Selasa, 12 Januari 2010

Tak Seperti Janji Matahari (6-TAMAT)

Chapter 6
Tak Seperti Janji Matahari


“Ren, koper-kopermu udah siap?” Sebuah suara berat menegurku dari arah pintu kamar. Bang Ryan sudah berdiri di sana. Kelihatan banget, sepupuku itu merasa sedih atas kepergianku besok.

“Udah, Bang.... terima kasih untuk semuanya, ya....” Kupeluk sepupuku itu erat-erat. Sedih juga berpisah setelah sekian lama aku diurus Abang-ku yang baik hati itu.

***

Saat aku tiba di kota kelahiranku, banyak yang sudah berubah. Walaupun aku rajin mengikuti perkembangan kota kelahiran tercinta itu lewat internet, memandangi semuanya secara langsung tetap saja membuatku terheran-heran. Ah.... rasanya tak sabar untuk bertemu Helen. Saat aku berada di Yogya, kami berdua tak pernah absen untuk bertukar kabar lewat e-mail.

Dia tahu aku akan datang, karena aku sudah memberi tahu dia,
sebulan sebelum aku pulang. Entah apa pendapatnya, karena setelah
itu aku belum sempat membuka e-mail box-ku karena sibuk. Tapi aku yakin, dia akan gembira melihatku.

Setelah say hello pada seluruh anggota keluargaku, aku bergegas meninggalkan mereka yang mulai ribut membongkar koper-koper untuk mencari oleh-oleh, menuju rumah Helen.

Teras rumahnya nampak lengang. Masih belum ada yang berubah, kecuali bunga-bunga anggrek koleksi Helen yang kelihatan jadi lebih banyak.

Dengan perasaan yang sukar untuk kulukiskan, kupencet bel rumahnya. Pintu nampak mulai dibuka, dan sebuah sosok asing yang tak kukenal muncul di hadapanku. Seorang laki-laki.

“Cari siapa, ya?” tanya laki-laki itu.

“Helen ada?” tanyaku pelan. Berbagai pertanyaan mulai merasuki benakku, tentang laki-laki itu, dan keberadaannya di rumah Helen.

“Ada... silahkan masuk...”

Aku lalu memasuki rumah mungil yang indah itu.

“Helen.... ada yang nyari kamu tuh!” Laki-laki itu berteriak memanggil, sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki tergopoh-gopoh menuju ke arah ruang tamu.

“Rendy..........!!” Helen nampak terkejut melihatku. Aku langsung menuju ke arahnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi kanan gadis yang nampak agak kurusan itu. Dia kelihatan salah tingkah. Aku jadi heran melihat kelakuannya.

“Virgo.... kenalkan, ini Rendy, yang sering kuceritakan itu, lho!” Helen memperkenalkan laki-laki itu. Aku lalu berbalik dan menjabat tangannya.

“Aku Virgo, tunangan Helen. Bulan depan kami akan menikah, setelah wisudanya....”

Ucapan laki-laki itu seketika seakan menghentikan detak jantungku. Aku rasanya ingin berteriak, rasanya sakit sekali.

Namun aku hanya berucap pelan, “Aku baru sampai dari Yogya, kebetulan lewat dan aku mampir untuk say hello sama Kak Helen, aku pergi dulu ya? Sudah ditungguin di rumah, nih!” Aku kembali memanggilnya ‘Kak’ sekedar mengisyaratkan dia bahwa aku sudah mengerti apa yang telah terjadi.

Saat melangkah keluar dari rumah Helen, aku merasa bahwa ada yang tertinggal di sana, mungkin hatiku. Aku kecewa, padahal aku sudah berjanji akan kembali untuknya, dan kutepati janjiku itu. Padahal, tak mudah untuk menghindar dari godaan-godaan saat aku sekolah di Yogya, namun aku berhasil melewati semua itu, hanya untuk satu alasan: Helen. Namun, hanya aku yang menepati janjiku. Karena janji Helen untuk menungguku tak seperti janji matahari, dia mengingkari semuanya............

(‘Till we meet again in three years...)



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Tak Seperti Janji Matahari (5)

Chapter 5
Aku Harus Pergi


“Helen... aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Mulutku terasa kelu untuk berkata-kata. Kami berdua tengah berjalan bersisian seusai pulang sekolah.

“Ngomong aja, Ren...”

“Ehmm.... aku akan berangkat ke Yogya....” balasku pelan. Aku takut dia akan kecewa.

“Oh ya? Kapan berangkatnya? Lama nggak di sana?” tanya Helen antusias. Hatiku mulai terasa seperti diiris-iris silet, perih.

“Minggu depan, aku mau diungsikan ke sana oleh Papa dan Mama, gara-gara ulahku di sekolah yang ugal-ugalan kemaren-kemaren itu....”

Kurasa ada air mata yang mulai menggenangi kedua bola mataku. Helen menatapku sedih, namun dia hanya berkata lembut, “Tapi, kamu akan kembali untuk aku, kan?”

Aku menatapnya lembut. Mungkin terlalu kecil usiaku untuk mendefinisikan arti cinta. Namun aku tahu, aku cinta Helen, malaikat yang membawa-ku kembali ke jalan yang benar.

“Aku harus sekolah di sana, sampai SMA. Nanti, kalau sudah mau kuliah, aku baru boleh pulang ke sini,” kataku pedih.

“Tapi kamu akan kembali untukku, kan?” desak Helen lagi.

Kutatapi wajah lembut namun tegar itu, lalu kuanggukkan kepalaku dengan pasti. Aku tak perlu lagi kata-kata untuk berjanji. Namun aku tahu, aku akan kembali untuk Helen. Itu akan menjadi janjiku di hati, janji yang pasti, seperti janji matahari. Akan bersinar keesokan hari, dan memang selalu ditepati.

Tak Seperti Janji Matahari (4)

Chapter 4
Selamat Tinggal Masa Lalu


Seminggu setelah kejadian di pantai itu, kami menjadi tak terpisahkan, ke mana-mana selalu saja berdua. Dan, pelan namun pasti aku pun lalu meninggalkan kebiasaan burukku, dan akhirnya memutuskan hubungan dengan ‘Genk Rockets’ itu.

Celakanya, ternyata kelakuanku selama ini tengah disoroti Ibu Kepala Sekolah, yang kemudian mengirimkan surat panggilan orangtua yang dicuekin Papa dan Mamaku, kemudian disusul surat peringatan, yang akhirnya diterima Mama. Mama langsung mencak-mencak saat membaca surat peringatan itu, sedangkan Papa, dia langsung mengambil keputusan untuk mengirimku sekolah ke Yogya, ke tempat sepupuku, Bang Ryan tinggal.

Tak Seperti Janji Matahari (3)

Chapter 3
Curhat-ku


Ternyata, ciuman kilatku itu berbuntut panjang. Saat bertemu lagi dengan Helen, dia langsung mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kiriku, sambil bilang bahwa aku ini anak kecil gila.

Namun, pertemuan berikutnyalah yang membuat aku jadi dekat dengannya. Pertemuan dalam situasi yang sebenarnya tak begitu menyenangkan. Saat itu, aku baru saja dari markas tempat aku dan ‘Genk Rockets’-ku biasa ngumpul. Dengan sempoyongan dan mata setengah tertutup, aku berjalan ke arah pusat kota, untuk menunggu angkot yang akan membawaku pulang ke rumah. Seperti biasa, aku tak lagi berpakaian putih-biru, namun sudah berganti baju biasa. Kalau dilihat sekilas, gayaku kayak anak kuliahan saja.

Pandangan mataku yang kini melihat semuanya sudah menjadi dua, membuat aku agak kesulitan untuk berjalan. Akhirnya, setelah sukses menabrak pagar sebuah restoran, aku langsung terjerembab ke sebuah parit di dekat situ.

“Ya ampun, Rendy.....” Terdengar sebuah suara prihatin. Lalu kurasakan seseorang memegang tanganku, mencoba menolongku untuk bangkit. Perlahan kubuka mataku yang terasa berton-ton beratnya.

“He... he... he... ada dua Kak Helen....” kataku asal.

“Lo kenapa, sih? Rendy… Rendy… Kecil-kecil kok udah belajar mabuk....”

Gadis itu lalu memapahku ke arah sebuah bangku di sudut taman yang berada di sebelah restoran.

“Rendy.... ya ampun, apa kata Nyokap-Bokap Lo kalau mereka ngeliat keadaan Lo kaya’ gini?” Helen mengambil saputangannya, lalu membersihkan debu-debu di bajuku.

Mungkin karena pengaruh alkohol dalam darahku, tiba-tiba saja mulutku mulai menyerocos. Dan, aku lalu mulai ngomong tentang diriku yang merasa kesepian di rumah, tentang absennya kedua orangtuaku secara rutin. Tentang aku, anak semata wayang yang rindu perhatian dari mereka. Hingga aku selesai ngomong, hari sudah mulai gelap. Helen masih dengan sabar duduk di sampingku, mendengar semua keluhanku.

“Ren, Lo mau nggak nemenin Kak Helen nonton besok?” tanya dia.
Aku langsung mengangguk mengiyakan. Dia tak berkomentar sedikit pun setelah aku mengisahkan jalan hidupku.

Esoknya, seusai nonton, kami berdua lalu berjalan ke arah pantai, dan duduk di sana. Dan, setelah itu mungkin itulah yang dinamakan cinta. Ada sebuah reaksi “kimia” yang menarik kami berdua, sampai akhirnya aku tersadar, kepala Kak Helen sudah bersandar di bahuku, dan aku sudah mengecup keningnya lembut. Oh, my God!

Tak Seperti Janji Matahari (2)

Chapter 2
Helen ‘Si Gadis Judes’


Pertemuan keduaku dengan Helen saat aku tengah ngeceng sambil cuci mata di pusat pertokoan. Dia kelihatan manis dan cantik tanpa seragam SMA-nya. Aku yang self confidence-nya jadi 2.000 persen tanpa seragam SMP langsung menghampiri Helen, yang tengah asyik melihat-lihat buku bacaan.

“Hai....” sapaku sok kenal. Dia menatapku, pangling.

“Hai juga.... sorry, Lo siapa, ya?” tanya dia heran. Aku langsung memasang senyum termanis yang kumiliki, lalu berjalan lebih mendekat ke arah gadis itu.

“Gue yang Lo bantu kemarin, waktu dikejar satpam itu.....” kataku.

Dia mengernyitkan dahinya, perlahan-lahan raut wajahnya membeku. Helen lalu menjawab dingin, “Oh.... yang itu...?” Tanpa permisi, gadis itu lalu membalikkan badannya meninggalkan aku, yang kaget melihat perubahan sikapnya.

“Eh.... Kak Helen.... namaku Rendy...” Aku mengekor di belakangnya.

“Siapa yang nanya?!” balasnya ketus, membuatku kaget setengah mati.

Bukannya mau sombong, tapi wajahku bisa dibilang keren. Kata temen-temen cewek, aku agak-agak mirip dengan Glen Alinski, si pemain sinetron yang digandrungi cewek-cewek se-Indonesia. Ngebentak kayak gini, terang aja artinya merendahkan ketampananku. Kucoba untuk memasang jurus lain.

“Kak.... Gue cuma mau bilang makasih lagi, buat yang kemarin itu, lho!” Aku masih mengekor di belakang Helen, yang tak menghentikan langkahnya.

“Kan kemarin itu, sudah... mau apa lagi? Daripada ngegangguin orang, mending kamu pulang aja ke rumahmu, belajar, dan tidur, jangan lupa
sebelumnya minum susu dulu!” tambah Helen dengan nada meremehkan.

“Kurang ajar banget nih cewek, mentang-mentang anak SMA, mandang rendah cowok SMP!” Aku bersungut-sungut dalam hati.

Namun aku akhirnya memutuskan untuk menjauh dari gadis macan itu. Lusanya, saat keluar dari sekolah, aku ketemu Helen lagi.

Dia sedang menunggu angkot. Kuputuskan untuk menyapanya lagi. Memang, sejak pertemuan keduaku dengan si cantik yang galak itu, aku jadi mikirin dia terus. Bahkan, aku sudah nggak tertarik lagi pada Beby, gadis imut anak kelas dua yang kelasnya sebelahan dengan kelasku.

“Siang, Kak....” sapaku dengan nada yang kubuat sesopan mungkin

“Siang.....” Dia hanya menjawab dingin, tanpa menatap aku sedikit pun.

“Lagi nunggu angkot, Kak?” aku mencoba mencairkan suasana.

“Nggak, lagi nunggu truk sampah!” Kali ini dia menjawab judes.

“Ditanya baik-baik, kok ngomongnya kayak gitu sih, Kak?” Aku mulai kesal juga dengan kelakuannya.

“Emangnya Lo nggak ada kerjaan lain apa? Sana pulang, sok gede Lo!” bentaknya, membuatku kaget setengah mati.

Tiba-tiba, entah setan apa yang singgah di kepalaku, secepat kilat kudaratkan sebuah ciuman kilat di pipi mulus gadis itu, lalu berlari menjauh sambil berteriak menggoda, “Aku pulang, yaaa....!”

Tak Seperti Janji Matahari (1)

Chapter 1
Penyelamat Jiwa-ku


Empat tahun telah berlalu. Aku harus kembali ke kota kelahiranku. Janjiku pada Papa dan Mama sudah kutepati, bahwa aku akan menyelesaikan SMA-ku di Yogya dengan hasil gemilang, bukan seperti saat SMP dulu. Berbagai macam pelanggaran kulakukan saat itu, membuatku terpaksa diungsikan ke kota Bang Ryan, demi masa depanku, demikian kata mereka. Sebenarnya, itu tak perlu, sebab aku sudah menyadari segala kesalahanku, dan bersiap untuk memperbaikinya, namun semua sudah terlambat.

Mereka sudah memesan tiket pesawat untukku. Membuatku harus meninggalkan semua teman sejak masa kecilku, dan juga Helen, yang bisa dibilang ‘Penyelamat Jiwa’ ku. Helen yang nggak pernah bosan- bosannya ngingetin aku bahwa ngerokok itu nggak baik, yang nggak pernah bosan nemenin aku meski aku lagi teler berat akibat terlalu banyak nenggak minuman beralkohol.

Helen yang selalu ngomong bahwa aku masih SMP. Helen yang kakak kelasku, jauh di atasku. Dia kukenal saat aku bolos sekolah, dan terpaksa sembunyi di kantin SMA-nya yang hanya dipisahkan oleh tembok pagar setinggi dua meter dari SMP tempat aku menuntut ilmu. Saat itu aku baru kelas 2 SMP, dan Helen kelas 2 SMA.

Badanku yang memang tinggi besar bisa mengecoh cewek-cewek, kalau aku tidak sedang mengenakan seragam putih biru.

“Hei… Lo lagi ngapain jongkok di situ?!” Aku masih ingat bener ucapan Helen pertama kali saat kami ketemu. Aku sedang dikejar satpam sekolah yang tanpa sengaja melihatku tengah memanjati pagar untuk kabur dari pelajaran Matematika yang sangat kubenci.

“Anuuu…..” aku tak tahu harus menjawab apa. Sudah aku kelihatan
bego sedang jongkok di bawah meja makan kantin, dipelototin pula sama cewek cakep!!

“Pasti dikejar satpam sekolah Lo itu, kan?” katanya lagi. Namun, saat satpam sekolahku tiba di situ, dan bertanya apakah ada anak SMP yang ke situ, Helen hanya menggelengkan kepalanya, cuek.

“Kok nggak ngasih tahu kalau Gue di sini sama satpam?” tanyaku heran.

“Nggak kenapa-kenapa, Gue cuma nggak suka sama satpam sekolah Lo itu. Sok galak!” jawabnya enteng. Sialan! Aku udah geer dari tadi, kirain dia suka aku, nggak taunya...

“Eh, Kak.... siapa sih namanya?”

“Helen,” jawabnya tanpa menghentikan acara nyapu lantainya

“Kak Helen, thanks ya... Gue cabut dulu!” Aku lalu beranjak pergi, keluar dari sekolah Helen lewat parit yang menghubungkan sekolah itu dengan sebuah pusat pertokoan.

Sebenarnya, pergaulanku mulai nggak bener setelah aku kenal anak-anak ‘Genk Rockets’. Mereka adalah kumpulan anak putus sekolah yang berusia seperti aku, ada juga beberapa yang sedikit lebih tua di atasku. Kerjanya tiap hari hanya malakin anak-anak SMP, juga SMA, untuk membeli minuman keras.

Senin, 11 Januari 2010

Tak Seperti Janji Matahari (Sinopsis)

Tak Seperti Janji Matahari
Chapter 1 Penyelamat Jiwa-ku
Chapter 2 Helen ‘Si Gadis Judes’
Chapter 3 Curhat-ku
Chapter 4 Selamat Tinggal Masa Lalu
Chapter 5 Aku Harus Pergi
Chapter 6 Tak Seperti Janji Matahari


Sinopsis
Rendy Pratama (Rendy) tak perlu lagi kata-kata untuk berjanji, untuk meyakinkan Helenia Tiara Azizah (Helen). Rendy Pratama (Rendy) tahu dengan pasti, ia akan kembali untuk Helenia Tiara Azizah (Helen). Itu akan menjadi janjinya di hati, janji yang pasti, seperti janji matahari. Akan bersinar keesokan hari, dan memang selalu ditepati.
Tapi setelah ia kembali ke Jakarta, apa yang ia dapati? Ternyata Helenia Tiara Azizah (Helen) – cinta pertamanya akan segera menikah dengan Virgo Perdana-tunangannya setelah Helenia Tiara Azizah (Helen) Wisuda.


Karakter Tokoh Tak Seperti Janji Matahari :

Rendy Pratama (Rendy)
Anak semata wayang yang rindu perhatian dari Orang Tua. Yang selalu merasa kesepian di rumah karena kedua Orang Tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Rendy Pratama (Rendy) mulai masuk‘Genk Rockets’. Mereka adalah kumpulan anak putus sekolah yang berusia seperti Rendy Pratama (Rendy), ada juga beberapa yang sedikit lebih tua di atas-nya. Kerjanya tiap hari hanya malakin anak-anak SMP, juga SMA, untuk membeli minuman keras.

Helenia Tiara Azizah (Helen)
Malaikat yang membawa Rendy Pratama (Rendy) kembali ke jalan yang benar. Yang mampu membuat Rendy Pratama (Rendy) meninggalkan kebiasaan buruknya, dan akhirnya memutuskan hubungan dengan ‘Genk Rockets’.