Senin, 11 Januari 2010

Pernikahan Simulasi (8)

Chapter 8
Hari Terberat Untuk Raditya


Malam itu Kirana terbangun saat Raditya mengguncang bahunya.

“Ran, bangun!”

“Ada apa?” gumam Kirana.

Jam alarm di sisi tempat tidur Kirana baru menunjukkan pukul 03.15 dini hari.

“Cepetan ganti baju, kita harus ke rumah sekarang. Mama meninggal.”

Kirana terlonjak duduk. “Apa?”

“Ganti baju!” perintah Raditya sambil meninggalkan kamar Kirana.

Kirana terpaku sejenak sebelum akhirnya lari mengejar. “Kapan?”

“Baru aja.”

“Di?”

“Rumah. Ganti baju lo, kita berangkat lima menit lagi.”

“Radit….”

Raditya membanting pintu kamar di depan Kirana.

Kirana kembali ke kamarnya dan bergegas mengganti piyamanya dengan baju yang pantas. Ketika ia keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Raditya, diketuknya pintu itu perlahan.

“Dit, gue udah siap.”

Tidak ada jawaban.

Kirana menyelinap masuk. Kamar Raditya gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman Kirana bisa melihat Raditya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua tangannya. Ia menepis tangan Kirana, bahkan mendorong Kirana hingga terjungkal saat Kirana mencoba Menyentuh bahunya. Tapi ketika untuk yang ketiga kalinya Kirana mengulurkan tangannya, Raditya tak lagi menghindar dan dalam rangkulan Kirana, Raditya menangis.

Hanya saat itu Raditya tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Raditya yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar