Selasa, 12 Januari 2010

Tak Seperti Janji Matahari (2)

Chapter 2
Helen ‘Si Gadis Judes’


Pertemuan keduaku dengan Helen saat aku tengah ngeceng sambil cuci mata di pusat pertokoan. Dia kelihatan manis dan cantik tanpa seragam SMA-nya. Aku yang self confidence-nya jadi 2.000 persen tanpa seragam SMP langsung menghampiri Helen, yang tengah asyik melihat-lihat buku bacaan.

“Hai....” sapaku sok kenal. Dia menatapku, pangling.

“Hai juga.... sorry, Lo siapa, ya?” tanya dia heran. Aku langsung memasang senyum termanis yang kumiliki, lalu berjalan lebih mendekat ke arah gadis itu.

“Gue yang Lo bantu kemarin, waktu dikejar satpam itu.....” kataku.

Dia mengernyitkan dahinya, perlahan-lahan raut wajahnya membeku. Helen lalu menjawab dingin, “Oh.... yang itu...?” Tanpa permisi, gadis itu lalu membalikkan badannya meninggalkan aku, yang kaget melihat perubahan sikapnya.

“Eh.... Kak Helen.... namaku Rendy...” Aku mengekor di belakangnya.

“Siapa yang nanya?!” balasnya ketus, membuatku kaget setengah mati.

Bukannya mau sombong, tapi wajahku bisa dibilang keren. Kata temen-temen cewek, aku agak-agak mirip dengan Glen Alinski, si pemain sinetron yang digandrungi cewek-cewek se-Indonesia. Ngebentak kayak gini, terang aja artinya merendahkan ketampananku. Kucoba untuk memasang jurus lain.

“Kak.... Gue cuma mau bilang makasih lagi, buat yang kemarin itu, lho!” Aku masih mengekor di belakang Helen, yang tak menghentikan langkahnya.

“Kan kemarin itu, sudah... mau apa lagi? Daripada ngegangguin orang, mending kamu pulang aja ke rumahmu, belajar, dan tidur, jangan lupa
sebelumnya minum susu dulu!” tambah Helen dengan nada meremehkan.

“Kurang ajar banget nih cewek, mentang-mentang anak SMA, mandang rendah cowok SMP!” Aku bersungut-sungut dalam hati.

Namun aku akhirnya memutuskan untuk menjauh dari gadis macan itu. Lusanya, saat keluar dari sekolah, aku ketemu Helen lagi.

Dia sedang menunggu angkot. Kuputuskan untuk menyapanya lagi. Memang, sejak pertemuan keduaku dengan si cantik yang galak itu, aku jadi mikirin dia terus. Bahkan, aku sudah nggak tertarik lagi pada Beby, gadis imut anak kelas dua yang kelasnya sebelahan dengan kelasku.

“Siang, Kak....” sapaku dengan nada yang kubuat sesopan mungkin

“Siang.....” Dia hanya menjawab dingin, tanpa menatap aku sedikit pun.

“Lagi nunggu angkot, Kak?” aku mencoba mencairkan suasana.

“Nggak, lagi nunggu truk sampah!” Kali ini dia menjawab judes.

“Ditanya baik-baik, kok ngomongnya kayak gitu sih, Kak?” Aku mulai kesal juga dengan kelakuannya.

“Emangnya Lo nggak ada kerjaan lain apa? Sana pulang, sok gede Lo!” bentaknya, membuatku kaget setengah mati.

Tiba-tiba, entah setan apa yang singgah di kepalaku, secepat kilat kudaratkan sebuah ciuman kilat di pipi mulus gadis itu, lalu berlari menjauh sambil berteriak menggoda, “Aku pulang, yaaa....!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar