Rabu, 06 Januari 2010

Edelweiss (6)

Chapter 6
Tasya Pada Suatu Senja


Kuta di senja itu
Menjingga dalam kenangan
Sayang indah urung mengurai senyum sang jelita
Aku terhempas
Adakah pendar cahaya serupa lentera
sebagai penerang temaram hati?
Tak tahu!
Begitu katanya
Lalu kutengok edelweiss dalam bisu
Ia telah berdialog dengannya
tentang dua hati nan terkoyak
aku terlentang mati karenanya

(Indra Danuatmadja)
Nita pada Suatu Senja

***

Malam di Denpasar sudah mengembuskan atmosfer sedingin es ketika Marvel Andromedha datang membisikiku. Katanya, gadis itu kelewat introvert (tertutup). Gadis berkulit putih itu merupakan salah satu bidadari. Namanya Tasya, Natasya Permata. Dan setelah tujuh hari bersama menyusuri perjalanan asyik Jawa-Bali bersama anak-anak satu kelas, Aku baru menyadari kalau gadis teman sekelasku itu memang sering menyendiri dengan wajah murung.

Dalam rombongan tur perpisahan kelas kami, memang ada dua puluh tiga bidadari. Bidadari di sini tentu merupakan sebuah julukan. Bukan para dayang dari istana langit seperti yang diceritakan dalam serangkaian dongeng anak-anak. Yang memiliki kecantikan paras seindah berlian dan permata berkilau dari nirwana. Sama sekali bukan. Tapi yang dimaksud adalah dua puluh tiga siswi biasa SMA Tunas Kelapa yang masing-masing, memiliki kepribadian, karakter, dan watak sendiri-sendiri.

Sepasang mata indah itu tampak serius memperhatikan lantai hotel. Seperti mengamati alur-alur lantai, menghitung goresan-goresan akibat gesekan sepatu pada ubin porselen bermotif kembang keramik.

Marvel Andromedha sang Koordinator tur juga sempat bilang, kalau dia kasihan melihat anak itu. Dia bilang, takut terjadi apa-apa dengan gadis berwajah pucat itu.
Pembawaannya diam melulu. Bicaranya hemat energi. Hanya, ya dan tidak. Plus gelengan atau anggukan!

Dan tentu Marvel Andromedha punya alasan untuk mengkhawatirkan kondisi yang tidak mengenakkan itu.

Tentu saja.

Bukan apa-apa sebenarnya.

Tapi, seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada salah satu rombongan peserta tur, maka dialah yang pertama-tama digorok oleh pimpinan pihak travel di Jakarta!
Makanya, dia mendekati dan menceritakan perihal kelakuan ganjil Tasya kepadaku.

Aku langsung mengangguk paham.

Untuk menyelami dasar hati gadis serupa arca itu, Marvel Andromedha tentu angkat tangan. Dan dia menyerahkan tugas moral itu kepadaku. Katanya, masalah gadis itu adalah level kawula muda. Sebab dia yang nyaris berkepala empat itu sudah tidak cocok lagi kalau masuk ke dalam dunianya remaja.

"Saya serahin Tasya sama kamu saja, Ndra. Kamu kan ketua kelas. Ya paling tidak kamu bisa memimpin anak-anak lah!"

Setelah menyerahkan tugas itu kepadaku, dia tampak sumringah dan dapat tertawa lagi seperti biasa. Bercanda dengan peserta tur cowok lainnya, yang saat itu sedang asyik bermain gitar dan kartu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar