Rabu, 06 Januari 2010

Edelweiss (3)

Chapter 3
Catatan Kecil Perjalanan


Pagi bercerita
Di antara kabut yang merangkum
Dalam dingin nan membeku
Ada kisah miris
Pada satu hati yang giris
Tasya,
Redakan irama tangismu yang membuat pilu
Sebab di sini ada cinta yang mengharu biru

(Indra Danuatmadja)
Jangan Menangis Tasya

***

“Mami marah.” Aku menjawabi penyebab biang masalah sehingga suasana bungalow mendadak sepi seperti kuburan.

Beby Galia Putri cemas, spontan duduk merapat di sampingku. Virgo mengikutinya dari belakang seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

“Kenapa?” tanyanya.

”Mami nggak suka lihat anak-anak minum - miras.”

”Astaga! Jadi kalian...?” Beby Galia Putri menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.

“Ya iyalah, Ndra. Orangtua mana sih yang suka melihat kalian, anak-anaknya minum miras?!”

“Bukan aku. Tapi, dua orang yang bernama Rendy dan Ryan.”

“Terus, Mami...?”

“Yah, seperti biasa. Ngediemin kita.”

“Hei, Ryan kemana?” Helen bertanya dengan mata celingak-celinguk. gadis bermata indah itu merapatkan jaketnya. Duduk merangkul lutut di atas sofa.

“Sudah terbang bersama UFO, kali!” Aku jawab sekenanya karena jengkel.

Chacha terkekeh.

“Dasar anak itu!” gusar Beby Galia Putri.

“Ntar kalau udah beku jadi es, dia juga bakalan pulang sendiri!”

Aku menyegarkan suasana kebekuan dengan mengurai kalimat lucu. Syafa sontak cekikikan. Chacha ikut-ikutan tertawa. Beby Galia Putri cuma tersenyum, tidak ikut tertawa karena masih jengkel. Aku yakin senyumnya cuma pura-pura, sama sekali tidak terpengaruh oleh kalimat penyegar suasana tadi. Buktinya, tidak lama kemudian dia malah cemberut, dan sesekali menghembuskan napas kesal.

“Anak itu selalu bikin gara-gara ya, Ndra!”

"Iya, tuh. Rese’ banget!" timpal Helen ringan.

"Ngapain coba dia beli miras segala. Nyari penyakit tuh anak!"

Beby Galia putri menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mengumpat barusan. Tentang apapun dia selalu mengarahkan topiknya ke arahku. Selama dalam perjalanan, mulai dari Jakarta, Beby Galia Putri memang paling dekat denganku. Anak-anak malah menyangka kami pacaran, soalnya di dalam bis, dia selalu duduk di sampingku. Tetapi aku hanya menganggapnya teman biasa, dan memberi kesempatan pada Virgo untuk mendekatinya. Dari dulu aku sudah tahu kalau Virgo memang naksir Beby, jauh sebelum dia dilirik oleh sebuah PH untuk memerankan ‘Mantili’ dalam sinetron ‘Brama Kumbara’. Selama dalam perjalanan pula, kami banyak bertukar pengalaman. Tentang segala hal. Khususnya dunia yang kami geluti masing-masing. Dia menanyaiku tentang dunia kepenulisan yang tengah aku geluti. Sementara aku lebih banyak bertanya padanya soal akting dan status yang disandangnya kini, yang biasa disebut selebritis.

"Ya, sudalah. Mau ributin apa lagi?! Mami juga udah marah!" ujar Beby Galia Putri, lalu bangkit berdiri, dan mengibas-ibaskan tangannya seperti menggembala domba.

"Sudah, sudah! Bubar sana! Besok subuh kita kan harus berangkat ke puncak Bromo."

Anak-anak nurut.

Berlarian ke kamar mereka masing-masing.

Ryan baru kembali tepat ketika jarum panjang jam dinding menunjuk angka sebelas. Untung Beby Galia Putri sudah meringkuk di kamarnya beserta Mami. Kalau tidak, anak itu pasti kena damprat!

Jam sebelas lewat dua puluh menit, kami memutuskan untuk istirahat. Sama halnya dengan kami yang cowok, bidadari-bidadari peserta tur berbagi dalam beberapa kelompok untuk satu kamar. Berjejal dalam satu ranjang seperti ikan dalam panggangan.
Suhu lima derajat celsius seperti membekukan kami di dalam kamar. Aku lihat Rendy belum berbaring, masih menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah di atas ranjang ketika aku hendak mematikan lampu.

"Kok belum tidur sih, Ren?!"

"Belum ngantuk."

Aku tidak jadi mematikan lampu.

"Ya udahlah, Ren. Nggak usah lo pikirin lagi. Mendingan lo tidur aja! Besok subuh kita kan harus ke Bromo."

Dia mengangguk. Menelentang, lalu menarik selimut perca tebal sampai menutupi kepala. Aku mematikan lampu dengan sekali sentuhan pada saklar meja.

Tidur menikmati dinginnya dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar