Senin, 11 Januari 2010

Ketika Cinta Mulai Hadir (3)

Chapter 3
Awal Pertemuan Sheila Dan Daniel

Sheila Natasya melirik jam di pergelangan tangannya...

“Damn...! hampir jam 6 pagi.” Bola mata Sheila hampir saja keluar dari kelopaknya, hari ini hari terakhir untuk menyerahkan tugas dari kantornya.

Sheila membuka mata perlahan… menggeliatkan tubuhnya sebentar, kemudian duduk di atas kasurnya, bengong-ritual mengumpulkan nyawa sehabis bangun tidur. Ah... tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, diambilnya jam weker di sisi bantal.

“Huargggghhh... jam 7 pagi, waduh… gue ketiduran”, Sheila menjerit kecil, kemudian bangun dengan rambut yang masih acak-acakan lalu mendekati meja kerjanya menyiapkan sketsa-sketsa terakhir gambarnya.

Begitulah tragedi pagi ini, niatnya cuma tidur setengah jam, tapi malah jadi berjam-jam...

“Aduh! Bodohnya gue”.

Tas punggung converse diambilnya, laptop dimasukkannya dalam tas dengan hati-hati, kemudian menguncir kuda rambutnya, ia melihat wajahnya sekilas di cermin…

“Hmmm cantik juga gue...” Puji hatinya sendiri.

Sheila keluar dari kamarnya, mengambil kunci Motor Matic kesayangannya, ok semua ada, tidak ada yang ketinggalan, lengkap, perfect. Sekali lagi diliriknya jam di pergelangan tangannya, masih ada satu jam lagi sebelum rapat dimulai.

***

Danniel ingin menyebrang jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Dahinya sudah dibasahi keringat, hampir 15 menit ia di situ tapi masih belum juga menyebrang jalan, itulah kelemahannya, takut menyebrang. Tapi kali ini ia nekad... berjalan pelan sekali melebihi pengantin keraton. LELET!!!

“Hoiii...! Kura-kura mau mati ya, lo?”

“Mami…” Daniel langsung berteriak, terkejut dibentak tiba-tiba oleh Sheila.

Sheila Natasya memandang tajam wajah anak Mami dihadapannya, untung saja ia sempat mengerem, kalau tidak. Besok pagi akan ada deadline di Koran “Seorang Kartunis di perusahaan penerbitan ternama menabrak Anak Mami yang sedang berjalan seperti kura-kura”. He…he…

Daniel terkejut, “Sembarangan aja panggil aku kura-kura. Dasar cewek, seenaknya aja...” dia mengomel dalam hati.

“Ya elah, kepinggir dong! Ngapain lagi lo disitu? Mau dilindas mobil-mobil yang lewat apa?” Sheila berteriak lagi pada Daniel.

Danniel lalu menggelengkan kepalanya dengan wajah merah mau menangis, lalu mempercepat langkahnya ke trotoar.

“woiii… lain kali kalau mau nyebrang tu hati-hati...” sempat Daniel mendengar gadis tadi berteriak menasihati untuk kesekian kalinya.

“Huh cewek bukan ya tuh barusan...? kasarnya mengalahkan aku aja,” Danniel mengomel didalam hatinya.

“Fuh… untung aja nggak ketabrak tadi...” Dia mengurut dadanya lega, memang tadi sebelum menyebrang ia telah memastikan tidak ada kendaraan yang lewat tapi entah dari mana muncul lah gadis cerewet itu tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar