Rabu, 06 Januari 2010

Edelweiss (7)

Chapter 7
Edelweiss Dalam Bisu


Edelweiss dalam Toples Kristal
Tak secantik mawar
Atau anggrek
Demikian aku berkata padanya
Pada suatu hari di penghujung kenangan
Bukan lantaran itu kukagumi kau, Cinta
Namun ada sugesti dalam birama hati
Dan obsesi tentang damainya dua hati
Terima kasih, Cinta!
Aku menangis dalam perpisahan ini
Mungkin semua adalah tangisan bahagia
Tapi sungguh,
Kutelah jatuh hati padamu
Dan sesungguhnya kaulah edelweiss dalam bisu

(Indra Danuatmadja)
Edelweiss dalam Toples Kristal

***

Aku dekati gadis pendiam itu. Duduk di sampingnya. Berdeham untuk menarik perhatian. Dia hanya mengangkat wajah sekilas. Lalu mulai menundukkan kepalanya lagi.

"Nggak gabung sama temen-temen lo?"

Aku bertanya, sekedar berbasa-basi. Entah harus ngomong apa dengan gadis serupa arca ini. Tentu sulit mencari kalimat yang tepat untuk mengajaknya berdialog. Jadi aku hanya melantunkan kalimat klise tadi.

Dia menggeleng.

Aku lihat sekuntum edelweiss berpot Toples Kristal di atas meja tamu kamarnya. Pasti miliknya. Bunga yang tumbuh di daerah dingin itu sebenarnya tidak terlalu indah di mataku. Lain halnya kalau mawar atau anggrek. Tapi meski tidak seindah bunga-bunga hias, edelweiss merupakan bunga langka yang banyak diminati orang. Selain karena jarang, bunga tersebut juga memiliki nilai histori sendiri di kalangan pencinta bunga.

"Punya lo?"

"He-eh."

"Dapet dari mana?"

"Beli waktu di Bromo."

"Lo suka edelweiss, ya?"

Dia mengangguk.

"Bukannya, cewek-cewek itu biasanya lebih suka sama mawar?"

Dia membisu. Masih duduk di sofa hotel dengan wajah menekuk. Aku sedikit aneh dengan kelakuannya yang persis seperti arca. Aku menggaruk kepala tanpa sadar. Mencari kalimat tepat untuk tetap mengajaknya buka suara. Aku tidak ingin dia asyik dengan dunianya sendiri seperti anak autis. Padahal, kedua puluh dua bidadari lainnya sudah berkumpul seperti biasa. Menebar jala gosip khas nona-nona metropolis. Apa lagi kalau bukan soal dunia lawan jenis pemikat hati alias cowok-cowok keren, yang bisa dijadikan tongkrongan kebanggaan suatu waktu.

"Punya kenangan sama edelweiss, ya?"

"Nggak juga. Tapi...."

"Apa?"

"Kata orang, edelweiss adalah lambang kelanggengan cinta ya, Ndra?"

Aku tersenyum. Gadis 'bisu' itu sudah mulai buka suara. Aku cepat-cepat mengangguk, mengiyakan kalimatnya barusan. Tentu saja. Sebelum dia kembali mengikat mati simpul bibirnya. Diam dan membisu sejuta bahasa.

"Kata orang, kalau seseorang menyimpan beberapa helai bunga edelweiss di dompet, biasanya mereka bakalan enteng jodoh. Juga awet dengan pasangannya sampai tua."

"Mungkin."

"Kok mungkin sih, Ndra?!"

"Memangnya kenapa?"

Aku pancing dia untuk melontarkan kalimat.

"Maksudku, edelweiss ini kan...."

Kena!

Aku sudah berhasil menggetarkan pita suaranya untuk melantunkan dialog. Dia menatapku dengan wajah heran. Sepasang alisnya bertaut, menggambarkan keingintahuan.

Memang itulah yang Aku harapkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar