Senin, 11 Januari 2010

Ketika Cinta Mulai Hadir (6)

Chapter 6
Si Kura-Kura


Sudah hampir 3 minggu Acara pertunangannya berlalu, Danniel kini telah meninggalkan dunia fashion yang selama ini digelutinya, kini ia telah menjadi manajer di Pena Mutiara, sebuah perusahaan penerbitan majalah dan komik. Walaupun begitu belum sekali pun ia pernah bertemu dengan tunangannya, bukan ia tidak ingin untuk bertemu dengan tunangan misteriusnya tetapi Maminya yang tidak memperbolehkan. Sebab kata Maminya, “Semakin misterius kan’ semakin penasaran dan itu akan menimbulkan rasa cinta yang besar. Biar waktu pernikahan nanti saja yang mempertemukan kalian, pasti lebih bagus.”

“Pak Daniel ada tamu,” lamunannya pecah, Maya sekretarisnya sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.

“Siapa?” Ia bertanya.

“Kartunis dari Perusahaan Penerbit Happy Company…”

“Hmm... suruh dia masuk…”

Sesosok tubuh dilihatnya melangkah santai memasuki ruang kerjanya, dengan lolipop di mulut, jeans belel yang telah sobek di bagian lututnya, dengan topi yang di pakai terbalik membuat Danniel kebingungan memandangnya. “Waduh cowok apa cewek sih nih?” Sekali lihat sih kaya’ cowok, dua kali lihat kaya’ cewek.” hatinya tertanya-tanya.

Sheila Natasya memandang wajah dihadapannya, “Kenapa? Kaya’ nggak pernah liat orang aja. Tapi kaya’ pernah liat deh nih cowok. Ehmmm… dimana ya? Ahhh, gue inget ni cowok kan yang hampir gue tabrak waktu itu gara-gara mau nyebrang lelet banget kaya’ kura-kura.” Batin sheila.

“Waa…si kura-kura, apa kabar? Lo dah pinter nyebrang jalan blom?” Sapa Sheila.

Maya menelan ludah, “Busyet ni cewek berani amat panggil si boss kura-kura kaya’ gitu. Waduh…Sengaja minta dipecat kali nih cewek.” Batin Maya.

“Hah em..emm... kamu cewek yang waktu itu kan? Yang hampir aja mau nabrak saya. Daniel teringat, pantas saja rasanya ia pernah melihat cewek itu.

“Yup... anyway Gue Sheila dari Happy Company, lo?”

“Saya Daniel, selamat bekerjasama dengan perusahaan kami,” Daniel mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Mohon bantuannya…” jawab Sheila riang.

Mereka berbincang tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkerjaan, sesekali diselingi dengan gelak tawa, entah kenapa Daniel merasa senang jika berbicara dengan gadis itu, karena gadis itu terlalu polos-ceplas ceplos. Tidak jaim sama sekali. Tidak seperti gadis-gadis lain yang pernah ditemuinya selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar