Selasa, 29 Desember 2009

Pastikan Dia Jangan Menunggu (3)

Chapter 3
Segalanya Tentang Virgo


Virgo melangkah ke dalam rumah. Melewati ruang makan dan berhenti di dapur.

“Ma!”

“Virgo. Dari mana?”

“Jalan-jalan sebentar, Ma”

“Tadi Beby kesini. Lebih dari sejam dia nungguin kamu.”

“Ada pesan nggak, Ma?”

“Dia ninggalin memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas.”

Virgo menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat…


Titipan Ryan.
Katanya bulan depan Bang Virgo diwisuda.
Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat.
Beby.


Kemajuan!

Virgo tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.

“Sudah makan, Go?”

“Tadi sudah makan di jalan, Ma. Virgo ke paviliun dulu ya, Ma.”

“O ya, hampir aja Mama lupa.” Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Virgo, menatap putranya itu lembut.

“Ada tamu buat kamu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau nunggu di paviliun aja. Jadi Mama biarkan dia di sana.”

“Beby?”

“Tasya.”

Virgo tertegun.

“Temui dia, Go. Ada yang harus diselesaikan diantara kalian berdua.”

“Semuanya sudah selesai,” gumam Virgo tak bergeming.

“Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali lagi ?”

“Dia berhak memberi penjelasan.” Mama mendorong Virgo lembut.

“Temui dia. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak ?”

“Virgo udah nggak cinta sama dia lagi, Ma.”

“Karena Beby?” Mama tersenyum.

“Atau karena menuruti kemarahanmu saja?”

“Beby tuh Cuma anak kecil, Ma.”

“Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya.”

“Ma!” Pusing di kepala Virgo bertambah.

Virgo tidak ingin menemui Tasya sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Virgo bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Virgo menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa diantara kami, batinnya.

Pastikan Dia Jangan Menunggu (2)

Chapter 2
Cintakah Dia?


“Ntar ke rumah Virgo nggak, Beb ?”

“Mungkin. Kenapa emangnya ?”

Ryan mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. “Titip ini buat Virgo, ya? Terus ingatin dia, Beb. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto.”

“Oke.”

“Thanks.” Ryan melambai sambil menjauh.

“Kenapa harus lo sih yang ngerawat si bayi besar itu, hah?” Tanya Chacha setelah Ryan berlalu.

“Ngingetin dia makan lah. Terus sekarang, lo harus ngingetin dia untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri nggak ingat apa-apa selain melukis.”

“Bayi besar yang mana?”

“Ya si Virgo lah! Siapa lagi?”

“Oo.” Beby tersenyum manis. Kalau bukan gue, trus siapa lagi dong? Lagian Virgo kan banyak bantuin gue.”

“Kimia?” Chacha mencibir.

“Sebenernya tanpa dia, lo juga bisa kali Beb.”

“Biarin aja lah. Lagian Virgonya sendiri nggak keberatan kok.”

“Apa sih yang lo cari dari dia, Beb?”

“Nggak ada.”

“Lo nggak lagi jatuh cinta sama dia, kan?”

“Nggak!”

“Lo terlalu cepet buat ngejawab, nggak.”

Jatuh cinta? Beby bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Virgo.

“Apa dia nggak terlalu tua buat lo, Beb?”

“Lo ini ngomong apa, sih?!” Beby mendelik. Mulai sebal dengan Chacha yang nyinyir.

“Gue cuma kasihan ngeliat lo. Selama ini selalu lo yang ngedatengin dia. Meratiin dia. Terus apa dia pernah ngelakuin yang sebaliknya ke lo?”

Beby terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.

“Gue nggak nuntut apa-apa ke dia,” sanggah Beby. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.

“Lo nggak jujur, Beb!”

“Jangan ngebahas Virgo lagi deh, Cha!”

“Kalau lo menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua buat lo. Lo sendiri aja baru semester satu, terus si Virgo udah mau lulus.”

“Kita Cuma beda lima tahun kok!”

“Mendingan lo cari yang seumuran lo deh! Yang ngedeketin lo tuh banyak, Beb. Buat apa sih lo ngejar-ngejar dia terus, dia aja nggak cinta sama lo?”

“Gue nggak bilang, gue jatuh cinta sama dia.”

“Kalau kaya’ begini terus, suatu saat lo bisa aja jatuh cinta sama dia.”

Benarkah?

“Beb, gue ngomong kaya’ gini, karena gue kenal Virgo dengan baik. Gue udah bertemen sama dia lama banget. Bahkan saat dia masih sama Tasya. Dia cinta banget ma tuh cewek.”

”Gue tahu.”

“Bahkan mungkin sampai sekarang,” lanjut Chacha hati-hati.

“Gue bilang ini ke lo, karena gue nggak mau lo kecewa. Lo temen baik gue, Beb. Gue nggak mau ngeliat lo terluka, sementara gue nggak bisa ngelakuin apa-apa buat lo.”

Lalu dia harus apa?!

Beby bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Virgo, seperti yang dikatakan Chacha? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Chacha.

Apa dia harus mencoba menjauh dari Virgo, sekadar mencari tahu apa Virgo peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Virgo memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Beby memang bukan apa-apa?

Beby tidak berani membayangkan.

Dia bahkan tidak berani memikirkannya.

Pastikan Dia Jangan Menunggu (1)

Chapter 1
Si Petasan Injak


“Bang Virgo!”

Petasan injak itu lagi!

“Lho, kok Bang Virgo begitu sih ?” Beby menarik kursi mendekati Virgo.

“Aku kan nggak pernah dapat B, selalu C. Itu juga setelah belajar sampai jungkir balik-banting tulang segala.”

“Kalau nggak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan ?”

“Kalau nggak masuk Perminyakan, nggak bakalan ketemu Bang Virgo dong ?” Beby tersenyum manis.

Gadis ini! Gerutu Virgo dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Virgo menoleh. Menatap ke arah Beby sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Virgo.

“Kesini cuma mau lapor hasil ujianmu doang?”

“Bang Virgo keberatan aku datang kesini, ya?” Beby menatapi wajah tampak samping Virgo. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.

“Kamu itu, ditanya kok malah balik nanya sih ?” tegur Virgo.

Beby terkekeh. “Habis, Bang Virgo nanyanya kaya’ mau ngusir gitu.”

Aku memang mau mengusirmu! Geram Virgo dalam hati. Setiap Beby muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan. Dan dengan caranya sendiri, Beby selalu berhasil membuat Virgo menuruti keinginannya.

“Bang Virgo sudah makan?”

“Sudah.”

“Aku belum. Temenin aku makan keluar, yuk.”

“Aku lagi sibuk ngelukis.” tolak Virgo.

“Ntar kan bisa diterusin lagi. Ayo dong, Bang Virgo! Nggak kasihan apa ngeliat Beby kelaperan?”

“Kamu kan bisa makan sendiri.”

“Ah, mana enak makan nggak ada temennya.”

“Kenapa nggak makan dulu sebelum kesini sih ?” gerutu Virgo tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.

“Aku mau traktir Bang Virgo. Kan ujianku dapat B karena diajari Bang Virgo.”

“Aku nggak minta bayaran. Simpan aja uangmu.”

“Bang Virgo kok menolak niat baik orang, sih?”

“Lukisanku belum selesai, Beby!”

“Kan bisa dilanjutin lagi nanti. Aku temenin, deh.”

“Nggak usah,” tolak Virgo cepat.

“Ntar malah nggak selesai lagi.”

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Sinopsis)

(Tentang Sebuah Perasaan Cinta Yang Terpendam)
Sweety Qliquers


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Chapter 1 Si Petasan Injak
Chapter 2 Cintakah Dia?
Chapter 3 Segalanya Tentang Virgo
Chapter 4 Virgo Dan Tasya
Chapter 5 Airmataku Menitik
Chapter 6 Hatiku Patah
Chapter 7 Pastikan Dia Jangan Menunggu


Sinopsis
Sebuah novel drama romantis yang sarat dengan nuansa kasih dan cinta ini. Kisah bermula dari seorang gadis bernama Beby Galia Putri (Beby) yang memendam rasa cintanya pada Virgo Perdana (Virgo), kakak tingkatnya di kampus. Cinta Beby ternyata bertepuk sebelah tangan ketika mantan Virgo yang bernama Natasya Permata (Tasya) ingin kembali rujuk. Resapi ketulusan cinta Beby yang mengharu biru.


Karakter Tokoh Pastikan Dia Jangan Menunggu :


Virgo Perdana (Virgo)
Kakak tingkat di kampus dan guru privat kimia Beby Galia Putri (Beby). Sosok yang disukai Beby Galia Putri (Beby) diam-diam. Karena trauma dengan rasa sakit hati dan kecewanya dengan kekasihnya di masa lalu, ia tidak mau membuka pintu hatinya untuk Beby atau gadis lain. Dan berusaha mengobati rasa sakit hati dan kecewanya dengan melukis.

Beby Galia Putri (Beby)
Adik tingkat di kampus Virgo Perdana (Virgo). Diam-diam ia menaruh hati pada Kakak tingkatnya itu. Ia bahkan meminta Virgo Perdana (Virgo) untuk mengajarinya Kimia secara privat. Walaupun sebenarnya tanpa bantuan Virgo Perdana (Virgo) pun, ia bisa. Tapi ia baru menyadari bahwa cintanya pada Virgo Perdana (Virgo) hanya bertepuk sebelah tangan, saat ia melihat Virgo Perdana (Virgo) memeluk Tasya (Mantan Kekasihnya).

Natasya Permata (Tasya)
Mantan kekasih Virgo Perdana (Virgo). Dua tahun yang lalu saat ia memutuskan meninggalkan keluarga, cita-cita dan cintanya (Virgo) untuk sesuatu yang baru dan tidak pasti. Menerima tawaran dari salah seorang Oomnya, berangkat ke Ámsterdam untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu.

Rossa Anastasya (Chacha)
Sahabat Beby Galia Putri (Beby). Ia tidak ingin melihat sahabatnya kecewa dan terluka, karena cintanya yang dianggapnya bertepuk sebelah tangan. Karena ia tahu bahwa Virgo Perdana (Virgo) masih sangat mencintai Tasya (Mantan Kekasih Virgo).

Cewek Facebook (5-TAMAT)

Chapter 5
Facebook?? Ampun!!

“Lho, Bell….? Kok, Lo pake HP jadul gitu sih? HP baru Lo dikemanain?” tanya Chelsea heran ketika melihat Bella mengeluarkan HP-nya dari dalam tas.

“Gue taruh di rumah.” Jawab Bella sambil memeriksa SMS yang masuk.

“Kenapa? Nanti Lo enggak bisa update status lho! Kan Lo enggak bisa hidup tanpa ber --facebook ria.” Sindir Chelsea.

“Memang itu tujuan Gue. Gue sengaja bawa ponsel jadul yang enggak bisa dipakai buat nge-fesbuk. Supaya Gue enggak tergoda. Soalnya, Gue mau mengejar ketinggalan nih. Lo bantuin gue ya? Ajarin gue semua mata pelajaran yang nilainya jeblok.” Pinta Bella serius.

“Beneran nih? Udah tobat? Enggak kecanduan facebook lagi?” Chelsea menatap sahabatnya, tak yakin. Bella mengangguk mantap.

“Sueeer! Gue lagi berusaha buat ngatur waktu gue. Jangan sampai gara-gara kecanduan facebook, gue jadi nggak naik kelas. Enggak lucu ‘kan?”

“Oke, kalo memang itu niat lo. Gue pasti bantuin Lo. By the way, gue mau buka akun facebook nih. Ajarin dong!”

“Haaaah? Enggak salah dengar nih? Nanti kecanduan lho!” Bella tersenyum geli.

“Enggak akan! Chelsea gitu lho!”

“Well, kita lihat saja nanti.” Bella mengedipkan mata.


TAMAT

Cewek Facebook (4)

Chapter 4
Gara-Gara Facebook


Kemarin ulangan Kimia dapat angka 5. Dua hari lalu, ulangan Fisika dapat kursi terbalik alias 4. Hari ini, ulangan Biologinya diberi nilai 3. Astaga! Bisa-bisa, enggak naik kelas nih. Batin Bella panik. Diliriknya Chelsea yang sedang senyam-senyum girang secara ulangan Biologinya mendapatkan angka 8,5.

“Chel…ajarin gue ya? Nilai-nilai gue jelek semua nih.” Pinta Bella dengan suara pelan. Chelsea menoleh. Matanya menatap galak.

“Enggak mau!” Sahutnya judes.

“Ih…kok gitu sih jawabnya! Masih marah ya sama gue karena dicuekin curhatnya kemaren?” Bella menowel pipi Chelsea.

“Sekali lagi sorry deh, Chelsea manis. Chelsea sohib gue yang baik. Marahnya jangan lama-lama dong.” Rayu Bella.

“Lo tuh sudah pinter, Bell. Enggak perlu diajarin lagi. Dulu, nilai-nilai ulangan lo ‘kan selalu bagus. Kenapa sekarang jadi anjlok? Fesbukan aja terus sampai jari-jari lo bengkak. Enggak usah belajar dan enggak usah sekolah
kalo perlu.” Cerocos Chelsea.

“Kok, jadi nyalahin facebook sih?” Bella pura-pura enggak mudeng.

“Ya iyalah…sejak lo kenal facebook, lo tuh jadi pemalas. Malas belajar, malas mencatat pelajaran. Belum lagi lo yang tiba-tiba jadi anti sosial. Enggak mau lagi diajakin hang out bareng. Enggak peduli sama sahabat. Jadi, buat apa Lo minta diajarin sama gue? Toh, lo lebih care sama teman-teman facebook-lo itu. Minta diajarin mereka aja. Kan teman facebook-Lo sudah mencapai ratusan orang. Masa, enggak ada satupun yang bisa bantuin lo sih?” Ucap Chelsea sepedas 10 cabe rawit.

“Mana mungkin gue minta bantuan mereka? Kenalnya kan cuma di facebook. Di dunia maya, bukan dunia nyata.” Dalih Bella.

“Begitu ya? Hmmm…tapi….kayaknya Lo lebih perhatiin ‘teman-teman maya’ ketimbang teman di dunia nyata. Lo rajin ngasih komentar setiap kali mereka update status. Lo selalu ingat siapa saja yang ulang tahun. Lo juga selalu punya waktu meladeni curhat mereka di kolom chat. So…sudah sewajarnya kalo Lo meminta bantuan mereka dan mereka.…. SEHARUSNYA nolongin Lo yang telah begitu baik dan perhatian.” Jawab Chelsea.

Bella terdiam. Hatinya tertohok. Benaknya berusaha mencerna semua ucapan Chelsea.

Cewek Facebook (3)

Chapter 3
Facebook vs Chelsea


Bagai cucian diperas, benak Bella berusaha mengingat apa yang telah ia pelajari semalam. Blank! Tak satu pun yang timbul. Sementara matanya yang kuyu lantaran kurang tidur nyaris terkatup untuk ke sekian kalinya. Rasa kantuk yang pekat memeluknya erat.

Bella menguap entah untuk yang ke berapa kali sebelum beranjak dari duduknya. Dihampirinya meja guru, lalu meletakkan lembar jawaban yang hanya berisi 3 baris kalimat. What ever will be..will be…Batinnya, pasrah.

Bella sedang sibuk meng-upload foto terbarunya di facebook ketika telinganya dijewer dengan gemas oleh jemari lentik Chelsea.

“Ouchh!! Chelsea…apa-an seh?” Bella mengelus daun telinganya yang memerah.

“Lo tuh kebangetan deh, Bell. Mulut gue sudah berbusa eh…malah digratisin!” Dumel Chelsea.

“He he he….maaf…,” Bella cengengesan.

“Ulangi lagi deh. Tadi curhatnya sampai dimana ya?” Lanjutnya.

“Enggak ada siaran ulangan!” Chelsea bangkit dari duduknya.

“Mendingan gue pulang aja daripada dicuekin melulu.” Katanya dengan muka cemberut.

“Duuuh, segitu aja marah. Oke..oke….sekarang gue bakalan menyimak baik-baik curhatan lo.” Bella meletakkan ponselnya di atas meja. Kedua tangannya menopang dagu lancipnya. Matanya menatap Chelsea penuh perhatian.

“Enggak usah sok perhatian deh! Gue sudah kehilangan selera ngomong.” Ujar Chelsea, ketus. Wah…wah..tampaknya Chelsea benar-benar ngambek nih. Bella garuk-garuk kepala yang tak berkutu. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu tetapi…Chelsea sudah melenggang pergi.