Senin, 11 Januari 2010

Pernikahan Simulasi (9)

Chapter 9
Dilema Kirana


Sore harinya, saat Kirana tengah membantu merapikan kembali ruang tamu kakak tertua Raditya–Kak Ira menghampirinya.

“Ran, bawa Radit pulang ya!”

“Apa nggak sebaiknya Radit di sini dulu, Kak?”

Kak Ira menggeleng. “Coba lihat sendiri,” katanya sambil menunjuk ke halaman belakang.

Kirana menemukan sosok Raditya di sana, sedang menghisap sebatang rokok. Raditya sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuat Kirana sadar, bahwa Raditya sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya.

Ketika Kirana mendekat, dilihatnya asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas meja tinggal berisi sebatang. Dicabutnya rokok itu di antara jemari Raditya dan dipadamkannya di asbak. Raditya tidak memprotes, ia bahkan tak menatap Kirana. Kirana sadar Kak Ira memang benar bahwa dirinya harus segera membawa Raditya jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.

“Gue mau pulang, Dit.” Ujar Kirana sambil menggenggam lembut jemari Raditya. Dan Raditya menggeleng pelan.

“Gue mau nginap disini aja. Lo pulang aja sendiri. Besok gue pulang naik taxi aja.”

“Gue nggak mau sendirian di rumah.”

Raditya menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan kepada kakak dan iparnya kemudian keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira menggandeng Kirana dan berbisik, “Kakak seneng Radit sudah menikah sama kamu. Kamu pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Karena Raditlah orang yang paling merasa kehilangan dengan meninggalnya Mama. Kamu sendiri kan tahu, Radit tinggal dengan Mama selama tiga puluh lima tahun, ya selama dirinya melajang.

Kirana terpana sesaat. Dadanya terasa ngilu. Dipeluknya Kak Ira dengan hati menggigil. “Gimana caranya gue bilang ke Kak Ira, kalo gue sama Radit udah sepakat buat mengakhiri pernikahan ini secepatnya?” Batin Kirana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar