Tampilkan postingan dengan label Ketika Cinta Mulai Hadir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketika Cinta Mulai Hadir. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2010

Ketika Cinta Mulai Hadir (12-TAMAT)

Chapter 12
Pasangan Unik


“Sayang cepetan dikit dong, kita udah terlambat nih, nanti Mama kamu ngomel lagi..” Daniel memanggil Sheila yang masih berdandan sedari tadi di dalam kamar.

“Iya-iya sabar dong ah, bentar lagi selesai…” terdengar suara istrinya dari dalam kamar.

Sheila lalu mengabil tasnya dan tergopoh-gopoh menuruni anak tangga.

“Kaya’ gini aja nih?” Daniel bertanya.

“Ya iyalah, emang mau gimana lagi?” Sheila bertanya kembali.

“No, aku nggak suka kamu pake baju kaya’ gini, lepas aja sweater-mu itu biarkan pundakmu yang indah itu terlihat dan coba lihat masa’ nggak pake make up sih.” Daniel mulai mengomel menegur dirinya.

Tubuh Sheila ditarik dan didudukkan Daniel ke sofa, segala jenis alat make up di dalam tas Sheila dikeluarkan oleh Daniel dan wajah Sheila mulai dipolesinya make up.

Ya udah deh, begini nih resikonya kalau dapat suami yang ngerti sama make up dan fashion, tapi mau gimana lagi kalau hati sudah sayang, terima sajalah apa adanya.



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Ketika Cinta Mulai Hadir (11)

Chapter 11
Jadi Selama ini, Dia???


“Sheila ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Hmmm… oh, ya hari ini, hari terakhir kerjasama perusahaan kita kan?” Daniel membuka pembicaraan mengisi ruang sepi diantara mereka.

“Hmmm... hari minggu ini datang ya ke rumahku, ke acara pernikahanku hari itu,” Daniel memberitahu dengan berat hati, ke gadis yang mulai mencuri hatinya itu.

“Hah..! Acara pernikahan lo?”

“Yup…” jawab Daniel singkat.

“Loh koq’ bisa sama sih, gue juga sebenarnya baru mau ngundang lo ke acara pernikahan gue minggu ini juga, tapi sorry ya undangannya udah habis jadi gue undang langsung aja nggak pa-pa’ kan?” Sheila memberitahu.

Mereka saling berpandangan satu sama lain, kebetulan apakah ini? Entahlah....

“Sheila mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, ada sesuatu yang mau aku katakan ke kamu, aku tahu mungkin ini nggak pantas, tapi aku harus katakan ini…”

“Hmmm apaan sih?”

“Aku mencintaimu…”

“What...!!” Sheila terkejut,

“Mimpi apa gue semalem.” Batinnya.

“Aku mencintaimu sheila…” ungkap Daniel tulus.

“Daniel thanks, karena Lo udah mencintai gue, dan sebenernya gue juga punya perasaan yang sama ke lo tapi sekarang semua itu udah nggak penting lagi? kita bakalan punya kehidupan sendiri, buat gue sekarang perasaan itu nggak penting, yang penting sekarang adalah mewujudkan harapan, harapan keluarga gue.” panjang lebar Sheila memjawab. Memang ia juga punya perasaan yang sama pada pemuda dihadapannya itu, ia pun tidak sadar bila perasaan itu tumbuh tapi baginya sekarang semua itu tidak perlu lagi, ia akan jadi milik orang lain.

Di hadapan Sheila, Daniel hanya tertunduk. Dirinya pasrah dengan permainan takdir, dan malam itulah pertemuan terakhir mereka, setelah itu tidak ada lagi sms atau telpon dari pemuda itu...

***

“Sya..” panggilan itu memecahkan lamunan Sheila.

“Ah sempat-sempatnya lagi gue melamun mengingat-ingat hari itu,” Sheila mengeluh perlahan.

“Natasya duduk yang manis sedikit, sebentar lagi Julian akan memasangkan cincin pernikahan ke jari manis kamu.” Mbak Anda-penata rias Sheila berbisik perlahan di telinganya menegur tingkah lakunya.

Dari ekor matanya Sheila melihat ada sesosok tubuh berbaju pengantin dengan warna senada dengan dirinya-putih melangkah mendekatinya. Tapi, langkah kaki sesosok tubuh itu seketika berhenti tidak jauh darinya. Memang dalam adat mereka ijab kabul dilakukan secara terpisah, mempelai pria dan wanitanya di dalam ruangan yang berbeda. Setelah ijab kabul sah, barulah mempelai pria mendatangi mempelai wanita untuk memakaikan cincin pernikahan.

“Eh Julian ngapain kamu bengong saja disitu? Ayo, Cepat pakaikan cincin itu pada Natasya.” Terdengar suara Mbak Anda menegur.

Langsung saja Sheila Natasya mendongakkan kepalanya tidak sabar melihat siapakah gerangan suaminya itu. Pandangan mata mereka bertemu, mereka terpaku seketika.

“Lo...!” jerit Sheila.

“Kamu...!” Danniel amat sangat terkejut...

“Sheila apa-apaan kamu panggil Daniel dengan “Lo”. Panggillah yang sopan sedikit, dia itu suami kamu...” Ibu Mirna menegur.

Sheila Natasya sudah tidak peduli lagi apa kata orang, ia langsung berdiri, berlari ke arah Daniel, dipeluknya tubuh lelaki itu dan Daniel pun membalasnya dengan menggendongnya.

“Oh... kelihatannya pengantin kita ini sudah tidak sabar lagi,” terdengar suara-suara sumbang para tamu mengusik.

Daniel pun menggiring Sheila Natasya duduk di pelaminan, sebuah cincin di pasangkannya di jari manis Sheila kemudian ia tunduk mengecup kening Sheila dan sebaliknya pun Sheila memasangkan cincin di jari manis Daniel dan mencium tangannya.

“Kenapa aku tidak merasa kalau si Natasya ini Sheila, kalau saja aku tahu tidak mungkinlah aku merana seperti ini,” bisik hati Daniel.

“Aduh Daniel rupanya si Julian... gue udah kecewa berat kalau ingat kami berdua tidak berjodoh.

“Aku mencintaimu Daniel.” Sheila berbisik lembut pada telinga pemuda itu dan pemuda itu pun tersenyum lebar mendengarnya.

“Aku juga mencintaimu Sheila.” Sahut Daniel dengan mesra.

Ketika Cinta Mulai Hadir (10)

Chapter 10
Detik-Detik Akhir Masa Lajang


Menghitung detik demi detik dipertemukannya dengan tunangan misterinya, Daniel bertambah gundah, entah kenapa makin hari hatinya terasa telah terisi dengan kehadiran seseorang.

“Jatuh cintakah aku?” tanyanya pada diri sendiri. Hanya tinggal dua minggu lagi… waktu memang cepat berlalu,” Daniel pun kini telah berubah tidak lagi berjalan seperti wanita-lemah lembut, suaranya juga sudah tidak seperti golongan lembut itu lagi, sekarang suaranya berwibawa. Ia memang telah menjadi seorang lelaki seutuhnya semua karena bantuan Mami dan Papinya.

“Sheila aku sudah jatuh cinta denganmu, kamu memang berbeda dari yang lain,” bisik hatinya.

“Sheila kenapa kita dipertemukan setelah aku bertunangan,” ia mengeluh.

“Mungkin takdir kita hanya sebagai teman.”

“Sheila aku mencintaimu… andai saja aku boleh mengatakan ini padamu…”

***

“Uhuk...uhuk...!!” Sheila tersedak, Orange Jus yang diminumnya tersembur mengenai Naila sahabatnya.

“Aduh sorry, sorry...” sempat ia memohon maaf pada Naila, ia masih mengusap dadanya.

“Siapa sih yang iseng lagi ngomongin gue?” Keluh Sheila kesal.

“Aduh Sheila basah deh baju gue, ya udah deh kalau kaya’ gini kita balik aja yuk.” Ajak Naila, tidak merasa nyaman dengan keadaan baju basah seperti itu.

“Aduh, lengket banget nih badan gue, entar malah semut-semut pada nempel semua ke gue..” sempat-sempatnya lagi Naila bercanda.

“Sorry La gue nggak bisa tahan lagi yang tadi. Jadi nyembur deh ke lo… sorry deh, sorry banget ya?”

“Ya udah deh yuk kita balik aja.” Niatnya ingin menghabiskan waktu bersama Naila sahabatnya, menghabiskan detik-detik masa lajangnya tapi. Ya... apa boleh buat.

***

“Julian... keren juga namanya. Tapi nggak kalah bagusnya lah ama nama gue, Sheila Natasya... hehe. Boleh juga, kaya’ nya memang jodoh nih,” batin Sheila ketika teringat akan tunangan misterinya.

Pernikahan mereka tinggal 7 bulan lagi, dan Mamanya sudah mewanti-wanti agar ia menggunakan pakaian yg feminim, tapi masalahnya Sheila nggak suka pakai gaun, ia lebih nyaman dengan pakaian yg selama ini ia pakai. “Aduh, masa’ pakai gaun sih, pakai celana kek’ Ribet…aduh pusing deh kepala gue.” Batinnya.

Ketika Cinta Mulai Hadir (9)

Chapter 9
Dinner Dengan Daniel


“Entah mimpi apa semalam si Daniel ajak gue dinner hari ini, kebetulan nggak ada janji sama sekali hari ini jadi gue terima aja ajakannya..” Sheila memperhatikan wajahnya pada cermin.

“Hmm oklah!” hari ini ia hanya memakai blouse warna merah lembut dipadankan dengan jeans ketat, ia hanya memakai sandal, tidak ada lagi sepatu converse yang selalu dipakainya.

Daniel memandang wajah dihadapannya sampai tidak berkedip, ia baru tersadar ketika Sheila menginjak kakinya.

“Aduh sakit tahu... apa-apaan sih kamu?” Daniel cemberut… marah.

“Lo tu yang kenapa? Ngeliatin gue kaya’ yang nggak pernah liat aja.” Itulah Sheila walaupun sudah berdandan sedikit feminim, tetap saja ngomongnya ceplas ceplos-seenaknya sendiri.

“Siapa juga yang ngeliatin kamu? GR banget”

“Hah… terserah lo deh, cepatan pesen, kasian tuh sama mbaknya nungguin lo dari tadi nggak pesen-pesen...” kata Sheila menujuk kepada seorang pelayan yang dari tadi setia menanti pesanan dari Daniel.

Suasana makan malam mereka dihiasi dengan berbagai cerita dari Sheila, sesekali Daniel tersipu-sipu menjadi mangsa kejailan gadis itu yang sentiasa iseng. Sheila memang gadis yang lain daripada yang lain. Tapi Daniel senang dengan tingkah laku gadis itu, ia selalu merasa nyaman jika berada di dekat dengan gadis itu.

Ketika Cinta Mulai Hadir (8)

Chapter 8
Perubahan Daniel


Pagi-pagi sekali Maya berangkat ke kantor dan langsung memebereskan ruang kerja bosnya dan menyediakan minuman untuk bossnya. Namun kerjanya terhenti ketika hidungnya tercium parfum yang selalu dipakai oleh bossnya, dan ketika ia menoleh alangkah terkejutnya Maya melihat langkah lelaki itu tidak seperti biasanya, berkarisma seperti layaknya seorang pemimpin. Hampir seketika ia menjadi seperti patung, bengong tidak bergerak... sehingga lelaki itu berdehem membuyarkan lamunannya.

Maya terpana melihat tingkah bossnya hari ini, “Baru pertama kali gue ngerasa Pak Daniel ini ganteng banget, macho, gagah.” Maya mengurut dada.

“Ya ampun…sempurna, untung aja gue udah married kalau belum? Waduh bisa gue gebet nih boss… nggak tahu deh mau ngomomg apa pokoknya hari nih si boss perfecto…” Batin Maya.

“Kenapa kamu pandang saya seperti itu May?” Danniel bertanya.

Langsung saja Maya menggelengkan kepalanya. “Boss kelihatan lain hari ini!” jawabnya. “Memang betul-betul lain.” Batinnya.

Dan lelaki itu hanya tersenyum menanggapi jawaban sekretarisnya, terlihatlah kedua lesung pipit milik lelaki itu.

“Gila, ganteng banget…” hati Maya berdegup lagi..

“Oiii ingat lo udah udah punya suami May…” hati kecilnya mengingatkan akan status dirinya.

“Emm.... saya keluar dulu Pak Daniel…” Izin Maya.

“Lebih baik gue keluar dulu sebelum perasaan gue jadi lebih jauh lagi.” Batinnya.

Danniel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Maya... “Ada-ada saja...” Batinnya.

Ketika Cinta Mulai Hadir (7)

Chapter 7
Kepribadian Daniel


“Daniel coba kalau kamu jalan itu seperti lelaki sedikit, ini Mami liat Daniel jalan lemah gemulai banget seperti nggak punya tulang aja. Kalo’ mau jalan tuh, buka dadanya sedikit, tunjukkan dada Daniel yang bidang itu...” Ibu Nirmala menegur.

“Aduh kalau udah sama mami... ada aja yang salah.” Daniel mengeluh dalam hati, dan akhirnya ia hanya menurut, “Sabar ajalah.” Pikirnya.

“Daniel kan nggak lama lagi mau menikah, jangan sampai di hari H nanti Daniel masih seperti ini. Seorang pemimpin itu harus menunjukkan kemaskulinnya, kemachonya, biar orang bisa hormat pada kita.” sambung Pak Darius Sastro Wardhoyo (Papi Daniel).

Dan akhirnya sepanjang hari Daniel berlatih atau dengan kata lain dipaksa berlatih berjalan seperti lelaki maskulin lain...

“Aduh sakit pinggang ku.”

Ketika Cinta Mulai Hadir (6)

Chapter 6
Si Kura-Kura


Sudah hampir 3 minggu Acara pertunangannya berlalu, Danniel kini telah meninggalkan dunia fashion yang selama ini digelutinya, kini ia telah menjadi manajer di Pena Mutiara, sebuah perusahaan penerbitan majalah dan komik. Walaupun begitu belum sekali pun ia pernah bertemu dengan tunangannya, bukan ia tidak ingin untuk bertemu dengan tunangan misteriusnya tetapi Maminya yang tidak memperbolehkan. Sebab kata Maminya, “Semakin misterius kan’ semakin penasaran dan itu akan menimbulkan rasa cinta yang besar. Biar waktu pernikahan nanti saja yang mempertemukan kalian, pasti lebih bagus.”

“Pak Daniel ada tamu,” lamunannya pecah, Maya sekretarisnya sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.

“Siapa?” Ia bertanya.

“Kartunis dari Perusahaan Penerbit Happy Company…”

“Hmm... suruh dia masuk…”

Sesosok tubuh dilihatnya melangkah santai memasuki ruang kerjanya, dengan lolipop di mulut, jeans belel yang telah sobek di bagian lututnya, dengan topi yang di pakai terbalik membuat Danniel kebingungan memandangnya. “Waduh cowok apa cewek sih nih?” Sekali lihat sih kaya’ cowok, dua kali lihat kaya’ cewek.” hatinya tertanya-tanya.

Sheila Natasya memandang wajah dihadapannya, “Kenapa? Kaya’ nggak pernah liat orang aja. Tapi kaya’ pernah liat deh nih cowok. Ehmmm… dimana ya? Ahhh, gue inget ni cowok kan yang hampir gue tabrak waktu itu gara-gara mau nyebrang lelet banget kaya’ kura-kura.” Batin sheila.

“Waa…si kura-kura, apa kabar? Lo dah pinter nyebrang jalan blom?” Sapa Sheila.

Maya menelan ludah, “Busyet ni cewek berani amat panggil si boss kura-kura kaya’ gitu. Waduh…Sengaja minta dipecat kali nih cewek.” Batin Maya.

“Hah em..emm... kamu cewek yang waktu itu kan? Yang hampir aja mau nabrak saya. Daniel teringat, pantas saja rasanya ia pernah melihat cewek itu.

“Yup... anyway Gue Sheila dari Happy Company, lo?”

“Saya Daniel, selamat bekerjasama dengan perusahaan kami,” Daniel mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Mohon bantuannya…” jawab Sheila riang.

Mereka berbincang tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkerjaan, sesekali diselingi dengan gelak tawa, entah kenapa Daniel merasa senang jika berbicara dengan gadis itu, karena gadis itu terlalu polos-ceplas ceplos. Tidak jaim sama sekali. Tidak seperti gadis-gadis lain yang pernah ditemuinya selama ini.

Ketika Cinta Mulai Hadir (5)

Chapter 5
Tunangan???


“Whattt...! Tunangan Ma? jangan main-main bisa nggak Ma? Aku nggak suka kaya’ gini...” Sheila Natasya terkejut dengan berita yang tidak di sangka-sangkanya.

“Aduh Mama lagi bercanda kan? Becandanya Mama nggak lucu tahu nggak?”

“Nggak ada gunanya Mama bercanda sama kamu. Kamu nggak lihat apa muka Mama serius gini?” Kata Ibu Mirna-Mama Sheila Natsya sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“No...! Pokoknya Sheila nggak mau tunangan, nggak mau…, Mama aja yang tunangan sono, kan’ Mama yang sangat berminat.” Sheila marah dengan Mamanya, di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, hidupnya masih saja diatur oleh Mamanya.

“Sheila kenapa ngomong seperti itu sama Mama?” Sheila kaget mendengar bentakan Pak Syarif Purnomo (Papa Sheila) yang tiba-tiba menegur kelakuannya.

“Tapi Pa...”

“Nggak ada tapi-tapian. Sheila, Papa sama Mama nggak minta banyak kok’. Tolonglah setuju dengan pertunangan itu. Itu aja, Papa dan Mama nggak berharap sheila akan membalas segalanya yang pernah Papa dan Mama beri, tapi kali ini saja tolonglah…”

“Aduh, yang kaya’ gini nih yang bikin gue nggak tega. Ya nggak mungkinlah gue bisa ngebales semua jasa Papa dan Mama…” Batinnya.

“Oklah Sheila ikut aja kemauan Papa dan Mama.." putusnya akhirnya.

“Ok, Kalau gitu… next week hari sabtu acara pertunangannya ya…” Terpancar rona bahagia di wajah Ibu Mirna saat memberitahu rencana pertunangan itu pada anak gadisnya.

“What....!! Next week? Cepet banget...” pandangan sheila gelap... tiba-tiba pingsan terkejut...

“Sheila...!!” serentak Ibu Mirna dan Pak Syarif menjerit terkejut.

Ketika Cinta Mulai Hadir (4)

Chapter 4
Kepribadian Sheila


“Wah enaknnya bisa lihat sunset...” Sheila duduk di balkon rumahnya, ia paling suka melihat matahari terbenam, indah sekali...

“Sheila...” terdengar namanya disebut, lalu dia menoleh. Mencari arah suara.

“Sheila, bisa nggak sih kamu duduk agak manis-manis sedikit? Masa’ kaki ditaruh di atas meja. Kamu itu kan anak gadis, aduh cobalah jadi seperti anak gadis yang lain, lemah lembut, sopan santun, lemah gemulai jadi enak dipandang mata…” Omel Ibu Mirna Purnama Sari (Mama Sheila) tentang tingkah laku anak gadisnya.

“Alah Mama, aku tuh enakan kaya’ gini Ma. Aku nggak bisa ah, harus pura-pura lemah lembut, padahal bawaanku ya kaya’ gini serampangan. Emangnya Aku Mama apa? Mama kan putri keraton…” Panjang lebar Sheila membalas.

“Ya, yang seperti begini nih… Mama males ngomomg sama kamu, ada aja jawabannya. Udah ah mama masuk aja, kamu kalau diladeni makin jadi deh…”

“Ih, waw Mama ngambek, jangan marah-marah terus Ma entar cepet tua loh. Entar kal’o aku nggak ada aja Mama cari-cari, kalo ada dimarah-marahin. Repot deh ah, he..he...he… Mama…Mama.”

“Tuh kan bener, Sheila-Sheila kamu tuh seneng banget godain mama…” Ibu Mirna cemberut digodain anaknya.

***

“Mami nggak nyangka deh, bakalan besanan sama temen lama Papi. Mami mau tunangkan Daniel dengan anak teman lama Papi.”

Masih terngiang-ngiang kata-kata Ibu Nirmala di telinga Daniel, “Aduh kumat deh mama ngatur-ngatur hidup anaknya, aku kan dah gede. Susah nih kalau kaya’ gini...” Daniel memijit-mijit dahinya, padahal kepalanya tidak sakit sedikit pun…

“Mami nggak usah lah jodoh-jodohin Daniel, Daniel bisa cari sendiri. Emangnya Daniel nggak laku apa?” Mohonnya lagi.

“Nggak bisa, kalau mau tunggu Daniel cari sendiri keburu Mami sama Papi jadi kakek-nenek dong, Daniel tuh tahun depan udah 30 tahun, bukannya muda lagi..”

Akhirnya Daniel hanya diam, aduh.. kawin kan bukannya hal main-main, dan emangnya tuh cewek mau nerima aku apa adanya, yang kata orang “anak mami”?

Ketika Cinta Mulai Hadir (3)

Chapter 3
Awal Pertemuan Sheila Dan Daniel

Sheila Natasya melirik jam di pergelangan tangannya...

“Damn...! hampir jam 6 pagi.” Bola mata Sheila hampir saja keluar dari kelopaknya, hari ini hari terakhir untuk menyerahkan tugas dari kantornya.

Sheila membuka mata perlahan… menggeliatkan tubuhnya sebentar, kemudian duduk di atas kasurnya, bengong-ritual mengumpulkan nyawa sehabis bangun tidur. Ah... tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, diambilnya jam weker di sisi bantal.

“Huargggghhh... jam 7 pagi, waduh… gue ketiduran”, Sheila menjerit kecil, kemudian bangun dengan rambut yang masih acak-acakan lalu mendekati meja kerjanya menyiapkan sketsa-sketsa terakhir gambarnya.

Begitulah tragedi pagi ini, niatnya cuma tidur setengah jam, tapi malah jadi berjam-jam...

“Aduh! Bodohnya gue”.

Tas punggung converse diambilnya, laptop dimasukkannya dalam tas dengan hati-hati, kemudian menguncir kuda rambutnya, ia melihat wajahnya sekilas di cermin…

“Hmmm cantik juga gue...” Puji hatinya sendiri.

Sheila keluar dari kamarnya, mengambil kunci Motor Matic kesayangannya, ok semua ada, tidak ada yang ketinggalan, lengkap, perfect. Sekali lagi diliriknya jam di pergelangan tangannya, masih ada satu jam lagi sebelum rapat dimulai.

***

Danniel ingin menyebrang jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Dahinya sudah dibasahi keringat, hampir 15 menit ia di situ tapi masih belum juga menyebrang jalan, itulah kelemahannya, takut menyebrang. Tapi kali ini ia nekad... berjalan pelan sekali melebihi pengantin keraton. LELET!!!

“Hoiii...! Kura-kura mau mati ya, lo?”

“Mami…” Daniel langsung berteriak, terkejut dibentak tiba-tiba oleh Sheila.

Sheila Natasya memandang tajam wajah anak Mami dihadapannya, untung saja ia sempat mengerem, kalau tidak. Besok pagi akan ada deadline di Koran “Seorang Kartunis di perusahaan penerbitan ternama menabrak Anak Mami yang sedang berjalan seperti kura-kura”. He…he…

Daniel terkejut, “Sembarangan aja panggil aku kura-kura. Dasar cewek, seenaknya aja...” dia mengomel dalam hati.

“Ya elah, kepinggir dong! Ngapain lagi lo disitu? Mau dilindas mobil-mobil yang lewat apa?” Sheila berteriak lagi pada Daniel.

Danniel lalu menggelengkan kepalanya dengan wajah merah mau menangis, lalu mempercepat langkahnya ke trotoar.

“woiii… lain kali kalau mau nyebrang tu hati-hati...” sempat Daniel mendengar gadis tadi berteriak menasihati untuk kesekian kalinya.

“Huh cewek bukan ya tuh barusan...? kasarnya mengalahkan aku aja,” Danniel mengomel didalam hatinya.

“Fuh… untung aja nggak ketabrak tadi...” Dia mengurut dadanya lega, memang tadi sebelum menyebrang ia telah memastikan tidak ada kendaraan yang lewat tapi entah dari mana muncul lah gadis cerewet itu tadi.

Ketika Cinta Mulai Hadir (2)

Chapter 2
Daniel Julian


Daniel Julian bersenandung lirih sambil sesekali tangannya merapikan baju-baju yang bergantungan di butiknya. Kerjanya dalam dunia wanita menyebabkan perwatakannya agak sedikit lembut. Dia memang cerewet, apalagi menyakut orang-orang disekelilingnya yang tidak up to date dalam fashion. Kerjanya sedikit terhenti ketika tiba-tiba asistennya Niken memanggil.

“Boss, ada telepon dari Maminya nih. Mau terima nggak?”

“Ok! Bawa sini telponnya.”

“Hallo Mi…” Sapa Daniel setelah gagang telepon berpindah tangan.

“Ya ampun, Daniel!! Kenapa HP Daniel nggak aktif, hah? Aduhhh, Daniel mau bikin Mami jadi stress ya? Kapan Daniel mau mulai masuk kantor? Aduh, Mami udah capek ditanyain Papi Daniel terus, Daniel nggak kasihan apa sama Papi? Papi Daniel itu sudah tua, sudah waktunya istirahat Daniel…” Ibu Nirmala Lestari (Mami Daniel) tidak henti-hentinya berbicara.

Daniel menelan ludah, “Aduh gimana nih… gawat…” Daniel menepuk dahinya. Memang dulu Daniel pernah berjanji akan menggantikan posisi papinya di kantor, tapi itu hanya sekedar untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya. Tidak disangka pula mereka kini menuntut janjinya.

“Eee... Mami kasih Daniel waktu lagi deh? Daniel minta seminggu aja gimana? Daniel janji deh, minggu depan Daniel bakalan masuk kantor.” Daniel memohon ke Maminya.

“Nggak, Mami nggak setuju, Daniel itu nggak bisa dipercaya. Daniel bilang minggu depan, minggu depannya lagi, sampe entar sebulan… pokoknya nggak. Mami mau, Daniel besok sudah masuk kantor. Nggak ada alasan lagi…” Dengan tegas Ibu Nirmala memberi perintah.

“Tapi... Mi...”

“Nggak ada tapi-tapian, peduli amat dengan butik Daniel itu? Daniel tahu nggak butik itu pekerjaan wanita, tidak sesuai untuk Daniel, Daniel itu kan anak laki-laki.” Memang dari dulu Ibu Nirmala tidak pernah setuju dengan minat anak lelakinya itu tapi apa boleh buat. Ia tidak bisa menghalangi keinginan anaknya, tapi sekarang ia harus tegas.

“Ya ok, oklah ... Mi” jawab Daniel lesu, akhirnya ia mengalah juga.

Ibu Nirmala tersenyum di ujung telepon, lega kali ini Daniel mau mengikut kehendaknya.

Ketika Cinta Mulai Hadir (1)

Chapter 1
Sheila Natasya


Hoahmmm… sudah beberapa kali Sheila menahan kantuk, sampai berair bola matanya. Sudah hampir 48 jam ia tidak melelapkan matanya, semuanya hanya karena dikejar deadline.

“Aduh… enak banget nih kalau bisa tidur sebentar aja. Ok! Nggak boleh nggak… gue harus memejamkan mata ini sebentar aja.” Hatinya berbicara membuat keputusan.

Diambilnya jam weker, “Hmmm… sekarang jam 2.15 pagi, oke gue tidur 30 menit, jadi 2.45 gue harus bangun…”

Akhirnya Sheila Natasya membuat keputusan, ia harus TIDUR!!! Bertugas sebagai kartunis di sebuah perusahaan penerbitan ternama di ibukota membuatnya kadang-kadang 24 jam tidak cukup baginya terutama jika menjelang pertengahan dan akhir bulan. Ya, tapi apa boleh buat, dirinya sendirilah yang telah memilih hidup seperti itu, hidup sebagai kartunis. Walaupun berkali-kali Mama dan Papanya memprotes jam kerjanya.

Baru saja diletakkannya kepalanya di atas bantal, Sheila sudah tertidur pulas. Begitu lelapnya ia tertidur, hingga jam weker yang berbunyi nyaring tidak didengarnya dan mati dengan sendirinya.

Ketika Cinta Mulai Hadir (Sinopsis)

(Tentang Cinta Yang Bersemi Dari Sebuah Perjodohan)
Created By Sweety Qliquers


Ketika Cinta Mulai Hadir
Chapter 1 Sheila Natasya
Chapter 2 Daniel Julian
Chapter 3 Awal Pertemuan Sheila Dan Daniel
Chapter 4 Kepribadian Sheila
Chapter 5 Tunangan ???
Chapter 6 Si Kura-Kura
Chapter 7 Kepribadian Daniel
Chapter 8 Perubahan Daniel
Chapter 9 Dinner Dengan Daniel
Chapter 10 Detik-Detik Akhir Masa Lajang
Chapter 11 Jadi Selama Ini, Dia???
Chapter 12 Pasangan Unik


Sinopsis
Kisah cinta antara Daniel Julian (Daniel) dengan Sheila Natasya (Sheila). Daniel Julian (Daniel) pemilik salah satu butik terkenal di Jakarta dan manajer Pena Mutiara-sebuah perusahaan penerbitan majalah dan komik. Pemuda lemah gemulai itu akhirnya jatuh cinta dengan kliennya, seorang kartunis dari Penerbit Happy Company. Yang tidak lain adalah Sheila Natasya (Sheila), gadis yang terlihat tomboy dan cuek dengan penampilannya. Yang akhirnya membuat Daniel Julian (Daniel) menjadi maskulin dan macho.


Karakter Tokoh Ketika Cinta Mulai Hadir :

Sheila Natasya (Sheila)
Gadis yang terlihat tomboy dan cuek dengan penampilannya. Seorang kartunis perusahaan penerbit komik-Happy Conpany. Yang akhirnya dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan anak temannya.

Daniel Julian (Daniel)
Pemuda lemah gemulai, pemilik salah satu butik terkenal di Jakarta dan manajer Pena Mutiara-sebuah perusahaan penerbitan majalah dan komik. Maminya yang mulai gerah dengan sifat anaknya terlalu lemah gemulai, akhirnya maminya menjodohkannya dengan anak gadis temannya.

Mirna Purnama Sari (Mama Sheila)

Syarif Purnomo (Papa Sheila)

Nirmala Lestari (Mami Daniel)

Darius Sastro Wardhoyo (Papi Daniel)