Senin, 11 Januari 2010

Pernikahan Simulasi (3)

Chapter 3
Hidup Baru

Dua hari pertama Kirana sebagai istri Raditya “SIMULASI” mereka lewatkan di rumah orang tua Kirana. Dan empat hari berikutnya dilewatkan di rumah orang tua Raditya. Memang sengaja mereka lebih lama melewatkan hari sebagai Pengantin baru di Rumah orang tua Raditya Karena kondisi ibu Raditya yang memang telah sangat lama sakit, akhir-akhir ini menjadi memburuk mungkin karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahan Kirana dengan Raditya. Paling tidak sampai kondisi Ibu Raditya membaik mereka baru akan pindah ke rumah pribadi Raditya.

Pada hari ketujuh tepat disaat kondisi Ibu Raditya yang semakin membaik mereka pindah ke rumah milik Raditya sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu mereka lewati dengan tidur yang nyenyak.

Keesokkan paginya, Kirana terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Kirana menemukan Raditya di sana sedang mendadar telur, sementara di atas meja terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.

“Gue ada rapat jam setengah delapan,” seru Raditya sambil membalik dadar telurnya.

“Gue harus berangkat sebelum setengah enam.” Lanjutnya.

Kirana mencicipi nasi goreng buatan Raditya. “Gue nggak Tahu kalo lo pintar masak, Dit.”

“PRAMUKA, Ran,” komentar Raditya tersenyum. Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. “gue juga bisa tali-menali, semafor, menjahit.”

“Percaya, percaya. Kalo lo menangani urusan masak-memasak, gue bakal memperbaiki keran dan genteng bocor, kalo perlu cabuti rumput.

Raditya terbahak. “Ini cuma sekali-sekali aja,Ran. Gue kan nggak mungkin masak terus tiap pagi.”

“Ehm… apalagi gue. Kalo gitu berarti kita perlu cari pembantu nih, Dit.”

“Jangan,” Raditya menggeleng. “Dia pasti curiga kalo ngeliat kita tidur di kamar yang beda.”

“Terus gimana dong?”

Raditya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Bisa nggak lo masak nasi tiap hari?” pintanya.

“Gue punya Rice Cooker kok.” lanjutnya.

Kirana menatap wajah Raditya dalam-dalam. Dalam hati dia berkata… “Emangnya harus? Ini kan cuma sebuah permainan. Ntar Radit malah jadi besar kepala kalo gue nurutin dia. Tapi di lain pihak, gue bener-bener pengen tahu gimana rasanya jadi seorang istri, mungkin ada baiknya kalo gue turuti kemauannya.”

“Ehm… Kalo lo mau bawain lauk ama sayur gantian ama gue, gue mau.”

“OK!” Raditya tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah spidol merah. Dilingkarinya tanggal hari ini itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.

“Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga,” lanjutnya saat kembali ke meja makan.

“Masih banyak detil-detil kayak gini yang mesti kita sepakati,” lanjutnya lagi.

“Misalnya, gue pengen lo kasih tahu gue kalo lo bakalan pulang telat atau apapun itu.”

Dahi kirana berkerut. “For What??? Dengan nada yang sedikit tinggi dia menanggapi perkataan Raditya.

“Apa lo nggak bakalan lapor ama bokap nyokap lo at least nyokap lo lah kalo lo bakalan pulang telat?”

Kirana menggelang. “Nyokap gue percaya, kalo gue bisa jaga diri gue sendiri dan nggak bakalan ngelakuin hal-hal yang bodoh.”

“Tapi gue suami lo, Ran. Ok! Simulasi memang, tapi tetep aja gue perlu tahu kenapa dan dimana lo kalo pulang telat.”

“Lo kedengaran seperti diktator, Dit.”

“Gue rasa, gue nggak minta terlalu banyak Ran.”

“Buat gue itu terlalu banyak!” jawab Kirana dingin.

Raditya meletakkan sendoknya dan menatap Kirana dengan mata menyala. Sampai membuat Kirana lupa kapan terakhir kali dia melihat Raditya marah. Tapi Kirana yakin kalau dia tidak salah membaca gelagat Raditya kali ini. Raditya benar-benar marah, marah besar kelihatannya.

“Ingat satu hal Dit,” lanjut Kirana hati-hati. “Gue bukan bener-bener jadi istri lo, ini cuma simulasi Dit kalo lo lupa itu. Jadi lo nggak punya hak buat ngatur gue kayak gini.”

Raditya menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap. “OK! Kalo itu mau lo,” desisnya kemudian.

Kemudian mereka melanjutkan sarapan dalam diam. Kirana ingin sekali mengatakan kalau dia sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatannya dengan Raditya memburuk. Tapi dia tak berani mengungkapkan itu. Kirana yakin Raditya akan semakin berang padanya.

Raditya meninggalkan meja makan tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama dia kembali menemui Kirana di ruang makan.

“Gue berangkat dulu, Ran” katanya dingin.

Kirana bangkit dari meja makan dan menghampiri Raditya, berniat untuk memperbaiki situasi. “Sebagian temen-temen gue nyaranin ini,” kata Kirana sambil meraih tangan kanan Raditya dan menempelkannya di bibir.

“Gue pikir ada baiknya gue coba. Oh, ya mereka bilang lo harus mencium kening gue.”

Raditya membungkuk dan menyapu kening Kirana dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

“Dasar EGOIS!! Gue kan udah berusaha keras buat memperbaiki keadaan, tapi dia malah nanggepin dingin-dingin aja.” Gerutu Kirana dalam hati.

Kirana sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang sempat dia singgahi sebuah café yang belum pernah dia kunjungi. Sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana rasanya menjadi pengantin baru yang pasti diberondongkan teman-teman yang biasa bersamanya menghabiskan sore hari di café langganan mereka.

Perasaan Kirana gundah. Rasa bersalah dan kesal tiba-tiba berkecamuk di dadanya. Dia tahu Raditya telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walaupun dia sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, harus diakui bahwa dia belum terbiasa menganggap Raditya sebagai suaminya. Baginya, Raditya masih seorang sahabat yang sempurna. Dan menurutnya seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mata Kirana tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Raditya di jari manisnya selepas akad nikah. “Ini hanya permainan, tapi dalam permainan ini Radit adalah suami gue. Dan sebagai suami, menurut gue tuntutannya itu wajar. Kalau gue lantas nggak suka ama keterbatasannya, itu cuma satu pelajaran pertama dari permainan ini, batinnya.”

Kirana memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. “Gue benci kekalahan. Tapi kali ini gue mengalah, bukan kalah. Gue tahu, gue bakalan belajar satu hal dari semua ini. Gimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Harus gue akui, getir memang. Ah… gue yakin Radit bakalan ngetawain gue, ya kalo dia udah nggak marah-marah lagi seperti tadi pagi.” Debatnya dalam hati.

Akhirnya Kirana memutuskan untuk pulang ke rumah, dan alakah terkejutnya dia mendapati rumah gelap dan kosong. Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari dan tak ada tanda-tanda kehadiran Raditya, Raditya belum pulang.

Kirana mencoba menghubungi ponsel Raditya dan hanya mendapati mailbox atau ‘tante veronika’ yang menjawabnya. Kirana mencoba menghubungi kediaman kedua orang tua Raditya. Dengan menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kodisi ibu mertuanya. Bahkan dia mencoba mengontal kantor Raditya dan selalu berakhir tanpa hasil. Raditya tetap tak ada dimana-mana.

“Ini balasan lo Dit, ama penolakan gue tadi pagi? Gue nggak nyangka ternyata lo juga childish. Lo selalu bilang kalo gue yang childish ternyata… lo juga nggak jauh beda ama gue, sebelas duabelas lah. Ahh…. Radit lo dimana sih?” Omel Kirana pada dirinya sendiri.

Walaupun begitu Kirana, dengan melarutnya malam. Dia pun jadi semakin cemas. Apalagi hingga pagi Raditya tidak juga kembali. Dia bahkan datang terlambat ke kantor, dan minta ijin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat.

Tapi saat Kirana tiba di rumah, Raditya tetap tidak ada di rumah. Malam itu dilewatkannya di sisi telepon dan menggenggam erat handponenya, serta sempat berpikir untuk menghubungi kantor polisi dan rumah sakit. Pukul tiga pagi telepon rumah disampingnya berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas di benaknya dan saat dia mengangkat gagang telepon….

“Kiran?”

“Radit?”Jerit Kirana.

“Lo dimana?”

“Ran, gue minta maaf karena gue marah-marah sama lo dan minggat gitu aja. Boleh nggak gue pulang?”

“Dit, ini rumah lo!” meskipun Kirana tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh di pipinya.

“Dit, lo sekarang di mana?”

“Di luar.”

“Di luar rumah?”

“Iya. Dan gue laper banget, Ran.”

“Ya, Tuhan Radit…”

Kirana lari ke luar rumah dan di gerbang dilihatnya Raditya berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah berapa lama Raditya ada berada disana.

“Lo keterlaluan, Dit! Gue ampe mikir buat menelpon kantor polisi!” Teriak Kirana kepada Raditya Dan tanpa pikir panjang Kirana menghambur ke pelukan Raditya.

“Gue juga kangen ama lo, Ran!” balas Raditya tertawa. Dan pada saat itu mata Kirana rasanya semakin perih melihat tawa Raditya lagi.

“Di mana aja lo dua hari ini, Dit?”

“Di hotel kecil dekat kantor.”

Raditya baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya. Dia tidak berkomentar ketika melihat Kirana sudah membeli semua makanan kesukaannya. Dia hanya makan dua kali lebih lahap.

“Kenapa lo akhirnya mutusin buat pulang, Dit?” Suara Kirana bergetar.

“Gue perlu baju bersih,” Raditya tertawa malu.

“Laundry hotel mahal banget.”

Saat Raditya mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arah Kirana, dia menyambung, “Selain itu, gue khawatir kalo lo sendirian aja di rumah.”

Mendengar pernyataan Raditya, tiba-tiba saja Kirana merasa dadanya terasa ngilu. “Gue bakalan pulang terlambat besok. Gue harus lembur, dikejar deadline.” Ucapnya perlahan.

Raditya berhenti membilas piring dan kemudian dia berbalik menatap Kirana. Tetapi mata Kirana tetap terpaku pada es Krim di hadapannya.

“Oke, lo keberatan kalo gue makan malam duluan?” Kata Raditya.

“Asal lo sisain cukup buat gue makan malam mentar,” Kirana tersenyum.

Dan di keesokkan paginya telah terlihat jelas lingkaran spidol merah kedua di kalender dapur rumah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar