lo tuh banyak, Beb. Buat apa sih lo ngejar-ngejar dia terus, dia aja nggak cinta sama lo?”

“Gue nggak bilang, gue jatuh cinta sama dia.”

“Kalau kaya’ begini terus, suatu saat lo bisa aja jatuh cinta sama dia.”

Benarkah?

“Beb, gue ngomong kaya’ gini, karena gue kenal Virgo dengan baik. Gue udah bertemen sama dia lama banget. Bahkan saat dia masih sama Tasya. Dia cinta banget ma tuh cewek.”

”Gue tahu.”

“Bahkan mungkin sampai sekarang,” lanjut Chacha hati-hati.

“Gue bilang ini ke lo, karena gue nggak mau lo kecewa. Lo temen baik gue, Beb. Gue nggak mau ngeliat lo terluka, sementara gue nggak bisa ngelakuin apa-apa buat lo.”

Lalu dia harus apa?!

Beby bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Virgo, seperti yang dikatakan Chacha? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Chacha.

Apa dia harus mencoba menjauh dari Virgo, sekadar mencari tahu apa Virgo peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Virgo memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Beby memang bukan apa-apa?

Beby tidak berani membayangkan.

Dia bahkan tidak berani memikirkannya.

Pastikan Dia Jangan Menunggu (1)

Chapter 1
Si Petasan Injak


“Bang Virgo!”

Petasan injak itu lagi!

“Lho, kok Bang Virgo begitu sih ?” Beby menarik kursi mendekati Virgo.

“Aku kan nggak pernah dapat B, selalu C. Itu juga setelah belajar sampai jungkir balik-banting tulang segala.”

“Kalau nggak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan ?”

“Kalau nggak masuk Perminyakan, nggak bakalan ketemu Bang Virgo dong ?” Beby tersenyum manis.

Gadis ini! Gerutu Virgo dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Virgo menoleh. Menatap ke arah Beby sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Virgo.

“Kesini cuma mau lapor hasil ujianmu doang?”

“Bang Virgo keberatan aku datang kesini, ya?” Beby menatapi wajah tampak samping Virgo. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.

“Kamu itu, ditanya kok malah balik nanya sih ?” tegur Virgo.

Beby terkekeh. “Habis, Bang Virgo nanyanya kaya’ mau ngusir gitu.”

Aku memang mau mengusirmu! Geram Virgo dalam hati. Setiap Beby muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan. Dan dengan caranya sendiri, Beby selalu berhasil membuat Virgo menuruti keinginannya.

“Bang Virgo sudah makan?”

“Sudah.”

“Aku belum. Temenin aku makan keluar, yuk.”

“Aku lagi sibuk ngelukis.” tolak Virgo.

“Ntar kan bisa diterusin lagi. Ayo dong, Bang Virgo! Nggak kasihan apa ngeliat Beby kelaperan?”

“Kamu kan bisa makan sendiri.”

“Ah, mana enak makan nggak ada temennya.”

“Kenapa nggak makan dulu sebelum kesini sih ?” gerutu Virgo tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.

“Aku mau traktir Bang Virgo. Kan ujianku dapat B karena diajari Bang Virgo.”

“Aku nggak minta bayaran. Simpan aja uangmu.”

“Bang Virgo kok menolak niat baik orang, sih?”

“Lukisanku belum selesai, Beby!”

“Kan bisa dilanjutin lagi nanti. Aku temenin, deh.”

“Nggak usah,” tolak Virgo cepat.

“Ntar malah nggak selesai lagi.”

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Perasaan Cinta Yang Terpendam)
Sweety Qliquers


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Chapter 1 Si Petasan Injak
Chapter 2 Cintakah Dia?
Chapter 3 Segalanya Tentang Virgo
Chapter 4 Virgo Dan Tasya
Chapter 5 Airmataku Menitik
Chapter 6 Hatiku Patah
Chapter 7 Pastikan Dia Jangan Menunggu


Sinopsis
Sebuah novel drama romantis yang sarat dengan nuansa kasih dan cinta ini. Kisah bermula dari seorang gadis bernama Beby Galia Putri (Beby) yang memendam rasa cintanya pada Virgo Perdana (Virgo), kakak tingkatnya di kampus. Cinta Beby ternyata bertepuk sebelah tangan ketika mantan Virgo yang bernama Natasya Permata (Tasya) ingin kembali rujuk. Resapi ketulusan cinta Beby yang mengharu biru.


Karakter Tokoh Pastikan Dia Jangan Menunggu :


Virgo Perdana (Virgo)
Kakak tingkat di kampus dan guru privat kimia Beby Galia Putri (Beby). Sosok yang disukai Beby Galia Putri (Beby) diam-diam. Karena trauma dengan rasa sakit hati dan kecewanya dengan kekasihnya di masa lalu, ia tidak mau membuka pintu hatinya untuk Beby atau gadis lain. Dan berusaha mengobati rasa sakit hati dan kecewanya dengan melukis.

Beby Galia Putri (Beby)
Adik tingkat di kampus Virgo Perdana (Virgo). Diam-diam ia menaruh hati pada Kakak tingkatnya itu. Ia bahkan meminta Virgo Perdana (Virgo) untuk mengajarinya Kimia secara privat. Walaupun sebenarnya tanpa bantuan Virgo Perdana (Virgo) pun, ia bisa. Tapi ia baru menyadari bahwa cintanya pada Virgo Perdana (Virgo) hanya bertepuk sebelah tangan, saat ia melihat Virgo Perdana (Virgo) memeluk Tasya (Mantan Kekasihnya).

Natasya Permata (Tasya)
Mantan kekasih Virgo Perdana (Virgo). Dua tahun yang lalu saat ia memutuskan meninggalkan keluarga, cita-cita dan cintanya (Virgo) untuk sesuatu yang baru dan tidak pasti. Menerima tawaran dari salah seorang Oomnya, berangkat ke Ámsterdam untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu.

Rossa Anastasya (Chacha)
Sahabat Beby Galia Putri (Beby). Ia tidak ingin melihat sahabatnya kecewa dan terluka, karena cintanya yang dianggapnya bertepuk sebelah tangan. Karena ia tahu bahwa Virgo Perdana (Virgo) masih sangat mencintai Tasya (Mantan Kekasih Virgo).